Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 29: Why?.


__ADS_3

Chapter 29: Why?.


 Langkah kaki keduanya akan mendekat kepada seseorang yang Dashie anggap sebagai pacarnya dan ternyata bukan.


 Kereta jauh sudah pergi.


 Bermunculan senjata senjata itu muncul diantara mereka berdua Dashie menarik Rumy untuk segera menunduk ke bawah lantai stasiun kereta bawah tanah.


"Ada apa?" tanya Rumy.


 Berpikir keras tanpa bicara kepada Rumy.


"Kenapa Rumy tidak melihatnya?" tanya Dashie.


 Deg degan.


 Keringat dingin.


 Perhatian Rumy.


"Wajah kakak pucat sekali" kata Rumy.


 Kaget.


 Mencari cari seseorang.


 Dashie tidak menemukan Ten pacarnya ada disana yang tadi dia lihat ada datang akan menghampiri.


 Was was juga takut Dashie dalam kondisi yang juga masih banyak orang berlalu lalang di stasiun kereta bawah tanah itu.


 Wajah tidak pucat bagaimana sedangkan orang yang dia anggap pacarnya yang tadi datang tiba tiba tidak ada lagi di depannya sendiri.


 Memastikan lagi bahwa pacarnya masih ada disana Rumy juga merasakan hal aneh juga sepertinya  telah terjadi di situasi ini.


 Curiga.


"Orang tadi pergi kemana?" tanya Rumy.


 Rumy juga melihat seseorang yang tadi mendekat kepada Dashie.


 Dia dan gadis kecil itu kembali melanjutkan perjalanan pulang untuk melewati anak tangga jalan keluar dari stasiun kereta bawah tanah.


 Dimana orang tadi pergi yang mirip dengan pacarnya itu.


 Rupanya sudah membaca mantra "Dugas" menghilang tak bisa di lihat oleh Dashie dan Rumy.


 Menguji Luc kepada Dashie dengan meminjam wajah milik orang lain yang ia lihat ada di wallpaper layar ponsel Dashie.


 Menguji seberapa takutnya gadis ini jika orang itu pergi atau seberapa percayanya dia dengan orang yang ia lihat tadi.


"Apakah dia mengenalku sebagai orang itu?" tanya Luc.


"Atau mengenalku sebagai seorang Luc" kata Luc.


 Luc mengikuti Dashie dan Rumy pergi meninggalkan anak tangga arah yang sama menuju pintu keluar tanpa bisa terlihat oleh siapapun dengan mantra yang sudah ia baca.


 Gadis yang sedang dia ikuti terlihat tidak panik tapi juga waspada melebihi sikapnya yang biasa dilihat oleh Luc yang biasa dilihatnya ketika masih berteman dekat dengan Hoshie sahabatnya itu.


 Orang lain datang juga akan mejemput Dashie bukan hanya Ten yang juga ada disebelah orang itu berjalan beriringan.


 Keduanya berbarengan menelepon orang yang sama menuruni anak tangga.


 Melihat orang yang sama ada didepan mereka menyapa secara bersamaan.


"Dashie!" kata keduanya berbarengan.


 Kaget melihat kedua pria ini.


 Luc masih tetap pada dirinya untuk mengikuti Dashie.


 Tentu dia menilai dan mengamati siapa yang dia lihat.


 Bisa terjadi keributan jika Dashie tidak segera menghampiri mereka.


"Gawat" kata Dashie.


 Dashie menggandeng Rumy dan mengajaknya berjalan dengan cepat untuk menghampiri kedua pria itu.


 Kedua pria itu juga bergerak pergi untuk menemui Dashie.


"Sayang!" kata panggil keduanya.


 Sudah di duga ini yang akan terjadi dengan mereka jika bertemu dan Dashie sudah didepan mereka 


"Siapa dia?" tanya Pria berpakaian style tropis serba hitam.


"Siapa dia?" tanya Ten.


 Dashie menarik Rumy terus naik ke atas tangga untuk keluar dari anak tangga jalan pintu keluar dari stasiun kereta.


 Rumy mengambil tempat agak jauh dari mereka juga tidak terlalu jauh dari mereka dalan situasi yang cukup genting jika di lihat oleh orang orang lihat.


"Dia kakakku" kata Dashie.


 Menjadi teliti.


