Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 21: Stop to Love Again.


__ADS_3

Chapter 21: Stop to Love Again.


 Waktu kembali di pukul lima lebih lima puluh lima menit waktu matahari akan benar benar terbenam sepulang dari kampus Callie setelah mendapatkan kabar terakhir dari sahabatnya yang belum mendapatkan kabar untuk kembali.


 Udara makin dingin di dalam bus dia duduk diantara banyak orang yang cukup meramaikan ruangan bus yang dia tumpangi.


 Kaca jendela terbuka bus berjalan cepat melewati sebagian bangunan bangunan lalu dia bersandar di kursi penumpang tatapan tidak kosong, dia sedang banyak pikiran.


"Apakah aku harus menerima Ten menjadi pacarku?" tanya Dashie.


 Kepada diri sendiri.


"Bagaimana tanggapan orang lain tentang diriku jika di momen ini aku malah jadian dengan orang lain?" tanya Dashie.


"Kenapa hidup ini melelahkan sekali?" tanya Dashie.


 Berpikir keras untuk memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya dalam waktu tiga puluh menit yang dia miliki untuk memutuskan apakah dia harus menerima Ten.


 Melirik ke arah luar bus.


 Dia menangis sendirian di dalam bus.


"Apa aku akan seegois itu?" tanya Dashie.


 Menutup wajahnya dengan telapak tangan dengan isak tangis tidak terlalu keras tapi tetap terdengar oleh orang orang di dalam bus tidak sedikit memperhatikan apa yang terjadi dalam keheningan waktu ini akan tetapi gadis ini menunjukkan sikap tidak ingin orang lain bersimpati ataupun berempati dengan dirinya.


 Untuk hatinya yang sedih berbicara di dalam hati bertanya kepada dirinya sendiri.


"Apa aku tak boleh bahagia?" tanya Dashie.


"Setelah Callie pergi, apakah aku juga harus melepas dia" kata Dashie.


 Dashie menyeka air matanya berusaha untuk tetap tegar lagi bibir memerah dan mata lebam terlihat setelah dia menangis yang dia rasakan saat ini adalah dia merasa ini tidak benar jika terus bersedih menangis akan menjadi terpuruk dan tidak baik untuk kondisi psikologis serta juga untuk kesehatannya jika terus menerus ada di dalam lingkaran kesedihan ini.


 Perjalanan menuju tempat mereka berdua akan bertemu bisa saja Dashie membatalkannya bahkan jika dia sudah tiba di tempat itu bisa saja dia mengambil arah lain agar bisa melarikan diri dari Ten.


 Bus terus bergerak menuju tempat tujuan Dashie.


 Langkah kaki seseorang datang mengikuti seseorang berjaket baseball hijau dalam malam belum terlalu malam yakin bahwa dia orang yang akan ditemui di beberapa waktu kedepan terus mengikuti kemana dia akan pergi.


 Diantara kerumunan orang orang yang ada di sebuah pesta malam ini indah cerah ramai sorak sorai orang orang yang berdatangan orang yang dia ikuti belum berhenti terus berjalan mengikuti seseorang yang berjalan di depannya.


 Memanggil namanya sudahkah gadis ini mencobanya, sudah. Dia sudah mencoba memanggil orang itu akan tetapi orang itu tidak menoleh.


 Mencoba lagi memanggil dan dia tidak berbalik ke belakang.


"Apakah suaraku tidak cukup keras untuk memanggilnya?" tanya Dashie.


 Tersadar lagi dari lamunan.


 


 Melihat ke segala arah memastikan semua yang tadi dilihatnya hanya sebuah halusinasi semata. Dia masih ada duduk di kursi bus yang sama dengan tujuan yang sama.


"Aku melihat hal semacam itu lagi" kata Dashie.


 Panik dalam keheningan.


"Ada apa dengan diriku?" tanya Dashie.


 Sebuah kisah yang menampilkan gambaran sekilas tentang orang yang sedang Dashie pikirkan selama ini tentang dirinya yang membuatnya bertanya tanya adakah sesuatu yang tidak diketahui olehnya selama ini. 


