Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 9: Bukan idola.


__ADS_3

Chapter 9: Bukan idola.


 Heran.


"Kenapa dia tiba tiba baik denganku?" tanya Dashie.


 Mencoba menebak.


"Ved?" tanya Callie.


"Bukan dia tapi Jarrel" kata Dashie.


 Berkomentar positif.


"Kurasa dia memang baik tapi agak sedikit selektif" kata Callie.


 Dari arah belakang mereka suara langkah kaki seorang pria datang berjalan semakin cepat dan cepat mengejar salah satu dari keduanya.


 Menarik gadis berbaju merah muda dengan kasar.


  Dashie kaget.


  Suara tamparan.


"Plakkk!"


 Dashie ditampar oleh seorang pria.


 Callie gemetar ketakutan melihat kejadian ini.


 Pria itu masih menggenggam kasar tangan kanan Dashie dengan tangan kiri.


 Dashie mencoba melepaskan tangan pria itu.


"Lepas!" kata Dashie.


 Mata penuh kemarahan.


"Tidak akan!" kata Pria itu.


 Berteriak.


"Levin. Aku bilang lepaskan!" kata Dashie.


"Tidak. Sebelum kau menerima ku" kata Levin.


 Tangan kanannya melepas tangan Dashie segera Levin membekap mulut Dashie dengan sangat kejam.


 Dashie sulit berbicara.


 Kemudian, Dashie menendang lutut Levin dengan keras.


"Bug!"


 Levin terjatuh ke bawah.


 Dashie lari dan menarik tangan Callie untuk pergi menjauh dari Levin.


  


 Callie masih dengan rasa trauma akibat penyiksaan yang pernah ia alami saat itu oleh kekasihnya.


 Tidak sampai disitu untuk Levin bertindak.


 


 Levin mengejar Dashie.


 Menjambak rambut Dashie menarik ke belakang.


 Teriak.


"Aggghhhh!"


"Lepaskan!" kata Dashie.


 Penuh percaya diri.


"Katakan kau menyukaiku!" kata Levin.


 Berbicara tegas.


"Tidak!" kata Dashie.


 Tidak terima lalu berteriak.


"Apa kau bilang!" kata Levin.


 Dashie tersenyum sambil berbicara menatap wajah Levin.


 Berteriak. 


"Tidak mungkin!" kata Dashie.


 Berteriak lagi.


"Kau dengar tidak mungkin!" kata Dashie.


 Levin bertambah emosi kemudian langsung mendorong Dashie ke bawah.


"Buggg!"


 Gadis itu tersungkur di atas aspal.


 Tas dan beserta isinya jatuh berserakan di sekitar Dashie.


 Callie sangat panik dengan situasi ini dia tambah gemetar ketakutan.


 Mengambil inisiatif.


"Ini tidak boleh dibiarkan" kata Callie.


 Levin dengan teganya langsung menjambak rambut Dashie lagi untuk bangun.


 Berteriak penuh emosi.


"Bangun. Dasar ******!" kata Levin.


 Dia tidak terima jika dikatakan sebagai seorang  ******.


"Kau brengsek!" kata Dashie.


 Levin tidak terima jika dikatakan brengsek. 


 Dia menampar lagi wajah Dashie sebelah kiri.


"Plakk!" 


 Sekali lagi di pipi sebelah kanan.


"Plakkk!"


 Callie dengan ketakutan melihat ini dia perlahan mengambil ponsel milik Dashie yang terjatuh ada dibawah kaki pria yang Dashie panggil sebagai Levin itu.


 Ponsel Dashie berhasil diambil.


 Callie menjauh dari pertengkaran mereka berdua untuk menghubungi nomor seseorang dari dalam ponsel Dashie.


 Penyiksaan masih berlanjut.


 Mulut Dashie sudah mengeluarkan banyak darah tentunya akibat dari tamparan dari Levin.


 Suara tinju hadir dalam peristiwa ini.


"Buggg!"


 Levin meninju wajah Dashie.


"Buggg!"


 Dashie menendang perut Levin.


 Keduanya terjatuh di atas aspal.


 Levin mendengar Callie sedang meminta pertolongan kepada seseorang langsung menghampiri gadis ini.


 Callie menghubungi Ved.


"Cepat datang. Dashie sedang di pukuli … " kata Callie.


 Tangan Callie ditarik kasar oleh Levin.


 Ponsel Dashie diambil segera oleh Levin dibanting ke bawah aspal kemudian diinjak hancur oleh Levin dengan sepatu bertali hitam miliknya.


 Ved kaget dengan telepon yang ia terima dari Callie.


