
...Chapter 172: Aku tidak janji....
..."Sepulang kerja?" tanya Hoshie....
..."Aku tahu kau pekerja keras. Oke, aku paham" kata Hoshie....
... Mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis yang ia sayang lagi....
..."Hmmm" jawab Hoshie....
..."Aku juga harus menyelesaikan pekerjaan ku. Nanti, aku akan kabari lagi" kata Hoshie....
... Kata-kata perpisahan....
..."Bye bye" kata Hoshie....
... Hoshie....
... Di sebelah kanan terdapat bangunan toko toko dengan arsitektur bergaya Eropa dengan jendela jendela bercat hitam tidak menghilangkan warna dasar kayu dalam pembuatannya serta kaca jendela yang sedikit agak gelap sebagai design yang direncanakan kokoh bersama tembok yang dibangun dengan warna cat berwarna seperti French Vanilla menjulang ke atas berlantai enam menyatu dalam satu bangunan dengan nama toko yang berbeda di setia satu baris toko....
... Dia yang sudah lama sudah tidak mengambil aura milik manusia....
... Pukul sembilan kurang lima belas menit....
... Melihat banyak manusia diantara manusia....
..."Aku baik-baik saja" kata Hoshie....
... Lagi, menyemangati diri sendiri....
..."Aku baik-baik saja. Ok!" kata Hoshie....
... Godaan yang sangat kuat....
... ...
... Bagian dari dirinya yang lain berteriak....
... Keras....
..."Kau tidak akan sakit lagi. Lupakan ambisimu!" kata Hoshie....
... Mengejutkan membuat ia menyentuh bagian hatinya dari kemeja putih berlengan panjang yang digunakan bersama dengan setelan celana formal hitam rapi dengan sepatu berbahan kulit hitam....
... Melihat jalan yang ingin dipilih berbalik ke belakang disana ada sebuah jalan dari arah kanan dan di sisi kirinya terdapat bangunan dengan konsep pertokoan kota yang juga menjulang tinggi hampir sama tinggi dengan bangunan disamping pria ini berada disana dengan brosur dan dokumen untuk keperluan terkait dengan bidang pekerjaan yang sedang ia pelajari....
... Berbalik lagi di arah sebelumnya....
..."Disana cukup menarik" kata Hoshie....
... ...
... Di sekolah....
... Ketua kelas tiba-tiba rajin sudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru mereka lebih awal mendahului si anak baru, Nawa....
... Dia membaringkan kepalanya diatas meja dengan tangan kanan dibelakang kepala yang menghadap keluar jendela kelas sebelah selatan dengan jemari tangan kiri ada didepan wajah berjarak lima belas sentimeter sedang memutar pulpen bening sebagai wadah tinta hitam dengan ujung lancip sekitar satu koma tiga milimeter yang berfungsi untuk menulis....
... Melihat ke seluruh teman-temannya yang sibuk dengan aktivitas yang sudah ia selesaikan....
... Nawa....
... Dia yang tidak mengizinkan kekuatannya untuk menyembuhkan dirinya sendiri akibat tamparan kuat dari Soft....
... Wajahnya masih terlihat memerah padahal beberapa jam kejadian itu sudah berlalu dengan ujung bibir sebelah kiri yang terlihat bekas darah yang keluar akibat luapan kemarahan dari gadis yang ia kenal cukup lama....
... Ans....
..."Mereka terlihat sudah lama saling mengenal" kata Ans....
..."Apa yang membuat hubungan mereka jadi renggang seperti ini?" tanya Ans....
... Tanggapan datang dari orang yang sedang diperhatikan olehnya itu....
... Tatapan dingin....
..."Hentikan. Kau ingin apa dariku?" tanya Nawa....
... Dia mulai mengacau lagi....
..."Kau sangat membosankan" kata Ans....
..."Kau ingin aku pergi sekarang?" tanya Ans....
..."Kau tak pernah peduli denganku" kata Ans....
... Mereka berdua memang bisa membaca jalan pikiran masing-masing tapi tak ada yang tahu bagaimana akan masa depan yang akan diputuskan oleh keduanya....
... Nawa....
..."Pilihlah yang terbaik untukmu tapi jangan pilih itu" kata Nawa....
... Percaya diri....
..."Atau kau juga boleh memilih ku tapi jangan memilih hal itu" kata Nawa....
