
Chapter 16: Yes or No.
Teriakan itu berhenti.
Orang orang sudah terkapar tak berdaya di samping bus.
Gemetar dengan apa yang tidak ingin ia lihat di awal pagi ini sungguh membuatnya ingin menahan rasa mual dengan darah yang berserakan beserta para pemiliknya. Tidak hanya satu dua orang melainkan lima orang mereka sudah terkapar dengan mata terbuka tak bernyawa.
Darah keluar dari beberapa orang dibelakang Dashie juga mengenai bagain belakang gadis ini dari mana dia bisa mengetahui darah darah itu ada dibelakang dia melihat kaca spion bus yang ia lihat dari arah kanan.
Semua tertembus sebuah senjata yang sama yang pernah ia lihat ketika berada dalam ilusi ilusi ketika seseorang akan menghabisi seseorang dan orang yang berbeda juga berusaha menghabisi dirinya.
Dashie berbalik dan lagi lagi tak ada siapapun ada disana dengan orang orang yang meninggal yang terkapar di tempat perhentian bus.
Mengagetkan.
"Kau tidak terburu buru?" tanya seseorang menyapa.
Dashie kemudian masuk kedalam bus untuk mencari kursi kosong.
Bus bergerak pergi.
Mengingat.
Dia melihat mayat mayat itu berserakan di sana tapi kenapa hanya dia yang bisa melihatnya tidak dengan orang lain yang juga berada ditempat yang sama tadi.
Bersebelahan Dashie dengan Ren.
Ramah.
"Kau sendirian saja. Dimana Ved?" tanya Ren.
Dashie terlihat melamun lagi sekaligus menahan rasa panik.
Menyapa lagi.
"Dashie!" panggil Ren.
Tersadar dari lamunan berbalik melihat ke arah semula ia melihat mayat mayat tadi.
Ren tidak tahu apa yang sedang ada di pikiran Dashie.
Berbicara sendiri.
"Ilusi lagi" kata Dashie.
Tidak paham apa yang dikatakan oleh Dashie.
"Ilusi?" tanya Ren.
Dashie ingat bahwa ada orang lain yang ia kenal sedang mengajaknya bicara.
Mengambil permen karet rasa lemon di saku jaket hitam di sebelah kanan membuka lalu memakannya.
Satu jawaban dari Dashie untuk Ren.
"Aku terlalu banyak begadang dan akhirnya jadi seperti ini" kata Dashie.
Dia tidak membuat banyak obrolan lagi dengan orang ramah dan pintar serta idola kampus yang tampan di sebelahnya itu lebih sibuk dengan mengingat ilusi ilusi yang membuatnya semakin merasa menjadi orang aneh.
Sepuluh menit ia sudah sampai dan dia juga sampai lupa dimana tempat ia berhenti untuk datang ditempat kerja.
Berteriak.
"Stop!" kata Ren.
Memerintah Dashie untuk bangun dari tempat duduknya.
"Kau sudah sampai" kata Ren.
Senyum indah untuk Dashie.
Dashie langsung tersadar dan langsung bangun lalu berjalan cepat meninggalkan idola kampus itu.
Turun dari dalam bus.
Orang itu masih dengan keramahan miliknya menyapa dari dalam bus kepada Dashie yang baru saja turun dari dalam bus menatapnya.
Melihat seniornya sampai orang itu pergi jauh dengan bus yang membawanya pergi.
"Ada orang setampan itu?" tanya Dashie.
"Tatapan matanya lebih mudah menahan orang lain tidak pergi" kata Dashie.
Nasihat untuk diri sendiri.
"Sadar gadis biasa saja" kata Dashie.
Dashie pergi menuju tempat kerja berjalan sendiri dengan hujan sudah reda hanya tersisa gerimis gerimis kecil.
Tiba di tempat kerja menunggu anak anak datang diantar oleh keluarga mereka.
Anak anak datang terlihat turun dari dalam kendaraan bersama dengan kedua orang tua mereka memeluk erat anak anak mereka.
Pemandangan ini membuatnya kembali lagi tersentuh dengan mereka yang rukun dengan kisah keluarga mereka.
"Aku bahkan iri dengan anak anak kecil itu" kata Dashie.
Kepada diri sendiri.
"Jangan menangis dan mudah terharu" kata Dashie.
Tetap menjaga keceriaan dari ekspresi pembawaan diri dihadapan anak anak yang mulai datang berlari mengarah pada Dashie.
