
Chapter 22: Penawaran menarik.
Hoshie tidak henti memfokuskan diri terus mengawasi Ten dari sebuah balkon apartemen mengawasi dengan jarak sekitar seratus meter dari ruang kantor tempat Ten saat ini sedang mengambil lembur bekerja bersama kelima para karyawan yang lain yang merupakan rekan kerja dalam satu tim programmer perusahaan tempat mereka semua yang ada disana bekerja dari jarak itu pula dia siap melepas senjata dari bagian telapak tangan kanan mengarah tepat kepada Ten dengan lembaran lembaran kertas dokumen data sebuah proyek baru perusahaan di kedua tangan.
Senjata besi tajam pergi meluncur cepat keluar dari tangan Hoshie mencari target yang sudah menjadi targetnya dari awal dia sedang mengawasi siapa yang ingin dilenyapkan tidak hanya satu dua senjata ia keluarkan untuk melenyapkan seseorang tapi enam senjata keluar menyusul kemudian saling mengejar wajah datar menyimpan kemarahan untuk detik ini belum memberikan senyum dingin itu lagi ketika berhasil melenyapkan seseorang.
Ten berbalik melihat ke arah luar kaca ruangan tempatnya bekerja untuk sejenak mengambil gambar di situasi malam di luar kantor.
Dia melihatnya benar dia melihatnya datang dengan sangat cepat mengarah tepat kepadanya.
Tidak bergerak dalam satu detik tidak penuh melihat senjata senjata milik Hoshie hancur berurutan jauh sebelum sampai menyentuh menembus kaca gedung ruangan sibuk para pekerja tempat Ten juga berada di dalam sana.
Kembali bernafas sedikit terengah engah tidak juga seperti habis berlari tapi juga membuatnya terkejut kembali dia baru saja kembali setelah melihat senjata senjata itu seakan akan tepat ada didepan mata hancur seketika dalam satu kali menarik nafas di depan mata.
Tanpa melangkah dengan posisi awal di detik selanjutnya Ten melihat jauh keluar memeriksa dari jarak dia ada di dalam ruangan itu mengejar jarak asal senjata senjata itu datang ingin menguji itu cara pandang dirinya memandang kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya sendiri dan sudah pasti diduga oleh Ten secepat ia melihat secepat itu orang itu pergi dalam kilatan putih pergi menghilang kembali Ten dengan pekerjaannya membalik lembar baru dokumen yang sedang dibaca.
Keingintahuan akal sehat.
"Siapa lagi yang datang mencariku?" tanya Ten.
Bekerja kembali Ten bersama rekan rekan sekantor saling berdiskusi setelah membaca lembaran dokumen di tangan mereka masing masing.
Angin malam datang menghirup segar untuk Luc di apartemennya sendiri sedang menikmati makan malam.
Bisa dilihat ini yang kedua kalinya dalam potongan daging yang ia potong untuk segera di makan.
Akan memakan potongan daging kedua.
Hoshie datang.
Seseorang kaget.
"Astaga!" kata Luc.
Seperti adik dengan kakaknya.
"Aku lapar" kata Hoshie.
Tatapan mata tajam kepada Hoshie yang baru saja datang disaat Luc sedang berada di balkon apartemen memakan beef steak diatas meja.
Hoshie pergi ke dapur apartemen Luc untuk mencari sesuatu untuk dimakan.
Luc memperhatikan dari meja dekat balkon apartemen sambil memakan potongan daging yang kedua dengan tangan kanan memegang garpu dan tangan kiri memegang pisau.
Berteriak
"Kau lupa aku kaya?" tanya Luc.
Tersadar.
Kemudian, Hoshie kembali kepada Luc yang sedang menikmati makan malam.
Menghadap pada Luc.
"Pesan saja layanan kamar jangan dibuat repot" kata Luc.
Hoshie diam saja di tempat.
Menebak tapi juga yakin seratus persen.
"Kau tidak ingin makan lalu ingin apa?" tanya Luc.
Mendengar jawaban dari Hoshie.
"Bolehkah kita memakan manusia?" tanya Hoshie.
Tidak tersedak atau terkejut, Luc masih menikmati makan malam tidak ingin seseorang menjadi perusak kedamaian.
