Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 214: Tidak Mungkin.


__ADS_3

...Chapter 214: Tidak Mungkin....


... Helaan nafas panjang datang dari dalam diri gadis dengan keringat dingin pucat yang merasa lega dengan hilangnya sosok yang dianggapnya bukan hanya sekedar seorang hantu biasa....


... Darah dan serpihan daging dilihatnya secara perlahan menghilang tak terasa dan tercium bau busuk dari hantu yang baru saja pergi tanpa memberikan ancaman lebih yang bisa saja diterima olehnya....


... Semua yang terlihat wajar kembali seperti semula....


..."Ya Tuhan. Apa yang baru saja ku lihat tadi?" tanya Jeje....


... Lima belas menit kemudian....


... Di kantor polisi....


... Dia datang untuk menjemput kakaknya yang terlihat baru saja berkelahi dengan segerombolan orang-orang yang mabuk yang tanpa sengaja mendatangi salah satu kedai di antara para pedagang kaki lima di area tempat usaha milik orang tua Jeje....


... Datar....


..."Kau datang sendirian?" tanya Kakaknya Jeje....


... Pihak kepolisian sudah menyelesaikan masalah ini tentang siapa yang bersalah dan bertanggung jawab atas keributan yang telah terjadi....


..."Pantas kau belum juga pulang ternyata kau ada disini" kata Jeje....


..."Kau tidak mengkhawatirkan kakakmu?" tanya kakaknya itu....


... Dengan kedua tangan menyilang dengan ekspresi wajah ingin cepat-cepat pergi setelah kakaknya mengisi beberapa lembar dokumen yang diberikan oleh pihak kepolisian....


..."Apa yang harus ku khawatirkan kau sudah dewasa?" tanya balik Jeje....


..."Cepat isi semua itu lalu kita pergi dari sini" kata Jeje....


... Mereka belum saling bicara setelah duduk bersebelahan selama sepuluh menit dalam satu meja yang sama bersama juga dengan adanya empat orang dewasa di sebelah kanannya itu yang sedang melaporkan atas hilangnya salah satu teman mereka yaitu Luc....


... Nawa bersandar di kursi sambil sesekali melihat ke arah Jeje yang sedang berbicara dengan kakaknya sendiri....


... Memperhatikan Jeje dari arahnya lalu mengetuk pundak belakang sebelah kanan teman satu sekolahnya itu dengan jemari tangan kanan....


..."Apa kau tidak melihatku?" kata Nawa....


... Berbalik....


... "Ada apa?" tanya balik Jeje....


... Berbalik ke arah yang sama sebelumnya....


..."Jeje!" panggil Nawa sekali lagi....


... Berbalik lagi ke arah Nawa....


..."Ada apa lagi?" tanya Jeje....


... Menggelengkan kepalanya pelan sambil sedikit senyum tipis dari remaja laki-laki ini....


... Gestur ancaman dengan tangannya mengepal terlihat didepan Nawa....


..."Duduk disini. Jangan aneh-aneh" kata Jeje....


... Kakaknya jelas mendengar obrolan mereka berdua meski bersuara tak terlalu keras....


... Akan berbisik di dekat telinga Jeje bagian belakang....


... Tiba-tiba dia berbalik lagi....


... Terdiam....


..."Kenapa lagi?" tanya Jeje....


... Santai....


..."Tidak ada apa-apa" jawab Nawa....


... Dia kembali bersandar di kursi dekat Jeje disebelah kanannya....


... Ghazi memilih berada duduk di baris lain tidak ikut melaporkan atas hilangnya seseorang berada di baris kursi di belakang mereka yang ada di meja lapor tempat para petugas polisi sedang menjalankan tugas di pukul setengah sebelas malam lebih disaat ini Ghazi sedang melihat waktu di layar ponselnya....


... Sejak bertemu dengan Jeje dia dengan sembunyi sembunyi memperhatikan segala macam apa yang sedang dilakukan oleh gadis remaja yang sedang diajak ngobrol oleh Nawa....


..."Dia baru saja didatangi oleh salah satu bangsa Blacwhe" kata Ghazi....


..."Garis sinar itu menyilang menyala di belakang tubuhnya" kata Ghazi....


... Memperhatikan Nawa kembali mencari sesuatu yang sedang disembunyikan oleh remaja laki-laki itu....


..."Ternyata dia baru saja keluar dari organisasi itu" kata Ghazi....


..."Inilah alasan gadis ini mendapatkan tanda ini" kata Ghazi....