"Kau bilang apa?!" kata Ved.


"Ada apa?" tanya Rio.


"Dashie dipukuli orang!" kata Ved.


 Ved langsung lari meninggalkan teman temannya yang ada disana.


 Marah dan tidak terima.


"Jangan ikut campur!" kata Levin.


 Callie didorong ke bawah terjatuh dengan keras ke bawah.


"Buggg!"


 Siku sebelah kanan berdarah.


 


 Callie mencoba bangun setelah jatuh.


 Dashie kembali akan mendapatkan perlakuan buruk dari Levin.


  


 Mencengkram kerah baju Dashie.


 Teriak.


"Bangun!" kata Levin.


 


 Dashie mengeluarkan darah segar dari mulut lagi.

__ADS_1


 Teriak lagi.


"Bangun!" kata Levin.


 Dashie dipaksa bangun oleh Levin.


 Dashie bangun dan terjadi lagi penyiksaan.


"Buggg!"


 Kepala Dashie di hajar oleh tinju dari tangan kanan Levin


 Dia akan meninju lagi Dashie.


 Callie menarik tangan Levin mencegah hal itu.


 Teriak.


"Jangan!" kata Callie.


 Emosi lagi kepada Callie.


 Levin tidak terima dan mendorong kasar Callie sampai terdorong di samping mobil.


"Buggg!" 


 Dia terbentur tubuhnya keras di samping mobil.


 Jatuh di samping mobil.


 Dashie masih setengah sadar dengan pukulan barusan ia terima.


 Satu pukulan akan Dashie terima lagi dari Levin tangan kanan menggenggam sudah melayang siap memukul.


"Buggg!" 


 Ved memukul wajah Levin.


 Levin terpental jatuh ke bawa berjarak satu meter dari  Dashie dan Ved.


 Dashie dipaksa sendiri untuk sadar segera.


Khawatir.


"Apa yang terjadi. Siapa yang melukaimu?" tanya Ved.


 Marah.


 Ved melihat ke arah Levin.


 Dia akan menghajar kembali Levin.


 Dashie mencegah Ved untuk menghajar Levin balik.


"Ok. Kita bawa dia ke kantor polisi" kata Ved.


 Ved memaksa Levin bangun dari lantai aspal dia menarik kedua tangannya ke belakang menahan kuat agar tidak kabur dari mereka.


 Berteriak.


"Kau tidak bisa lolos!" kata Ved.


 Dia lebih memilih untuk menolong Callie yang ada di sisi jalan yang lain yang baru saja bangun akibat terbentur keras samping mobil.


 Jarrel datang.


 Dia langsung menolong Callie.


"Biar aku bantu" kata jarrel.


 Jarrel membantu memapah Callie berdiri dengan baik.


 Dashie dengan isi tas yang ia cepat masukkan ke dalam tasnya lagi begitu juga dengan ponsel yang telah rusak akibat di injak oleh Levin tadi.


 Mereka berjalan menuju depan gang untuk pergi ke kantor polisi yang tidak jauh dari wilayah perumahan ini.


 Dua puluh langkah kemudian Rio datang masih dalam perjalanan keluar dari gang rumah Dashie.


 Kaget.


"Apa yang harus aku bantu?" tanya Rio.


"Pegang dia!" kata Ved.


 Menerima tugas.


"Bantu dia jangan sampai jatuh" kata Ved.


 Melihat kondisi Dashie lebih jelas.


 Dia tidak banyak bicara langsung melaksanakan tugas.


 Menawarkan pertolongan.


"Kau bersedia aku bantu?" tanya Rio.


 Sambil sedikit sempoyongan agak pusing.


"Berjalanlah cukup disampingku" kata Dashie.


"Ok" jawab Rio.


 Di depan gang  menuju rumah.


 Mengamati situasi.


"Mereka ku tebak akan pergi ke kantor polisi" kata Ren.


 Kantor polisi berjarak dua puluh meter dari depan toko tempat Ren saat ini sedang berdiri.


  Berteriak Jarrel.


"Tolong ya!" kata Jarrel.


"Siap!" jawab Ren.


  Mereka datang kemudian pergi melewati Ren yang sedang berdiri kemudian duduk di depan toko dekat jendela sambil minum air hangat dari dalam gelas berukuran besar.


 Mereka pergi menuju kantor polisi, Ren melihat mereka sejak awal melewatinya sampai mulai menjauh dari indera penglihatan pemuda ini.


 Pria tampan bagai poster sedang duduk di depan toko.


 Kaget dengan pesonanya sendiri.


