
Chapter 28: Serius.
"Sorry. Aku tidak bisa jemput" kata Ten.
Hening.
"Kamu lembur lagi?" tanya Dashie.
Merasa bersalah.
"Ehmm" jawab Ten.
"Kamu jangan khawatir. Aku bersama seorang teman cewek" kata Dashie.
"Iya. Aku akan jemput kamu jam delapan malam kan?" tanya Ten.
Dashie pulang setelah selesai pergi berwisata bersama dengan Rumy.
Berlanjut untuk Ten yang sedang bersama dengan Ved di sebuah tempat makan.
Ten selesai berbicara dengan Dashie di hadapan Ved tanpa sepengetahuan dari Ved bahwa orang yang tadi di telpon oleh Ten adalah Dashie sahabatnya sendiri yang dia suka.
"Kita sudah boleh makan kan?" tanya Ten.
Mulai makan di satu meja yang sama.
Menikmati makanan.
"Lezat" kata Ved.
"Kau benar" kata Ten.
Saling ramah dengan teman baru.
"Kata sahabatku makanan disini sangat enak" kata Ved
Menambahkan pendapat.
"Menurut pacarku juga berkata seperti itu dan ternyata benar" kata Ten.
Mereka sedang membicarakan tentang rencana langkah selanjutnya yang akan diambil untuk membereskan masalah bangsa Blacwhe yang membangkang.
Jarrel datang ikut bergabung makan bersama mereka berdua.
Duduk bagian tengah diantara kursi keduanya duduk lalu Jarrel mengambil makanan milik Ved.
Ved mendorong piring miliknya mendekat pada Jarrel berbagi makanan.
Menjadi teman baru yang baik duduk patuh mendengarkan situasi yang sedang terjadi di depan mata melihat waktu kapan waktunya harus berbicara.
Kereta masih dengan jalur yang sama satu arah dari awal pulang tak ada yang berubah untuk orang lain. Ya, itu semua untuk orang lain tidak dengan Dashie.
Kapan dia akan berbalik arah melihat ke arah luar jendela ketika dia lebih sibuk dengan sebuah buku yang dia baca semua yang akan terlihat jika ia berbalik akan menjadi berbeda di waktu yang singkat ini, mereka menunggu mengikat waktu yang dimiliki gadis yang sedang dicari oleh banyak orang orang dari bangsa Blacwhe tersebar menyebarkan diri terbang di luar kereta mengubah kondisi mendung menjadi lebih gelap menerobos kereta itu.
Jangan berbalik jangan berbalik mereka sedang mencari belum berhenti ingin seseorang yang tadi pagi telah memusnahkan salah satu dari mereka tetaplah dengan dirimu dengan kesibukan dirimu jangan pernah berbalik di malam yang akan membuatmu akan menyesal untuk seumur hidupmu.
Menunggu mereka menunggu orang yang mereka cari memberikan sinyal keberadaannya yang tidak bisa tidak terbaca oleh mereka.
Rasa dendam yang mereka bawa apakah seseorang bisa menahannya sulit untuk mencegah hal buruk yang bisa terjadi kapanpun dengan daya yang dimiliki terbatas itu bisakah untuk menolong dirinya sendiri.
"Jangan benar benar jangan sampai kamu berbalik siapa lagi yang akan menolong dirimu sendiri selain dirimu sendiri"
Kata kata ini sering terdengar oleh banyak orang ada di setiap quotes quotes yang bisa ditemukan di banyak platform media internet ataupun buku buku pasti kata kata ini akan ditemukan.
"Sekali lagi tolong selamatkan dirimu selamatkan dirimu sendiri jika kau tidak ingin tangis tangis itu datang mengisi harimu".
Menyebarkan mantra membaca menabur di sepanjang luar gerbong kereta yang Dashie dan penumpang lain ada di dalam sana mengikuti dengan arah yang sama dengan kecepatan yang sama kegigihan untuk menemukan dan melenyapkan seseorang menjadi kekuatan mereka akankah dia tahu tentu tidak lebih kacau ancaman ini untuk pemilik jiwa yang mereka bukan sekedar ancaman tapi mereka sudah sangat siap untuk melakukan melakukan apa yang tidak sengaja membuat kebencian ini ada terbentuk kuat.