"Kakak kandung?" tanya Ten.


"Kakak tiri ku" kata Dashie.


"Jadi, kita jadi pulang bareng?" tanya Ten.


 Mereka berada dalam satu mobil yang sama Dashie bersama dalam satu baris yang sama di baris kedua mobil bersama dengan Rumy sedangkan Xie ada di kursi sebelah kiri di sebelah Ten yang sedang mengemudi mobil mengantar Rumy untuk sampai di rumah.


"Bagaimana kalau kita berdua pergi berkaraoke bersama?" tanya Xie.


 Mobil berjalan sedang di situasi jalan raya cukup padat namun tidak macet.


 Jari telunjuk Xie berada di kepala diatas telinga kanan santai melihat Ten dengan persiapan pertanyaan baru untuk pacar adiknya itu.


"Kau yang bernama Ten itu?" tanya Xie.


 Menilai makin rinci pacar adiknya.


"Ya" kata Ten.


 Tersenyum agak sinis.


"Kau pasti kaget jika dia memiliki seorang kakak" kata Xie.


 Mengguk pelan.


 Memberi jeda kepada Ten disaat sedang fokus menyetir.


 Situasi tenang didalam mobil.


 Melihat ke belakang mobil mengajak bicara adiknya.


"Kakak langsung menjemputmu setelah tiba dari bandara" kata Xie.

__ADS_1


 Menjadi lebih patuh.


"Terima kasih" kata Dashie.


"Lihat kau tiba tiba menjadi manis sudah lama sekali tidak bertemu" kata Xie.


 Ten mulai memahami setiap kata yang di ucapkan oleh kakak tiri dari Dashie tentang bagaimana perlakuan kasih sayang kakaknya yang jelas jelas sangat menyayangi Dashie.


 Ingin mengatakan sesuatu kepada Xie tapi Ten menundanya sejenak nanti setelah mengantar Rumy sampai di depan rumahnya dengan selamat.


 Tujuh menit kemudian.


 Sampai di depan rumah Rumy.


 Nampak sangat ramai dengan banyak orang yang sedang mereka lakukan di sebuah warung internet turun Dashie dan Xie serta Ten ikut mengantar Rumy dengan kedua orang tua yang sedang menjaga tempat usaha mereka.


 Wajah marah sudah hal wajar di perlihatkan oleh kedua orang tua Rumy.


 Dashie kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi setidaknya dia bisa membantu Rumy tidak menjadi korban disalahkan karena perbuatan orang lain.


 Kedua orang tua Rumy mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka bertiga karena sudah menjaga dan mengantar putri mereka sampai dengan selamat.


 Ibunya Rumy sampai sampai membawakan bekal yang lumayan banyak untuk Dashie dengan kotak makanan berukuran cukup besar berwarna putih dengan pegangan hitam memaksa dengan suka rela kepada Dashie agar mau menerima makanan.


 Selesai berpamitan Dashie pulang mereka hanya beberapa menit berada di rumah Rumy.


 Perjalanan menuju rumah Dashie berlanjut.


"Kau baru berapa hari sudah menjadi pacar adikku?" tanya Xie.


 Menjawab semangat.


"Dua hari" kata Ten.


 Dashie menghitung mengingat waktu kapan mereka berdua resmi pacaran.


 Di dalam hati Dashie.


"Dia sudah melebihkan waktu" kata Dashie.


 Dashie tetap di baris kedua mobil Ten yang juga Xie sudah mengambil kursi adiknya itu.


"Sangat baru" kata Xie.


 Mengingat ulang sepertinya dia pernah bertemu dengan Ten di suatu tempat tapi itu kapan Xie sedang mengingatnya lagi.


 Mengingat lagi.


"Kau yang dulu juga datang di acara perpisahan sekolah adikku" kata Xie.


 Mengangguk Ten.


 Mulai tegang dengan pertanyaan yang akan diberikan oleh Xie lagi.


"Santai saja. Aku hanya ingin kita menjadi jauh lebih dekat" kata Xie.


 Berusaha lebih relaks.


 Berusaha agar situasi lebih nyaman di dalam mobil.


"Lagian kita seumuran kan" kata Xie.


 Dashie sedang lebih memilih menjadi pendengar yang baik dengan rasa khawatir apa yang akan dilakukan oleh kakaknya kepada pacarnya itu.