... Menelepon nomor ponsel seseorang pergi keluar dari dalam ruangan untuk membicarakan masalah ini....


... Sepuluh menit kemudian....


... Jeje ikut dengan kakaknya untuk pulang setelah urusan mereka selesai yang berakhir dengan damai dengan para pemabuk yang merupakan orang-orang yang sering terlihat di sekitar kedai yang merupakan tempat tinggal mereka....


... Mereka yang sudah melakukan penyerangan mulai sadarkan diri tapi tidak sepenuhnya sadar dengan diwakili oleh pihak keluarga mereka melakukan permintaan maaf dan memberikan biaya ganti rugi untuk perbaikan barang-barang yang ada di kedai yang mengalami kerusakan akibat ulah mereka yang belum sadar akibat mabuk....


... Dia pergi dan Nawa ikut kemana dia akan pergi juga....


... Berniat baik kepada Jeje....


..."Kau mau ku antar pulang?" tanya Nawa....


..."Kau mau mengikuti ku lagi?" tanya Jeje jutek....


... Mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah....


..."Oke. Aku tidak akan mengganggumu lagi" kata Nawa....


... Hoshie melirik sedikit ke arah belakang melihat secara langsung Nawa sedang mendekati seseorang yang terlihat cukup dikenal olehnya yang terlihat masih seumuran dengan Nawa....


... Hoshie kembali melihat formulir dokumen yang sedang diisi oleh Dashie tentang laporan kehilangan seseorang yang merupakan teman mereka....


... ...


... Kesal....


..."Berhenti mengikuti ku!" kata Jeje....


..."Tidak mau" ucap Nawa....


... Ikut kemana Jeje akan pergi bersama kakaknya yang sedang mengelap darah dari sudut bibirnya sendiri akibat perkelahian tadi lalu tidak berpura-pura tidak tahu tentang obrolan mereka berdua lagi....

__ADS_1


... Menunjuk ke arah Nawa....


..."Kau!" panggil kakaknya Jeje....


... Tegap....


..."Ya. Aku" ucap Nawa....


..."Siapa lagi?" tanya Kakaknya Jeje....


... Melihat semua yang menempel di tubuh remaja laki-laki di depannya itu....


..."Berhenti mengikuti adikku. Kau juga terlihat bukan anak yang mudah didekati" kata Kakaknya Jeje....


..."Dia tidak selevel denganmu dan kau sadar itu" kata Kakaknya Jeje....


... Serius ditambah sedikit rasa kesal karena adiknya terus digoda oleh Nawa....


..."Kau juga sadar. Dia hanya sedang bermain-main saja" kata kakaknya Jeje lagi....


... Kepada Nawa....


..."Adikku tidak mengidap Cinderella Sindrom" kata Kakaknya Jeje....


..."Carilah gadis yang selevel denganmu" ucapnya lagi....


... Kepada adik perempuannya....


..."Ayo kita pergi" kata kakaknya Jeje....


... Lirikan tajam membawa adiknya agar segera pergi meninggalkan apa yang sudah seharusnya dilupakan dengan cepat merangkulnya dari arah sebelah kanan dengan tangan kirinya dengan keyakinan yang tidak bisa diruntuhkan bahwa remaja laki-laki di belakang mereka hanya sedang penasaran kepada adiknya itu....


... Apakah Nawa akan marah yang tentu tidak terlebih dengan kondisinya saat ini yang baru saja mendapatkan racun yang tidak jauh berbeda dari apa yang didapat oleh Oryn tempo hari. Ini memberikan efek lebih membingungkan atau lebih kurangnya rasa kepekaan sisi kemanusiaan yang ada didalam diri salah satu bangsa Blacwhe ini....


..."Bukankah seharusnya aku marah tapi nyatanya aku tak merasakan apapun" ungkap Nawa....


..."Ini terasa aneh bagiku" kata Nawa....


... Ghazi datang berpapasan dengan Jeje beserta kakak laki-lakinya yang terlihat lebam membiru di beberapa bagian wajah....


... Nawa masih memperhatikan Jeje yang sudah pergi keluar dari ruangan kantor polisi....


... Ghazi melihat juga ke arah Jeje dan kakaknya lalu mengajak bicara remaja laki-laki ini....


..."Kau menyukainya?" tanya Ghazi....


..."Ya" jawab Nawa....


... ...


... Tidak terlalu heran dengan salah satu sikap bangsa Blacwhe....


..."Jujur sekali" kata Ghazi....