Marah marah dan marah mereka mengikuti kereta itu rencana yang telah tersusun rapi untuk menghancurkan kereta itu dalam satu kali mantra bersama mereka ucapkan tidak bisa menyentuh dengan mudah bahkan meretakkan kaca jendela kereta yang mereka ikuti.
Bukan untuk melarang hal itu dilakukan tapi hati dan pikiran kejadian pagi tadi belum bisa hilang dari ingatan gadis yang sedang berusaha fokus dengan buku yang dia baca meredam meredam rasa cemas dan khawatir itu menghilangkan ingatan itu segera pergi dari bayangan bayangan di setiap kali mata yang masih terbuka.
Dari dalam diri yang menyibukkan dari rasa bersalah.
"Bisakah aku melupakan kejadian itu?" tanya Dashie.
"Mungkinkah itu nyata dan bisakah orang lain akan menerima ku yang seperti ini?" tanya Dashie.
"Ya. Ya, tidak akan mungkin orang lain akan menerima ku" kata Dashie.
Menjadi rumit isi kepalanya.
"Tapi, aku masih percaya masih ada yang mau menerimaku" kata Dashie.
"Tidak peduli dengan semua orang yang menolak ku" kata Dashie.
Keberadaannya didalam sana tanpa dia sadari sedang mematahkan mantra mantra secepat kecepatan melebihi mesin yang membawa mereka pergi ke arah pulang dari satu kali tindakan yang dia lakukan hanya dengan keberadaannya saja disana sudah membawa kebaikan yang mematahkan mantra mantra mereka.
Mereka sulit untuk menemukan orang yang mereka cari dari setiap kaca jendela kereta yang mereka ikuti dan juga mereka yang berada didalam kereta yang memeriksa setiap penumpang yang ada di dalam kereta menyebar menyeluruh usaha mereka sampai seperti itu untuk menemukan siapa yang sudah menghabisi teman mereka.
Rumy mengajak Dashie untuk bicara dan dia tidak peduli waktu yang tepat sekali beberapa dari bangsa Blacwhe ada di sekitar mereka memantau dengan teliti dengan membawa dendam yang masih menjadi bekal di tangan.
"Tetaplah jangan sampai terusik oleh apapun".
Salah satu dari mereka mulai curiga dengan Dashie yang berada berjarak tiga meter berdiri di dalam kereta yang cukup ramai malam ini para penumpang ada di dalam sana melirik beberapa kali memperhatikan Dashie dan Rumy tapi lebih tertarik memperhatikan Dashie lebih fokus lagi lagi dan lagi Rumy yang tidak tahu menahu juga sama seperti penumpang lain bahkan untuk Dashie yang sedang menjadi target pencarian mengajak Dashie untuk melihat bagaimana pendapatnya tentang hasil gambar foto yang diambil tadi ketika berlibur bersama.
Merengek seperti kepada Kakaknya sendiri.
"Bisakah kau melihat ini. Aku mohon" kata Rumy.
Dengan mantra yang hanya akan berlaku satu kali saja itu akan bisa membaca siapa yang berhasil memusnahkan bangsa mereka jika orang yang mereka cari tertawa atau mengeluarkan satu kata apapun begitulah mantra yang mereka baca itu bekerja dan hingga kini Dashie tidak bereaksi apapun dengan hal hal yang akan menganggunya asyik membaca sebuah buku.
Salah satu dari bangsa Blacwhe sedang menunggu kapan Dashie akan tertawa atau berbicara tiap detik untuknya sangat berharga rasa penasaran terus ada dan tidak pergi untuk mengetahui kebenaran yang ingin ia tahu segera.
Menatap dengan mantra tidak terlihat "Dugas" yang sejak awal ada didalam sana sudah terbaca.
"Apa ini hanya kecurigaanku saja?" tanya salah satu bangsa Blacwhe itu.
__ADS_1
Menunggu.
"Ayo katakan apapun dari bibirmu" kata bangsa Blacwhe itu.
Menunggu lagi.
