Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 14: Luar biasa teman.


__ADS_3

Chapter 14: Luar biasa teman.


 Marah.


"Dia datang jika sedang bosan" kata Dashie.


"Ya. Dia sedang bosan" kata Dashie.


"Segera pergi lalu … " kata Dashie.


"Ya. Ini memang hobimu" kata Dashie.


 Sebelum waktu Hoshie datang menemui Dashie masih berada di dalam bar sebuah klub dengan kondisi mabuk.


 Dia menghubungi seseorang agar datang membawanya pulang menelepon nomor telepon dari dalam ponselnya secara acak.


 Siapa yang dihubungi oleh Hoshie, dia secara tidak sengaja menghubungi nomor ponsel Aka.


 Aka yang sedang berbaring dengan luka yang ia dapat terasa masih nyeri terutama di bagian kepala. 


 Mendengar sedari tiga puluh detik yang lalu ponselnya belum berhenti berdering.


 Mengambil ponselnya yang ada di sisi kanannya persis.


 Layar ponsel menyala redup.


 Hoshie memanggil.


 Aka masih terus melihat layar ponsel.


 Ragu.


"Ya" jawab Aka.


 Memanggil nama yang tidak seharusnya dipanggil.


"Dashie" panggil Hoshie.


"Aku bukan Dashie" jawab Aka.


 Masih dengan menyebut nama yang salah.


"Dashie bawa aku pulang" kata Hoshie.


 Percakapan berakhir diakhiri oleh Hoshie sendiri.


 Menatap langit kamar yang terang dengan lampu lampu malam bagai bintang bertaburan di langit menangis dia disana sendirian.


 Bumi berhenti baginya perasaan hancur sekali lagi oleh orang yang ia sayang dan orang itu jelas jelas tidak berbalik menyayangi dirinya.


 Di dalam klub malam dia duduk diantara teman temannya yang juga sudah mabuk akibat party tadi.


 Bangun dengan sedikit kesadaran pergi meninggalkan teman temannya disana keluar dari dalam klub.


 Di depan klub malam duduk sendiri lalu bangun lagi untuk mencari sebuah taksi.


 Dia pergi dengan sebuah taksi biru cat mobilnya.


 Ved dengan Hoshie yang tiba di depan toko sekaligus rumah Jarrel.


 Hal ini sudah diketahui oleh Ved kalau ibunya Jarrel akan segera datang.


 Ved merasa tidak enak hati jika harus membawa masuk Hoshie masuk kedalam rumah temannya.


 Wajah bersalah kepada Ibunya Jarrel.


"Tolong. Ambilkan kunci mobilku" kata Ved.


 Jarrel mengambilkan kunci mobil Ved yang ada diatas meja disebelah persis ibunya sedang duduk disana.


 Jarrel langsung mengambilkan kunci sekaligus tas kerja milik Ved lalu Jarrel keluar dari dalam toko setelah itu membantu mereka untuk masuk kedalam mobil.


 Ibunya Jarrel tidak ingin berkomentar dengan permasalahan orang lain.


 Callie mendekat dan menyibukkan diri dengan merapikan tempat packing yang ada didalam dus.


 Dia kemudian melihat Callie yang baru saja selesai packing dua lilin aromaterapi untuk pembeli yang terlihat terakhir waktu ini.


"Jangan takut. Saya bukan buaya" kata Ibunya Jarrel.


 Berbalik Callie kepada Ibunya Jarrel.


"Nama kamu Callie?" tanya Ibunya Callie.


"Saya Sora. Panggil saya Nona Sora" kata Ibunya Jarrel.


 Penurut.


"Baik. Nona Sora" kata Callie.


 Ingin saling mengenal.


 Deg degan Callie.


"Kemari" kata Nona Sora.


 Callie belum datang mendekat ketika dipanggil oleh ibunya Jarrel.


"Tidak apa. Kemari" kata Nona Sora.


 Sambil menunggu pemuda pemuda yang belum juga pulang.


 Duduk disana kembali menjadi akrab perlahan lahan dengan obrolan obrolan ringan yang diberikan oleh ibunya Jarrel.


 Sudah berada di halaman rumah Hoshie masuk mobil Ved.


 Mesin mobil masih menyala.


 Terdiam.


 Satu hal yang membuat hal itu terjadi mengamati sekitar dengan tenang.


"Prakkkk!"


 Suara pecahan kaca.


