
Chapter 11: Run On.
Ren bersama dengan Rio sudah siap untuk pergi bekerja.
Ved juga akan bergegas pergi ke tempat kerja.
Merasa sesuatu sedang ada yang disembunyikan.
Dashie melihat ke arah Ren terus yang sedang mengambil motor.
Isi kepalanya berisi pertanyaan.
"Mungkinkah kita bermain petak umpet lagi" kata Jarrel.
Ved cemburu.
"Aku tahu dia sangat tampan tapi aku … " kata Ved.
Aktivitas terhenti.
Melihat semua ke arah Ved.
Delapan detik dalam sebuah pertanyaan menarik kemudian kembali seperti semula.
Menjadi serba salah.
Ved tahu bahwa dia tidak harus bercerita lebih awal dengan dugaan yang belum pasti ini tapi sejak kapan Hoshie mau mengajak Aka untuk pergi bersama selain tugas perkuliahan dan yang ia tahu saat ini orang yang paling dekat dengan Hoshie adalah sahabatnya sendiri, Dashie.
"Percintaan orang lain memang rumit" kata Ved.
Semua kembali melihat ke arah Ved.
"Kenapa lagi denganku?" tanya Ved.
Ren siap pergi bekerja.
Helm biru ia pakai.
Rio juga siap dengan motor yang sudah dinyalakan.
Mereka pergi bekerja magang di perusahaan yang berbeda dengan satu bidang yang sama yaitu bidang perhotelan.
Lima menit kemudian.
Dashie ada di luar toko sedang menerima panggilan dari seseorang.
"Ini ponsel untuk mu. Kami pergi dulu" kata Jarrel.
Jarrel langsung pergi saja tanpa mendengarkan ucapan terima kasih dari Callie.
Ved melihat ini.
Dia sedang minum kopi di sebelah kanan Callie.
Tidak heran.
"Dia juga begitu denganku padahal aku punya uang" kata Ved.
Jarrel melewati Dashie yang sedang berbicara dengan seseorang.
Kembali berbalik kepada Dashie.
Memulai sebuah pertengkaran.
"Kerja jangan main terus!" kata Jarrel.
Pergi berlari menuju kendaraan roda empat hitam miliknya yang terparkir di depan toko di sebelah kanan toko.
Kemudian diikuti oleh Ved keluar dari dalam toko dengan tas selempang hitam yang ia bawa.
Ved perhatian kepada Callie.
"Kita pergi bekerja dulu. Kamu tetap hati hati disini" kata Ved.
Mengangguk Callie.
Dashie sudah selesai dengan percakapan dari dalam ponsel.
Ved menarik Dashie.
"Ayo berangkat kerja!" kata Ved.
Mengucapkan salam perpisahan kepada Callie.
"Jaga dirimu. Bye bye!" kata Dashie.
Callie melambaikan tangan kepada Dashie.
Gadis ini kembali fokus dengan masalahnya. Dia mengingat ulang dengan apa yang sudah ia saksikan tempo hari mengenai siapa Jarrel sebenarnya tapi dia juga masih ragu tentang siapa Ved.
Dia seperti melihat seseorang yang sama yang pernah ia lihat di suatu waktu.
"Tapi, dimana aku melihatnya?" tanya Callie.
Mencurigai Jarrel.
"Benarkah. Dia adalah bangsa Blakwhe?" tanya Callie.
"Tapi, kekuatan yang ia miliki hampir sama dengan Veer miliki" kata Callie.
"Rupanya dia kategori bangsa Blakwhe yang baik" kata Callie.
Di saat kejadian kecelakaan mobil yang dialami oleh Ved ketika akan menolong Callie yang sedang dikejar oleh salah satu dari bangsa Blakwhe yang juga kekasihnya itu kaca depan mobilnya rusak parah sehingga menutupi wajah Ved meski terlihat dari arah Callie pada saat itu tapi Ved tidak begitu jelas terlihat dari luar mobil oleh Callie.
Curiga.
"Kenapa Jarrel sangat baik padaku?" kata Callie.
Berpikir ulang dan mengingat.
"Kata Ved, dia memang orangnya seperti ini" kata Callie.
"Setelah kejadian kejadian itu menjadikan ku terus berpikiran negatif kepada orang lain" kata Callie.
Membela diri.
"Apa aku salah, tidak kan?" tanya Callie.
