
Chapter 20: Apa dia lebih keren dariku?.
"Aku butuh waktu untuk sendiri" kata Dashie.
Dia pergi mengambil arah berbeda dari arah rumah kembali ke arah depan masuk awal perumahan.
Beberapa bunga kertas jatuh diatas kepala Dashie melewati pergi dengan mudah jatuh ke arah bawah saling mengambil jalan mereka.
Ved memandang Dashie dari arah belakang pergi dengan menggenggam semangat yang masih gadis itu simpan dan pertahankan menjadi kekuatannya untuk melangkah lagi memberanikan diri memberikan jejak baru.
Menuju tempat perhentian bus.
Ved masih tidak bergerak ada di jalan yang baru saja ditinggalkan oleh Dashie menatap ke arah depan jalan gang rumah.
Di bawah langit yang semakin gelap matahari hampir sepenuhnya tenggelam dari arah luar di tempat yang sama Ved melihat Dashie duduk didalam bus pergi melewati jalan itu tanpa menoleh sama sekali kepada Ved.
Sedih.
"Situasi macam apa ini?" tanya Ved.
Menebak.
"Sepertinya aku akan kehilangan seseorang" kata Ved.
Menghela nafas lalu pergi kembali menuju depan rumah Jarrel.
Matahari benar benar tenggelam dan kini Ved sedang bersama dengan Jarrel di tempat usaha Ved.
Para staf dari Ved masih bekerja dengan pekerjaan mereka.
Di depan tempat usaha duduk di kursi yang berbeda dengan jarak sekitar dua meter.
Menatap langit yang sama.
"Dia pergi" kata Jarrel.
Bergabung dalam sebuah obrolan.
"Dia juga pergi" kata Ved.
Melanjutkan obrolan.
"Kenapa dia pergi?" tanya Jarrel.
"Ya. Kenapa dia pergi?" tanya Ved.
Melirik ke arah Ved.
"Kau sedang membicarakan siapa?" tanya Jarrel.
"Jangan tanya lagi. Sekarang, aku sudah mendapatkan firasat buruk" kata Ved.
Jarrel menatap langit lagi.
"Bagaimana jika dia benar benar pergi?" tanya Jarrel.
Marah.
"Jika kau menyukainya kenapa tidak bilang sejak dulu" kata Ved.
"Aku tidak tahu apakah perasaan ini adalah benar benar rasa suka" kata Jarrel.
Rio datang bersama dengan Ren sengaja mampir di tempat kerja Ved dengan berpakaian casual dengan pakaian luar untuk sweater polos hitam dikenakan oleh Ren dan jaket jeans abu abu dengan bawahan celana jeans hitam dan sepatu serba hitam untuk keduanya membawa banyak makanan untuk makan malam.
Kedua sahabat mereka masih kompak menutup mata dengan wajah menghadap ke langit.
"Kita bawa makan malam" kata Ren.
Belum ada tanggapan.
"Biarkan saja nanti kalau mereka lapar pasti makan" kata Rio.
Menaruh makanan diatas meja lalu mereka berdua pergi ke tempat mencuci tangan di sebuah wastafel yang tersedia disana bergantian mencuci kedua tangan mereka.
Mengambil kursi mereka masing masing duduk kemudian lalu mengambil menu makanan yang mereka bawa terlihat Ren mengambil makanan dan memberikannya kepada para karyawan Ved yang sedang bekerja.
Ren sudah kembali ke tempat duduknya semula.
Tenang menikmati makan malam.
Memakan ikan tuna panggang.
"Benar. Kalian tidak ingin makan" kata Rio.
Membuka mata keduanya menghadap ke arah kedua sahabat mereka yang sedang makan malam.
Belum mengambil bagian menu makanan mereka berdua.
Ren merasa ada yang kurang dan aneh tentang situasi ini.
"Kenapa makanan ini sangat lezat tapi tidak sebahagia dulu ketika menyantapnya?" tanya Ren.
Jarrel lalu ikut makan malam dengan ikut mengambil ikan tuna panggang.
Memakan dengan lahap.
"Sorry belum makan sejak siang" kata Jarrel.
Ved ikut makan malam.
Mengambil nasi dengan olahan telur pedas bersama olahan seafood bakar lain makan perlahan.