... Ans....
... Tetap sama memasukkan pilihan itu kedalam pilihannya yang lain....
..."Apa hak mu, ini hidupku tak ada yang peduli selain diriku sendiri" kata Ans....
... Nawa kesal....
..."Gadis gila!. Kau pikir ada yang sepenuhnya peduli denganmu, sadarlah!" kata Nawa....
... Masih kesal....
..."Terserah kau mau apakan hidupmu tapi jangan memilih jalan itu" kata Nawa....
..."Berhenti urusi hidupku!" kata Ans....
... Keduanya kembali mengerjakan tugas dari guru mereka....
... Ketua kelas yang mencari arah pandangan yang ia bisa lihat melihat mereka lagi....
... Dia memejamkan mata seperti sedang tidur nyatanya tidak ia lakukan di sisa waktu jam pelajaran kedua sedang berlangsung....
... Mendengar lagi isi hati Ans....
..."Aku akan memilihnya" kata Ans....
__ADS_1
... Dia lagi-lagi kesal....
... Satu pulpen dilempar oleh Nawa kepada gadis disebelahnya itu....
... Istirahat pertama sekolah....
... Ans sendirian keluar dari kelas tidak bergabung dengan teman-teman perempuannya yang lain yang sudah lebih dahulu pergi ke kantin sekolah....
... Dia melihat Ans pergi sendiri menuju arah tangga....
... Gan ragu akan mengejar Ans yang sedang berjalan santai sambil melihat ponsel sesekali....
... Dia yang langsung tahu kalau ada orang yang sedang memperhatikan dirinya....
... Berbalik ke arah belakang dengan tatapan itu tajam tidak menakutkan melainkan tatapan persahabatan ia berikan kepada Si ketua kelas....
... Menunjuk ke arah Gan....
... Si ketua kelas melihat ke arah belakangnya dan tak ada orang lain selain dirinya yang gadis itu maksud jadi dia datang untuk mengejar Ans yang sudah berjalan lebih awal di depannya itu....
... Dari kejauhan tanpa suara ia berbicara untuk dirinya dan orang yang sedang menunggunya dengan senyuman yang belum berubah dari yang biasa ia lihat hingga kini....
..."Kau menunggu ku?" tanya ketua kelas....
..."Apakah benar ini orang yang selalu ku lihat itu?" tanya Gan....
... Dia membalas senyuman dari gadis yang masih menunggunya itu....
... Ans melihat diri Gan yang sudah lama tidak ia lihat....
..."Aku mendapatkannya lagi. Dia datang lagi tanpa harus aku datang lebih awal" kata Ans....
..."Dia tetap yang terbaik" kata Ans....
..."Jangan pernah kau membawa pergi dirimu yang langka ini. Jangan pernah" kata Ans....
... Berhenti sejenak....
... Memperhatikan....
... Nawa yang sedang dalam mode tidak terlihat tidak sengaja berada dalam situasi ini berjalan berada di tengah-tengah antara dua orang yang akan pergi bersama ke suatu tempat....
..."Salah satu dari dua dugaanku terjawab sudah" kata Nawa....
... Melihat ke arah gadis remaja yang akan dihampiri oleh si ketua kelas....
..."Ku kira dia menyukai pemilik rambut merah muda itu" kata Nawa....
... Dia tersenyum dengan rasa senang tidak bisa dijelaskan bagaimana dengan responnya kali ini yang sedikit agak usil....
... Manusia....
..."Dia bisa mendapatkan seorang manusia. Apa kalian bisa bersama?" tanya Nawa....
..."Kata-kataku ini sungguh melemahkan tekad orang lain" kata Nawa....
... Waktu mundur di hari seseorang akan kehilangan nyawanya akibat ulah seseorang....
... Dia masih dengan seragam sekolah atasan kemeja putih dengan sweater biru gelap serta bawahan rok berwarna sama dengan sweater yang ia pakai....
... Racun yang melebihi kapasitas untuk diberikan kepada seseorang yang seharusnya digunakan untuk seratus bangsa Blacwhe kini diterima oleh salah satu dari bangsa Xoco....
..."Haruskah aku tetap melihat mereka menyiksa orang itu" kata Ans....
..."Perbuatan itu jangan ditiru tapi bukankah aku sudah terbiasa melihat hal semacam ini" kata Ans....
... Kesal....
