Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 130: Segera datang.


__ADS_3

...Chapter 130: Segera datang....


... Mendekat tanpa basa-basi salah satu dari mereka berdua kepada Nawa....


..."Ada apa?" tanya Nawa....


..."Apa yang kau lakukan kepada Po?" tanya Jeje....


... Dia merasa seperti orang yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang terjadi kepada sahabat mereka....


... Dia dengan sifat dingin menakutkan....


..."Aku tidak dekat dengan kalian" kata Nawa....


... Kembali membaca komik yang ia baca....


... Jeje ingin sekali memberi pelajaran kepada Nawa dengan sikap anti sosialnya itu....


... Kata-kata diksi yang dipilih oleh Nawa menggambarkan seperti biasa siapa orang yang ada didepan mereka yang sudah mereka tahu dari segala sikap dingin tidak ingin tersentuh oleh keramahan orang-orang disekitarnya yang ingin mencoba untuk berada dekat berada di lingkaran pertemanan remaja laki-laki itu....


..."Tenang sayang. Kau sudah harus terbiasa" kata Jeje....


... Yellow tertawa puas dengan perlakuan yang diterima oleh Jeje dari Nawa sesaat setelah beberapa detik mencari waktu untuk dirinya berani tertawa memberi reaksi....


..."Sudah kubilang jangan dekati dia" kata Yellow....


... Melihat keduanya kepada Po yang belum juga melihat seperti biasa tawa sahabat mereka seperti biasa dalam setiap momen....


... Nawa memilih untuk pergi menuju jendela kelas yang belum terbuka....


... Menaruh menyandarkan komik yang ia baca dibagian sisi sebelah kanan jendela bagian dalam....


... Membuka salah satu jendela kelas....


... Matahari hangat semakin terasa masuk kedalam tiap sudut ruangan dan Nawa ada disana sedang menikmati anugrah ini....


... Menutup mata menghirup udara segar hangat dipagi hari....


... Beberapa menit kemudian....


... Dia dengan komik yang ada di tangan yang sedang ia baca....


... Seseorang ada di atas sebuah gedung sedang memperhatikan lebih tepatnya mengawasi gerak-gerik yang dilakukan oleh Nawa....


... Mode tidak terlihat oleh siapapun....


... Dia juga merasakan udara hangat di pagi ini di tempatnya sekarang....


... Siswa siswi mulai terlihat bertambah berdatangan ke dalam kelas dari sederet kelas yang berbaris di bagian gedung yang ia lihat dari gedung tempatnya saat ini sedang memantau situasi....


..."Aku lapar" kata siswa laki-laki tersebut....


... Menunggu sengaja mencari situasi yang tepat untuk menyapa orang yang sedang diawasi sedari tadi orang tersebut masuk kedalam kelas ...


... Ponselnya berdering....


... Dia melihat layar ponsel siapa yang sedang menghubungi ponselnya....


..."Kau lihat ke arah jarum jam sebelas" kata seseorang....


... Nawa mengenali siapa yang mengajaknya bicara dengan nomor ponsel yang belum berubah ada masuk kedalam daftar kontak nama didalam ponsel....


... Dia sudah berada melihat seseorang diarah jarum jam sebelah tepat ia berdiri dibagian dalam salah satu jendela kelas....


..."Aku menelponmu bukan hanya untuk menyapa" kata siswa laki-laki itu....


... Dia mengangkat jemari ke atas menyapa remaja laki-laki ini dengan sapaan bersahabat seperti kawan lama yang baru saja bertemu kembali....


... Raut wajah Nawa berubah menjadi serius dengan keberadaan seseorang yang ia tahu bukanlah teman yang dekat meski dipaksa dekat berteman ada diatas sebuah gedung sekolah yang bersebelahan dengan gedung sekolah yang saat ini ada berada didalam salah satu kelas gedung yang kini menjadi tempatnya mencari ilmu....


... Dia tertawa dengan suara jahat....


... Obrolan belum berakhir....


..."Kau langsung marah padahal aku belum berbuat apapun" kata siswa laki-laki itu....


..."Apa yang kau inginkan?" tanya Nawa....


..."Aku. Aku hanya ingin bermain-main disini" kata siswa laki-laki itu....


..."Kapan hari terakhir yang kau pilih?" tanya Nawa....


