Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 158: Sempat tersenyum.


__ADS_3

Chapter 158: Sempat tersenyum.


Sepulang sekolah.


Pukul empat sore.


Dia sudah menunggu di depan sekolahnya sendiri.


Menunggu Nawa yang belum juga keluar pulang dari dalam sekolahnya.


Bersandar di dinding pagar tinggi di depan sekolah berbahan batu bata dan semen.


Melirik ke sekolahnya lagi lalu ia berbalik melihat ke arah tembok besar di belakangnya memetik bunga putih yang subur merambat dedaunan kecil.


Agak sedikit gugup tidak, itu lebih dari gugup untuknya bertemu dengan Nawa lagi.


Dia masih ingat semua. Ya, semuanya yang ia alami dari serangan di siang hari di waktu di ruang kesehatan sekolah.


Meski ia terlihat tenang itu hanyalah usahanya agar tidak terlihat lemah dihadapan banyak orang.


"Rumy" panggil Nawa.


Berbalik.


"Naw" kata Rumy.


Dia sudah memakai helm lalu memberikan helm berwarna merah kepada Rumy.


Dia memeriksa leher Nawa melihat kondisinya sudah tidak apa-apa.


Rumy tidak melihat orang lain selain Nawa.


"Aku tidak melihat Po dimana dia?" tanya Rumy.


"Dia" kata Nawa.


Sedikit penjelasan dari Nawa tentang kekasihnya yang sudah pergi kepada Rumy.


Rumy mendengarkan cerita yang diceritakan oleh temannya ini.


Dari arah lain masih dari dalam sekolah Nawa disana ada ketua kelas bersama kawan-kawannya.


Menjadi bahan obrolan untuk mereka yang akan menuju tempat perhentian bus di dekat sekolah dengan apa yang sedang mereka lihat cukup dekat jika dibilang sebagai teman biasa.


"Apa hanya aku yang berpikir dia wanita yang benar-benar disukai olehnya?" tanya Gan.


Dia juga mendengar obrolan mereka yang pergi menuju tempat perhentian bus tidak jauh berbeda dengan apa yang ia pikirkan.


"Ini menghambat ku menjadi orang sukses" kata Gan.


Ketua kelas yang tetap diam dan tidak ikut membicarakan kedua remaja beda sekolah itu sedang bertemu di depan sebuah sekolah diantara para murid yang lain juga beranjak satu persatu keluar dari sekolah.


Nawa tidak peduli dengan apa sudah ia dengar dari obrolan teman-temannya yang membicarakan tentang sikapnya yang mudah jatuh cinta dan berpaling dengan orang lain.


Memakaikan helm kepada Rumy.


Baru saja keluar melewati gerbang sekolah.


Jeje


"Setelah pulang kita belajar di cafe biasa?" tanya Jeje.


Yellow.


Semangat.


"Setuju!" kata Yellow.


Dibelakang mereka.


Ans.


Yang sibuk merapikan rambut lurusnya beberapa kali tak sengaja melihat ke arah kiri sekolah disebelah kiri sekolah mereka.


Menemukan sesuatu.


Menunjuk ke arah Nawa.


"Eh … eh. Lihat!" kata Ans.


Keduanya kompak bersamaan melihat ke arah Nawa dan Rumy.


Heran tapi harus terbiasa tapi tetap kesal.


"Tak usah pedulikan dia. Kau juga tidak tertarik padanya" kata Jeje.


Jauh lebih emosi.


"Aku ingin menjambak rambut gadis itu" kata Yellow.


Kepada Yellow arah pembicaraan ini.


"Orang sepertimu pantas dijadikan healing" kata Ans.


"Healing?" tanya Jeje.


Ans tidak ingin menjelaskan maksud dari pertanyaan dari teman sekolahnya itu.


"Ayo kita pergi!" kata Ans.


Melewati keduanya menuju ke tempat perhentian bus yang juga disana ada ketua kelas dan para siswa lain yang juga bukan dari dalam sekolah mereka.


Nawa dan Rumy.


Nawa meraih tangan Rumy membawanya agar mau ikut dengan motornya dengan kaki agak sedikit sulit untuk berjalan normal.


Berhenti.


Melihat kaki Rumy.


"Kakimu terluka?" tanya Nawa.


"Sedikit" kata Rumy.


Jalan lagi dengan jarak satu meter lebih menuju motor sportnya.