Akhirnya Rio membuka obrolan ini.
"Dia belum ditemukan?" tanya Rio.
"Callie?" tanya Ved.
"Ya" jawab Rio.
"Masih dalam proses pencarian" kata Ved.
Lanjut makan lagi.
Hanya satu kalimat yang terdengar dari Ren di awal obrolan mereka dan setelah dua puluh menit makan selesai belum lagi ada kata kata yang dikeluarkan dari lisannya.
Semua akhirnya tahu kalau Aka sudah menjadi pacar Hoshie tanpa harus Ved memberitahu dan tak ada bedanya reaksi yang akan di timbulkan dari kabar terbaru ini.
Ren tidak bisa berbohong kalau dia sedang sedih.
Suasana lebih tegang dari biasanya lebih tak banyak bicara di lima belas menit selanjutnya.
Memberi pendapat.
"Apa akan seperti ini terus?" tanya Rio.
Tidak mendapat jawaban untuk pertanyaan itu.
Akhirnya Ren mengeluarkan isi hatinya selama ini.
"Katanya aku terlalu tampan jadi dia tidak mau denganku" kata Ren.
__ADS_1
Terdiam.
Melihat ke segala arah.
Merasa ini tidaklah salah.
"Apa salah jika terlalu diatas rata rata?" tanya Jarrel.
"Jangan main fisik" kata Rio.
Berkata jujur kepada Rio.
"Aku iri denganmu. Kenapa kau yang paling mudah mendapatkan pacar?" tanya Ved.
"Kenapa kau lagi. Dia menjauh lagi darimu?" tanya Rio.
Tidak berkutik lagi dengan keterangan yang jelas jelas mewakili apa yang di alami oleh Ved.
Memberi harapan kepada Ren.
"Yang ku tahu mereka akan segera putus" kata Ved.
Penuh ekspresif sambil meminum ice tea.
Setelah meminum ice tea berpendapat lagi, dan berkata "Kenapa. Aku jahat?" tanya Ved.
Mencoba meyakinkan lagi sahabatnya, Ren.
"Aku mengenal gadis itu sejak kecil percayalah padaku" kata Ved.
Rio ingin peduli lagi dengan Dashie untuk mencari tahu dari Ved sendiri tentang mereka lagi yang tanpa sebab jelas kembali seperti sedang bertengkar.
Akalnya berbicara.
"Bisa bisa aku di sangka suka gadis itu atau benar benar suka dengannya" kata Rio.
Jarrel memberikan kesimpulan yang memperjelas kondisi.
"Rupanya kita berkumpul disini untuk membahas tentang cinta" kata Jarrel.
Rio langsung mencekik leher Jarrel dari arah belakang dengan lengan kanannya.
Jarrel melepas tindakan dari Rio ini.
Pukul setengah tujuh malam.
Ved menjauh dari teman temannya sebentar untuk menghubungi nomor ponsel Dashie.
Ponsel masih aktif tapi belum diangkat.
Menunggu sepuluh detik hingga sampai tiga puluh detik berlalu belum juga di angkat oleh Dashie.
Panggilan diakhiri oleh Ved.
Dua detik kemudian kembali menghubungi nomor ponsel Dashie lagi.
Ponsel aktif dan Dashie tidak mengangkat panggilan dari Ved.
Ved kembali, dia bersama dengan sahabat sahabatnya yang sedang mendiskusikan banyak hal.
Ponsel Dashie terus bergetar dan dia tahu setelah baru saja dia melihat nama dari layar ponselnya menunjukkan nama Ved.
Dia membiarkan Ved terus menelepon dan dia terus membiarkan ponselnya terus bergetar.
Dimana dia sekarang, dia sedang berada di sebuah event pemutaran pertama sebuah film animasi.
"Dimana Ten?" tanya Dashie.
"Aku datang lebih awal atau terlambat" kata Dashie.
Datang dibelakang Dashie membuat kejutan.
"Dorr!"
Kaget.
"Ten!" kata Dashie.
Merapikan rambut kepala Dashie dengan kedua tangan Ten.
"Sebentar" kata Ten.
Ten mengambil jepit rambut berbentuk mahkota berwarna silver dari dalam tas ransel yang ia bawa.