"Berapa kali aku hadir dalam keraguan ini tentang pria itu?" tanya Dashie.


"Mengapa semua itu membuatku menjadi berhenti tidak bisa menemukan jawaban?" tanya Dashie.


 Pria itu masih di jalan yang sama dan Dashie kembali lagi hadir menjadi bagian dari kisah tidak nyata untuk mudah dicerna oleh akal pikir yang terus bertanya tanya tentang kebenaran yang membuatnya ragu sekali lagi.


 Dashie terkejut sekali lagi dengan sikap yang sedang ia ikuti berlari lari sekuat tenaga gadis ini mengejar Ten yang juga berjalan kian jauh menjauh darinya.


 Entah perasaan apa yang muncul di situasi ini tapi dia merasakan ketakutan yang luar biasa ketika Ten semakin bertambah menjauh diantara kerumunan orang orang yang berpesta di malam ini.


 Dashie tiba tepat di belakang Ten.


 Menghela nafas.


 Memanggil.


 "Ten" kata Dashie.


 Jarak mereka hanya satu langkah tapi dia tidak menoleh ketika dipanggil oleh Dashie dan siapa yang dikejar oleh pria yang dipanggil olehnya beberapa kali orang itu adalah Aka.


 Aka berhenti.


 


 Aka sedang berbicara dengan seseorang dari dalam ponsel tidak menyadari ada seseorang sedang mengikutinya dari arah belakang dan seseorang itu melewati Aka lalu berada tepat di depannya.


 Dashie tidak bisa berkata dalam Empat detik.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Dashie.


 Menutup mulutnya dengan tangan kanannya dengan apa yang dilakukan oleh Ten kepada Aka.

__ADS_1


 Ponsel itu terjatuh dari tangan Aka lalu dia menjadi diam tak bergerak dengan tatapan kosong ke arah depan bukan menatap Ten tapi benar benar menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


"Apa yang dia ambil dari Aka?" tanya Dashie.


 Ten mengambil tidak disengaja aura yang dimiliki oleh Aka wajahnya menjadi pucat Dashie melihat perubahan ini langsung di depan matanya hanya dengan waktu empat detik.


 Dashie langsung memisahkan mereka berdua untuk tidak saling berhadapan yang terjadi selanjutnya adalah Aka terduduk di atas jalan tempat dia berdiri sedangkan untuk Ten menjadi seseorang yang dibuat linglung tanpa sebab yang jelas memegang kepalanya dengan kedua tangan.


 Menatap Dashie dengan mata berkaca kaca.


 Dia pergi berlari kencang menjauh meninggalkan Dashie.


 Kembali, Aka dilihat oleh Dashie tapi apa yang membuatnya jauh lebih terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Kau baik baik saja?" tanya Dashie.


 Aka sepertinya juga mengalami panik lalu mengambil ponselnya yang jatuh di sebelah kanan kakinya pergi dengan cepat dengan arah yang sama dengan apa yang dipilih oleh Ten barusan.


 Terheran.


"Benarkah. Dia tidak bisa melihatku?" tanya Dashie.


"Mereka berdua" kata Dashie.


"Tidak mungkin" kata Dashie.


 Tempat itu telah berubah lagi menjadi tempat yang sama disaat Dashie akan menuju ke suatu tempat.


 Menggenggam erat besi kursi lain di bus di depannya sekarang.


"Apa aku sakit?" tanya Dashie.


 Menyentuh dahinya sendiri untuk memeriksa suhu yang ada di tubuhnya.


"Lumayan panas mungkin aku sedang sakit" kata Dashie.


 Sepuluh menit lagi akan sampai waktunya untuk Dashie turun dari dalam bus menghitung waktu dia untuk memutuskan sebuah keputusan.


 Dia berpikir ulang apa yang dikatakan Aka yang ia lihat dalam dunia yang baru ia lihat barusan mengingat kembali kemana dia akan pergi.


"Kita bertemu di bioskop … " kata Aka.