Nawa naik lebih awal lalu menyalakan mesin motornya itu.


"Ayo ikut denganku" kata Nawa.


Perhatian.


"Pelan-pelan jalannya" kata Nawa.


Rumy dengan jalan pelan-pelan dengan kondisi kakinya yang masih terkilir sakit tapi sudah bertambah berkurang rasa sakitnya itu.


Dia naik keatas motor berada di kursi belakang Nawa lalu remaja laki-laki ini menarik tangan kedua tangan Rumy agar menjaga diri agar tidak jatuh dari motor saat dalam perjalanan.


Dia dan teman-temannya melihat Nawa menarik kedua tangan Rumy agar memeluknya dari arah belakang.


"Bahkan kita tahu. Dia tidak pernah perhatian seperti itu kepada teman kita" kata Yellow.


"Entah apa yang membuatnya pergi tapi ini keputusan yang tepat" kata ketua kelas.


"Dia tak mau terluka. Dia memang gadis cerdas" kata Ans.


"Obrolan kalian berat sekali" kata Jeje.


Bus datang.


Mereka berhenti memperhatikan keduanya lalu masuk kedalam bus yang mereka tunggu.


Nawa sudah pergi bersama dengan Rumy bersamaan dengan datangnya bus yang membawa teman-teman mereka yang kebetulan juga dengan jalur jalan yang sama mereka melihat motor Nawa melaju bersama dengan berdampingan dengan bus yang ditumpangi oleh teman-temannya yang tidak bisa tidak melihat keakraban keduanya yang tidak didapatkan oleh teman mereka.


Nawa meraih tangan Rumy dengan tangan kirinya sebentar membetulkan tangan Rumy yang berpegangan tidak terlalu erat.


"Pegangan lebih erat" kata Nawa.

__ADS_1


Rumy mengangguk pelan.


Dia akhirnya bisa mendapatkan sedikit hati dari orang yang ia sayang selama ini terdengar egois tapi ia berpikir ini hak nya untuk mencintai orang lain.


Menyusul dari arah belakang satu motor yang juga berboncengan dengan motor sportnya dan mereka adalah Namir yang memboncengkan gadis yang bernama Eir dengan masing-masing keempatnya dengan seragam sekolah menengah atas yang berbeda.


"Aku suka gaya pertemanan itu" kata Ans.


Sambil berpegangan besi yang tersedia di atas langit-langit bus untuk kestabilan diri para penumpang.


Melirik Ans.


"Kau sebenarnya berpihak kepada siapa?" tanya Yellow.


"Aku. Besok, aku juga mau bawa motor sport" kata Ans.


Dia yang suka perhatian kepada orang yang ia kenal.


Marah tapi perhatian.


"Kau terlalu kurus untuk membawa motor sebesar itu" kata ketua kelas.


Dia agak sedikit tersinggung.


Polos.


Memperhatikan diri sendiri.


"Ada apa dengan tubuhku?" tanya Ans.


Di pantai.


"Disini ada Jarrel yang benar-benar Jarrel"


Pesan yang ia balas kepada Nawa.


Pukul tiga kurang sepuluh menit.


"Dia akan terus menangis didekatku mulai hari ini" kata Hoshie.


"Mengapa ini terjadi padanya?" tanya Hoshie.


Malam.


Pukul delapan lebih dua puluh menit.


Dia sedang menunggu seseorang datang disebuah rumah.


Rooftop gedung ditempat tinggal Dashie.


Dia datang.


Wanita berbaju kimono terlihat dari atas rooftop dengan lambaian tangan seseorang yang ia kenal tanpa senyum hangatnya lagi melainkan sosok yang sedang menyimpan sebuah kebenaran.


Lima menit kemudian.


Dia menyodorkan sebuah ponsel dengan gambar wallpaper seseorang bersama sahabat perempuannya itu.


"Apa ini?" tanya Ghazi.


Mengambil ponsel Oryn.


"Ini?" tanya Ghazi.


Air matanya jatuh.


Dia dengan pikiran negatif sebelum penjelasan itu datang dari lisan Hoshie.


"Ini tidak benar kan?" tanya Ghazi.


"Ini kemungkinan yang terburuk" kata Hoshie.


Memukul lengan kirinya itu lalu kemudian pundak atas sebelah kiri Hoshie berkali kali dengan jeda waktu yang cukup dekat.