Di area parkir toko.
Berhenti sebuah mobil.
Ved sedang membantu Dashie memakaikan helm untuknya lalu datang rombongan anak anak lebih jelasnya balita dengan mobil kuning bergambar satwa satwa lucu.
Kaca jendela pintu sebelah kiri terbuka.
"Masuklah. Kita akan berkeliling kota pagi ini!" perintah Si Driver.
Ved melepas helm dari kepala Dashie.
__ADS_1
"Pergilah" kata Ved.
Jendela mobil di belakang driver mobil itu juga terbuka.
Suara anak anak yang memanggil mereka.
Berteriak menyapa.
"Bibi dan Paman!" kata mereka kompak.
Ved berbalik kepada mereka.
Menyapa.
"Hello. Good morning!" kata Ved.
Senyum lebar untuk mereka.
Dashie ikut bersama mereka untuk bertamasya berkeliling kota.
Ved melambaikan tangan kepada anak anak manis di dalam mobil itu.
Mereka pergi.
Tanpa diketahui oleh Ved bahwa ada Callie di sisi kiri ia berdiri saat ini di tempat parkir.
Kaget.
"Kaget aku!" kata Ved.
Meledek.
"Dia memang tidak peka tapi dia tulus" kata Callie.
Pergi setelah mengatakan ini pada Ved masuk ke dalam toko.
Merasa mendapat dukungan kemudian dia menghitung waktu bahwa dia bisa terlambat jika masih tetap disana.
Sepuluh menit lagi dia akan terlambat.
Pergi ke tempat kerja segera.
Dia sudah mulai tidak sadarkan diri dengan tatapan mata kosong seperti tidak bernyawa menatap lurus.
Sangat dingin benar benar sangat dingin udara dari bawah gadis ini tegak berdiri disana berpijak di bebatuan di atasnya.
Masuk ke dalam ilusi itu lagi Dashie berpikir ulang dan berpikir ulang dengan apa yang ia saksikan mencoba menarik diri pergi dari tempat itu tetapi langkah kakinya menyuruh untuk terus mengikuti jejak darah yang ada di antara bebatuan di bawah kakinya terus membawa dirinya jauh menuju ke tempat yang dingin.
Dia ingin berbalik kembali dan sekali lagi raganya menolak.
Mengikuti lagi darah darah yang berantakan terjatuh ke bawah tanah berbatu.
Ditempat lain Hoshie dengan tangan kanannya sedang menghisap aura milik Aka dari belakang leher gadis ini tanpa sedikitpun peduli hingga darah sudah berjatuhan dari leher belakang gadis itu ikut keluar bersama aura yang diambil oleh Hoshie dengan cengkraman tangannya.
Aura milik Aka semakin hilang diambil oleh Hoshie sedangkan dia tidak membutuhkan darah milik gadis ini sehingga dia tidak peduli dengan darah darah yang jatuh berantakan meninggalkan jejak untuk mereka ada disana.
Darah darah itu terus keluar dengan deras dan Aka tidak menyadari hal ini sedang terjadi kepada dirinya.
Seperti uap udara keluar lembut aura milik Aka terserap terus dengan tujuan menguras habis aura milik gadis yang ada dalam cengkraman Hoshie dari arah belakang seseorang datang.
Hoshie berbalik melihat dan aksinya terhenti seketika.
"Tak ada seorang pun disini lalu darimana asal darah darah itu?" tanya Dashie.
Hoshie masih menggunakkan mantra "Dugas" sebagai cara agar mereka tidak terlihat oleh siapapun ketika sedang beraksi mencari target korban berdampak juga bagi korban yang berada dalam cengkraman tangan mereka pada saat ini.
Dashie masih berada dalam sebuah ilusi berada dalam sebuah tempat.
Melihat kebawah berjarak setengah meter dari tempat yang gelap dan menyeramkan itu.
"Jurang itu sangat menakutkan" kata Dashie.
Hoshie dan Aka masih dengan mantra "Dugas" sehingga Dashie benar benar tidak melihat mereka yang ada di sisi kirinya sedangkan Aka yang masih belum sadarkan diri akibat mantra "Weyalla yallawe" sebuah mantra yang membuat seseorang yang terkena mantra ini akan menjadi patuh dan tidak sadar sama sekali seperti yang terjadi kepada Aka saat ini yang dilakukan oleh Hoshi kepada Aka.