 Dashie mengingat dengan jelas dimana alamat bioskop yang akan didatangi oleh Aka yang dikatakan kepada seseorang yang diajak bicara bahkan dia mengingat nama siapa yang sedang dihubungi oleh Aka waktu ponselnya jatuh diatas jalan dekat sebelah kaki kanan Aka.


"Tempat itu sama dengan tempat dimana aku dan Ten membuat janji bertemu" kata Dashie.


 Dia juga mengingat temannya yang pergi menjauh diantara lampu lampu bangunan dan jalan jalan membaur dengan musik lembut menggema sebuah lagu yang di putar di sekitar mereka di sekitar orang orang yang berada diantara mereka lalu tiba saatnya bus berhenti di tempat Dashie tuju segera dia pergi turun dari dalam bus.


 Adakah yang tahu bagaimana kondisi dari Ten yang sedang berada entah dimana sekarang mencari sambil berlari Dashie mencari Ten di setiap langkah indera penglihatannya belum berhenti mencari hingga dia sampai di depan tempat menonton film.


 Ten sedang bersembunyi di suatu tempat yang juga berada di sekitar area menonton film jarak diantara mereka tidak terlampau jauh hanya saja dia yang datang lebih awal sibuk dengan rasa takutnya sendiri.


 Tidak percaya diri.


"Ini terjadi lagi kepadaku" kata Ten.


 Masih tidak percaya diri untuk menerima kenyataan tentang dirinya.


"Dia juga melihatnya lagi" kata Ten.


 Menghapus air mata lagi.


"Ataukah itu hanya halusinasiku?" tanya Ten.


 Krisis kepercayaan diri.


"Jika dia ada disana lalu kenapa dia tetap datang kemari?" tanya Ten.


 Ten keluar menoleh dari tempat persembunyiannya melihat ke sisi Dashie sedang menunggunya sambil beberapa kali melihat ke segala arah.


 Menghapus air matanya lagi menghapus rasa frustasinya lagi mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dashie.


"Apa aku pergi saja dari tempat ini?" tanya Ten.


 Kembali di tempat persembunyian diri menata diri dengan sikapnya seperti biasa kepada Dashie.


"Aku tidak peduli jika dia tidak menerimaku lagi" kata Ten.


"Yang terpenting dia bisa tetap menjadi temanku lagi" kata Ten.


 Ten keluar dari tempat persembunyian berdiri menghadap ke arah dimana ada Dashie di depannya dari arah belakang Dashie, dia berjalan dengan langkah kaki santai penuh semangat.


 Memanggil Dashie.


"Dashie!" kata Ten.


 Inilah saat saat waktu yang mendebarkan untuk Ten bukan tentang jawaban pernyataan cintanya akan dijawab oleh Dashie.


 Dia menoleh dengan senyum tulus untuk Ten.


 Langkah kaki semakin bertambah cepat untuk Ten ingin cepat berada dekat dengan gadis yang sangat ia sayang untuk saat ini.


 Dashie melangkah mendekat juga kepada Ten.

__ADS_1


 Menyimpan sebuah tanda tanya untuk pria yang makin dekat ke arahnya.


"Jaket dan semua yang dia pakai semua sama persis dengan yang kulihat di dunia itu" kata Dashie.


"Sekali lagi, aku melihat sisi lain itu" kata Dashie.


 Ten menggenggam kedua tangan Dashie senyum hangat Dashie melihatnya lagi dari bibir pria yang ada tepat menggenggam lembut kedua tangan lalu Ten memeluknya dengan erat.


"Benarkah. Dia adalah orang yang kukenal itu?" tanya Dashie.


 Dashie mendengar tangis dari orang yang sedang memeluknya erat tidak tahu kenapa yang ia dengar bukanlah tangis buatan terdengar lebih apa yang benar benar sedang dirasakan oleh orang yang sedang memeluknya.


 Melepas pelukan kepada Dashie pria ini tetap dengan dirinya empat tahun yang lalu tidak ada yang berubah Dashie menilainya lagi.


"Bisakah ini tetap bertahan lama" kata Dashie.


 Pria itu mengajak Dashie berbicara lalu Dashie membantunya untuk menyeka air mata di pipi pria ini.