 Ketenangan yang sedang diusahakan tetap di pertahankan.


"Semoga saja dia akan tetap aman" kata Dashie.


"Kau bicara sesuatu?" tanya Xie.


 Mengelak.


"Tidak" jawab Dashie.


  Ten mendapatkan panggilan telepon dari pihak kantor yang merupakan rekan satu tim kerja dari terdengar oleh Dashie dan Xie cukup sibuk waktu yang sedang dihadapi oleh Ten.


 Mengambil keputusan.


 Mereka sampai di depan rumah Dashie.


 Xie dan Ten turun juga menyusul Dashie yang akan dibukakan pintu mobilnya oleh Ten tapi lebih awal pacarnya melakukan itu sendiri.


 Kakaknya mengawasi diantara keduanya yang akan saling mengucapkan salam perpisahan.


"Aku harus pergi ke kantor segera. Sorry tidak bisa mampir" kata Ten.


"Ok" kata Dashie.


"Bye bye" kata Ten.


 Kepada Xie.


"Kakak, aku pulang" Kata Ten.


 Ten pergi cepat masuk kedalam mobil dan pergi.


 Sedikit canggung ketika seseorang yang juga seumuran dengannya memanggilnya kakak.


 Banyak pertanyaan dan dia memilih salah satu dari pertanyaan.


"Aku setua itu?" tanya Xie.


 Membuat senang hati orang lain.


"Kau tidak pernah menua" kata Dashie.


 Dan dia tidak percaya bahwa manusia tidak akan pernah menua.


 Menerima kotak makanan yang Dashie bawa dari Ibunya Rumy.


 Cukup berat.


"Kau tahu ini apa?" tanya Xie.


"Daging" jawab Dashie.


 Ibu mereka datang bersama dengan seseorang yang juga mereka kenal tidak asing sebagai tetangga sejak mereka kecil.


 Xie merasa ini akan menjadi keberuntungan juga masalah di lain hari memperhatikan segala bantuan dari seseorang yang dibiarkan membantu ibu mereka membawa barang belanjaan.


 Menunggu.


 Saling menatap satu sama lain.


 Mentap tajam seorang kakak kepada adik perempuannya.


"Kenapa denganmu?" tanya Dashie.


"Kenap dia menjadi seramah itu?" tanya Xie.

__ADS_1


 Satu pukulan hadir diterima oleh Xie dari ibunya yang menunggu bantuannya agar membawa barang barang belanjaan masuk kedalam rumah malah membiarkan Ved membawa semua di kedua tangan.


"Dia akan mengambil ibuku" kata Xie.


 Satu pukulan lagi diterima oleh Xie di bahu sebelah kanannya lagi.


 Mereka siap dengan makan malam siap dengan alat panggang dan berbagai menu makan malam yang sudah datang dipesan oleh Xie beberapa menit yang lalu.


 Bersemangat.


"Selamat makan!" kata Xie.


 Xie mengambil daging panggang yang dipanggang oleh Ved dan Dashie lalu memberikannya kepada ibunya.


 Memuji diri sendiri.


"Lihat anakmu sangat baikkan" kata Xie.


 Menerima daging panggang dari Xie.


"Ya. Itu benar" kata Ibu mereka.


 Ingin di puji juga oleh ibunya.


"Tapi, itu aku yang memanggangnya" kata Dashie.


 Dashie lanjut bertengkar manis didepan ibunya dan Ved yang tetap tenang menikmati makan malam bersama mereka yang sudah lama tidak bertemu selama beberapa tahun.


"Ini untukmu Bibi" kata Ved.


"Terima kasih" kata ibunya Dashie.


 Makan malam selesai.


 Xie menyiapkan satu piring buah dengan berbagai macam jenis dan  warna serta rasa tak lupa teknik seni memotong buah dipraktekan menjadi berbagai bentuk yang cantik.


 Dashie ada didepan rumah sendirian duduk di sofa sedangkan untuk Ved sudah pulang ke rumahnya yang berjarak berdekatan persis di sebelah kanan rumah mereka.


 Xie dengan hasil karyanya.


"Woahhhh. Cantik!" kata Dashie.


 Satu piring putih dengan berbagai macam buah dan bentuk seni memotong yang cantik dan unik untuk camilan kedua kakak beradik ini.