... Suara tawanya keras terdengar keluar dari ponsel Nawa....


... Dia dengan tawa misterius yang memiliki banyak rencana sebagai pandangan orang lain yang sudah pernah mengenal salah satu dari sisi orang yang mengajak Nawa bicara saat ini tak bisa mengubah pandangan itu. Sebuah pandangan bahwa mereka tidak pernah sama sekali dalam satu kubu dalam setiap bagian rencana yang sistematis dibuat untuk menjalankan sebuah misi dengan beralasan hanya karena kita satu keyakinan untuk melakukan suatu hal yang bisa dibilang bukan berarti itu pantas dilakukan oleh mereka....


... Remaja laki-laki itu berhenti tertawa kembali dengan nada suara serius....


..."Kenapa. Kau sepertinya sedang terancam, apa ada sesuatu yang istimewa ditempat ini?" tanya remaja laki-laki itu....


... Nawa sedang memikirkan rencana apa yang harus dilakukan untuk menyingkirkan orang yang berada diatas gedung itu....


..."Kau tetap diam. Berarti, kau memang sedang terancam" kata siswa laki-laki itu....


..."Berhenti bersikap bahwa kau adalah teman baikku!" kata Nawa....


... Remaja laki-laki yang mengajaknya bicara lewat ponsel lalu menghilang dengan mudah pergi dari atas gedung sekolah tempat seseorang yang ia kenal juga bersekolah disana....


... Suara Nawa yang marah terdengar oleh beberapa teman-teman satu kelasnya yang sudah tiba di dalam kelas....

__ADS_1


... Po baru melihat Nawa ketika ia melihat seseorang sedang marah semarah itu ketika menerima panggilan telepon dari seseorang....


..."Dia dan aura hitam putihnya tidak jauh berbeda dengan apa yang kulihat tadi malam" kata Po....


..."Bisakah. Dia menjelaskan semua ini" kata Po....


... Nawa yang geram dengan tingkah seseorang yang seenaknya sendiri mengubah diri menjadi orang lain dan hidup dengan nyaman damai seperti manusia pada umumnya sedangkan ia tahu bahwa orang yang sudah membuatnya marah seperti ini bukanlah manusia seutuhnya....


... Waktu jam masuk sekolah di pelajaran pertama dengan Bell yang berbunyi keras terdengar menyeluruh di seluruh bagian sekolah....


... Kelas pertama pelajaran hari ini dimulai....


... Hari yang terlihat sangat cerah untuk semua orang terlihat merasakan hal itu yang tidak seperti yang seseorang rasakan dengan kecemasan dengan apa yang selanjutnya bisa terjadi menjadikan dirinya berpikir negatif akan masa depan....


... Dia melihat ke arah kekasihnya yang dengan alasan ini ia merasa ada sesuatu yang membuat diri ingin selalu berada didekatnya untuk melindungi dan menyayanginya sebisa mungkin ia bisa mampu lakukan....


... Po tidak memberikan kesan apapun yang membuktikan kepada orang lain bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih hal ini membuat Nawa menjadi sedih....


..."Apa yang terjadi denganku?" tanya Nawa....


..."Tidak. Tidak biasanya aku seperti ini" kata Nawa....


... Tidak seperti yang dirasakan oleh kekasihnya saat ini dengan sikapnya yang lebih cuek dan dingin dari biasanya tak membuat Po untuk tidak perhatian kepada kekasihnya yang sedang berada terus mengikutinya hingga sekarang disaat ada berada ditempat yang sama di dalam perpustakaan....


..."Apa kau butuh bantuanku?" tanya Nawa....


..."Tidak" jawab Po....


... Dia dengan dua buku tebal yang ia ambil dari salah satu rak yang ada berbaris di dalam sana....


... Berkomentar tentang kondisi wajah Nawa....


..."Ada apa dengan wajahnya yang sangat pucat itu?" tanya Po....


... Duduk di salah satu meja di dalam perpustakaan bersama siswa dan siswi lain yang juga ada disana membaca buku....


... Dia secara sembunyi-sembunyi mencari waktu untuk melihat ke arah kekasihnya yang juga sedang membaca buku tapi tidak ada disebelah melainkan ada di bagian lain kursi yang tersedia disana mencuri kesempatan untuk memperhatikan kondisinya yang terlihat tidak enak badan....