"Mungkinkah yang kulihat itu tidak nyata" kata Dashie.


 Ragu.


"Atau mungkin itu juga nyata" kata Dashie.


 Ten memeluk lagi Dashie dia bukan untuk hal lain tapi kalimat itu membuat hati gadis ini tersentuh.


 Ten terisak.


"Kau boleh menolakku lagi, aku akan mencoba memperbaiki diriku lagi sampai kau mau denganku" kata Ten.


 Disaat itu pula Dashie melihat dua orang bergandengan tangan ada tidak jauh hadir dalam situasi ini.


 Dashie memperhatikan ada Aka dan Hoshie terlihat mesra cemburu mungkin itu tidaklah penting untuk dirinya lagi yang lebih jauh dipikirkan olehnya adalah tentang kondisi gadis yang sedang digandeng oleh Hoshie.


"Ini nyata" kata Dashie.


"Dia bisa melihatku" kata Dashie lagi.


 Mengingat style outfit yang dipakai oleh Aka tidak salah apa yang dia lihat sama persis juga saat kejadian saat dia akan diserang oleh Ten gadis ini masih mengingat hal hal ini dengan jelas.


"Tetaplah berpura pura tidak melihat mereka" kata Dashie.


 Melepas pelukan kepada Dashie dan bertanya lagi tentang hadirnya Dashie ada didepan Ten.


"Aku mencintaimu, Dashie" kata Ten.


 Jawaban dari hati Dashie untuk Ten.


"Aku mencintaimu, Ten" kata Dashie.


 Menyeka lagi air mata pria yang sedang bersamanya itu.


"Kau tidak akan pergi kan?" tanya Ten.


 Mengangguk Dashie mengiyakan pertanyaan dari Ten.


 Untuk yang ketiga kalinya Ten memeluk Dashie dan yang terakhir ini dia terlihat sangat senang atas jawaban yang diberikan oleh Dashie kepada dirinya terlepas dari itu Dashie masih dengan jelas seseorang disana sedang menahan segala rasa yang penting sedang di sembunyikan untuk situasi yang cukup tidak sesuai dengan rencananya dari awal.


 Untuk Dashie.


"Aku tidak ingin melihat orang yang ku sayang pergi lagi" kata Dashie.


 Mengingat sahabatnya dengan banyak harapan.


"Cepat kembali Callie" kata Dashie.


 Hoshie sedang meredam amarah dengan apa yang ia lihat dan dengar tangannya menggenggam erat tangan pacarnya yang juga merasakan sebuah keberuntungan baru saja jatuh dari atas langit untuk hubungan percintaan mereka berdua.


 Tapi, itu tidak lekas membuatnya langsung merasa lega dengan kejutan tak terduga semacam ini terlebih jika dia terus memikirkan tentang ekspresi yang diberikan oleh Hoshie untuk Dashie mengartikan rasa cemburu merasa tidak rela kalau sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya diambil oleh orang lain.


 Terlintas sebuah pikiran oleh Aka.


"Ini adil untuk pasangan baru disana tapi tidak untuk ku" kata Aka.


 Ten menggandeng mesra tangan Dashie untuk pergi ke ruang menonton film animasi di pemutaran pertama hari ini setelah mendapatkan satu box popcorn dan dua three berry smoothie.


 Berlanjut untuk Hoshie menggenggam erat pacarnya untuk mengikuti arah untuk membeli popcorn dan minuman sebelum masuk ke ruang bioskop yang sama dengan Dashie dan Ten.


"Dia memang pandai menyembunyikan segalanya" kata Aka.


 Film sedang diputar dengan suasana ruang bioskop yang gelap menjadi terang karena layar bioskop yang menyala memutar film.


 


 Hoshie sedang tidak ingin banyak berekspresi merespon bagaimana film yang sedang ia tonton saat ini fokusnya hanya untuk Dashie dengan segala usaha luar biasa ia lakukan menutupinya dari pacarnya yang ada di sebelahnya sekarang.


 Kemarahan yang tersembunyi.


"Aku harus apakan pacar gadis itu?" tanya Hoshie.


 


 

__ADS_1


__ADS_2