Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 215: Full baterai.


__ADS_3

...Chapter 215: Full baterai....


..."Itu hal wajar jika kamu memiliki seorang putri" kata Hoshie....


... Hoshie yang tiba-tiba sibuk baca buku materi kuliah....


... Melirik ke arah sahabatnya....


..."Kau kan belum punya anak" kata Oryn....


..."Tapi, aku juga akan berumah tangga kelak" kata Hoshie....


..."Lihat dirimu ini. Sadarlah, kau ini tipe orang yang terlalu sempurna untuk dijadikan pasangan hidup" kata Hoshie....


... Melihat ke bagian lain ruangan tempat tidur dengan lampu yang masih menyala terang....


..."Terlalu sempurna itu memang tidak menyenangkan" kata Oryn....


..."Seorang Ayah pasti khawatir dengan siapa putrinya menjalin asmara meski itu bukan kamu" kata Hoshie....


..."Aku baru tahu kau bisa sedewasa ini" kata Oryn....


... Jujur....


... Dengan siapa orang yang sedang diajaknya bicara....


..."Aku jadi kepikiran tentang diriku sendiri" kata Hoshie....


... Meledek....


... Mengambil buku yang dibaca oleh Hoshie memperhatikannya dengan seksama....


..."Ini kenapa bisa baca beginian" kata Oryn....


... Merebut kembali buku bacaan yang tadi dibaca olehnya....


..."Buat bekal masa depan" jawab Hoshie....


... Tertawa sinis....


..."Kau sudah tambah dewasa Sekarang" kata Oryn....


... Oryn berbenah tentu dengan cepat terlihat oleh Hoshie bolak-balik didepannya sekarang....


... Kekanan kekiri lalu tidak lupa memakai sleeping mask berbahan dasar beras berbaring di tempat tidur di sisi kanan Hoshie yang sedang sibuk dengan tidak satu buku tapi lebih....


... Melirik ke arah Hoshie....


..."Kau juga mulai sedikit terancam kan" kata Oryn....


... Rileks sambil baca buku....


..."Ya sudah sangat jelas" jawab Hoshie....


..."Tapi, kau terlihat santai padahal nggak" kata Oryn....


..."Ya" jawab Hoshie lagi....


... Lima menit kemudian....


... Tuan Oryn Mason tidur....


... Jeje dan kakaknya baru saja tiba dirumah....


... Semua terlihat seperti biasa tidak ada yang aneh dari tempat tinggal mereka....


... Melihat dari luar rumah enggan untuk masuk kedalam menunggu barangkali hantu yang pernah ia lihat masih ada disekitar rumah....


... Suara khas malam terdengar di indera pendengaran....


... Sepi....


..."Aku pikir ini lebih menakutkan seperti yang kuduga" kata Jeje....


... Tidak berteriak tapi kata-katanya jelas terdengar lebih jelas ketika di malam hari....


..."Kau tidak masuk!" kata kakaknya Jeje....


... Dia memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam rumahnya sendiri....


... Sambil berjalan berbicara sendiri pelan sengaja agar tidak didengar oleh siapapun termasuk kakaknya itu....


..."Sudah berapa kali ini terjadi padaku" kata Jeje....


... Untuk diri sendiri....


..."Apakah aku masih hidup di semesta yang sama atau ini hanya khayalan ku?" tanya Jeje....


..."Ini lebih baik hanya khayalan ku saja" kata Jeje....


... Yakin....


..."Meski aku tahu ini nyata dari kenyataan hidupku" kata Jeje....


... Dia masuk kedalam rumah menutup pintu depan rumah lalu nada dering ponselnya terus berdering sejak tiga menit yang lalu....


... Melihat layar ponsel sambil menuju arah kamarnya....


... Dia melihat beberapa bukan hanya satu dua pesan diterima dari seorang Nawa....


... Di baca tanpa dibalas lalu pesan baru muncul dan muncul dalam jeda waktu yang dekat dari orang yang sama....


... Tidak dibaca oleh Jeje dia lebih memilih bersiap untuk istirahat tidur ketimbang membalas atau mengangkat panggilan telepon dari seseorang....


... Memasang alarm di ponsel agar besok pagi tidak terlambat bangun pagi....


... Alarm berbunyi dari layar ponsel....


... Baru saja dia tidur tidak terasa sudah pukul lima pagi....


... Mencari ponselnya yang sedang berbunyi keras....


... Membuka mata yang masih separuh belum terbuka sepenuhnya....


... Mematikan alarm....