"Tertawalah" kata bangsa Blacwhe itu.
Sekali lagi dari kegigihannya itu menunggu apa yang akan dilakukan oleh Dashie akan sesuai harapan rasa penasarannya itu.
Kereta bergerak cepat membawa semua yang ada didalam sana menuju tempat tujuan mereka.
Bangsa Blacwhe ini belum menyerah sekali lagi.
Wajah penasaran tetap di pertahankan.
"Orang seperti apa dia bahkan tidak tersenyum sama sekali" kata salah satu bangsa Blacwhe itu.
Rumy lelah dan kesal karena tidak dihiraukan oleh Dashie akhirnya memilih untuk tidur di sisa waktu perjalanan pulang.
Salah satu bangsa Blacwhe itu masih menunggu Dashie akan melakukan harapan harapannya itu.
Di tempat makan ketiga pria sedang berdiskusi bersama.
Anak baru sedang menyimak para senior seniornya menjelaskan masalah yang mereka hadapi.
Senior Ved menjelaskan.
"Dari dulu hingga kini orang yang bangsa kita cari akan selalu dengan mudah melenyapkan bangsa kita" kata Ved.
Junior ketiga bertanya.
"Apakah itu juga berlaku untuk kita?" tanya Ten.
Melihat Ten dengan wajah serius menginginkan jawaban.
"Yang jelas kita adalah bangsa Blacwhe" jawab Ved.
Bertanya junior kedua kepada seniornya.
"Ku dengar seorang anak kecil saja telah menghancurkan salah satu dari kita" kata Jarrel.
"Berita itu benar" kata Ved.
Menyentuh leher belakang bagian kanan dengan telapak tangan kanan.
"Siapa anak kecil itu?" tanya Ten.
Ved menunjukkan foto anak kecil itu kepada mereka lalu Jarrel lumayan terkejut dengan kebenaran yang diberitahukan oleh sahabat sekaligus seniornya itu.
Mengajukan pertanyaan untuk Ved.
"Siapa gadis kecil ini?" tanya Ten.
Lalu Ved menggeser lagi foto selanjutnya dari dalam ponsel menunjukkan foto siapa orang tua dari gadis kecil yang Ved tunjukkan itu.
"Putri dari senior kami" kata Ved.
"Bagaimana ini bisa … ?" tanya Jarrel.
Menebak.
"Mungkinkah … ?" tanya Ten.
Menaruh ponselnya di atas meja menyatukan jemari jemari tangan mengepal.
Lebih serius lagi.
"Dia adalah ibunya sendiri yang sudah meninggal" kata Ved.
"Meninggal?" tanya Ten.
Menjelaskan lagi.
"Ketika dia meninggal identitasnya baru bisa diketahui oleh senior kami itu juga karena dia bercerita sendiri" kata Ved.
Menghela nafas panjang dan dalam kedua junior di depannya kompak minum jus buah diatas meja.
Bersandar di kursi mereka.
"Pada dasarnya kita memang bukan manusia" kata Ten.
Menegaskan.
"Itu hanya separuh hanya separuhnya!" kata Jarrel.
Berkata jujur
"Aku bahkan takut jika ketika sadar akan mengambil aura mereka" kata Ten.
Jarrel meminta izin untuk melakukan sesuatu.
"Disini aku boleh tertawa?" tanya Jarrel.
Tertawa yang direncanakan.
"Hahahahah" kata Jarrel.
"Sorry. Just kidding" kata Jarrel.
Ved memberikan satu paha ayam goreng yang baru saja datang yang merupakan menu makanan yang di pesan oleh dirinya tadi.
"Makan ini" kata Ved.
Menerima ayam goreng dari Ved.
Rasa ingin tahu Ten.
"Apa kalian juga pernah merasakan permasalahan yang aku alami?" tanya Ten.
__ADS_1
"Pernah. Tapi, itu sudah sangat lama" kata Ved.
Bertanya lagi.
"Sejak kapan?" tanya Ten.
"Aku?" tanya balik Ved.
"Ya" jawab Ten.
"Sejak SMA kelas dua" kata Ved.