... Dashie dan Hoshie baru saja selesai membuat laporan di kantor polisi setelah itu berniat cepat untuk pulang....


... Melihat dua orang di depannya sekarang....


..."Sudah selesai?" tanya Ghazi....


..."Sudah" jawab Dashie....


... Mengajak Nawa....


... Di perjalanan membonceng kakaknya....


... Merenung memikirkan sesuatu yang menurutnya agak janggal berulang kali dan berulang kali lagi....


... Terasa aneh jika mereka semua menghilang dalam waktu yang cukup berdekatan tentang dua orang siswa yang menghilang dan belum juga ditemukan setelah itu informasi terbaru yang dia dapat dari salah satu teman seseorang yang tidak terlalu dekat dengannya itu orang tersebut dikabarkan telah menghilang juga....


..."Kenapa banyak sekali kasus orang hilang akhir-akhir ini?" tanya Jeje....


..."Atau ini hanya kebetulan saja" kata Jeje....


..."Aku jadi takut untuk pergi keluar rumah sendirian" kata Jeje....


... Perjalanan masih belum sampai akhir masih menuju arah rumah....


... Kakaknya Jeje sedang fokus mengemudi dengan kondisi jalan raya yang terpantau cukup bertambah lengang di pukul sebelas malam lebih lima menit....


... Melihat keadaan adiknya lewat kaca spion motor sebelah kiri....


... Meledek....


..."Dia lumayan juga" kata kakaknya itu....


... ...


... Datar....


..."Apa dan siapa?" tanya Jeje....


..."Tadi yang bicara sama kamu" kata kakaknya lagi....


... Helaan nafas panjang sambil melihat ke sisi jalan di arah selatan persimpangan jalan yang mereka lewati....


..."Bagiku aku adalah yang terkeren" kata Jeje....


... Merasa ada yang tidak sesuai dengan jawaban dari adiknya sendiri....


..."Kau tidak nyambung" kata kakak laki-lakinya itu....


... Masih dengan suara datar....


..."Terserah yang terpenting akulah yang paling keren" ucap Jeje....


... Menambah laju kecepatan berkendara dengan tidak terlalu mengebut....


..."Tidak heran kalau kau adalah adikku" kata kakak laki-lakinya itu....


... Raut wajah yang lelah mengantuk dan dia sudah ingin cepat-cepat pulang untuk istirahat dirumah....


..."Yang terpenting sekarang adalah kita cepat pulang" kata Jeje....


... Nawa sudah tidak berada didekat keduanya melakukan perjalanan sejak melewati persimpangan jalan yang baru saja mereka lewati pergi ke arah utara jalan yang berbeda bersama dengan Dashie dan Ghazi serta Hoshie sedangkan untuk kedua kakak beradik ini mengambil jalan lurus ke arah timur....


... Dashie masih dengan kemudi sepeda motor yang sedang dikendarai olehnya dengan dibelakangnya ada Ghazi yang membonceng....


... Hoshie terlihat lebih memilih untuk tidak mengendarai sepeda motor lebih memilih menjadi penumpang dari kendaraan roda dua yang sedang dikendarai oleh Nawa yang berkendara berada di belakang dua wanita yang tadi pergi ke kantor polisi bersama....


... Jeje....

__ADS_1


..."Kenapa aku sering melihat hantu yang sama?" tanya Jeje....


..."Dan itu bukan hanya sekali tapi beberapa kali" kata Jeje....


... Udara malam yang menusuk membuat tulangnya terasa nyeri ingin segera terlindungi dari suhu dingin dari angin malam dalam suhu normal....


..."Mungkinkah aku masih seseorang yang penakut" kata Jeje....


..."Ahhh. Hantu itu memang menakutkan dalam satu kali saja menatap kedua matanya" kata Jeje....


..."Maka aku tidak bisa terlepas dari kendalinya" kata Jeje....


..."Sulit untukku berteriak ataupun berlari tapi bukankah ini reaksi yang wajar" kata Jeje lagi....


..."Jika melihat seorang hantu" kata Jeje....


... Hoshie....


... Nawa berhenti didepan sebuah tempat bilyard....


... Dia terlihat turun dari motor Nawa tepat didepan tempat bilyard yang masih buka di hampir menjelang tengah malam dengan para pengunjung yang datang dan pergi sedangkan untuk Dashie dia pergi terus menuju arah rumah kakak laki-lakinya bersama dengan kakak perempuannya itu....


... Menelepon seseorang....


..."Kau dirumah?" tanya Nawa....