Pergi lagi kembali ke ruang dapur apartemen masih dengan mencari sesuatu.
"Apa dia bisa jatuh cinta?" tanya Luc.
"Itu sungguh mustahil" kata Luc.
Memeluk bir di genggaman tangan menaruhnya di atas meja tepat di sebelah makan malam pemilik apartemen sedang makan malam beserta camilan hadir juga di atas sana.
Duduk Hoshie dengan satu kaleng bir di tangan lalu membuka penutup kaleng bir.
Terdengar suara dari dalam kaleng bir.
"Cassss"
Dia meminum bir dari dalam kaleng bir yang baru saja dia buka.
Dia menghabiskan satu kaleng bir dalam tiga tegukkan.
Membuka satu bungkus kacang tanah panggang mengambil tiga buah dari dalam kemasan lalu membuka kulit kacang tanah kemudian memakannya.
Musik klasik terus berputar di dalam ruang apartemen temannya yang menyibukkan diri sendiri begitu juga dengan Hoshie kini membuka kaleng kedua bir yang ia ambil tadi dari lemari es yang ada di dalam apartemen.
"Kau tidak mengeluh lagi?" tanya Luc.
Minum teguk kedua di bir kaleng kedua.
Separuh steak masih diatas piring Luc meminum wine di gelas sambil melihat ke arah bawah balkon apartemen.
Mengejutkan.
"Apa aku harus melemparmu ke bawah sana agar kau mau bicara?" tanya Luc.
Menaruh gelas masih dengan wine di gelas diatas meja di sisi kanan piring tempat makan.
Tidak ada respon untuk pertanyaan ekstrim itu.
Senyum sinis diberikan oleh Hoshie untuk Luc.
"Kenapa kau terlihat lebih menakutkan dari biasanya?" tanya Luc.
Tidak ada respon lagi untuk Luc.
"Aku memang bodoh mau saja terus mengajakmu bicara" kata Luc.
Steak di atas piring tinggal seperempat dari ukuran sebelumnya.
Ini untuk kaleng ketiga bir yang diminum oleh Hoshie.
Satu pertanyaan dari Hoshie.
"Bisakah kita tidak mengambil aura manusia?" tanya Hoshie.
Satu suap terakhir steak masuk kedalam mulut tetap menikmati sensasi makan malam tanpa ingin diganggu orang lain.
Hoshie menunggu jawaban dari seniornya itu.
Memaksa.
"Jawab aku atau akan ku lempar kau kesana!" kata Hoshie.
Menghabiskan bir untuk kaleng ketiga.
Luc selesai dengan makan malam.
__ADS_1
"Jika kau melakukan hal itu sama saja kau bunuh diri" kata Luc.
Menolak pendapat dari sahabatnya itu.
"Tidak mungkin" kata Hoshie.
Santai menjawab.
"Sudah lama kita tidak berkelahi" kata Luc.
Luc membawa peralatan makan malamnya bangun dari kursi lalu berjalan santai meninggalkan juniornya yang sedang mulai meluapkan emosi.
Hoshie dengan kaleng keempat bir diteguk minum.
Luc sudah kembali setelah selesai menaruh peralatan makan di meja layanan kamar apartemen dan selesai mencuci kedua tangan selesai makan malam.
Duduk di kursi di satu meja yang sama dengan Hoshie yang sedang ingin minum sendiri.
Luc melihat satu meja sedari tadi penuh dengan bir yang dikeluarkan dari dalam lemari es dari dalam dapur.
"Kau bisa sesuka itu dengan gadis itu" kata Luc.
"Siapa?" tanya Hoshie.
"Aku masih tidak percaya kamu bisa menyukai manusia" kata Luc.
Membela diri.
"Aku juga masih manusia" kata Hoshie.
Luc mengambil kaleng pertama bir yang ada diatas meja membuka lalu langsung meminumnya.
Menaruh bir di atas meja Luc sedang memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Hoshie jika mabuk berat nanti.
Berkata jujur dengan nada suara agak pelan menjaga perasaan Hoshie.
"Kau selalu memanggil nama Dashie ketika mabuk" kata Luc.
"Tidak mungkin" jawab Hoshie.
Mulai emosi lagi dengan tingkah sahabat gilanya itu.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin" kata Luc.
