
...Chapter 184: Tersapu ombak....
... Nawa....
... Apa dia harus marah tapi dia lebih memilih kecewa dengan siapa dengan alam semesta yang kembali tidak memihak kepadanya sekali lagi....
... Dia berjalan mundur pergi meninggalkan tempat itu mengurungkan niatnya untuk menemui seseorang yang ia mulai ingin sayang melebihi perasaannya sebelumnya yang hanya sedikit sebuah rasa penasaran semata....
... Orang itu juga melihat kehadiran Nawa yang pergi begitu saja ketika melihatnya bersama dengan orang lain....
... Mengejar....
... Nawa dengan motornya yang terparkir di depan rumah Rumy....
... Dia akan memakai helm lalu dicegah oleh gadis yang berhasil hadir didepannya itu....
..."Kenapa kau pergi?" tanya Rumy....
... Tidak jadi memakai helmnya itu....
... Nada suara lucu seperti anak kecil....
..."Aku tidak mau mengganggu kalian" kata Nawa....
..."Mengganggu?" tanya Rumy....
..."Kau bicara apa sih" kata Rumy....
... Menarik tangan Nawa untuk ikut masuk kedalam tempatnya sedang bekerja saat ini....
... Dia seakan tidak mau ikut kemana Rumy akan membawanya....
... Melihat ke arah Nawa....
..."Ayo ikut aku" perintah Rumy....
... Tetap dengan langkah kaki yang tertahan tidak mau bergerak jalan....
..."Ayo!" kata Rumy....
..."Ya. Ya, baiklah" kata Nawa....
... Tapi akhirnya dia tetap disana dengan pilihannya untuk pergi dari dekat Rumy....
... Dia menatap mata Nawa yang mengartikan sebuah kesedihan yang tidak bisa terungkap hanya dengan kata-kata....
... Rumy....
... Melepas apa yang tidak bisa dia genggam dengan seenak hatinya yang ia takutkan jika ia terus melakukan apa yang akan dia lakukan kepada orang lain yang terlihat memilih untuk sendiri....
... Dia pergi dengan jalan yang dia pilih menjauh sebisa mungkin dari hadapan gadis ini....
..."Apa hal yang membuatnya jadi seperti itu?" tanya Rumy....
... Ved datang menghampiri Rumy yang masih memperhatikan Nawa yang telah pergi....
..."Ku rasa ini karena aku" kata Ved....
... Rumy....
..."Kau sudah selesai dengan urusan kita?" tanya Rumy....
... Gadis remaja ini pergi masuk kembali untuk bekerja sedangkan Ved menyusulnya pergi untuk bekerja lagi....
... Nawa....
... Dia sedang dalam kondisi dimana waktu ingin segera ia lalui tapi semua berjalan sebagaimana biasanya tetap dengan tugas mereka tak bisa semudah diatur oleh alam semesta dia bekerja dengan tugasnya tanpa terpengaruh oleh siapapun selain pemilik waktu itu sendiri....
..."Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan" kata Nawa....
..."Apa sesulit ini menjadi seorang manusia tapi kenyataannya aku bukan sepenuhnya seorang manusia" kata Nawa....
..."Apa seorang pria tidak boleh sedih dan menangis?" tanya Nawa....
... Mengeluh....
..."Ahhh. Astaga, kenapa hatiku sesedih ini" kata Nawa....
... Motornya terus melaju melewati kendaraan-kendaraan lain yang juga melewati jalan yang sama yang dilewati oleh remaja laki-laki ini....
... Kecepatan berkendara yang dia pilih terlihat cukup kencang tapi tidak juga terbilang ngebut masih tenang dan bisa dikendalikan didalam situasi jalan yang terbilang ramai tidak macet....
... Dia melihat sebuah pemandangan yang tidak asing baginya dan itu bisa dibilang mengejutkan sekaligus membuat akal pikirannya tidak bisa menerima sebuah kenyataan bahwa apa yang ia lihat memang nyata adanya....
..."Apa aku melihat gambar tentang masa depanku sendiri?" tanya Nawa....
..."Apakah aku orang yang seperti itu?" tanya Nawa....
... Mereka berpapasan satu sama lain dengan kendaraan roda dua mereka yang mereka bawa untuk pergi ke suatu tempat sebagai tujuan mereka masing-masing....
... Nawa memutuskan untuk ikut campur secara tidak langsung dengan mode tidak bisa dibaca dan didengar isi hati dan pikirannya telah diaktifkan segera ketika keputusan ini diambil....
..."Aku harap ini hanya dugaanku saja" kata Nawa....
..."Kalau sampai iya. Hal ini juga tidak boleh sampai diketahui olehnya" kata Nawa....
..."Tapi, aku tidak bisa menjamin akan hal itu" kata Nawa....
