
Chapter 25: Teman baru.
Dia sudah tiba ditempat tujuan dengan niat awal untuk berlibur sudah banyak orang orang meramaikan wahana wisata sejarah yang sedang didatangi oleh Dashie.
Gadis ini terbayang lagi wajah orang yang lenyap bagai terbawa angin di depannya sendiri tanpa sebuah isyarat apapun dan dia mengalami ketakutan yang sama seperti saat hal itu terjadi di dalam kereta tadi.
Beberapa orang terdengar dari arah belakang dia berdiri menatap bangunan bangunan peninggalan sejarah yang terbuat dari sejenis batu kuat dengan bentuk seperti ukiran tumbuhan tumbuhan, dan manusia serta makhluk hidup lainnya menjulang tinggi di tumpukan bebatuan sudah indah sejak awal pintu masuk ia melihat dari kejauhan seratus meter megah menakjubkan.
Rombongan orang orang datang dan beberapa melewati Dashie tak sedikit juga saling bersenggolan lengan mereka pada lengan Dashie gadis ini gemetar ketakutan melihat mereka melewatinya fokus kepada orang orang yang baru saja menyenggol lengannya.
Menganalisa.
"Apakah mereka juga akan menghilang sama seperti pemuda itu?" tanya Dashie.
Menunggu orang orang itu bertambah jauh pergi didepan Dashie.
Mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Mereka tidak menghilang" kata Dashie.
Kepanikan berkurang juga rasa gemetar dingin tangan menyebar ke seluruh raganya keringat dingin menjadi satu dalam ketakutan.
"Mereka masih ada tidak pergi" kata Dashie.
Satu tamparan untuk pipi sebelah kanan melayang dari tangan kanannya sendiri cukup keras.
"Kenapa ini bukan mimpi?" tanya Dashie.
"Ini tidaklah nyata" kata Dashie.
Harapan terdalam.
"Aku ingin semua ini adalah mimpi" kata Dashie.
Siang pukul satu lebih sepuluh menit langit sedikit mendung awan sinar matahari mencari ruang di awan gelap di atas Dashie dengan segala pertanyaan yang dia rasa dunia yang dia jalani sungguh misterius.
Membutuhkan uluran tangan seseorang datang menggenggam erat kedua tangan dan berkata semua akan baik baik saja.
"Mengkhayal" kata Dashie.
Memiringkan kepalanya ke arah kiri sedikit tamparan kata kata dari lisan sendiri jauh lebih menyadarkan gadis ini.
Dari arah belakang Dashie tidak sadar bahwa dia sedang diikuti oleh seseorang yang datang mendekat walau dalam langkah lambat dia akhirnya berhasil mendekat kepada Dashe.
Kaget.
"Ya Tuhan" kata Dashie.
Dashie menoleh ke sisi kanan tepat seorang gadis yang pernah ia lihat di dalam kereta yang sama tadi.
Mengulurkan tangan kepada Dashie dengan telapak tangan diatas.
"Kenapa?" tanya Dashie.
Tiba tiba akrab.
"Berikan aku uang" kata gadis itu.
Dashie melirik bola mata ke arah gadis yang berusia tiga tahun di bawahnya itu.
Memberikan kamera digitalnya kepada Dashie.
"Apa maksudnya ini?" tanya Dashie.
Menjelaskan maksud dari tindakannya itu kepada Dashie.
Menjelaskan dengan detail kelebihan kamera yang digantung di lehernya kepada Dashie.
"Cukup cukup. Aku tahu kamera yang kamu pegang itu mahal" kata Dashie.
Tidak takut di tipu dengan orang yang baru saja dia kenal.
"Berikan sedikit uangmu dan ini jaminannya" kata gadis itu.
Berpikir.
Dashie tidak mau dengan mudahnya percaya kepada orang yang tidak dia kenal meski siapa yang sedang mengajaknya bernegosiasi.
"Berikan kartu pelajarmu!" perintah Dashie.
Gadis itu memberikan kartu pelajarnya kepada Dashie.
Dashie menerima jaminan.
Suasana cukup ramai sedari tadi dan ditempat mereka berdua ada saat ini termasuk dalam situasi ramai meminimalisir tindak kejahatan bisa terjadi dengan para pedagang kaki lima beserta kedai kedainya terbuka didepan wisata yang mereka kunjungi.