Wajahnya tertunduk tepat dibahu atas sebelah kanan Hoshie dan dia menangis dengan isak tangis didengar juga oleh Nawa yang datang memberikan camilan yang sesuai Hoshie perintahkan untuk membelinya.


"Aku pergi?" tanya Nawa.


Tangan Hoshie memberikan kode untuk menyuruhnya pergi.


Dia menjalankan perintah dari Hoshie.


Turun lagi dari atas gedung lalu akan menemui seseorang lebih tepatnya mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat yang sama tadi ia datangi beberapa detik yang lalu.


Dia mengetuk pintu.


Pintu kamar dibuka.


"Nawa. Ada sesuatu yang bisa ku bantu?" tanya Dashie.


"Apa kakak ada waktu untuk makan malam bersama kita?" tanya Nawa.


Nawa dengan yang sudah membeli banyak makanan yang tadi sebagian ia taruh didalam kamar akan dibawa diatas gedung juga seperti yang sudah ia lakukan.


Dia melihat tanda-tanda seseorang tidak mau ikut dengan tawaran yang sedang ia berikan.


"Kak Ghazi sudah menunggu diatas" kata Nawa.


"Sejak kapan?" tanya Dashie.


"Lima menit yang lalu. Baru saja aku dari rooftop gedung ini" kata Nawa.


Dari dalam Dashie pergi untuk mengambil kunci kamar juga sekaligus jaket hitam lalu keluar dari dalam kamarnya lalu mengunci pintu.


Mengambil sebagian alat untuk membuat hot pot dan barbeque.


"Aku juga harus kerja" kata Dashie.


Dia tersenyum ramah.


"Ayo!" kata Nawa.


Pergi untuk menaiki anak tangga.


Beberapa menit kemudian masih sedang asik mengobrol dengan Nawa.


Melihat Kakaknya sedang bersama dengan Hoshie.


Dia masih belum berubah dengan kondisi sebelum remaja laki-laki disebelah kanannya itu terakhir kali melihat mereka berdua sedang membahas tentang Oryn Mason.


Terdiam.


Kontak mata antara Hoshie dan Dashie.


Nawa menaruh kompor elektrik diatas meja yang sudah lebih awal mereka berdua siapkan.


Berapa waktu yang bisa dihitung untuk memahami situasi ini terutama bagi Dashie.


Dia tidak mungkin pergi itu akan lebih canggung jika itu ia lakukan.


Ikut membantu Nawa menyiapkan api untuk memanggang daging dan juga seafood yang ia beli tadi sore.


Ghazi menyadari ada orang lain selain dia ada di sana.


Berhenti kepalanya tertunduk diatas bahu Hoshie.


"Maaf" kata Ghazi.


Dia mendekat ke meja yang sama.


Dashie tidak terlihat marah atau sedih.


Hoshie iseng.


"Kenapa kau tidak cemburu?" tanya Hoshie.


Berkata jujur.

__ADS_1


"Untuk apa?" tanya Dashie.


"Ya untuk ku" kata Hoshie.


Memberikan satu piring selada siap santap kepada Hoshie.


"Pegang ini" kata Dashie.


Ghazi yang sedang menghapus air matanya lagi dengan beberapa lembar tisu.


Adiknya yang belum banyak memberikan komentar ketika mengetahui kakaknya baru saja putus dari kekasihnya.


Nawa mulai memanaskan alat panggang diatas kompor listrik mini yang ia bawa barusan.


Mengambil daging yang ada di tangan Dashie dan dia memberikannya.


Menatap mata kakaknya.


"Kenapa. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini?" tanya Dashie.


Menggoda dengan suara sedih.


Dashie sedang menyiapkan udang.


"Kau cemburu kan?" tanya Ghazi.


"Tebakan ku kali ini tidak meleset" kata Ghazi.


Nawa mode anak baik sedangkan untuk Hoshie tentu sedang menikmati hatinya yang sedang berbunga-bunga oleh candaan yang dikeluarkan oleh sahabatnya itu tanpa ekspresi lebih cuek.


Hoshie yang tidak bisa membuat kuah hot pot.


Dashie merebut bumbu dari tangannya.


"Berikan padaku!" kata Dashie.


Hoshie menurut saja lalu mengambil pekerjaan lain untuk setidaknya bisa membantu acara makan malam ini bisa menghibur seseorang yang sedang sedih.