... Nawa langsung pergi menuju rumah seseorang dan itu adalah rumah Si Ketua Kelas agak berbeda arah tidak terlalu jauh dari arah tempat tinggalnya sekarang....


... Mereka bertiga berpisah....


... Ghazi terlihat tampak tenang dengan segala apa yang bisa dilakukan setelah kembali lagi dengan kekasihnya. Tapi, apakah semua sudah kembali dengan mudah dan akan baik-baik saja tidaklah mudah untuknya diterima oleh setiap kondisi yang membuatnya ingin lari dari semua yang tidak terkendali dengan mudah hanya dengan dirinya sendiri yang menjadi power semangat untuk tidak mudah menyerah....


... Di memandang dunia yang berjalan cepat terkadang juga berjalan lambat seakan rasa sepi setiap waktu terus ingin selalu merebut segalanya tentang semua yang dimiliki oleh sebuah keberuntungan yang dia dapat yang terlihat orang lain mudah baginya untuk dapatkan tapi nyatanya tidak. ...


... Lima menit kemudian....


... Tiba didepan rumah Xie....


... Disana sudah menunggu Oryn sendirian....


... Ghazi turun dari motor lalu Oryn menghampiri pacarnya begitu juga sebaliknya....


... Dashie pergi ke garasi rumah....


..."Sorry" kata Ghazi....


... Memeluk Ghazi....


..."Untuk?" tanya Oryn....


... Mengusap kepala bagian belakang kekasihnya dengan lembut lalu melepas pelukannya setelah itu menatap wajah Ghazi tersenyum menenangkan....


..."Aku hanya ingin melihatmu sebentar" kata Oryn....


..."Hooooo. Pasti wajahku pucat" kata Ghazi....


..."Tidak. Semakin malam kamu semakin terlihat cantik" kata Oryn....


... Ekspresi heran tapi tidak ingin merusak suasana terlihat oleh Dashie yang baru saja keluar dari dalam garasi rumah....


... Dashie akan masuk kedalam rumah lalu mobil milik Xie beserta pemiliknya datang....


... Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah....


... Keluar dari dalam kursi kemudi mobil....


... Dia datang dengan banyak hal yang ingin dikatakan kepada seseorang tentu itu adalah untuk kekasih adik perempuannya itu....


..."Kita bicara lagi besok pagi. Oke" kata Oryn....


... Mengangguk pelan kepada Oryn....


... Dashie membuka kunci pintu rumah secara otomatis lalu disusul oleh Ghazi masuk ke dalam rumah....


... Xie dan Oryn....


... Duduk di kursi yang tersedia di depan teras rumah....


..."Kau sudah berhasil melewatinya" kata Xie....


... Dengan kedua jemari tangan menyatu duduk agak membungkuk melihat ke arah Xie yang mengajaknya bicara....


..."Begitulah" ucap Oryn....


..."Kau yakin ini tak apa?" tanya Xie....


..."Ini pasti berat untukmu" kata Xie....


... Tersenyum lepas setelah berhasil melewati masa-masa sulit....


..."Aku tak bisa melepas Ghazi dengan mudah" kata Oryn....


... Tegas....


..."Sebagai kakak laki-lakinya aku pegang kata-katamu itu" kata Xie....


... Oryn melihat waktu di jam tangan silver yang ada di pergelangan tangan dipukul hampir setengah dua belas lebih sepuluh menit lagi....


..."Aku pergi" kata Oryn....


... Xie melihat Oryn dengan mobil birunya pergi keluar dari depan rumahnya lalu dia juga masuk kedalam rumah....


... Oryn Mason....


... Di perjalanan menelepon sebentar sahabatnya....


..."Kau dimana?" tanya Oryn....


..."Di tempat bilyard ku. Kenapa?" tanya Hoshie....


..."Aku akan datang" kata Oryn....


..."Datang saja" ucap Hoshie....


... Bersandar di kursi kemudi menghela nafas panjang setelah hari-hari yang berat baginya untuk menjalani bagian dari hidupnya sendiri....


... Memegang dahinya dengan tangan kirinya sebentar lalu kembali dengan tangan kanannya mengemudikan kemudi mobil....


... Dia dengan hasil usahanya yang belum membuahkan hasil maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan begitu juga dengan Ghazi yang memiliki suasana hati yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kekasihnya yang tak ingin terlalu lama berada dalam situasi tidak nyaman ini....


..."Aku tidak mungkin tega menyakiti hatinya" kata Oryn....

__ADS_1


... ...


__ADS_2