... Perhatian yang belum juga habis untuk Nawa....


..."Apa dia belum minum obat?" tanya Po....


..."Aku jadi khawatir" kata Po....


... Di kembali dengan tujuannya untuk mencari bahan referensi dengan makalah yang akan dibuat dalam tugas lain dari salah satu mata pelajaran....


... Mengejutkan Po dari arah kanan datang Nawa ada disana berbisik....


..."Aku tahu kau selalu memperhatikan ku" kata Nawa....


... Terkejut....


... Dia membuat suara yang didengar oleh sebagian ruangan perpustakaan lalu dilihat oleh siswa-siswi yang juga ada disana di jam istirahat pertama ini....


... Nawa pergi ke tempat duduknya semula setelah mengambil buku yang ada di rak di belakang kekasihnya duduk saat ini....


... Dia terlihat jauh lebih tenang dengan warna raut wajahnya perlahan tidak kembali sepucat yang terlihat di beberapa detik yang lalu....


..."Apa ini tidak terlihat aneh?" tanya Po....


... Melihat perubahan yang dialami oleh Nawa membuatnya merasa sadar bumi yang ia tempati memiliki banyak karakteristik sebagai ciri setiap masing-masing para manusia. Itu yang dirasakan oleh Po tidak dengan Nawa yang masih memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah sapaan salah satu bangsa Blacwhe tadi pagi tidak bisa dibiarkan begitu saja....


... Nawa yang mengetahui meski ada orang-orang yang berada didekatnya mendukung segala hal positif yang ia lakukan tapi ia tetap merasa bahwa dirinyalah yang harus bisa mengendalikan diri ingin bagaimana ia melihat dunia....


... Dia dengan kalimat tanpa suara keluar dari lisan....


..."Apa yang sebenarnya membuatku segelisah ini?" tanya Nawa....


... Dia melihat ke sekelilingnya yang terdapat banyak orang dan ia tidak sendirian....


..."Apa yang ku takutkan?" tanya Nawa....


... Air matanya tiba-tiba saja jatuh tanpa suatu sebab yang jelas mengenai buku yang sedang ia baca....


... Dia menyadari lebih jelas lagi bahwa ia sedang menangis tetesan air mata yang kedua kalinya jatuh di atas halaman buku yang sama menembus halaman sebelumnya yang sudah ia baca....


... Ia menghapus air mata yang jatuh tanpa sebab yang jelas itu segera mungkin jangan sampai orang lain melihatnya sedang menangis. Tapi, tidak dengan kekasihnya yang melihat ini dari sisi Nawa yang terkenal dingin sulit untuk didekati oleh siapapun....


..."Apa yang barusan aku lihat?" tanya Po....


... Berbicara dalam hati dengan ekspresi terkejut merasa tidak percaya....


..."Dia menangis!" kata Po....


... Melihat lagi ke arah kekasihnya lagi yang sudah menghapus air matanya lalu segera membaca bukunya yang tadi ia baca....


..."Apa aku harus menghiburnya tapi kupikir itu tidak perlu" kata Po....


... Po yang sudah menemukan buku referensi yang ia perlukan untuk bahan pembuatan makalah tugas sekolah memutuskan meminjam buku-buku yang sudah ia temukan....


... Pergi dengan buku-buku yang akan ia pinjam menuju ke arah petugas penjaga perpustakaan....


... Menaruh buku diatas meja tugas petugas perpustakaan....


... Memberikan kartu perpustakaan kepada petugas perpustakaan....


... Menunggu buku-buku yang akan dipinjam diperiksa oleh petugas perpustakaan sesuai data yang terdapat di layar komputer....


... Pemeriksaan selesai....

__ADS_1


... Kartu perpustakaan dikembalikan lagi kepada Po lalu Po memasukkan kartu perpustakaannya lagi kedalam saku baju seragam tepat bagian kiri....


... Buku-buku itu akan dibawa olehnya sudah dalam satu tumpuk lalu diambil oleh Nawa....


..."Biar aku saja" kata Nawa....


... Dia melihat kekasihnya pergi membawakan buku-buku dari perpustakaan....


... Nawa akan pergi ke luar dari perpustakaan....


..."Kau akan tetap disana!?" kata Nawa....