..."Hentikan ocehanmu itu!" kata Ans....
... Suara rendah terdengar dari akal pikirannya yang menerima gambar bergerak sebuah penyiksaan....
... Melewati pepohonan tinggi di antara bangunan tua yang terbengkalai di daerah dekat daerah hijau milik salah satu pemilik tanah yang terlihat tidak terurus lama....
... Korbannya dibiarkan begitu saja terlempar jauh akibat siksaan terakhir yang ia dapat dari sesama bangsa Blacwhe tersebut yang dia kira itu benar tidak lain adalah bangsa yang sama dengannya. ...
... Mengirimkan pesan melalui ponsel dengan nomor tidak diketahui bahwa itu adalah nomor ponsel miliknya....
... Kepada seseorang....
..."Dia akan mati" ...
... Pesannya terkirim dipukul pagi menjelang tengah hari....
... Pesannya terbaca....
... Dia mengirimkan identitas dari salah satu bangsa Blacwhe yang baru saja pergi meninggalkan Oryn yang terlempar jauh dari posisi semula sejauh lima puluh meter dari titik awal ia dilempar setelah terseret cepat terbawa oleh salah satu bangsa Blacwhe yang terlihat seperti masih remaja dengan seragam sekolah yang ia pakai....
... Dia masih sangat merasakan kekuatan racun yang diterima oleh salah satu bangsa Xoco itu dari arahnya kini yang berjarak seratus meter....
..."Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawaku sendiri" kata Ans....
... Kerlingan mata ke arah kanan lembut....
... Kembali menatap lurus....
..."Tapi, dia akan mati" kata Ans....
... Wajah polos itu datang kembali....
..."Bagaimana ini?" tanya Ans....
... Dari arahnya kini terlihat salah satu bangsa Xoco itu sedang berusaha tetap menyelamatkan nyawanya sendiri dari rasa sakit yang ia terima dengan sisa kekuatan yang ia miliki digunakan untuk melenyapkan racun yang ia terima saat itu juga seakan semakin kuat ingin mengambil nyawa yang sudah ditargetkan sebagai korban....
... Dia belum pergi meninggalkannya sendiri....
... Ans hanya bisa membantu sesuai kemampuan yang bisa ia lakukan dengan batasan yang sudah menjadi aturan bagaimana ia harus bertindak....
..."Seharusnya kau sudah mati tapi seharusnya kau tidak mati" kata Ans....
... Dia menunggu beberapa menit disana dengan pesan dan nomor ponsel dari seseorang yang sering dilihat ketika orang itu sedang mencemaskan dirinya yang sering menghilang seenaknya sendiri....
... Menerima pesan dari ketua kelas....
..."Kau dimana!"...
..."Kau dimana!"...
..."Kau dimana!" ...
..."Kau tidak mendengarkan ku lagi?!"...
__ADS_1
... Balas Ans....
... Kesal....
..."Apa pedulimu?!"...
... Satu pesan dikirim lagi untuk ketua kelas....
..."Aku tidak perlu segera kembali" ...
... Pesan diterima dan dibaca oleh Gan, si ketua kelas....
... Ditelepon oleh orangnya langsung....
... Membentak....
..."Bisakah sekali saja turuti perkataan ku!" kata Gan....
... Santai....
... Ikutan membentak....
..."Tidak!" kata Ans....
..."Kita tidak bisa seperti dulu lagi!" kata Gan....
... Ponselnya dimatikan secara sepihak oleh ketua kelas yang terdengar marah ketika orang yang ia sayang tidak menuruti apa yang dikatakan sebagai bentuk perhatiannya yang Ans terima....
... Dia dengan wajah tanpa emosi tapi tidak kedua matanya yang semakin menahan air matanya yang hampir jatuh sejak enam detik yang lalu....
... Menunggu waktu memang sangat menjengkelkan ingin menangis karena waktu yang menyedihkan ini belum juga berlalu meski ingin sekali ini cepat berakhir tapi ia sadar akan hal didalam diri yang tak semuanya bisa dikendalikan seperti itulah yang dirasakan oleh gadis remaja ini....
... Dia berada di sebuah menara monumen bangunan yang berada masih di area tempat salah satu bangsa Xoco yang sedang berjuang sendirian di suatu tempat yang diketahui jaraknya oleh remaja putri ini....
... ...