... Nada suara pelan masih mengantuk....


..."Bangun" kata Jeje....


... Bangun dari tempat tidur lalu segera membawa handuk untuk pergi segera ke kamar mandi....


... Pukul enam lebih tiga puluh dua menit....


... Di sekolah....


... ...


... Tas ransel hitam pemilik seragam biru gelap itu melihatnya dengan jelas siapa yang sedang ada di depan sekolah yang berada persis di sebelah kanan sekolah tempat dia berdiri didepan gerbang sekolahnya sendiri....


... Nawa mengusap kepala atas Rumy yang sering dilakukan padanya ketika bersama sebagai tanda rasa kasih sayang....


... Dia melihatnya didepan matanya sendiri....


... Wajah itu....


... Dia terhenti dalam lima detik ekspresi datar tanpa emosi masih dipertahankan oleh gadis yang juga teman sekolah Nawa ini....


... Pergi melanjutkan perjalanan masuk kedalam sekolah....


... Jeje pergi akan melewati pintu gerbang sekolah sedangkan untuk Nawa baru saja mengantar Rumy berangkat sekolah bersama melihat siapa yang memperhatikan dirinya dalam beberapa detik lalu segera pergi setelah remaja laki-laki ini berbalik ke arahnya....


..."Kita tidak mungkin bersama" kata Nawa....


..."Tapi, aku tahu kalau dia pasti sedang sedih" kata Nawa....


... Nawa di pandangan seorang Jeje....

__ADS_1


... Dia terlihat tanpa ekspresi melewati kelas menuju ke arah anak tangga gedung sekolah....


..."Dia pasti menganggap dirinya "Si Paling" dan "Si Keren"" kata Jeje....


..."Padahal enggak juga" kata Jeje....


... Berjalan santai sambil melihat layar ponsel dengan tetap memperhatikan jalan yang sedang di lalui....


... Lalu di lewati oleh Nawa dengan sepeda motornya menuju ke arah tempat parkir sekolah. ...


... Nawa baru melewati Jeje yang sedang sibuk dengan ponsel melihatnya dari kaca spion motor sebelah kiri....


..."Dia sama sekali tidak memperhatikan diriku" kata Nawa....


... Remaja laki-laki ini tiba ditempat parkir mencari tempat parkir untuk motornya....


... Berhenti....


... Lalu mematikan mesin motornya memarkirkan motornya setelah itu melepas helm hitamnya menaruhnya diatas motor....


... Pergi keluar dari area parkir....


... Melihat Jeje yang sudah tidak melihat layar ponsel menuju anak tangga menuju ke arah kelas mereka....


... Nawa juga berjalan santai menuju ke arah anak tangga berada dibelakang Jeje dengan jarak sekitar dua puluh langkah lebih dipercepat lagi gerak kakinya menuju ke arah anak tangga....


..."Dia tahu aku ada didekatnya bukan" kata Nawa....


..."Aku pikir dia hanya ingin tidak mau terkalahkan oleh ku" kata Nawa....


... Tersenyum sedikit dengan keadaan ini....


... Kepada diri sendiri....


..."Apa aku sekeren ini?" tanya Nawa....


... Menghentikan senyum pesona yang ditunjukkan oleh Nawa kepada gadis style potongan zig zag ini tetap tenang dengan situasi yang sudah pasti tidak nyaman bagi keduanya sebagai teman satu tongkrongan....


... Berjarak tujuh langkah dari arah keduanya Nawa tidak bisa berpaling ke arah lain tetap fokus kepada gadis ini....


... Menyaksikan sendiri....


... Si Ketua Kelas dan kesayangannya melihat mereka dari dalam kelas lain yang sedang mendiskusikan sesuatu bersama teman kelas lainnya yang tidak satu kelas dengan mereka....


... Berkomunikasi tanpa suara sambil melihat kedua teman mereka yang lewat didepan kelas....


..."Sejak kapan mereka jadi seakrab ini?" tanya Gan....


..."Apa ini tidak berbahaya untuk Jeje?" tanya Ansel....


..."Keduanya berbahaya" ucap Gan....


..."Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan dari kisah ini sebelum kita melakukan sebuah tindakan" kata Gan....


... Berbicara tanpa mode tidak terdengar oleh siapapun....


..."Ayo kita pergi ke kelas" ajak Ansel....


... Gan berpamitan dengan kedua teman mereka satu remaja putri dan satunya lagi remaja laki-laki setelah itu pergi berjalan dibelakang Ansel untuk pergi ke kelas mereka....