__ADS_1
... Perjalanan sedang tidak begitu ramai....
... Menerima sebuah kejutan yang datang dari orang lain....
... Suara klakson dari seseorang....
..."Namir" kata Nawa....
... Dia melihat ke arah yang sama lagi tapi orang yang dia maksud sudah menghilang dengan membawa kejutan yang baru saja dilihat olehnya....
... Fokus mengendarai motornya lagi....
... Namir sendiri tidak terlihat bersama Eir salah satu sahabat mereka....
... Dia ikut dengan Nawa dalam perjalanan pulang....
... Di dalam perjalanan pulang ke tempat kosnya Nawa mengingat dengan jelas siapa yang baru saja dia lihat. ...
..."Aku baru saja melewatkan hal kecil tapi aku yakin itu berdampak besar dari apa yang aku lihat" kata Nawa....
..."Akan terlihat gegabah jika aku menyimpulkan sesuatu yang belum benar kejadiannya lebih baik aku tunggu. Aku tunggu, mungkin saja ini hanya pikiran negatif ku saja" kata Nawa....
... Dari arah seratus delapan belas meter remaja laki-laki ini menemukan apa yang baru saja terlewatkan lalu segera mengambil jalan yang berbeda menunda untuk pulang ke rumah....
... Namir tidak mungkin pergi ke rumah seseorang tanpa penghuninya ada disana jadi dia ikut kemana sahabatnya itu pergi....
..."Aku sedikit curiga. Apa dia punya musuh baru?" tanya Namir....
... Mereka tidak meniru aksi pembalap....
... Kedua remaja ini melaju kendaraan dengan kecepatan yang dinaikkan tingkat levelnya melebihi kecepatan yang sebelumnya mereka gunakan....
... Siapa yang sedang diikuti oleh sahabatnya itu belum diketahui oleh Namir. Namun, melihat dari cara sahabatnya itu berkendara dia pikir orang yang dia kejar cukup penting bagi diri Nawa sahabatnya itu....
... Si Namir....
... Dia tidak paham dengan apa yang dikejar oleh sahabatnya itu....
... Beberapa kendaraan roda dua ada disana setelah selesai melewati lampu merah tempat orang-orang baru saja menyebrang....
... Nawa melihat ke arah sisi kirinya beberapa kali seperti sedang memperhatikan seseorang dengan jarak yang tidak begitu jauh akan tetapi yang masih menjadi pertanyaan dari Namir tetap sama siapa yang tidak mungkin diajaknya bicara....
... Semua pengendara yang Namir lihat masih dengan arah tujuan mereka masing-masing tapi sepertinya tak ada seorangpun yang melirik sesekali kepada remaja itu....
... Tentang sahabatnya itu....
..."Apa ini efek terlalu pintar?" tanya Namir....
... Muncul dari beberapa orang yang juga mengendarai kendaraan roda dua yang sama terlihat sudah menjadi target dari kejaran sahabatnya itu keluar dari penyamaran menjadi pengendara biasa....
... Nawa belum berhenti mengikutinya sehingga dia mengikuti lagi kemana Nawa pergi....
... Nawa memarkirkan motornya mengikuti kemana motor itu pergi juga Namir yang tak mungkin melarikan diri dari sebuah masalah yang tidak diketahui akan tetapi detik demi detik ia terus berpikir ulang untuk tidak terlalu jauh mengikuti masalah yang belum diketahui sebab akibat mengapa sahabatnya itu memaksakan diri pergi mengikuti pria yang mengendarai motor sport hitam itu....
... Namir....
... Dia berhenti tidak mengikuti lagi kemana sahabatnya itu pergi melewati sebuah persimpangan dengan tiang lampu sebagai penanda disana menunggu dengan keyakinannya sendiri bahwa mereka akan menghadapi masalah yang cukup mengerikan yang masih menjadi tanda tanya bagi remaja laki-laki ini....
..."Aku tunggu saja dia disini. Aku memang pengecut dan tidak setia kawan" kata Namir....
..." … tapi lihat sikapnya yang juga membuatku takut kembali dingin tak mau bicara apapun" kata Namir....
..."Membuatku menjadi pengecut" kata Namir....
... Dia berbalik untuk meninggalkan tempat tersebut....
... Berhenti....
... Menunggu dengan jarak sekitar lima belas langkah....
... Dua menit kemudian....
... Terdengar suara pukulan dari arah dimana ada Nawa disana dengan suara terdengar jelas dua orang sedang berkelahi lalu di menit selanjutnya tidak terdengar sama sekali suara apapun yang menunjukkan sebuah perkelahian....
... Tiga puluh detik kemudian terdengar lagi suara perkelahian lagi dari arah yang sama....