Menelepon nomor telepon sekolah yang tertera dari dalam kartu nama pelajar ini yang tidak masuk sekolah.
Menutup obrolan dengan nomor sekolah yang tertera di kartu pelajar gadis yang ada di depannya sekarang.
Gadis itu memeluk kamera digital di tangan.
Berbicara dalam hati.
"Dia berkata jujur" kata Dashie.
Dari jarak tidak jauh Bosnya Dashie mengawasi mereka berdua yang mulai akrab tidak seperti sebelumnya di dalam kereta.
Memakai kacamata hitam menggunakan wajah asli.
Memegang dompet kecil merah milik gadis yang sedang bernegosiasi dengan Dashie.
"Tidak sia sia aku mengambil ini darinya" kata Bosnya Dashie.
Menghilang cepat dari tempat itu kemudian.
Dashie memasukkan ponsel kedalam saku sweater putih yang dia pakai rok jeans panjang diatas lutut dan sepatu tali putih berkaos kaki putih semata kaki gadis sekolah menengah atas itu memandangnya lagi.
"Aku tahu aku jelek" kata Dashie.
Menjawab langsung seperti sudah lama akrab saja dengan Dashie
Senyum manis untuk Dashie.
"Tidak" kata Gadis itu.
"Kakak cantik dengan apa yang kau miliki" kata gadis itu lagi.
Seorang wanita melewati mereka.
Menunggu agak jauh pergi melihat keduanya.
"Kau lihat. Dia lebih cantik dariku" kata Dashie.
Dashie sedikit menjaga gengsi saat bersama gadis yang baru ditemui seperti kakak yang sedang menemani adiknya yang sedang pergi berlibur Dashie berada di belakang gadis yang sedang memotret objek di sekitar.
Dashie masih melihat ponsel mencari informasi lebih asal sekolah dari gadis yang berjalan di depannya itu langkah kaki terdengar dari ketukan sepatu hitam kulit yang dia pakai.
"Dia bahkan memberitahukan nama akun sosial medianya kepadaku" kata Dashie.
__ADS_1
Dashie melihat siapa saja yang menjadi teman temannya terus menyelidiki tentang kebenaran akun yang dia terima.
Jarak mereka sekitar lima meter jauhnya keduanya semakin menjauh langkah kaki Dashie sengaja diperlambat menjauh dari gadis itu.
Berhenti dari langkah memandang gadis yang sedang memotret bangunan sejarah di sisi kanan Dashie berbeda arah mata melihat gambar dari lensa kamera di tangan.
"Aku tidak perlu memberinya uang lebih awal" kata Dashie.
Menatap layar ponselnya lagi melihat profil akun sosial media milik gadis itu lagi.
Jantung di dalam diri Dashie tidak berhenti namun tiba tiba menjadi sesak gemetar ponsel miliknya jatuh diatas tanah berumput hijau melangkah mundur sesaat.
Gadis itu melihat ponsel milik Dashie terjatuh.
Gadis itu berlari kepada Dashie.
Hening sendirian kesepian sendirian untuk Dashie diantara banyak suara orang orang disana.
Gadis itu memanggil nama Dashie.
"Kak Dashie" kata Gadis itu.
Entah apa yang harus Dashie katakan untuk sebuah pertanyaan yang akan selalu ditanyakan oleh gadis yang baru saja memanggil namanya.
Melangkah ke belakang lagi menjauh sedikit lagi darinya.
Wajah ceria remaja ini baru dimulai dan Dashie merasa dia sudah membuat gambaran gelap untuk masa depan gadis ini.
"Kenapa kau menjauh?" tanya Gadis itu.
Dashie mundur satu langkah lagi masih menatap gadis ini.
"Pergi!" perintah Dashie.
Dia mengejar Dashie maju dua langkah kepada Dashie.
"Kau kenapa?" tanya Gadis itu.
Dashie pergi berbalik arah akan meninggalkan gadis itu berjalan cepat belum berhenti dan gadis kecil itu terus mengejar Dashie juga belum berhenti.
Dia mengejar lalu menarik tangan kiri Dashie.
"Jika kau ingin pergi bawa ponselmu" kata gadis itu.