... Di sekolah yang berbeda ada Rumy yang baru saja masuk kedalam kelas....


... Tanpa berpikir yang aneh-aneh hanya sekedar melihat memeriksa situasi lingkungan sekitar....


... Bersandar di kursi tempat duduknya sendiri lalu melihat ke sekeliling ruangan kelas yang sudah satu persatu datang teman-temannya yang masih tidak mau menyapa atau lebih terkesan terpaksa berteman untuk sekedar menyapa remaja putri dengan rambut terikat ke belakang dengan ikat rambut berwarna putih bermotif polkadot hitam ini....


... Orang itu tersenyum bersandar diatas meja menatap gadis ini tapi itu tidak berlangsung lama hanya beberapa waktu yang diberikan kepadanya untuk melihat lagi seseorang yang belum juga kembali....


..."Apa aku terlalu mencintaimu?" tanya Rumy....


..."Aku melihatmu lagi bahkan ada didepan ku sendiri" kata Rumy....


... Bayangan Bloom kembali menghilang di tempat duduknya yang ada disisi kiri gadis ini....


... Melihat waktu yang berputar di waktu jam tangannya yang berwarna merah muda di pergelangan tangan disebelah kanan....


... Di depan kelas Jeje....


... Terlihat didepan mereka....


... Nawa dengan santai merangkul Jeje dari arah kanan gadis remaja ini yang tidak menunjukkan rasa ingin akrab dengan seseorang di sebelahnya itu....


... ...


..."Apa kita sulit untuk lebih dekat?" tanya Nawa....


... Melepas rangkulan darinya segera....


... Menatap kesal....


..."Apa yang kau inginkan lagi?" tanya Jeje....


... Terdiam dari langkah kaki keduanya saling menatap satu sama lain....


... Senyum menggoda....


... Menunjuk kepada diri sendiri....


..."Me?" tanya Nawa....


... Helaan nafas pendek....


... Tanpa ekspresi lebih selain cuek....


..."Sudahlah" kata Jeje....


... Berhenti saling melihat satu sama lain dengan Nawa yang mengejar lagi kemana temannya itu pergi....


... Menarik lengan kanan Jeje lalu berbalik ke arah remaja laki-laki ini....


..."Kau ingin ku panggil apa?" tanya Nawa....


... Tidak canggung tapi tidak berekspektasi apapun dengan kisah mereka....


..."Why?" tanya Jeje....


... Sadar akan tindakan bisa membuat seseorang marah akibat dari tindakan yang bisa dibilang terlalu cepat untuk berusaha dekat orang lain....


... Tiga detik terlewati....


..."Sorry" kata Nawa....


... Melepas pergelangan tangan kanan Jeje dengan membiarkannya tetap melanjutkan perjalanan pergi menuju ke arah kelasnya yang akan sampai di langkah ke empatnya lagi....


... Memilih berjalan dibelakang Jeje dalam jarak satu langkah dari arah Nawa berjalan juga menuju ke arah kelasnya yang diikuti juga oleh dua orang siswa lain yang juga satu kelas dengannya itu siapa lagi kalau bukan Ansel dan Gan yang sedang menganalisa bagaimana kelanjutan kisah yang terbilang baru ini....


... Jeje masuk kedalam kelas lalu Nawa melihat sebentar setelah itu tetap melanjutkan pergi menuju kelasnya....


..."Apa kita bisa semanis itu?" tanya Ansel....


... Gan memilih untuk tidak berkomentar tentang apa yang sedang diperdebatkan oleh orang yang ada disebelah kirinya lalu memilih berjalan lebih cepat tapi tidak dikejar oleh Si Ansel yang membiarkan Si Ketua Kelas pergi lebih awal....


... Nawa menerima panggilan telepon dari Rumy....


... Terdengar tanpa sengaja oleh Gan dan Ansel....


..."Ya. Kenapa kau sudah merindukan ku?" tanya Nawa....


..." … " ...


... Rumy tak bicara sama sekali dan Nawa menunggu hingga sampai enam detik....


..."Rumy?" tanya Nawa....


..."Rumy?!" panggil Nawa....


... Sekali lagi....

__ADS_1


..."Rumy. Kau baik-baik saja kan?" tanya Nawa....


... Akhirnya, dia mau bicara....


..."Aku merindukan pacarku" ucap Rumy....


... Berhenti tepat didepan pintu masuk kelas....


... Nawa melihat keduanya....