... Detik waktu menunjukkan sudah berlalu cukup lama tapi ia semakin yakin dengan kemampuan bertahan dari salah satu bangsa Xoco yang sedang terluka itu bisa bertahan lebih lama lagi meski ia tahu hanya beberapa persen harapan bahwa ia akan tetap hidup....
..."Pukul sebelas lebih dua puluh menit" kata Ans....
... Detak jarum jam terdengar di jam tangan berwarna putih di pergelangan tangan sebelah kiri remaja ini....
... Dia yang berada diantara rasa khawatir akan akhir hidup orang lain juga dirinya sendiri....
... Ans bergerak menembak ke arah Oryn dengan memberikan sebagian dari kekuatan miliknya dari arah yang sama untuk membantu seseorang agar bisa bertahan lebih lama....
..."Ini pasti sangat menyakitkan" kata Ans....
... Dia tahu sebagian kekuatan yang ia berikan kepada salah satu bangsa Xoco akan berakibat buruk bagi kesehatannya tapi ia harus memilih membiarkan atau memilih untuk menolong....
... Terjatuh tanpa sadar tanpa ia rasa air matanya jatuh sebagai seorang salah satu bangsa Blacwhe....
..."Apa ini yang dinamakan sebuah kesedihan?" tanya Ans....
... Dia dengan ekspresi dingin sebagai karakter yang sudah ditakdirkan sebagai miliknya sampai kapanpun....
... Tangan kanannya sudah mengalir darah yang menahan kekuatan penolakan dari racun yang berada di dalam tubuh Oryn yang semakin kuat menguasai raganya tanpa ampun....
... Panik....
... Itu ada didalam dirinya tidak dengan apa yang terlihat oleh indera penglihatan manusia seperti yang terjadi kepada remaja putri ini....
... Dia tahu kalau dia akan mati jika ia terus melakukan ini tapi tubuhnya tidak ingin berhenti untuk menolong seseorang yang tidak pernah ia kenal sama sekali....
... Menit-menit yang menakutkan bagi Ans kini mendapatkan sisi terang bahwa pertolongan telah datang dari orang lain yang ia sadari itu adalah berasal dari kekuatan salah satu bangsa Xoco....
... Gan datang....
... Dia langsung menghentikan tindakan pertolongan yang diberikan oleh Ans kepada Oryn....
..."Jangan lakukan ini lagi. Aku sudah peringatkan itu padamu" kata Gan....
... ...
... Racun racun itu semakin pergi cepat mengarah ke arah mereka berdua mencari siapa yang berani menghalangi mereka melenyapkan target utama mereka....
... ...
... Membaca situasi yang sangat tidak menguntungkan ini memutuskan untuk Gan yang sedang memapah Ans dengan segera membawanya pergi dari area yang sangat berbahaya itu....
... Waktu berjalan sebagaimana mestinya tetap berjalan di hari Hoshie dan Dashie mengatakan kemungkinan mereka tidak bertemu hari ini....
... Kamis....
... Pukul setengah enam pagi....
... Dia dengan semua yang ia punya adalah pemberian dari mantan kekasihnya itu....
... Wanita dengan setelan piyama putih berlengan dan celana panjang motif hati merah muda sebagai warnanya....
... Dia dengan pintu bertingkat empat kaca bening yang ia miliki....
... Terdiam....
... Memandang lemari baju yang terbuat dari kayu bergaya klasik....
... Membuka lemari baju....
... Dia bingung dengan segala pilihan yang akan ia pilih didalam lemari baju yang baru ia buka....
..."Kenapa semuanya adalah pilihan Oryn Mason" kata Ghazi....
..."Dia bahkan mau mempelajari semua ini hanya demi aku" kata Ghazi....
... Dia mengusap air matanya yang kembali jatuh....
..."Tapi, kenapa dia memutuskanku tanpa alasan?" tanya Ghazi....
..."Apa aku mempunyai kesalahan yang tidak bisa dimaafkan?" tanya Ghazi....
... Di duduk bersimpuh menutup wajahnya yang sedang sedih itu....
... Jujur....
..."Aku tidak bisa membencimu" kata Ghazi....
... Sesenggukan sambil menangis....
..."Tapi, aku juga tidak bisa mencegah mu untuk pergi" kata Ghazi....
..."Ahhh. Ada apa denganku yang bodoh ini" kata Ghazi....
__ADS_1