"Kau selalu mengatakan itu" kata Luc.
Belum mabuk berat.
"Dia bukan levelku" kata Hoshie.
Tertawa jahat puas Luc di depan Hoshie.
Harapan yang pernah dilakukan oleh Luc untuk Hoshie kembali lagi menjadi harapan yang sama di malam cerah dengan tiba tiba cerita sedih dibawa oleh Hoshie.
"Aku ingin melemparmu dari atas tempat ini" kata Luc.
"Kau sudah sering melakukan itu" kata Hoshie.
Luc yang kuat minum tidak menunggu sahabatnya yang sedang minum hingga sampai mabuk dia sedang ingin minum saja.
Tidak juga menunggu Hoshie melakukan hal yang sudah sesuai prediksi darinya sebelumnya sebelum Hoshie mabuk.
"Kali ini siapa lagi yang akan dihubungi lagi jika dia mabuk" kata Luc.
Hoshie sedang menyentuh layar ponselnya sendiri scroll ke atas dan kebawah belum juga menemukan nomor ponsel yang akan dihubungi.
Tidak begitu penasaran tapi hanya ada dia disana.
Hoshie menghubungi seseorang.
Suara itu tak asing untuk Luc.
Senyum jahat untuk Hoshie dari orang yang sedang minum bir.
"Kali ini dia tidak salah nomor lagi kan" kata Luc.
Mendengar sambil mata belum sempurna terbuka lalu menjawab panggilan dari seseorang Dashie dengan selimut putih yang ia pakai.
Hoshie sangat senang.
"Dashie!" kata Hoshie.
"Ya. Ini aku, ini siapa?" tanya Dashie.
"Hoshie" kata Hoshie.
Luar biasa untuk Dashie dia masih dalam keadaan sangat mengantuk setelah seharian beraktifitas terbangun oleh panggilan telepon dari Hoshie.
"Ini pacarmu" kata Hoshie.
Luc tidak percaya dia sampai mengatakan hal jujur itu kepada Dashie.
Terus menjaga Hoshie sejauh mana akan berkata jujur untuk Dashie.
Dengan mata tertutup menjawab kata kata dari Hoshie.
"Pacarku bukan Hoshie tapi … " kata Dashie.
Gadis ini tertidur dengan percakapan telepon yang belum terputus dari Hoshie.
Luc mengambil ponsel milik Hoshie lalu mematikan ponsel sahabatnya itu yang sudah mabuk berat.
Hoshie meminum bir lagi dari atas meja.
Dashie tersadar dari tidurnya setelah baru dua jam tidur bangun tidur menyadarkan diri lebih melihat pukul berapa saat ini.
Mencari dimana ponselnya ia taruh.
"Ku pikir tadi aku memegang ponselku" kata Dashie
Masih mencari.
"Dimana?" tanya Dashie.
Menemukan ponsel di balik selimut.
Memeriksa waktu di layar ponsel.
"Hoshie menghubungiku?" tanya Dashie.
Dashie belum sadar kalau dia tidak bersama lagi dengan Callie tapi tetap memanggil nama sahabatnya yang dianggap sedang tertidur di sebelahnya.
Gembira.
"Oh. Kau sudah pulang" kata Dashie.
Sadar lebih sadar dari menit sebelumnya lalu terdiam menunduk terisak menangis lagi sendiri didalam kamar.
Menyeka air matanya sendiri melihat meja riasnya masih tetap disana dengan foto mereka berdua bersama dalam satu bingkai foto terbuat dari kayu senyum ceria belum lama itu baru bisa merasakan lagi lalu pergi lagi tanpa kabar apapun.
"Hanya beberapa hari kita bersama dan kau sudah pergi lagi" kata Dashie.
__ADS_1
"Aku berdo'a semoga kamu baik baik saja tanpa kurang apapun" kata Dashie.
Lagi malam ini seperti hari hari kemarin mencoba untuk tidur lagi bisa dan itu hanya satu atau beberapa jam dengan lama waktu tidak tergolong tidur nyenyak sesuai aturan tujuh jam atau delapan jam tidur.
Ved mendapatkan tugas baru dari seniornya yang juga bekerja sebagai bos di tempat Dashie bekerja.