... Gan dan Ansel kompak seperti tidak mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan didalam ponsel melewati Nawa secara terpisah dari sisi kanan ada Ansel dan disisi kirinya ada Si Ketua Kelas yang tanpa beban masih full baterai didalam diri keduanya....


..."Dia pasti kembali. Percaya padaku" kata Nawa....


... Nada suara sedih....


..."Tapi, aku takut dia … " ucap Rumy tidak melanjutkan apa yang dikatakan olehnya....


... Sedih untuk dirinya juga untuk dirinya sendiri....


... Memilih untuk menjadi sahabat atau seorang yang juga menyukai gadis yang sedang meneleponnya sekarang....


..."Aku selalu ada untukmu. So, kau bisa ceritakan masalah mu padaku" kata Nawa....


..."Oke" kata Nawa lagi....


... Obrolan mereka berakhir....


... Dia tidak sadar kalau ada Jeje dibelakangnya sejak dua menit yang lalu yang tentu saja mendengar isi percakapan kedua orang yang sudah banyak tahu bahwa mereka saling menyukai....


... Memanggil....


..."Nawa" panggil Jeje....


... Berbalik....


... Wajah terkejut....


..."Ini buku mu yang ku pinjam tempo hari" kata Jeje....


..."Makasih" ucap Jeje....


... Canggung....


..."Hmmm" jawab Nawa....


... Menerima bukunya kembali dari Jeje lalu gadis ini pergi menuju kelasnya kembali....


... Melihat Jeje pergi menjauh....


... Kepada diri sendiri....


..."Apa ini tidak menyakitkan?" tanya Nawa....


..."Sorot mata itu sangat kejam" kata Nawa....


..."Tapi, entah kenapa aku menyukainya" kata Nawa....


... Situasi ini terasa asing untuk seorang Nawa....


... Dia tersentuh dengan kondisi seseorang yang tidak marah atau merespon lebih dengan apa yang sudah dilakukan olehnya kepada gadis yang baru saja mengajaknya bicara barusan....


..."Siapa yang ku pilih?" tanya Nawa....


... Berpikir mendalam....


..."Siapa yang menerima ku apa adanya?" tanya Nawa....


... ...


... Sekilas tentang dua orang yang ada disekitarnya tapi dia pura-pura tidak menyadari kehadiran mereka tetap melanjutkan pergi masuk kedalam kelas....


... Dari arah lain di gedung lain melihat dua orang yang masih menggunakan mode tidak terlihat sedang mengawasi dua remaja ini....


... Sudah tentu itu adalah Hoshie dan sahabatnya, Oryn....


..."Kau sedang mengawasi mantanmu?" tanya Hoshie....


... Membela diri sendiri....


..."Tidak. Dia mantan mu bukan mantan ku" ucap Oryn....


... Lirik jahat....


..."Lihat dirimu sudah rapi sekali dengan setelan jas itu" kata Oryn....


... Penuh percaya diri....


..."Aku memang selalu keren" kata Hoshie....


... Melihat kelas yang sudah dimasuki oleh Nawa dan juga Jeje yang baru saja melakukan interaksi tidak terlalu ingin ramah....


..."Kenapa kau ada disini?" tanya Oryn....


..."Kau juga kenapa ada disini?" tanya balik Hoshie....


... Tidak kesal melihat lagi ke arah kelas kedua remaja yang baru saja diperhatikan olehnya....


..."Terserah kau saja" Kata Oryn....


... Mode menyebalkan....


..."Ya sudah" kata Hoshie....


... Rasa tidak suka tapi tidak juga....


..."Kapan kau pergi dari tempat ini?" tanya Oryn....


... Rileks....


..."Aku menunggu mu pergi" jawab Hoshie....


..."Susah kalau sudah begini" kata Oryn....


... Masih rileks....


..."Hmmm" jawab Hoshie....


... Cuaca cerah....


... Matahari datang hangat diatas mereka semakin terasa memberikan energi kedalam tubuh....


..."Ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan dari ku?" tanya Hoshie....


... Jujur....


..."Selalu ada" jawab Oryn....


... Nada suara keakraban diantara dua orang sahabat....


..."Kau ini" kata Hoshie....


... Melihat Hoshie....


..."Memang benar kan?" tanya balik Oryn....


... Topik obrolan yang cukup berat....


..."Pertemanan yang terlalu dekat bukankah sangat berbahaya" kata Hoshie....


..."Pola yang tidak pernah berubah sejak dulu" ucap Oryn....


... Melihat Oryn....


... Penuh kecurigaan....


..."Aku siap dengan senjata pelindungku" kata Hoshie....

__ADS_1


__ADS_2