Gadis itu pergi memandang sekali lagi dengan raut wajah sedih lalu pergi berbeda arah dari arah yang Dashie pilih untuk pulang kembali.
Dashie melihat gadis itu pergi.
Sebelas detik kemudian Dashie juga pergi dengan arah jalan yang dia pilih.
Tiga meter semakin jauh sekarang mereka.
Sembilan meter bertambah jauh mereka.
Tiga belas meter menjauh dan menjauh pergi tanpa saling berbalik melihat lagi.
Dashie bertumpu tangan kirinya pada sebuah bangunan dinding yang juga bebatuan peninggalan sejarah tertunduk menangis sendirian bercampur rasa bersalah.
"Siapa aku sebenarnya?" tanya Dashie.
Air mata jatuh lagi ke bawah tanah.
"Aku takut" kata Dashie.
Gadis itu tidak tahu harus bagaimana sekarang dia harus mendapatkan uang untuk perjalanan pulang ke rumah.
Dia sudah kehilangan dompet merah mudanya yang telah diambil oleh seseorang yang tidak tahu siapa pelakunya.
Jongkok melihat rerumputan.
"Jika aku pergi darinya lalu bagaimana aku bisa pulang" kata Gadis itu.
Gadis itu berbalik arah mencari Dashie yang sudah pergi jauh.
Dia lalu pergi mencarinya.
Dashie sudah menghapus air matanya dan teringat tentang gadis tadi.
"Sangat berbahaya jika dia sendirian" kata Dashie.
Dia akhirnya kembali di arah awal mereka berdua berpisah.
Mencari ke sekeliling arah dengan tetap mengambil arah yang sama.
Butuh waktu tujuh menit untuk sampai di tempat terakhir mereka berpisah.
Bertemu satu sama lain tetap menjaga gengsi.
"Kau tidak ingin berwisata dengan ku?" tanya Dashie.
"Aku percaya kau adalah orang baik" kata Gadis itu.
Dashie melanjutkan mengajak gadis ini berbicara lagi.
"Namamu adalah Rumy?" tanya Dashie.
Ramah.
"Ya. Kau bisa memanggilku Rumy" kata Rumy.
"Rumy" kata Dashie.
Dia tidak tahu kalau hari liburnya akan menjadi seperti ini bertemu dengan beberapa orang asing atau bisa dikatakan orang baru untuk bagaimana Dashie menata suasana hati dan pikirannya sekarang dia haruskan mengolah segalanya sendiri.
Dashie mengikuti kemana gadis kecil itu pergi mendatangi tiap bagian sejarah wisata liburan kali ini.
Ceria.
"Indahnya tempat ini" kata Rumy.
Memandang.
"Benarkan" kata Rumy.
Dashie tetap harus menjaga mood meski dalam kondisi hati dan pikiran yang tidak baik baik saja.
Gadis itu kembali mengambil gambar dan dia datang kepada Dashie.
Sedikit takut kepada Dashie dan malu malu.
"Bolehkah kita berfoto bersama?" tanya Rumy.
"Berfoto?" tanya Dashie balik.
Hangat senyum Dashie kepada Rumy.
__ADS_1
"Ok" kata Dashie.
Mengambil foto bersama.
Sekali lagi lalu sekali lagi berfoto bersama.
Jika dihitung sudah sepuluh kali mereka mengambil gambar mereka sendiri.
Dashie membuka layar ponsel menunjukkan sebuah gambar kepada Rumy.
"Maksudmu dia siapa?" tanya Rumy.
Menjawab dengan suara biasa tidak ada luapan emosional lebih.
"Teman" kata Rumy.
"Teman satu sekolahku" kata Rumy menjawab lagi.
Dashie berhenti menunjukkan gambar foto dari layar ponselnya kepada Rumy.
Rumy berada sedikit lebih menjauh berjalan didepan Dashie lagi dan tidak ingin membicarakan orang yang sedang ditanyakan oleh Dashie.
Berbicara menyemangati Rumy..
"Tidak peduli siapa dia" kata Dashie.
Tidak melanjutkan pertanyaan lagi kepada Rumy..
Merangkul Rumy dari arah belakang, Dashie memberi semangat untuk gadis kecil yang sedang di sebelah kanannya saat ini.
"Dia memang sangat tampan tapi jauh lebih tampan orang orang diluar sana" kata Dashie.