"Aku memberikan tugas ini untukmu" kata Senior Ved.
Mengangguk Ved langsung pergi mereka dari tempat yang sama di dua tempat yang berbeda tujuan.
Di sebuah apartemen dia berada di lantai atas gedung dengan angin malam yang sangat dingin.
Membaca mantra.
"Jajuja jajiju"
Semua bangsa Blacwhe terlihat dan terpantau oleh pemuda ini.
Mencari orang yang seniornya maksud untuk tugasnya kali ini.
Dari jarak jauh dia juga membaca seberapa potensial orang yang baru saja ia temukan terlihat dan terkadang menghilang tidak bisa terbaca oleh Ved.
"Berapa lama dia sudah bertahan dengan kondisi seperti itu?" tanya Ved.
Ved datang menekan bel pintu depan rumah Ten.
Ten terbangun.
"Siapa yang malam malam begini bertamu?" tanya Ten.
Terbangun dari tempat tidur beranjak pergi menuju pintu depan rumah.
Memeriksa layar CCTV di dinding rumah bercat cream menuju ruang tamu.
Fokus memeriksa.
"Tidak ada orang" kata Ten.
Di depan layar CCTV.
Ved sudah membaca mantra "Dugas" jadi tidak bisa terlihat di layar CCTV.
Bel berbunyi lagi.
Ten mendengar lagi suara bel dari pintu depan rumah tetap dengan tidak ada orang yang terlihat di depan rumah dari layar CCTV.
Ten wajah baru bangun tidur melihat jam dinding rumah yang ada diruang tamu.
"Oh masih jam satu pagi" kata Ten.
Kembali menuju ruang tidur.
Ved membaca mantra dari luar rumah Ten.
Ten berpindah tempat langsung berada didepan Ved.
Kaget.
"Ya ampun!" kata Ten.
Ten terjatuh ke bawah lantai depan pintu luar rumah.
Dia tidak melihat apapun selain dirinya yang sudah ada di luar rumah.
Tetap cool.
"Apa aku tidur sambil berjalan?" tanya Ten.
Bangun dari terjatuh akan melewati Ved dan inilah yang ia dapat.
Satu besi tajam datang menyapa menusuk bahu depan sebelah kanan pria di depan Ved.
Piyama ungu darah menyebar dari bahu sebelah kanan.
"Kenapa seperti ini?" tanya Ten.
Menyentuh bahunya yang tertusuk terkena senjata dari tangan Ved senjata itu dipegang oleh tangan kanan Ten.
Ved muncul.
Kaget.
"Wohhhhh!" kata Ten.
Ved memberikan sedikit sapaan kata.
"Aku harus menembus bahumu atau kau sendiri melepas senjata ini?" tanya Ved.
Jawab langsung Ten.
"Hahh?" tanya Ten.
Ved memunculkan senjata lagi dan akan menusuk bahu yang sama dengan bahu Ten yang sudah terluka.
"Kau tidak merasakan sakit" kata Ved.
Dan benar Ten tidak merasakan rasa sakit dari luka yang dia dapat dari Ved.
Melanjutkan berinteraksi dengan Ten.
"Jadi, lepaskan senjata ini sendiri" kata Ved.
Ved melepas senjatanya dari dalam telapak tangan yang masih tertancap di bahu Ten lalu menurunkan posisi tangan kanannya dari depan bahu Ten.
Ten melakukan perintah dari Ved.
Melepas senjata yang menusuk bahu dengan tangan kosong tanpa pelindung apapun lalu darah jelas keluar dari genggaman tangan yang menggenggam senjata milik Ved.
Senjata itu langsung menghilang dari genggaman tangan Ten.
Kaget.
"Luka ini menghilang!" kata Ten.
Mengajukan pertanyaan untuk Ten.
"Kau ingin aku mengambil nyawamu?" tanya Ved.
Berbalik bertanya.
"Kita monster?" tanya Ten.
"Mungkin" jawab Ved.
Ved melempar kartu anggota sesama bangsa Blacwhe kepada Ten.
Menerima lemparan sesuatu dari Ved.
Ten akan mengajukan banyak pertanyaan lalu Ved membaca mantra untuk Ten.
"Herag"
Ten kembali berpindah masuk kedalam rumah.
__ADS_1