Mereka memeluk Dashie dengan peluakan penuh kasih sayang ketulusan hadir di wajah polos mereka.
Dengan mendapatkan luka luka baru lagi wajah mereka makin unik terlihat sedang sarapan pagi di depan tempat usaha seseorang.
Breakfast bersama.
Jarrel dan Ved berkedip keduanya kepada Dashie yang sudah mulai bekerja.
Akrab seperti biasa dan terbiasa dengan banyak perban yang berganti di beberapa bagian tubuh mereka.
Dashie sedih.
"Pria memang suka berkelahi tapi apa itu tidak berlebihan" kata Dashie.
"Mereka yang terluka dan aku yang sedih" kata Dashie.
Menggandeng membawa masuk anak anak kedalam ruang belajar dan bermain cuaca lumayan dingin bagi anak anak seusia mereka jika bermain secara outdoor setelah hujan.
Bertanya jujur.
"Kenapa makanan buatanmu sangat lezat?" tanya Ved.
"Kenapa kau ingin menyuruhku terus memasak untukmu?" tanya Jarrel.
Berkata jujur.
"Ini serius enak loh" kata Ved.
"Aku tidak mau memasak untukmu lagi" kata Jarrel.
Berpikir keras.
Memakan beef soup buatan Jarrel.
"Apa aku berkata salah?" tanya Ved.
Wajah polos.
Ved berpikir mungkin dia yang salah selalu meminta sahabatnya selalu memasak untuknya.
Bertanya tentang saran.
"Apa aku perlu kursus memasak?" tanya Ved.
Memberi saran.
"Kau ingin membuka restoran atau cafe?" tanya Jarrel.
"Punya teman selalu optimis itu baik" kata Ved.
Percaya diri.
__ADS_1
"Aku?" tanya Jarrel.
Menjawab apa adanya.
"Ya ya ya" jawab Ved.
Memberi saran lagi.
"Atau kita juga bisa membuka usaha kuliner bersama. Bagaimana?" tanya Jarrel.
Spontan menjawab.
"Tidak. Tidak, seleramu terlalu tinggi untukku" jawab Ved.
"Kenapa kau selalu menolak bekerja sama denganku?" tanya Jarrel.
Tidak melanjutkan lagi membahas bisnis dengan Jarrel dia lebih fokus dengan makanan yang ia makan.
Dalam hati.
"Bisa sampai besok jika membahas ini dengannya sedangkan aku sedang makan" kata Ved.
Melanjutkan lagi.
"Bisa juga berakhir bertengkar cukup untuk yang kemarin kemarin" kata Ved.
Jarrel tidak masalah dengan penolakan dari Ved itu salah satu alasan yang membuat Ved mau tetap berteman dengan orang yang tadi membuat menu sarapan pagi untuknya dan para stafnya.
Pukul setengah sembilan pagi.
Hoshie baru selesai mandi mengeringkan rambut kepala dengan handuk putih duduk di sofa ruang tamu.
Luc masih dengan pekerjaan mengepel lantai.
Hoshie bersandar di sofa fokus dengan apa yang sedang dilihatnya.
Luc penasaran dengan apa yang sedang dilihatnya lalu mengikuti kemana arah kedua indera penglihatan sahabatnya itu.
Melihat ke jendela dengan tirai yang masih tertutup lalu mengambil tindakan untuk membuka tirai jendela depan rumah.
Sinar matahari hangat datang masuk kedalam ruang tamu.
Emosi yang tidak berlebihan.
"Kau sedang apa!" kata Hoshie.
Berbalik emosi.
"Sedang apa. Kau yang sedang apa melamun sejak tadi?" balik bertanya kepada Hoshie.
Tidak ada jawaban dari Hoshie.
Terlihat banyak pikiran lagi tidak seperti karakter Hoshie.
Beberapa detik duduk meringkuk lalu beberapa detik bersandar di sofa lalu beberapa detik lagi menatap langit ruang tamu lalu duduk melihat ke luar jendela lagi.
Perhatian tapi ngegas.
"Sekarang apa lagi!" kata Luc.
Hoshie sibuk sendiri memandang luar jendela dari sofa.
Sudah selesai mengepel lantai setelah itu membawa alat pel masuk ke belakang rumah tempat menaruh peralatan mengepel dan peralatan kebersihan lain.
Tiga menit berlalu.
Luc kembali lalu mengambil tempat duduk di sisi kanan Hoshie.