Menyambung kata kata Dashie.
"Benarkah?" tanya Rumy.
Dashie mengangguk meyakinkan.
Berkeliling lagi di area tempat wisata secara bersama sama lagi.
Sudah pukul lima sore mereka membuat janji bertemu di sebuah kafe.
Belum ada tanda tanda keakraban di antara mereka berdua yang jelas memang mereka bertemu juga karena sebuah perintah dari senior mereka.
Ten sedang membaca pesan dari Dashie.
Ved menunggu pesannya kapan akan dibalas oleh Dashie sejak siang tadi gadis itu belum membalas pesan darinya.
Sekali lagi Ved menghubungi nomor ponsel Dashie.
Terhubung dengan ponsel Dashie.
Khawatir dan marah marah.
"Kenapa tidak memberi kabar padaku?" tanya Ved.
"Kau tidak tahu aku sangat mencemaskanmu" kata Ved.
Ved berkata cukup keras di dalam kafe orang orang memperhatikan ekspresi Ved yang cemas kepada Dashie begitu juga dengan Ten.
Permintaan maaf.
"Sorry. Aku hanya mengkhawatirkanmu" kata Ved.
Dashie sudah tahu kalau ini adalah respon yang akan diberikan oleh Ved kepadanya jika dia tidak memberi kabar dalam waktu hanya kurang dari satu jam lamanya.
Kembali dengan layar ponsel yang belum mendapatkan pesan dari Dashie pria ini menunggu beberapa menit menunggu Dashie membalas pesan kepada dirinya.
Menatap foto dia dengan Dashie.
Pertanyaan lagi dari Ved untuk Dashie.
"Aku akan menjemputmu?" tanya Ved.
Di dalam perjalanan pulang menggunakan kereta bawah tanah.
Dashie melirik ke arah Rumy yang sedang melihat lihat hasil memotretnya dari dalam kamera.
"Aku bersama dengan temanku" kata Dashie.
Segera memberi pertanyaan kepada sahabatnya itu.
"Bukan orang jahatkan?" tanya Ved.
Tertawa kecil.
"Percayalah. Dia bukan orang jahat" kata Dashie.
Ved dan Ten sudah selesai dengan urusan mereka dengan gadis yang sama.
Dashie tidak harus dekat lebih dekat lagi dengan Ved mulai dari sekarang karena ini memang harus dia lakukan untuk menjaga hati seseorang. Dia juga memandangi fotonya bersama Ten yang ada di layar ponselnya.
Halusinasi halusinasi itu kembali dikumpulkan lagi tentang apa yang pernah ia lihat juga dari dalam mimpi tentang pacarnya yang ia anggap agak mirip dengan kejadian musnahnya teman Rumy di dalam kereta dalam perjalanan pergi berwisata tadi pagi.
"Kenapa dia juga seperti akan melakukan hal yang sama dengan teman Rumy tadi?" tanya Dashie.
"Apakah tadi aku juga berhalusinasi lagi?" tanya Dashie.
Mengingat lagi kejadian itu.
"Mengapa hanya aku yang bisa melihat teman Rumy?" tanya Dashie.
Kereta masih melaju cepat membawanya ke arah pulang bersama dengan Rumy yang sangat senang setelah pergi berwisata bersama dengan Dashie.
Jaket oversize denim menutup seragam sekolah menengah atas yang dia pakai.
Makanan telah datang di meja dengan di hidangkan panas panas didepan mereka lalu dua gelas minuman jus pomegranate segar dengan pecahan es batu di dalamnya juga dengan daun mint serta buah stroberi sebagai pemanis di atas gelas.
Ramah.
"Silahkan dinikmati" kata pramusaji wanita.
Pramusaji itu pergi dengan nampan ditangan kembali ke dapur cafe.
Duduk menatap menu makanan di meja yang sama.
"Kau tidak makan?" tanya Ten.
Berbalik bertanya kepada Ten.
"Kau juga tidak makan lebih dulu?" tanya Ved.
"Aku menunggu makanan ini menurunkan suhunya" jawab Ten.
Ved tidak berkata bahwa dia juga sedang melakukan hal yang sama seperti apa yang teman barunya sedang lakukan.
Ten menghubungi Dashie.
"Sayang" panggil Ten.
__ADS_1