Apakah Hoshie tidak berusaha untuk melenyapkan Dashie saat ini tidak secepat itu dia melakukan hal itu karena sudah jelas bahwa gadis ini adalah targetnya yang paling ia incar selama ini dan belum berhasil didapatkan.
Kedua tangan merapikan rambut panjang di sisi kanan dan kiri telinga lalu mengamati sekitar.
"Tak ada apapun disini" kata Dashie.
Kembali ia bisa berbalik menjauh berjalan dari arah Aka dan Hoshie ada di sisi kirinya.
Dia pergi dengan langkah santai tanpa ragu pergi.
Hoshie akan melanjutkan untuk mengambil aura milik gadis yang masih dalam cengkramannya itu.
Tidak bisa dilanjutkan.
Raga Hoshie menolak untuk ia melakukan hal kejam itu lagi.
Berbalik melihat ke arah Dashie pergi.
Dashie sudah tak terlihat ada di sekitar tempat lembah itu.
Kembali kepada Aka.
Mencoba memeriksa Aka apakah dia masih hidup atau meninggal.
"Dia belum mati" kata Hoshie.
Dia masih dalam pengaruh mantra darinya tapi dia sudah tidak bisa di ambil lagi aura yang ia miliki.
Hoshie membersihkan darah yang jatuh mengenai baju gadis ini dengan satu tiupan udara dari mulutnya.
Aka berada dalam pangkuan Hoshie.
Sedangkan untuk Dashie tersadar kembali ketika suara tepukan tangan dari anak anak di sekelilingnya semakin bertambah keras terdengar dalam sebuah permainan yang diikuti oleh anak anak yang sedang diasuhnya bersama pengasuh pengasuh lain memutar duduk di sebuah tempat bermain dan belajar di depan sebuah gedung untuk melakukan yoga.
"Terjadi sesuatu sedari tadi kau melamun?" tanya rekan kerja Dashie.
Segera fokus.
"Mungkin aku kurang tidur" jawab Dashie.
Memberi saran.
"Pergilah membuat kopi. Aku akan menjaga mereka" kata rekan kerjanya.
"Baiklah. Tolong ya" kata Dashie.
Terjebak dalam kebingungan lagi itulah yang sekarang Dashie alami membuatnya menjadi sering melamun dan berpikir yang tidak sesuai dengan orang orang normal pada umumnya.
"Aku merasa tidak normal" kata Dashie.
"Tapi, aku masih manusia bukan makhluk lain" kata Dashie.
Mengambil cangkir putih lalu mengambil satu sendok teh kopi ditambah satu sendok setengah gula kedalam cangkir lalu menuangkan air panas secukupnya kedalam cangkir tersebut lalu mengaduknya.
Duduk disana meminum kopi sebentar.
Untuk Hoshie dia sedang membawa Aka untuk kembali ke dalam mobilnya delapan belas meter dari tempat Hoshie belum berhasil mengambil aura Aka.
__ADS_1
Membuka pintu sebelah kiri tempat Aka mengemudi.
Aka sudah duduk di kursi pengemudi lalu Hoshie membuka bagian atas mobil menjadi terbuka.
Dia kemudian membangunkan Aka yang baru saja memejamkan matanya setelah berhasil selamat dari Hoshie.
"Aka" panggil Hoshie.
Gadis ini belum terbangun.
Kemudian, Hoshie mengambil satu batang rokok lalu menyalakan dengan pemantik yang di ambil dari saku celana bagian kanan.
Merokok di sisi kiri luar mobil.
Hoshie akan pergi dari sana mengawasi gadis itu dari kejauhan sampai dia terbangun sendiri.
Membaca mantra.
"Dugas"
Dia duduk di sebuah batu masih dalam area menuju jurang dengan lembah di sekitarnya menghisap rokok yang dinyalakan tadi.
Menghubungi Dashie.
Menunggu lima detik.
"Dashie" panggil Hoshie.
"Ya. Ada apa?" tanya Dashie.
"Kau sedang bekerja?" tanya Hoshie
"Ya. Kenapa?" tanya Dashie.
"Sorry" kata Hoshie.
Rekan kerja Dashie memanggil dan dia harus segera menutup obrolan dengan Hoshie.
Hoshie mendengar panggilan dari rekan kerja Dashie yang memanggilnya.