Sudah tahu jawaban yang akan diterima tapi tetap bertanya.
"Apa kata sandi pintu rumahmu?" tanya Luc.
Tanpa ditutup tutupi.
"Tanggal lahir Dashie" jawab Hoshie.
Menghela nafas.
"Kenapa harus dia kau belum mengubahnya?" tanya Luc.
Mengangguk.
Melempar dengan bantal sofa putih kepada Hoshie.
Bersandar di sofa menatap ke atas langit ruang tamu.
"Kau benar benar menyukainya?" tanya Luc.
Spontan.
"Tidak" jawab Hoshie.
Berbicara menatap langit ruang tamu.
"Lalu kenapa kau belum mengubah kata sandi pintu rumahmu?" tanya Luc.
Pertanyaan menyusul segera oleh Luc untuk Hoshie.
"Apakah dia tahu ini?" tanya Luc.
Menjawab dengan santai, dan berkata "Tidak".
Menghela nafas lagi.
"Terserah kau sajalah!" kata Luc.
Hoshie pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu dengan terburu buru.
Tiga puluh detik kemudian pemuda ini sudah dengan pakaian rapi seperti akan berkencan.
Luc sedang menonton televisi sambil makan anggur hijau diatas piring melihat Hoshie keluar dari kamar.
"Pergi lagi?" tanya Luc.
Menjawab cepat.
"Kau bukan istriku" kata Hoshie.
Tidak berkomentar dengan jawaban pertanyaan yang ia berikan kepada Hoshie.
Melanjutkan untuk bersantai di depan televisi menonton sebuah acara variety show.
Mengomentari bintang tamu yang diundang di acara tersebut.
"Mereka semua cantik cantik" kata Luc.
Belum waktunya makan siang di pukul sembilan pagi seseorang sudah datang di tempat kerja orang lain membawa buah buah berry serta cokelat juga cake.
Hoshie datang ditempat kerja Dashie dan memberikan semua itu kepada anak anak disana.
Hoshie sering datang ke tempat kerja Dashie untuk bertemu dengannya sehingga membuatnya cukup terlihat akrab dengan anak anak disana.
Jika dihitung mungkin sudah satu minggu dia baru datang lagi tapi mereka tidak lupa dengan wajah Hoshie.
Semua mengajak bermain dengan gembira bersama Hoshie manis sebagai seorang pemuda sepertinya.
Mereka lebih cenderung memilih bermain bersama Hoshie dengan banyak pilihan orang orang yang biasa bekerja sebagai pengasuh mereka.
Rekan kerja Dashie.
"Langsung jadikan pacar" kata rekan kerja Dashie.
"Dia hanya teman" kata Dashie.
"Mau sampai kapan?" tanya rekan kerjanya yang lain.
"Terserah" kata Dashie.
Melirik ke arah Dashie ketiga orang disana.
"Kenapa?" tanya Dashie.
Dashie minum susu kotak rasa original lagi.
__ADS_1
Ketemu Ved dengan membawa susu kotak rasa original untuk Dashie.
Tidak heran sudah pernah melihat Hoshie datang di tempat kerja Dashie seperti saat ini.
Tidak berhenti dengan tujuan awal lalu melanjutkan untuk menghampiri masuk kedalam ruang pertama tempat Dashie bekerja.
Sudah ada di sebelah kiri Dashie.
Memberikan lima susu kotak dalam satu kantong plastik putih dengan satu rasa dengan tangan kanan kepada Dashie.
"Untukmu" kata Ved.
"Terima kasih" kata Dashie.
Semua yang ada disana masih dengan memperhatikan Hoshie yang bermain dengan anak anak duduk bersama mereka memasang kembali puzzle puzzle.
Berkecil hati dan sadar diri.
Dashie mengambil satu susu kotak dari Ved lalu memasukkan sedotan ke dalam lubang karton kotak minuman di tangan kemudian memberikan kepada Ved.
Hati Ved menjadi luluh dengan tindakan Dashie.
Dia juga senyum senyum sendiri.
Ved meminum minuman yang diberikan dari Dashie.
Menyusul Dashie minum susu kotak yang ia dapat dari pemberian Ved.
Menengok ke arah Ved.
Baru tiga detik Ved sudah pergi saja dari sisi kirinya.
Dashie keluar sebentar menghubungi seseorang sambil juga melihat ke arah Ved memanggilnya dengan tangan kanan untuk mendekat kepadanya.
Mendekat Ved.