Mengambil ponselnya dari dalam saku jaket hijau baseball sebelah kiri memberikan waktu Dashie untuk bercermin menggunakan ponsel di tangan Ten.
"Cocok untukmu" kata Ten.
Ten memeluk Dashie senyum bahagia terlihat manis di wajah pemuda ini.
Dashie belum membalas pelukan dari Ten dengan kedua tangan belum menerima pelukan dari Ten.
"Terima kasih sudah mau menerimaku" kata Ten.
Pria dengan lazy personality manis dengan suara serak menahan agar tidak menangis tapi akhirnya tetap menangis didepan Dashie.
Dashie melepas pelukan dari Ten.
Menatap berkaca kaca pemuda yang ada didepannya saat ini.
"Kau terlihat lucu ketika menangis?" tanya Dashie.
Memeluk Dashie lagi.
Dashie kaget sekali.
Melihat Dashie sedang bersama dengan seseorang yang tidak mereka kenal.
Berhenti.
Syok sejenak untuk Hoshie melihat ini secara langsung menyusul kemudian dengan Aka yang tidak begitu terkejut melihat pemandangan ini terjadi kepada seseorang yang ia kenal.
Dalam hatinya berkata, dan berkata "Sepertinya, dia pria baik".
Menatap Hoshie yang belum berhenti untuk menatap Dashie dari arah mereka berdua bergandengan tangan.
Di tempat bioskop yang sama dua pasangan baru juga ada berada disana untuk menonton pemutaran pertama sebuah film datang bergandengan tangan mesra akan menuju tempat pemesanan popcorn.
Ten melepas pelukannya dari Dashie lalu Dashie menyeka air mata yang ada di pipi Ten dengan lembut.
"Aku mencintaimu Dashie" kata Ten.
Dashie menahan senyum lagi ketika Ten mengatakan kalimat ini untuk gadis yang sedang menyeka air matanya.
Tiba tiba cemberut.
"Kenapa dengan ekspresi itu?" tanya Ten.
__ADS_1
Mencubit kedua pipi tepat di lesung pipi Ten.
"Kau sudah berapa kali mengatakan hal itu" kata Dashie.
Dengan mudahnya ingin mengatakan hal itu dengan suara keras lalu segera Dashie menutup mulutnya dengan tangan sebelah kanan dengan kuku kuku jari bercat emas.
Penuh kegembiraan untuk Ten.
"Aku tahu. Aku juga mencintaimu Ten" kata Dashie.
Mereka berdua lalu pergi ke tempat pembelian popcorn dan sekaligus minuman.
Ten menggandeng tangan kanan Dashie dengan tangan kirinya.
Hoshie masih menggandeng tangan kanan Aka lalu tanpa harus ia tunjukan rasa cemburunya kepada kedua pasangan baru di depannya kepada Aka, pacarnya sudah tahu meski wajahnya memberikan ketulusan untuknya belum berubah sejak awal perjalanan menuju ke bioskop ini.
Lalu Ten dan Dashie sudah membeli popcorn rasa karamel dan dua cup three berry smoothie langsung masuk ke ruang bioskop yang sebentar lagi akan dimulai.
Sudah sama sama di ruang penonton film bersiap menunggu lima menit lagi film diputar.
Hoshie dan Aka ada di baris belakang dengan satu baris lagi sebagai jarak diantara Dashie dan Ten duduk bersebelahan di kursi di depan mereka
Hoshie juga menyuapi popcorn kepada Aka mesra tak bisa tidak dibilang tidak mesra itulah Hoshie akan tetapi untuk Aka dia lagi lagi mendapatkan lagi sepersekian detik Hoshie melirik ke arah Dashie yang begitu terlihat sangat bahagia saat bersama Ten.
Tiba tiba saja Aka berkata, dan berkata "Aku tidak harus pergi kan".
Hoshie mendengar apa yang dikatakan oleh Aka.
Perhatian kepada Aka.
"Ada apa. Kau tidak enak badan, apa kita harus pergi ke dokter saja?" tanya Hoshie.
Ekspresi cantik.
"Tidak. Ayo kita menonton film" kata Aka.
Film diputar.