 Satu benda tajam menembus kaca mobil Ved kemudian melewati bagian tengah mereka di kursi belakang Ved sedang di kursi pengemudi melewati Jarrel dan Juga Hoshie yang berada di kursi belakang Ved persis.


 Tetap tenang.


 


  Rela.


"Mobil kesayanganku terluka lagi" kata Ved.


 Berbalik Ved ke arah Jarrel dan Hoshie.


 Senjata itu datang lagi melewati Ved dibelakangnya persis lewat menyayat jaket bomber army yang ia pakai.


 Menebak.


"Kau akan mati" kata Jarrel.


 Tidak terima.


"Kau mati lebih awal" kata Ved.


 Suara dentuman keras datang dari atas mobil.


"Brugg!" 


 Menjadi lebih berhati hati dalam setiap langkah mereka berdua.


 Hoshie yang belum sadar karena mabuk membuat ulah lagi.

__ADS_1


 Dia memeluk Jarrel.


"Dashie" kata Hoshie.


 Segera Jarrel akan menghempas temannya yang tidak sadar itu lalu sesuatu datang lagi.


 Suara keras lagi.


"Brugg!"


 Kaca mobil retak di bagian kanan mobil dan bersamaan dengan penyok berat pintu mobil bagian kanan Ved.


 Terdiam.


 Hoshie dihempas oleh Jarrel menjauh dari dirinya lalu dari arah belakang terjadi benturan dari arah luar.


 "Bruggggg!" 


 Kaca belakang mobil pecah hancur hanya menyisakan beberapa bagian.


 Ekspresi wajah Ved sudah sangat pasrah dengan mobil kesayangannya itu.


"Kau baik baik saja?" tanya Jarrel.


 Wajah tanpa emosi sedih.


"Apa kita masih hidup?" tanya Ved.


"Ya" jawab Jarrel.


 Lanjut kemudian datang bertubi tubi dari berbagai arah benda benda tajam itu menembus mobil yang sudah mungkin dibilang setengah hancur.


"Prakkk!"


"Duggg!" 


"Prakkk!"


"Brugg!"


 Suara suara keras itu datang secara bersamaan menyerang mereka semua yang ada di dalam mobil.


 Darah mengenai pecahan pecahan kaca juga sebagian dalam mobil.


 Mulut masih mengeluarkan darah dengan senjata tajam yang juga keluar dari tangan kedua sahabat ini mencegah benda benda tajam itu mengambil nyawa mereka.


 Tumpukan tumpukan senjata yang keluar dari kedua telapak tangan mereka kembali masuk kedalam tangan mereka tanpa sebuah rasa sakit.


 Jarrel mengalami luka gores di bagian leher dan lengan kanannya.


 Sedangkan untuk Ved dia mendapatkan luka di bagian kepala akibat hantaman dari depan mobil dari jarak jauh dan lengan bagian kanannya juga mengalami luka sayatan dengan darah masih keluar merembes jaket.


 Hoshie sedikit sadar dengan mata terbuka juga belum sepenuhnya.


 Kaget.


"Kita sudah mati?" tanya Hoshie.


 Pintu mobil kemudi dibuka lalu Ved keluar dari kursi kemudi.


"Brugg!"


 Suara aneh datang lagi dari pintu mobil yang baru ia buka.


 Pintu mobilnya terlepas jatuh dengan mudah ke bawah.


 Ingin ketawa tapi juga tidak mungkin. Jarrel.


 Hoshie masih belum sadar betul dari kondisi mabuknya saat ini lalu juga membuka pintu mobil bersamaan dengan Jarrel yang akan membuka pintu mobil sebelah kiri yang jauh lebih parah hasil hantaman barusan.


 Baru akan membuka pintu mobil sebelah kanan.


 Kaca mobil yang tadinya retak disebelah kanan ia duduk didalam mobil berlian berlian tajam jatuh melewati tangan Hoshie.


"Cepat keluar" kata Jarrel.


 Ved dan Jarrel di lantai teras rumah Hoshie melihat mobil yang sudah tidak layak dikatakan sebagai mobil yang bisa dikendarai.


 Hoshie duduk disebelah Ved.


 Dengan polos dan juga masih mabuk.


"Apa Dashie melakukan ini?" tanya Hoshie.


 Ved tertawa dan Jarrel mendengar kalimat yang keluar dari orang yang sedang mabuk ini.


 


 Masih di bawa santai oleh keduanya.


 Mengoceh lagi.


"Dashie memang hebat" kata Hoshie.


