
Chapter 12: Petunjuk Pulang.
Tiba tiba saja perhatian.
"Perutmu sakit?" tanya Dashie.
"Darimana kau tahu perutku sakit?" tanya Ved.
"Aku hanya asal bicara saja" kata Dashie.
Tidak jadi senang dengan perhatian dari Dashie.
Memegang perutnya lagi yang kesakitan.
"Kau bisa jatuh jika membonceng dengan seperti itu" kata Dashie.
Ved tidak berpegangan kepada Dashie seperti selayaknya safety untuk aturan penumpang sepeda motor umumnya.
Takut.
"Aku takut kau akan memukul ku" kata Ved.
"Aku akan mendorongmu sampai jatuh" kata Dashie.
"Ok" kata Ved.
Ved menganggap ini sebagai hal biasa ketika membonceng seseorang dari arah belakang dia dengan wajah pucat perut kesakitan luar biasa menahan agar tidak jatuh.
Berpikir lagi dengan kata kata yang pernah Jarrel katakan tadi malam padanya yang sudah sering ia katakan pada Ved.
"Dia tipe orang yang tidak peka tapi dia tulus" kata Jarrel.
Dashie mendengar apa yang dikatakan oleh Ved.
"Kau bicara apa?" tanya Dashie.
"Kita ke apotik" kata Ved.
Masih dalam perjalanan menuju ke apotik.
Ved merasakan sesuatu yang berbeda ada didalam perutnya yang sakit perubahan yang terjadi adalah bagian tubuhnya yang sakit tiba tiba pulih.
Merasa aneh.
"Tidak mungkin" kata Ved.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?" tanya Ved.
Memeriksa perutnya yang tadi sakit dan sekarang sembuh dengan sendirinya.
Melihat arah spion sebelah kanan menatap Dashie.
Merasa tidak percaya.
"Apa dia?" tanya Ved.
Isi pikiran dan hatinya tidak yakin bahwa Dashie manusia level A yang digembar gemborkan dicari oleh bangsanya yang suka dengan aura manusia tapi berpikir kemudian.
"Apa yang dicari dari orang berisik seperti dia?" tanya Ved.
Berteriak.
"Kau ingin makan malam apa?" tanya Dashie.
Kaget dan ikut berteriak.
"Bisa tidak jangan berteriak!" kata Ved.
Berteriak lagi.
"Tidak bisa!" kata Dashie.
Dia baru ingat jika gadis yang membawa motor kakaknya ini sangat senang dengan motor milik kakaknya ini.
Belum seratus persen yakin dengan dugaannya itu karena dia sudah berteman dengannya bahkan bertetangga sejak kecil selama itu tidak pernah tahu bahwa Dashie memiliki hal istimewa itu.
Perutnya sakit lagi.
"Benarkan. Itu hanya dugaanku saja" kata Ved.
Dua menit lagi akan sampai di apotik.
Kembali di waktu Aka baru terbangun akibat efek dari mantra yang Hoshie berikan. Pria itu masih disana sepuluh menit kemudian masih memperhatikan kondisi Aka.
"Kenapa aku bisa disini?" tanya Aka.
Kepalanya masih sedikit pusing kemudian dia mengambil air mineral dari dalam tote bag hitam di belakang kursi depan mobil yang ia duduki.
Meminum air.
Segera cepat ia pergi meninggalkan tempat sepi itu menyalakan mobilnya lalu pergi.
Menarik mundur ketika terakhir kali bertemu dengan siapa dia pagi hari ini.
Mengingat kejadian tadi pagi.
Setelah dijemput oleh Hoshie lalu ia diantar pulang setelah breakfast bersama lalu terakhir kali ia sesampainya pulang ke rumah beberapa menit kemudian pergi ke hotel untuk memeriksa pekerjaan sebentar lalu setelah itu dia tidak ingat apapun dan tiba tiba ketika terbangun dia sudah ada di sebuah lembah dengan jurang yang mengerikan tadi.
"Aku tidak tidur sambil mengemudikan?" tanya Aka pada diri sendiri.
Dia tidak tahu kalau dia telah terkena mantra yang diberikan oleh Hoshie secara langsung dalam wujud tidak terlihat.