"Kita bicara lagi nanti. Bye!" kata Dashie.
Dashie kembali bekerja dengan membawa secangkir kopi buatannya tadi.
Berpikir mendalam tentang Dashie.
"Dia tidak marah padaku tidak mungkin dia sebaik itu" kata Hoshie.
Sedikit menyesal.
"Sejauh ini memang dia seperti itu" kata Hoshie.
Yang dikatakan oleh Hoshie tidak semuanya salah tapi takdir seorang wanita yang lebih banyak menggunakkan persaannya daripada logika menakdirkan bahwa dia tidak bisa tidak sedih ataupun menangis bahkan saat ia melangkah berjalan membawa secangkir kopi yang ia buat kedua tangan dingin gemetar dia usahakan untuk tetap tegar menutupi segala perasaan yang membuatnya ingin pergi ke suatu tempat sendiri tanpa siapapun.
Sementara untuk Hoshie entah apa yang terjadi dengan isi hatinya yang dingin tak merasakan apapun tentang perbuatannya kepada Aka barusan tak ada reaksi menyesali perbuatannya sama sekali apalagi peduli dengan perasaan Dashie.
Datang seseorang yang juga masih dalam satu spesies yang sama dengan mantra yang sama yang mereka ucapkan masing masing.
"Kau ingin aku menghabisi nyawa gadis itu?" tanya Pria berkacamata minus.
Menjawab santai.
"Kita tidak bisa melakukan itu" kata Hoshie.
"Kenapa?" tanya Pria berkacamata minus.
"Aku sudah mencobanya" kata Hoshie.
"Apa dia … ?" tanya Pria berkacamata minus.
"Kita belum menemukan orang itu" kata Hoshie.
Dia tidak mungkin dengan mudahnya bahwa dia telah menemukan target yang termasuk dalam kategori level A dalam korban yang mereka cari.
"Ok" kata Pria itu lagi.
Pergi sudah dalam satu detik meninggalkan Hoshie yang sedang berada tidak jauh dari dekat Aka.
Sekarang, ya sekarang sudah pukul berapa sekarang sudah pukul lima sore waktu untuk Dashie pulang kerja dan dia tidak ingin pulang dengan cepat menunggu orang tua dari anak anak yang ia asuh datang menjemput mereka yang sedang berada di pangkuan Dashie dan pengasuh yang lain tertidur pulas di antara mereka dan beberapa sedang menggambar dengan buku gambar dan pensil warna menggambar bintang berwarna warni terlihat oleh Dashie.
Satu persatu anak anak di jemput oleh kedua orang tua mereka dan juga ibu serta ayah mereka setelah pulang bekerja seharian.
Menjadi berkhayal yang belum terjadi.
Berteriak.
"Menikahlah denganku" kata Ved.
Tertawa.
"Ayo kita pulang" kata Dashie.
Tempat mereka bekerja kebetulan sekali bersebelahan jadi hampir setiap waktu bisa bertemu dan semua sudah tahu mereka bersahabat sejak lama.
Melempar helm kepada Dashie.
"Kau yang menyetir" kata Ved.
Langsung menolak.
"Motormu terlalu berat untukku" kata Dashie.
"Dia sedang dipinjam Jarrel" kata Ved.
"Jadi … ?" tanya Dashie.
Ved menyediakan motor matik untuk di kendarai oleh Dashie dengan wajah ceria akhirnya dia bisa memakai motor modif keluaran tahun delapan puluhan itu.
Ceria.
Ved tidak tahu kenapa dia sangat senang.
"Kau seperti bertemu dengan gebetan" kata Ved.
"Ini motor kesayangan kakak Des" kata Dashie.
Des adalah kakak perempuan dari Ved yang dikabarkan menghilang dan sewaktu mendiang kakak Des belum pergi hanya dia yang diajaknya pergi menggunakkan motor itu bahkan Ved tidak pernah diajak.
Merebut kunci motor ditangan Ved.
Menaiki motor dan siap dengan mesin yang menyala.
"Cepat naik!" kata Dashie.
Ved ikut bersama dengan Dashie berboncengan dalam satu motor yang sama.
Melambaikan kedua tangan kepada rekan rekan kerja yang juga akan pulang.
"Bye bye!" kata keduanya.
__ADS_1
Dashie tidak tahu bahwa Ved sedang menahan rasa sakit diperutnya.