 Tertawa jahat Ved lalu ia segera meraih kerah pemuda di sebelahnya.


 Marah dan marah kepada Hoshie.


 Mencengkram kerah baju temannya itu ingin dia menghajar Hoshie dan Jarrel tentu mencegah hal itu dilakukan oleh Ved.


 Saling tarik menarik ketiganya.


 Jarrel berhasil mencegah Ved menghajar Hoshie.


 Hoshie berbaring diatas lantai.


  Jarrel duduk ditengah tengah mereka berdua ada di lantai depan rumah.


"Hanya sepuluh menit jarak rumahnya dan nyawa taruhan kita" kata Ved.


 Mencoba memberi saran.


"Kau bisa membeli mobil lagi" kata jarrel.


"Dia hasil pertamaku bekerja" kata Ved.


"Uangmu banyak" kata Jarrel.


"Dia juga berharga" kata Ved.


 Memanggil salah satu staf di bengkel yang masih bekerja di pukul delapan malam ini untuk datang dan menderek mobilnya yang sudah rusak parah ke bengkel.


 Siapa yang sedang memperhatikan mereka semua yang ada di bawah. Dia adalah seorang pria berkacamata minus juga terlihat dalam kondisi mabuk sedang seenaknya sendiri menghancurkan benda benda yang dianggapnya menarik untuk di hancurkan.


 Marah dalam keadaan masih mabuk.


"Dia bahkan tidak mau memberitahu siapa gadis itu" kata Pria berkacamata minus. 


 Ved melihat Hoshie yang sudah tidak berdaya tidur diatas lantai.


"Brugg!"


 Hantaman datang lagi dari arah atas.


 Sudah tidak ada lagi yang membuat hati dan pikirannya menjadi marah.


 Mobilnya menjadi hancur lebih hancur dari sebelumnya. 


 Berteriak.


"Siapa sebenarnya yang melakukan ini?!" kata Ved.


 Dengungan di kedua telinga terdengar lagi dalam satu detik lalu pergi menghilang. 


 Berpikir keras.

__ADS_1


"Ini bukan mobilku yang diincar pasti kita berdua atau … " kata Ved.


 Jarrel sedang menunggu sejak tadi apakah dengungan itu ada disekitar mereka. 


 "Tak ada dengungan itu selain barusan" kata Jarrel.


 


 Hoshie tertidur lelap.


 Ved mencari kartu pembuka pintu rumah yang mungkin bisa ditemukan di saku celana Hoshie.


 Masih dengan memanggil nama yang sama.


"Dashie!" kata Hoshie.


 Ved cemburu.


"Kita biarkan saja dia disini" kata Ved.


 Menawarkan sebuah ide.


"Tidak sekalian kita siram dengan air" kata Jarrel.


 Menemukan apa yang mereka cari.


 Membuka pintu rumah Hoshie.


 Terdapat kata sandi.


 Menanyakan kata sandi kepada Hoshie.


"Apa kata sandi rumahmu?" tanya Ved.


"Tanggal lahir Dashie" kata Hoshie.


 Masih dengan kesabaran yang luar biasa.


 Ved membuka pintu rumah Hoshie dengan kata sandi tanggal lahir Dashie.


 Jarrel membawa masuk Hoshie kedalam lalu pemuda itu mereka tempatkan tidur di sofa ruang tamu rumah lalu mereka berdua pergi meninggalnya sendirian didalam rumah.


 Menunggu staf Ved yang sudah memberi kabar  akan tiba beberapa menit lagi.


  Duduk di lantai rumah Hoshie bersama disebelah Jarrel.


 Ved kemudian bangun pergi ke mobilnya mengambil tasnya kembali.


 Mendapatkan tasnya kembali lalu kembali lagi ia duduk disebelah kanan Jarrel.


 Melempar perban dan obat merah serta mengambil peralatan medis untuk luka.


 Jarrel menerima.


"Darimana ini?" tanya Jarrel.


"Kemarin setelah mobilku terbalik" kata Ved.


 Jarrel akan menertawakan Ved.


 Ved tidak terpengaruh dengan ledekan dari Jarrel terus mengobati luka yang ia dapat di kepala dan lengan kanannya.


 Kemana pria berkacamata minus pergi setelah berbuat hal aneh kepada ketiga orang bangsanya sendiri.


 Dia berada di suatu tempat yang juga selalu ia datangi ketika dia mabuk seperti hari hari sebelumnya ia lakukan.