... Masih sedikit tidak nyaman dengan kebaikan yang ia terima....


... ...


... Dia dengan wajahnya yang biasa saja....


..."Ok" kata Po....


... Nawa menunggu agar mereka berdua keluar dari perpustakaan secara berbarengan dan itu terjadi....


... Dalam langkah pertama keluar dari dalam perpustakaan....


... Gadis remaja ini terkejut....


..."Apa ini?" tanya Po....


... Dia melihat sekitar dan ada Nawa juga disana....


... Memegang pergelangan pacarnya yang masih membawa buku-buku yang tadi ia bawa dari perpustakaan....


... Dia masih dengan melihat sekeliling dengan penuh pertanyaan kenapa ia ada disana disebuah gudang sekolah....


... Mulai panik....


..."Nawa!" panggil Po....


... Dia belum menjawab panggilan dari gadis remaja itu....


... Melihat ke arah Nawa....


..."Kau percaya ini. Bagaimana kita bisa … " kata Po...


... ...


..."Mengapa kita ada disini?" tanya Nawa....


..."Aku juga tidak tahu" kata Po....


... Po menjadi lebih mendekat kepada Nawa karena ketakutan dengan apa yang terjadi kepada mereka yang tidak biasa....


... Buku-buku itu jatuh ke lantai bangunan yang disebut oleh para siswa sebagai gudang....


..."Ada apa denganmu?" tanya Po....


... Gadis remaja ini mulai melepas tangan kekasihnya lalu berlari menjauh meninggalkan Nawa yang masih tetap disana dengan tatapan misterius mengerikan sangat pucat....


... Po melihat sendiri meski ia bertambah jauh melihat ke arah belakang dengan senjata-senjata yang keluar dari dalam tangan kanan Nawa bersamaan dengan darah yang mengalir bersama....


... ...


... Mengarahkan tangan yang sudah bersama senjata senjata itu yang kemudian terlepas dengan mudah....


... Senjata itu datang dengan sangat cepat mengejar Po yang sedang berlari menjauh dari Nawa yang tidak bergerak berpindah tempat sama sekali....


... Senjata itu berhasil menggores bagian kaki gadis yang sedang berlari itu....


... Dia terjatuh dia tidak ingin menyerah merangkak terseret seeret raganya menjauh dari Nawa yang berjalan semakin dekat....


... Senjata itu datang kembali seakan terkendali oleh pemiliknya untuk melukai bagian tubuh mana yang ingin di sakiti dan kali ini mengenai bagian bawah bahu atas sebelah kanan gadis itu dengan cepat darah mengucur deras mengenai baju seragam sekolahnya....


... Sebuah sepatu terlepas dari kaki sebelah kanan dengan percikan darah mengenai sebagian secara acak....


... "Apa aku sudah berbuat salah kepadanya?"...


... "Katakan apa salahku"...


... "Mengapa dia berbuat ini padaku dan apa semua ini salahku?...


... "Apa aku benar-benar akan mati?"...


..."Tapi, aku belum ingin mati" ...


... Dia ditarik tanpa dengan mode tidak terlihat dari arah belakang seseorang menariknya dengan kondisinya mengenaskan berlumuran darah mewarnai seragam sekolah putihnya menjelaskan beberapa detik lalu adalah waktu yang sangat tidak beruntung baginya....


... Bekas darah yang memberi jejak bukti untuk menolongnya menangkap siapa yang sudah melakukan kejahatan itu lenyap dengan mudah juga disaksikan olehnya sendiri bahwa sebuah bukti kejahatan telah lenyap....


..."Ini tidak akan menyenangkan jika semua darah-darah ini dilenyapkan" kata remaja laki-laki itu....


..."Ini akan lebih menyakitkan" kata remaja laki-laki itu....


... Tiga senjata di tangan menggores bahu atas sebelah kiri gadis remaja ini....


... Dia menatap tajam kedua mata Po tanpa sebuah rasa belas kasihan untuk berhenti menggores semakin dalam dengan darah kembali keluar deras semakin deras dari dalam bahunya....


... Berteriak....


... Dia melakukan itu....

__ADS_1


... Berapa kali ia lakukan sebuah harapan yang dibutuhkan akan segera bantuan datang menolong....


__ADS_2