Untuk Hoshie.
Dia masih ingat mengapa gadis ini bisa terbawa olehnya sampai ke tempat itu.
Mengikuti segala perintah dari pemuda ini.
"Weyalla yallawe"
Dia telah membaca mantra untuk Aka seketika gadis ini langsung patuh.
"Kita pergi ke suatu tempat. Ikuti aku!" perintah dari Hoshie.
Dari mulai pergi keluar dari dalam hotel tempat ia menemui kakaknya yang sedang bekerja sampai menyetir mobil sendiri menuju ke lembah jurang itu dia bisa mengendarai sendiri mobil hitamnya hingga sampai ke tempat itu.
Mudah sekali untuk Hoshie melakukan hal ini tentunya iya dan semua bangsa mereka bisa melakukan ini.
__ADS_1
Menjauh melihat mobil Aka jauh dari indera penglihatannya kemudian Hoshie pergi meninggalkan tempat itu.
Kelanjutan bagaimana kondisi Aka saat ini dia dibuat bingung dengan kondisinya yang aneh. Dia juga memeriksa semua barang barang berharga miliknya juga tidak ada yang hilang sama sekali.
"Ini aneh" kata Aka.
"Kenapa aku ada disana?" tanya Aka.
Dia berencana untuk menemui seseorang dan dia pergi berbeda arah dari tempat ia bekerja.
Dia pikir kalau ini sudah tidak beres tentang semua yang ia alami dari mulai menemukan seorang gadis yang di informasikan menghilang kemudian hilang dari pandangannya sendiri lalu apa yang terjadi kepada dirinya sekarang.
Hampir menabrak sebuah pohon.
Mobil berhenti.
Nafas panjang mengeluh.
"Sigh!" kata Aka.
Memejamkan mata satu detik lalu melanjutkan segera pergi dari wilayah lembah yang sepi itu.
Dia berpikir apa perlu untuk menelepon pacarnya sekarang yaitu Hoshie.
Perjalanan keluar dari lembah menempuh waktu sekitar dua puluh menit cukup jauh untuknya berkendara bagi seorang wanita sendirian di daerah sepi.
Ponselnya terpasang di bagian tengah mobil depan dekat alat mengemudi.
Memasang earphone putih di sisi telinga kiri menghubungi nomor ponsel pacarnya.
Nomor ponsel Hoshie aktif.
Ponsel Hoshie masih aktif.
Dia mengangkat panggilan dari nomor ponsel yang sekarang menurut gadis yang menghubungi Hoshie adalah pacarnya.
Berpura pura.
"Sayang. Ada apa?" tanya Hoshie.
"Kau bisa tebak aku ada dimana?" tanya Aka.
Masih berpura pura.
"Kamu dimana, sejak pagi aku menelponmu tapi tidak aktif?" tanya balik Hoshie.
Aka masih ketakutan dan belum menjawab langsung pertanyaan dari pacarnya itu.
Hoshie dengan beberapa temannya salah satunya adalah pria berkacamata minus.
Mereka tertawa tanpa suara dengan Hoshie yang baru saja mendapatkan pacar baru.
Mengurungkan niatnya bercerita lebih detail kepada Hoshie.
"Nanti aku cerita" kata Aka.
Menutup secara sepihak pembicaraan dengan pacarnya itu.
Tanda tanda depresi mulai muncul mulai detik ini di rasakan oleh Aka tanpa ia sadari dengan jelas situasi yang membingungkan ini.
Teman teman Hoshie sudah terbiasa tentang permainan Hoshie kepada para gadis gadis yang ia tipu dan selanjutnya adalah Aka.
Tiga diantara teman Hoshie adalah bangsa manusia dan kali ini hanya ada pria berkacamata minus yang sebangsa dengan dirinya.
Ketiga teman manusianya hanya tahu Hoshie melakukan permainan jahatnya selayaknya bad boy bukan seperti yang sebenarnya ia lakukan kepada gadis gadis yang tidak mereka tahu yang telah menghilang tanpa jejak karena ulah temannya ini.
Aka disepanjang perjalanan pulang dia menggigit jarinya sendiri.