"Ada apa?" tanya Ved.
"Dia datang" kata Dashie.
Mulai curiga dengan masalah yang sedang ada didepan mata.
Pembicaraan di ponsel ditutup.
Dashie merangkul erat lengan kanan sahabatnya itu dan Ved melihat tindakan dari sahabat perempuannya ini.
Senyum tidak biasa Dashie untuk Ved tidak dipaksakan gadis ini lakukan.
Berbisik.
"Sorry. Aku sedang memanfaatkanmu" kata Dashie.
Hoshie keluar dari tempat Dashie bekerja lalu melihat Dashie jauh lebih akrab dengan Ved.
Berkata sesuatu untuk salam perpisahan.
Senyum hangat.
"Aku ingin sering mampir tapi kurasa kali ini akan tidak" kata Hoshie.
"Bye bye" kata Hoshie.
Tidak untuk Ved kalau tidak mencuri kesempatan ini.
Hoshie masuk ke mobilnya lalu memarkirkan perlahan keluar dari halaman tempat kerja Dashie.
Ved dengan senang hati.
"Aku suka jika dimanfaatkan begini" kata Ved.
Menunggu Hoshie pergi tidak terlihat lagi oleh mereka.
Dashie melepas lengan Ved yang dia rangkul.
Merengek.
"Ayo kita berkencan" kata Ved.
Senyum menggoda Ved kali ini tidak berbohong sedang memohon kepada Dashie.
Dashie menggeleng geleng kepalanya sambil masuk ke dalam tempat kerja.
Berteriak.
"Tidak mau?" tanya Ved.
Belum ada jawaban dan dia tetap merengek.
"Sungguh?" tanya Ved.
Dari arah belakang seseorang mengejutkan pemuda ini.
Seniornya datang.
Menjadi penurut kemudian dia mengikuti kemana langkah kaki pria dewasa yang memakai setelan formal jas biru dan dasi hitam.
Pergi ke tempat usaha Ved.
Jarrel juga ikut menjadi patuh duduk bersebelahan di meja tunggu para pengunjung bengkel.
Para staf sedang bekerja dengan pekerjaan mereka.
Meminum teh buah stroberi buatan Ved.
"Tadi pagi kalian melakukan itu?" tanya senior mereka.
"Ya" kompak menjawab Ved dan Jarrel.
"Baiklah. Hanya ini yang ku tanyakan" kata Senior mereka.
"Bagaimana mobilku sudah siap diambil?" tanya Senior mereka.
Padahal mereka sudah deg degan berpikir akan kena tegur habis habisan olehnya tapi dia hanya menanyakan hal itu dan mereka merasa lega.
Memberi nasihat.
"Jangan sampai gadis itu lari" kata seniornya.
Lalu dia pergi ke tempat anaknya yang juga ada disana sedang bersama dengan Dashie dan rekan rekan kerjanya yang lain.
Menunggu putrinya di kursi depan tempat penitipan anak yang ada di dalam sana lalu terlihat Dashie menggandeng seorang balita perempuan lucu dengan jepit rambut bunga diatas kepala sebelah kanan.
Berlari melepas tangannya dari genggaman tangan Dashie memeluk kemudian Ayahnya.
Berteriak.
"Papah" kata gadis kecil itu.
Ved melihat kasih sayang antara Ayah dengan putrinya terlihat jelas.
Gadis kecil itu mencium pipi Ayahnya sebelah kanan dan juga mencubit pipinya berkali kali.
Sikap ramah Dashie membuat Jarrel berpikir sebuah ide untuk Ved.
"Kapan kalian akan jadian?" tanya Jarrel.
"Siapa?" tanya Ved.
"Kau cerdas tapi tidak dengan hal ini" kata Jarrel.
Mereka berdua kembali dengan pekerjaan di bengkel dan tidak melihat senior mereka sedang berbicara dengan Dashie.
Jarrel sibuk dengan obrolan yang mengarah kepada hubungan antara Dashie dan Ved kedepannya akan sampai dimana dan Ved mendengar segala maksud dari kata kata yang Jarrel katakan berputar menuju ke arah kisah asmara dirinya.
Memberikan penawaran ekstrim.
"Atau aku saja yang jadi pacarnya?" tanya Jarrel.
Dari tempat kerja Ved, dia melihat seniornya keluar dari halaman tempat kerja Dashie dengan mobil hitam.
"Aku terlalu biasa untuknya" kata Ved.
__ADS_1