 Diatas sebuah jalan yang menghubungkan dua arah di antara dua daerah perumahan melewati jalanan yang ramai malam dengan kendaraan di bawahnya.


 Dia sedang memperhatikan beberapa orang di bawah jalan dengan aktivitas mereka. 


 Dia dengan air mata mungkin dari beberapa persen hati nurani yang ia miliki membuatnya sedikit sadar dan bisa merasakan apa yang semakin hilang terkikis pergi dari dalam diri tetap saja dia lebih condong untuk menghabisi seseorang dan kini orang yang akan menjadi korbannya selanjutnya adalah seorang gadis yang baru saja lewat di belakangnya.


 Teriakan.


"Tolong!" 


 Gadis itu berteriak meminta pertolongan namun terlambat dalam sepuluh detik aura gadis itu berpindah dengan mudah kepada pria berkacamata minus itu.


 Mata gadis itu menatap pria itu sudah dalam keadaan tak bernyawa pergi perlahan mencair tubuh gadis itu dan pergi hilang tanpa jejak terlihat mata.


 Ponsel gadis itu berdering kemudian terdengar dari dalam tas yang terlempar jauh oleh gadis itu sendiri.


 Pria itu tetap tidak peduli dengan apa yang ia lakukan dan menghilang.


 Ponsel gadis itu terus berdering dengan pemiliknya yang sudah menghilang berhenti berdering dalam beberapa detik kemudian berdering lagi.


 Kendaraan dibawah jalan itu terus melakukan pergerakan aktivitas mereka dan tidak mengetahui apa yang terjadi diatas mereka.


 Dia tidak akan takut akan terekam CCTV yang ada disana karena sudah jelas dia dengan mantra yang biasa digunakan dengan satu kali ucap dan menatap siapa target selanjutnya maka segera calon korbannya yang malang sudah siap menjadi korban selanjutnya. 


 Ved sedang mengamati luka yang ia miliki.


 Bekas luka yang ia miliki meninggalkan darah yang bukan miliknya tak ada suara dengungan itu hadir di kedua telinga.


 Indera penciuman yang tajam berfungsi sangat baik kali ini.


 


 Memberi perintah. 


"Kau tetap disini" kata Ved.


 Ved pergi menghilang.


 Staf dari bengkel datang dengan membawa mobil derek towing siap untuk menderek mobil Ved.


 Tidak lupa juga untuk Jarrel mengambil gambar mobil yang sedang dalam proses pengangkutan. 


 Ved mencium bau darah dari pemilik senjata yang menempel di lengannya yang terluka tertinggal dari pemilik senjata yang menggores lengan.


 Dia pergi berpindah tempat dengan sangat cepat ke tempat satu dan ketempat lain.


 Benar benar tak ada dengungan hadir di sekitar Ved ada disana di sebuah apartemen mewah dekat pantai.


 Dia juga terus mengendus bau yang sama semakin dekat dari arahnya berdiri di sebuah balkon kamar apartemen.


 Tentu dengan mantra penghilang yang ia ucapkan sejak dari rumah Hoshie agar tidak menimbulkan kegaduhan.


 Ved menemukan orang yang ia cari.


 Menutup mata orang itu masih disana bersandar di bagian dalam balkon apartemen.


 Dia tidak ingin gegabah dengan senjata senjata tajam besi panjang keluar perlahan dari dalam telapak tangan.


 Langkah sepatu tanpa suara ia mendekat.


"Dia pemilik darah di lenganku" kata Ved.


 Lima langkah lagi dia akan sampai lalu dia mempercepat langkah kaki dengan senjata yang makin keluar tajam dari dalam telapak tangan mengarah ke bagian dada targetnya.


 Dari arah belakang seseorang mengikuti kemana Ved akan pergi menghabisi bangsanya sendiri.


 Pria berkacamata minus sedang tidak memakai wajah sahabat dari Hoshie melainkan menggunakan wajah miliknya yang lain.


 Senjata itu satu langkah lagi siap menusuk hati pria berkacamata minus itu.


 Seseorang berjalan cepat mengejar Ved dan akhirnya dia dengan kedua tangan yang menggenggam senjata dari tangan Ved.


 Terkejut.


"Dashie" kata Ved.


 Tersenyum kepada Ved.


"Kau tidak sejahat itu kan?" tanya Dashie.

__ADS_1


 Senjata itu kembali masuk kedalam tangan Ved.


 


__ADS_2