Entah apa yang harus ia katakan yang jelas semua rasa bercampur menjadi satu serasa ingin meledak di dalam isi pikirannya.
Dia menangis tak bisa menahan segala apa yang dia rasakan.
Dia ketakutan sendirian dan dia merasakan hal itu semakin menyerang rasa takut itu kepada dirinya.
"Kenapa hal ini terjadi padaku?" tanya Aka.
Di sepanjang perjalanan dia belum berhenti menangis dengan segala hal yang tidak masuk akal ini.
Air matanya masih mengalir darah itu datang ikut mengalir melewati kelopak mata kaca kaca jendela mobil jatuh di depannya sendiri dengan setengah sadar merasakan rasa sakit itu.
Dia meminta tolong.
Berteriak.
"Tolong!" kata Aka.
Dengan kedua tangan pintu mobil yang sudah hancur parah menabrak pembatas jalan barusan ia berusaha untuk dibuka sendiri.
Darah keluar dari dalam mobil yang terbalik darah dari milik gadis yang bernama Aka.
Jalan yang sepi disana dia meminta pertolongan dengan darah yang juga keluar dari kepala dan luka luka lain yang juga ia dapat.
Dia meraih ponselnya dengan susah payah dan dia menghubungi nomor ponsel yang terakhir dihubungi.
Apa yang terjadi adalah orang itu tidak mengangkat panggilan dari Aka.
Apa yang sedang dilakukan oleh orang yang berusaha Aka hubungi, dia tidak peduli dan lebih memilih berpesta minum minuman bersama teman temannya di sebuah klub.
Bagaimana keadaan Aka, ponselnya tiba tiba saja mati dan dia sudah mulai kehilangan banyak darah.
Dengan tenaga yang masih ia miliki ia usahakan untuk bisa keluar dari dalam mobil yang terbalik itu menyentuh jendela mobil yang sudah hancur.
Menunggu dengan usaha yang telah ia lakukan akhirnya dia bisa keluar dari dalam mobil dan dia harus cepat mencari tempat aman tapi ia teringat tadi pagi membawa ponsel lebih dari satu ke dalam tasnya
Dia mencari apakah cadangan ponselnya masih bisa digunakan.
Menggunakan waktu dan tenaga yang ia miliki ia usahakan untuk mencari dari dalam mobil yang terbalik itu.
Menangis dan cemas.
"Dimana ponsel itu?" tanya Aka.
Berteriak.
"Dimana?" kata Aka lagi.
Hari mulai gelap dan mulai frustasi.
__ADS_1
"Aku bisa gila" kata Aka.
Berteriak lagi.
"Dimana benda itu?!" kata Aka.
Setelah tiga puluh detik berlalu akhirnya ia bisa menemukan tasnya lalu dia ambil tas miliknya pergi ke tempat yang aman menjauh dari mobilnya menepi di pinggir jalan.
Menghubungi pihak kepolisian.
Dia jelas panik dalam situasi ini berharap untuk tidak terjadi apapun lagi untuk dirinya sendiri bahkan dia tidak sempat yang ada dia sangat cemas dan takut.
Dia berhasil menghubungi pihak kepolisian agar bisa datang dan menolongnya setelah kejadian ini.
Langsung flashback ia mengingat alasan kenapa semua ini bisa terjadi kepada dirinya benar benar semua yang ia alami segera ia berpikir bahwa ini tidak terjadi secara kebetulan.
Menengadah menatap ke langit.
"Sadarlah. Kau tidak sebodoh ini!" kata Aka.
Dia ingin menghubungi nomor ponsel teman temannya yang lain tapi ia berpikir ulang untuk tidak menghubungi mereka.
Kakaknya Aka sedang masih dengan pekerjaan yang menumpuk diatas meja kerjanya merasa kenapa sejak pagi pekerjaannya sulit untuk diselesaikan tidak seperti biasanya hal ini terjadi.
Benar benar untuk Hoshie hidup dengan dunianya sendiri masih dengan pestanya yang baru dimulai.
Gadis itu semakin tersadar dengan apa yang baru saja ia alami dalam ingatan yang terpotong potong ia mulai mengingat apa yang telah menimpanya.
Menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Ok" kata Aka.