 Mengambil satu potong buah lalu memakannya.


 Xie memperhatikan adiknya sedang makan.


 Lalu ikut makan.


"Buah ini sangat manis" kata Xie.


"Aku juga suka buah yang asam" kata Dashie.


"Dia baik menurutmu?" tanya Xie.


"Ya. Menurut kakak?" tanya Dashie.


 Menjawab apa adanya.


"Aku tidak tahu. Kau juga baru jadian dua hari" kata Xie.


 Dashie sedikit langsung tahu maksud dari kata kata yang dikatakan oleh kakaknya itu belum selesai adiknya sedang berpikir tentang nasihatnya itu lalu Xie memberikan nasihat lagi kepada Dashie.


"Putus dan menikah denganku" kata Xie.


 Menjadi sadar diri tiba tiba.


"Ya. Ya, sorry" kata Xie.


 Dashie tersedak ketika sedang makan satu potong buah asam dari atas piring di meja depan mereka.


"Kenapa?" tanya Xie.


"Kita tidak sedarah juga aku sudah punya pekerjaan" kata Xie.


 Dashie minum susu hangat yang juga dibuatkan oleh kakaknya itu dibawa bersama satu nampan yang sama dengan piring berisi berbagai macam buah.


"Aku khawatir. Kau tahu itu" kata Xie.


 Waktu sebelum Dashie dan Rumy tiba dari perjalanan pulang berwisata dua orang bertemu disana di stasiun kereta bawah tanah.


 Di suatu tempat yang ramai di antara banyak orang mereka bertemu dan mengambil waktu juga tempat untuk membicarakan hal yang penting untuk pacar Dashie ini.


 Serius untuk senior kepada juniornya.


"Pacarmu adalah Dashie kan?" tanya Bosnya Dashie sekaligus senior dari Ten juga Ved.


 Dia memperlihatkan foto Dashie yang sedang menggendong putrinya.


"Kau mengenalnya?" tanya Ten.


"Dia salah satu karyawanku" kata Seniornya itu.


 Tanpa mengulur waktu.


"Ini alasan kau ingin bertemu disini" kata Seniornya Ten.


 Setelah memberikan nasihat kepada Ten kini hanya ada dirinya disana diantara banyak orang disaat itu juga dia sedang menunggu Dashie pulang di stasiun kereta bawah tanah itu.


 Nasihat nasihatnya terdengar terngiang di telinga semenjak tiga menit yang lalu pergi seniornya dari depan Ten.


"Kalian harus putus atau kau akan kehilangannya" kata Seniornya.


 Mata berkaca kaca Ten melihat senyum pacarnya yang ada disana semakin mendekat berjalan kepadanya menyimpan keputusan ini untuk sementara waktu.


"Jika kau menyayanginya kau akan mendengarkan nasihatku" kata seniornya tersebut. 


 Hatinya sudah mulai retak dengan sendiri  tanpa bisa dicegah hal itu tetap terjadi.


 Itu semua sebuah kebohongan atau perasaan apa yang jelas dia berpikir jika ini terlalu cepat jika dia harus meninggalkan orang yang dia sayang.


 Waktu menundanya untuk berkata secara langsung bahwa dia ingin putus dengan gadis ini di hadapan banyak orang.


 Mengendarai mobil dia tetap baik baik saja menyimpan ini sendiri berbincang dengan santai dan tenang tanpa menimbulkan rasa curiga untuk setiap kata dan sikapnya yang dia tunjukan kepada orang orang yang sedang bersamanya menghentikan rasa sedih yang sejak detik nasihat yang dia dapat tadi dia terima membuat hati dan pikirannya ingin meledak kapan saja.


"Siapa yang akan menjaganya?" tanya Seniornya.


"Dan siapa yang akan menjaga dirimu sendiri … ?" tanya dia lagi.


 Isi pikirannya mendorongnya menjadi labil dalam memutuskan keputusan ini.


"Ingat nasehatku ini" kata seniornya lagi.


 Perjalanan menuju tempat kerjanya lagi dia menghapus air mata dengan tangan kiri.


 Sedangkan hubungan percintaan mereka baru dimulai hanya baru beberapa jam saja dan dia harus mengambil keputusan ini.


"Setidaknya aku tidak memaksa dia menjadi pacarku" kata Ten.

__ADS_1


 


__ADS_2