 Segera banyak gadis gadis dan ibu ibu berdatangan meminta foto kepada Ren.


 Toko menjadi ramai lagi dengan kedatangan dari pemuda ini sebagai karyawan dadakan.


 Gadis cantik juga datang disini berdiri di depan toko yang penuh sesak dengan para pengunjung.


 Dia memilih untuk duduk di kursi kayu bercat abu abu.


 


 Menunggu manis sambil membaca buku puisi tentang cinta.


 Ren melihat dari dalam toko dengan hanya melihat dari arah belakang dia sudah bisa menebak siapa yang sudah ada duduk di depan toko dengan setelan formal merah muda rambut indah terurai panjang dibawah bahu bergelombang sedang coklat warna rambutnya. 


 Ren tersenyum manis. 


 Ren dengan para pelanggan yang ingin membeli lilin lilin aromaterapi dengan sabar melayani para pelanggan yang hampir semuanya adalah perempuan.


"Kita bisa beli besok saja" kata seorang pelanggan pria.


"Aku tidak ingin pacarku marah" kata pria yang terlihat juga temannya.


 Aka tidak sengaja mendengar percakapan kedua pria yang ada di sebelah kanannya itu.


 


 Di kantor polisi.


 Semua orang termasuk ada didalam kantor polisi menjadi terpukau dengan penjelasan dari Levin.


 Polisi yang bertugas melakukan interogasi dengan Levin sangat mudah tidak mengalami kendala apapun dalam proses ini. Dia dengan sangat jelas dan detail mengakui semua tindakan buruk yang ia lakukan kepada Dashie dan Callie.


 Dashie saja dibuat terheran dengan penjelasan dari orang yang tadi melakukan tindakan kekerasan kepada dirinya.


 Jarrel menatap membuat kode pertanyaan bersama Bob" kata adiknya Ved.


 Mendapatkan ulangi. Ved.


"Kau membaca mantra itu?" tanya Jarrel.


 Kode penyangkalan jujur.


"Tidak" kata Ved.


 Tidak bisa di percaya bahwa Levin menyerahkan diri bersikap provokatif dalam kasus ini. 


 Dia menunggu pengacaranya duduk di sana di kursi di depan polisi yang menginterogasi.


 Dashie dan Callie sudah melakukan visum pemukulan setelah kejadian kekerasan yang mereka alami.


 Callie sudah tahu hasilnya akan jauh mengejutkan dari kekerasan yang diterima oleh Dashie tadi.


 Dia sudah pasrah jika akhirnya mereka tahu bahwa dia mengalami kejadian amat menyedihkan itu di tempo hari.


 Masih di ruang kantor polisi.


 Rio memberikan dua cup air minum hangat dan dua pie coklat untuk kedua gadis yang ada di dekat Ved dan juga Jarrel.


 Ada didepan Jarrel memberikan kepada Callie.


"Terima saja tidak usah malu" kata Rio.


 Menuntut.


"Untukku?" tanya Jarrel.


"Kau bisa jalan sendiri" kata Rio.


 Dia kemudian memberikan satu cup air hangat dan satu pie coklat untuk Dashie.


"Terima kasih. Kakak Rio" kata Dashie.


"Kalian harus tiru dia memanggilku kakak" kata Rio.


 Ved dan Jarrel masih tidak merasakan mantra apapun yang mereka rasakan hadir diantara mereka.


 Bingung.

__ADS_1


"Apa kita sebodoh ini?" tanya Ved.


"Kita memang bodoh" kata Jarrel.


 Belum bisa percaya.


"Tidak mungkin tanpa ancaman apapun orang seperti itu langsung berkata jujur" kata Ved.


 Di toko lilin sudah mulai sepi dari para pengunjung toko yang datang.


 Ren membawa satu kaleng kopi dingin membawa keluar dari atas meja.


 Duduk di sebelah kiri Aka di kursi dengan warna abu abu.


 Memberikan kopi.


"Untukku?" tanya Aka.


"Ya" kata Ren.


 Meminta pertolongan.


"Buka tutupnya  sekalian" kata Aka.


 Membuka kaleng kopi.


 Memberikan kepada Aka.


"Terima kasih" kata Aka.


 Senyum ramah.


"You're welcome" kata Aka.


"Kenapa hanya kepadaku kau bisa tersenyum seperti itu?" tanya Ren.


 Menjawab jujur.


"Dia belum membalas cintaku" kata Aka.


 Tertawa jahat.


"Hahahahah" 


 Melirik Ren sambil minum kopi dari Ren.


"Sepertinya hanya aku yang paling menyukaimu" kata Ren.