Film baru saja diputar semua menikmati awal film dengan konsep unik diawal menit menit pertama.
Mengejutkan.
Berteriak hampir bersamaan dan juga hampir semua penonton di dalam ruang bioskop.
Aka melihat lagi Hoshie melirik kepada Dashie dan Ten.
Berbicara dalam hati.
"Kapan kita putus?" tanya Aka.
"Kenapa kau bilang menyukaiku tapi detik ini juga lebih memikirkan orang lain daripada aku?" tanya Aka.
Bertanya kepada diri sendiri.
"Rupanya aku sedang sedih. Aku yakin ini bukan mimpi" kata Aka.
"Tapi salahkah aku jika menyukai dia yang sekarang menjadi pacarku" kata Aka.
Hoshie masih ingat momen momen disaat dia juga mengajak Dashie menonton film bersama sebelum dia menjadi pacar dari Aka.
Perhatiannya ketika bersama dengan Aka saat ini sama perhatian yang diberikan oleh Hoshie untuk Dashie waktu itu.
Hoshie menonton film tanpa suara tapi isi pikirannya terbagi tidak hanya untuk Aka melainkan juga untuk Dashie.
"Ekspresi itu sama ketika waktu itu" kata Hoshie.
"Kali ini jauh lebih dari itu" kata Hoshie.
Hoshie sadar tidak sadar dia berada dalam kondisi telah kehilangan seseorang yang benar benar peduli dengannya dan lebih parahnya lagi orang itu ternyata benar benar akan sangat dibutuhkan untuk jalan hidupnya yang belum bisa ditebak di masa depan.
Belum percaya.
"Apa dia lebih keren dariku?" tanya Hoshie.
Dua minggu yang lalu ketika Ten baru pulang kerja dari sebuah perusahaan IT menunggu seseorang yang sudah lama ia tunggu sedangkan hujan sedang turun deras derasnya tapi dia tetap mau menunggu dengan tote bag yang berisi banyak buku yang baru ia beli untuk seseorang yang ia tunggu.
Sudah pukul sepuluh malam di sebuah kafe bertema anak anak satu persatu pengunjung kafe sudah mulai pergi.
Masih menunggu dengan melihat jarum jam di dinding kafe yang masih terus berputar maju di tiap detiknya sama dengan waktu yang berjalan di layar ponsel Ten.
Pemuda berkemeja hijau muda dan bawahan celana hitam sepatu kulit hitam dengan tas kerja diatas meja laptop masih belum dimatikan sedang menyibukkan diri.
Memakan satu sendok kecil strawberry pie menatap layar laptop lalu mengetik papan keyboard laptop.
Waiters wanita datang.
Nada suara dan ekspresi ramah.
"Maaf Kak. Setengah jam lagi kami akan tutup ..." kata waiters tersebut.
Menerima dengan santai pemberitahuan yang baru saja ia dengar dari karyawan kafe.
"Ya. Terima kasih atas informasinya" kata Ten.
Ten melihat pukul berapa di jam di dalam layar ponselnya.
Waktu yang dia miliki adalah tiga puluh menit lagi dan Dashie belum juga datang.
Dashie menghubungi Ten.
"Sorry. Kau masih disana?" tanya Dashie.
"Ya. Aku masih menunggumu" jawab Ten.
"Sepuluh menit lagi. Ok" kata Dashie.
Dashie baru saja naik bus setelah menemani Bebe yang tiba tiba saja demam tinggi dan dia tidak bisa datang lebih awal di tempat mereka membuat janji untuk bertemu.
Baru saja Dashie merasa lega ketika Ayah dari Bebe datang untuk menemui putrinya yang dirawat di rumah sakit.
Tiba di depan cafe lalu mendorong ke dalam pintu masuk cafe dengan cepat.
Nafas terengah engah setelah berlari lalu duduk di kursi di depan Ten.
Ten memberikan minum untuk Dashie.
"Terima kasih" kata Dashie.
Dashie meminum minuman dari Ten.
Selesai minum.
"Sorry. Aku salah benar benar salah" kata Dashie.
Meraih jemari tangan kanan Dashie dengan wajah teduhnya lalu berkata kepada Dashie, dan berkata "Kamu tidak salah".
__ADS_1