Disaat itu adalah waktu dia mulai mau dekat berteman dengan Dashie sejak hari kematian kakaknya yang pergi menghilang di depan matanya sendiri.
Ved kembali sedih dan meminum jus buah di depannya menutupi rasa sedihnya lagi.
Beralih narasumber baru.
Melihat Ten pada Jarrel.
"Kau?" tanya Ten.
"Dua tahun yang lalu" kata Jarrel.
Sejak dia mulai berteman dengan Dashie yang juga satu fakultas yang sama dengan gadis ini.
Ved juga memberikan satu paha ayam goreng untuk Ten yang sedang pura pura tenang padahal sedang panik dengan fobia sendiri dengan manusia.
Di dalam kereta salah satu dari bangsa Blacwhe masih dengan fokusnya pada Dashie yang sedang fokus membaca buku.
Dashie menaruh bukunya lalu ikut menutup mata namun tidak tidur hanya menutup mata sambil memeluk erat tasnya.
Kereta berhenti di stasiun perhentian kereta yang bukan tempat tujuan arah pulang Dashie dan Rumy.
Ponsel milik Rumy telah terjatuh sengaja di buang oleh salah satu bangsa Blacwhe yang tadi pagi musnah tanpa sengaja oleh Dashie dimana ponselnya telah di buang di semak semak yang berada tidak jauh dari letak sebelum stasiun kereta bawah tanah tempat awal mereka bertemu berhasil dia membawa Rumy sampai di tempat ini.
Terus bergetar belum ada yang menemukan ponsel itu sedangkan sudah banyak orang orang yang telah dan saat ini menghubungi ponselnya dan tetap disana tak ada jawaban yang mereka terima dari Rumy dari pesan atau panggilan telepon.
Masih pura pura tidur di kursi penumpang kereta.
"Orang tuanya pasti sedang mencarinya" kata Dashie.
Memikirkan hal lain lagi.
Tidak percaya diri.
"Apa aku putus saja dengan Ten?" tanya Dashie.
Mulai memikirkan mimpi mimpi dan halusinasi halusinasi tentang pacarnya yang sedikit agak mirip dengan pemuda yang dilihatnya tadi pagi yang merupakan teman Rumy.
"Mungkinkah dia bisa melakukan hal itu sama seperti dia" kata Dashie.
"Lalu … " kata Dashie.
"Overthinking lagi" kata Dashie.
Salah satu bangsa Blacwhe itu masih disana dengan misi dan tekad.
Dashie belum juga membuka mata dia masih pura pura tidur sejak tiga puluh menit lalu yang tadi para rombongan dari bangsa Blacwhe datang dan mengikuti kereta ini.
Salah satu dari temannya datang.
"Kita sudah selesai disini" kata orang tersebut.
Mereka pergi sambil membaca mantra.
"Dugas!"
Bersamaan membaca mantra.
Luc pergi bersama temannya.
Satu jam kemudian.
Rumy bersandar di pundak kanan Dashie tertidur pulas.
Dashie membuka mata dengan alarm berjaga jaga berdering sebelum sampai lima belas menit mereka sampai ke tempat tujuan.
Membuka mata lalu membangunkan Rumy.
"Bangun!" kata Dashie.
Langsung Rumy siap segar lagi dalam sekejap siap untuk aktivitas selanjutnya.
Sepuluh menit lagi akan sampai mereka di stasiun bawah tanah tempat mereka turun dari kereta yang mereka tumpangi.
Sepuluh menit berlalu kereta berhenti di stasiun kereta bawah tanah tempat tujuan mereka.
Keluar dari dalam kereta melewati pintu yang sama.
Ten sudah menunggu Dashie mencari dimana keberadaan pacarnya.
Menemukan.
"Ketemu" kata Ten.
Berjalan cepat menghampiri Dashie.
Hal lucu terjadi pada Rumy ketika melihat Ten semakin datang mendekat pada Dashie.
Jemari tangan Rumy menggenggam erat lengan kiri Dashie.
Tatapan tajam.
"Kenapa?" tanya Dashie.
Dashie melihat ke arah dimana Rumy sedang melihat sesuatu dengan serius.
__ADS_1