"Sorry" kata Aka.


"Kenapa tidak bersamaku saja?" tanya Ren.


"Kenapa kau terlalu tampan?" tanya Aka.


"Kenapa kau terlalu cantik?" tanya Ren.


 Minum kopi lagi memandang langit di atas kota malam ini.


 Ren menggenggam tangan Aka 


"Aku tidak akan marah jika kamu terus menolakku" kata Ren.


"Sungguh?" tanya Aka.


"Emmm" jawab Ren.


 Bersandar di pundak sebelah kanan Ren.


 Ren mempersilahkan sikap ini.


 Bertanya lagi.


"Kenapa kau belum menerimaku?" tanya Ren.


"Jika aku lelah setelah melihat dunia ini maka aku akan kembali padamu seketika penuh semangat lagi tapi … " kata Aka.


 Rasa ingin tahu.


"Tapi?" tanya Ren.


"Aku takut hanya karena senyummu saja orang lain bisa menyukaimu" kata Aka.


"Tapi aku hanya menyukaimu" kata Ren.


 Belum mendapat jawaban dari Aka dari kata kata dari Ren barusan.


 Memahami.


"Tak apa jika seperti ini. Orang orang akan salah paham?" tanya Ren.


"Mereka tak ada disini" kata Aka.


"Anggap saja seperti itu" kata Ren.


 Mengajukan pertanyaan lain.


"Kau tidak menuntut hal lain?" tanya Aka.


 Tiba tiba romantis.


"Tak ada. Kau mau di dekatku saja aku sudah senang" kata Ren.


"Apakah akan lebih romantis jika aku menerimamu?" tanya Aka.


 Berkata apa adanya.


"Tidak mungkin" kata Ren.


"Kenapa?" tanya Aka.


"Aku tidak suka membuat janji" kata Ren.


"Kenapa?" tanya Aka lagi.


 Menatap mata Aka kemudian tersenyum.


"Dunia kita bukan pangeran di negeri dongeng dan kamu bukan putri di negeri dongeng" kata Ren.


 Sekali lagi Ren membuat Aka jatuh dan jatuh cinta lebih kepada orang yang sedang menatapnya dengan senyum penyembuh itu.


 Sayangnya, Aka terlalu takut jika suatu hari nanti akan kehilangan orang yang ia sayangi ini.


"Bagaimana sudah pertimbangkan lagi?" tanya Ren.


 Belum ada jawaban.


 Belum menyerah.


"Tidak apa apa. Sekarang mungkin sedikit, aku yakin besok jauh lebih banyak" kata Ren.


 Memberi kabar baik.


"Aku sudah satu minggu kerja magang" kata Ren.


 Gembira dalam ekspresi cool.


"Selamat berjuang" kata Aka.


 Mulai sadar.


 Tidak bersandar di bahu Ren lagi.


 


 Dugaan Ren benar.


 Mereka sudah ada di sisi kiri Ren selama tiga menit yang lalu  bersembunyi dan tidak ingin mengusik kemesraan orang lain.


 Ren dan Aka sudah menyadari keberadaan mereka berlima.


"Keluarlah!" kata Ren.


 Mereka berlima keluar dari tempat persembunyian.


 Berjalan dengan langkah tenang mendekat kepada Aka dan Ren.


 Shock.


"Ada apa ini?" tanya Aka.


"Siapa yang melakukan hal ini kepada kalian?" tanya Aka.


"Aku akan mengantar mereka berdua pulang dulu" kata Ved.


 Bergerak cepat.


"Aku ikut!" kata Aka.


 Jarrel iseng.


"Kalian tidak lanjutkan?" tanya Jarrel.


 Memukul dengan tas hitam kecilnya.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Aka.


 Aka juga ikut mengantar Dashie dan Callie pulang sampai di depan rumah bersama dengan Ved dan Jarrel.


 Mereka semua pergi dan di toko tinggal ada Ren dan Rio.


 Rio masuk ke dalam toko.


 Terkejut tapi sudah terbiasa.


"Habis lagi. Kau hebat sekali" kata Rio.


 Di dalam toko tinggal satu dua tiga lagu lilin lilin aromaterapi akan habis terjual dari etalase yang ada disana.


 Dengan mantra yang diucapkan Hoshie menjadi tidak terlihat seperti saat ini belum juga pergi dari seberang jalan.


"Dia akan menjadi selanjutnya" kata Hoshie.


"Jadi, selama ini aku bukanlah orang yang dia suka" kata Hoshie.


 Sadar bahwa orang yang benar benar Aka sukai bukanlah Hoshie melainkan Ren.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2