Dia mengingat semuanya dengan jelas bahwa disaat itu dia bisa melihat seseorang dengan tangan kanannya mencengkram leher bagian belakang kepalanya dan mengambil sesuatu seperti angin terasa keluar dari bagian leher belakang kepalanya.
Dia mengingat hal itu.
Dia penuh amarah dan itu hanya berlangsung dalam empat puluh detik setelah itu hilang begitu saja ingatan itu dan siapa yang telah melakukannya benar benar ia juga tidak ingat sama sekali.
Pihak kepolisian datang dengan ambulans didepannya.
Membawa Aka pergi menuju rumah sakit terdekat untuk memberikan pertolongan kepada gadis ini.
Ia bersyukur tidak terjadi hal buruk lebih dari itu tatapan lega dan juga marah ia rasakan saat ini.
Siapa lagi, dia tidak akan marah jika orang yang dihubungi tidak bisa dihubungi di waktu genting seperti ini dan lagi karena hatinya yang selalu berpikiran positif dia berpikir di luar dugaan.
"Mungkin dia sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat panggilan dariku" kata Aka.
Kakaknya Aka mulai khawatir kenapa dia belum pulang padahal dia akan pulang lebih dulu izin kepada kakaknya jika ingin pergi ke suatu tempat dan kali ini juga tidak ada kabar dari adiknya bahkan tak ada permintaan izin lewat ponsel sama sekali masuk ke dalam ponselnya dari adik kesayangannya itu.
Di dalam ambulans.
Berada dalam kebingungan lagi dan akal sehatnya berbicara lagi.
"Apa yang terjadi padaku?" tanya Aka.
Dia menghubungi kakaknya.
Khawatir.
"Apa kakak harus menjemputmu?" tanya kakaknya.
Aka menangis disaat kakaknya begitu khawatir hingga akan segera menjemputnya saat ini.
Belum mendengar suara dari adik kesayangannya itu.
"Adik kesayangan kakak. Kau mendengarku?" tanya kakaknya Aka.
Menjawab dengan nada suara ceria.
"Aku akan segera pulang. Jangan khawatir" kata Aka.
Tidak langsung percaya.
"Tidak terjadi apa apa kan?" tanya kakaknya Aka.
Masih pura pura ceria.
"Tidak" jawab Aka.
"Ok. Kakak harus menyelesaikan pekerjaan Kakak. Hati hati jaga dirimu" kata kakaknya.
"Ya" jawab Aka.
Setelah membuat Ved menunggu selama lima belas menit di depan apotik orang yang ia tunggu akhirnya datang.
Membawa empat gelas jahe hangat tertutup dan juga terlihat ponsel baru langsung dimasukkan dalam tas selempang kulit.
Ved ikut membonceng lagi untuk perjalanan pulang ke rumah Jarrel.
Menjadi patuh tidak lagi mengajak bicara kepada Dashie itulah yang dilakukannya kepada sahabatnya itu ketika sakit.
"Hahahaha"
Dashie tertawa jahat dan Ved sudah tidak peduli.
Berpegangan erat di belakang Dashie dia sudah ingin pulang dan makan lalu minum obat yang baru ia beli dari dalam apotik.
Perjalanan belum selesai untuk Aka.
Berada di rumah sakit.
Segalanya akan lebih menantang di kedepannya tanpa ia pahami kejadian itu sebagai tamparan keras untuknya.
Dengan perban perban yang mulai menempel mencegah darah semakin deras keluar dari dalam kepalanya menyusul kemudian bagian bagian lain tubuhnya yang membutuhkan mendapatkan pengobatan.
Dia juga menjalani berbagai pemeriksaan secara lengkap dari atas kepala sampai ujung kaki ia lakukan.
Menunggu ia sampai kira kira hampir dua jam.
Melihat dokumen hasil pemeriksaan yang baru ia lakukan tadi hasilnya menakjubkan.
"Semuanya bagus. Anda hanya mengalami luka ringan" kata Dokter yang menangani Aka.
Dia memeluk dokumen hasil pemeriksaan yang ia jalani barusan dengan erat lalu pergi menuju taksi yang sudah dipesan dari dalam aplikasi ponsel.
__ADS_1