Suara daging panggang mulai terdengar.


"Seperti ini?" tanya Nawa.


Melihat Nawa memanggang daging didepan ketiga orang dewasa di dekatnya itu.


Dia terlihat seperti anak orang kaya beneran ketika sedang membalikkan daging yang belum matang menyeluruh dengan gerak tangan yang ingin menjauh tapi ia ingat harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah ia ambil.


Menebak.


"Nak. Kau anak orang kaya yang sedang hidup sederhana?" tanya Ghazi.


Membalik daging yang hampir gosong sebentar lagi.


"Aku percaya kau bisa menjaga rahasia ku ini" kata Nawa.


Pelan menyambung kalimat yang barusan Nawa katakan.


"Ok" kata Ghazi.


Dashie menaruh bumbu di dalam panci yang sudah berisi air kaldu sedikit demi sedikit lalu mengaduknya pelan-pelan sampai bumbu tercampur rata.


Mengambil piring kecil lalu Nawa memberikan beberapa potong daging sapi yang sudah di panggang untuk Ghazi.


"Untukmu" kata Nawa.


Dia agak kaget dengan perlakuan yang ia terima dari remaja laki-laki ini.


"Makanlah selagi hangat" kata Nawa.


Diam beberapa detik dan saling berbicara lewat mata mereka tanpa sebuah kata.


Dia menerima daging panggang dari Nawa dengan kedua tangan.


"Thank you" kata Ghazi.


Nawa lalu mengambil daging panggang yang ia panggang sendiri satu persatu matang dari atas alat panggang berbentuk persegi menaruhnya di atas piring yang berbentuk sama dari piring yang Ghazi gunakan.


Mengambil saus menaruhnya diatas daging yang sudah ia panggang sendiri.


"Selamat makan!" kata Nawa.


Dia makan lebih awal setelah itu menyusul Ghazi untuk makan.


Lahap memakan nasi yang ia ambil dari dalam mangkuk.


Hoshie.


Dia membuka bungkus daging sapi yang satunya lagi dan mulai memanggang.


Bau asap khas daging panggang tercium cepat dari atas alat panggang.


Hanya asal menebak.


"Apa kalian sudah jadi tapi merahasiakannya dari kami?" tanya Nawa.


Dia yang sedikit tahu karakter dari Nawa.


"Itu bisa saja" kata Hoshie.


Dia mode serius.


"Itu berarti kalian belum jadian" kata Ghazi.


Kuah hot pot sudah siap untuk memasak beberapa bahan makanan mentah yang ada diatas meja.


Dashie mencelupkan daging tipis beserta lemak ke dalam pot yang sudah mendidih beberapa kali lalu menaruhnya ke dalam mangkuk.


Memberikan mangkuk itu kepada Hoshie.


Hoshie menerimanya.


"Terima kasih" kata Hoshie.


Hoshie membalik lagi daging panggang yang hampir matang.


Ghazi mengambil udang lalu mencelupkannya ke dalam air kaldu yang sudah mendidih itu yang ada di dalam panci didepan mereka.


"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Dashie.


"Ya begitulah" kata Nawa.


Menyantap daging panggang yang dipanggang oleh Hoshie dengan saus kecap gurih.


"Oh ya. Kau tidak bertemu Rumy, hari ini dia sudah mulai sekolah lagi?" tanya Dashie.


Ia baru ingat kalau ini bisa sedikit membuat suasana menjadi lebih tidak nyaman melihat siapa Rumy bagi Nawa dan dimana posisi Po sebagai seorang pacar.


Menaruh piring yang tadi diberikan oleh Hoshie diatas meja.


"Sorry. Sungguh, aku tidak bermaksud dengan kalimat yang ku katakan barusan" kata Dashie.


Nawa dan selada berisi daging panggang ditangan kanan.


Dia datar tidak terlihat marah.


"Kenapa?" tanya Nawa.


"Aku memang sudah mengenalnya lebih awal dari aku mengenal pacarku sekarang" kata Nawa.


"Jangan merasa bersalah" kata Nawa.


Ghazi memberikan tahu yang sudah direbus dengan air kaldu yang adiknya buat di atas mangkuknya.


Nawa masih sempat tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Anggap saja aku tak punya perasaan" kata Nawa.


"Aku tak sebaik yang kakak duga" kata Nawa.

__ADS_1


__ADS_2