... Namir baru saja menyaksikan perkelahian antara Nawa dan satu orang dewasa ditiga puluh detik yang lalu dengan kondisi keduanya cukup parah tak jauh berbeda dengan wajah mereka yang lebam....
... Namir akan menolong sahabatnya itu....
... Sekali lagi seperti di detik ke dua detik yang lalu tetap dihentikan oleh sahabatnya itu untuk tidak mendekat ke arah mereka....
..."Apa yang sedang mereka permasalahkan?" tanya Namir....
... Keduanya saling berbalas pukulan ke arah wajah mereka satu sama lain dengan kondisi Nawa yang terlihat lebih parah dari kondisi lawannya akan tetapi jika dilihat lebih jelas lawan dari sahabatnya itu terlihat semakin lemah tiap detik akibat dari pukulan Nawa yang bertubi-tubi dengan wajah yang tetap memakai masker hitam tertutup rapat meski sudah dipukul berulang kali oleh Nawa....
... Dia tidak mengejar lagi lawannya yang lari meski dia mampu untuk mengejarnya....
... Duduk disana Nawa di anak tangga menuju gang lain dari kompleks tersebut....
... Menghampiri Nawa....
... Didepan Nawa disebelah kanannya persis berdiri sambil melihat ke arah sekitar dengan nuansa horor di area pemukiman yang terbilang sepi ini....
..."Kau tidak apa-apa. Kupikir lebih baik aku membantumu" kata Namir....
..."Aku belum sekarat. Kau jangan khawatir" kata Nawa....
__ADS_1
... Dia menghapus darah yang keluar dari mulutnya akibat perkelahian yang baru saja berakhir itu....
..."Sepertinya lebih baik kita pergi segera dari tempat ini" kata Namir....
..."Kau pergi lebih dulu nanti aku menyusul" kata Nawa....
..."Jika itu kulakukan itu sudah terjadi sejak tadi" kata Namir....
... Jujur dan serius....
..."Di momen ini tak ada yang namanya setia kawan dan kau sadar akan hal itu" kata Nawa....
..."Tapi, … sudahlah" kata Nawa....
... Dia dan mantra yang sudah diucapkan oleh lisannya itu....
... "Reax"...
... Dia dengan mantra yang sudah ia baca sejak perkelahiannya dengan lawannya yang sudah pergi barusan melarikan diri berhasil membuat seseorang kembali sadar dengan mantra pelenyap nyawa seseorang yang sudah diterima beberapa menit yang lalu. Sebuah mantra yang sekaligus membawanya kembali ditempat dimana dia tinggal tanpa harus remaja laki-laki ini mengantarnya langsung tanpa harus dia tahu dimana dia tinggal bekerja sesuai keinginan korbannya dimana dia harus kembali dengan selamat....
... Wanita di sebelahnya sudah pergi....
..."Kau ingin dikeluarkan lagi dari sekolahmu" kata Namir....
... Kesal....
... Namir akan pergi dengan helm yang masih dipakai di kepala lalu menyalakan mesin motornya kembali....
..."Jangan pernah percaya. Aku adalah sahabatmu" kata Namir....
... Dia juga kembali untuk mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari tempat duduknya yang ditinggalkan....
... Hoshie....
... Dia belum ingin pergi memandang pantai dengan ombak yang terus menyentuh kakinya itu dingin ia tahu sama halnya dirinya kini menatap alam semesta yang sedang menghukumnya secara bertubi-tubi belum berhenti setelah kematian adiknya hingga saat ini siapa pelakunya hal itu saja sudah membuat hatinya terluka ditambah lagi kisah masa lalunya kini hadir kembali menuntut untuk dirinya bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat kepada orang lain yang sudah tidak ingin berurusan dengan dirinya lagi bahkan menatapnya saja sudah tak ingin....
..."Apakah aku juga akan pergi dalam kondisi seperti ini?" tanya Hoshie....
..."Hidupku sunggu sia-sia dan melelahkan sekali" kata Hoshie....
..."Apakah aku juga akan melanjutkan ini. Jika aku pergi apakah dia akan baik-baik saja" kata Hoshie....
... Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan helaan nafas panjang lalu melepas kedua tangannya dari wajahnya itu belum juga reda rasa sakit itu mengalir dengan mudah didalam hati dan pikirannya....
... Menghakimi diri sendiri....
..."Hukuman ini sangat pantas untukku" kata Hoshie....
..."Aku tahu aku sangatlah berdosa. Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin dilahirkan menjadi seperti ini" kata Hoshie....
... Beberapa langkah lagi sebuah jalan bisa dipilih untuknya sebelum hari menyedihkan itu tiba berada kini dalam keraguan diantara banyak pilihan yang bisa ia pilih. Apakah dia ingin melakukan cara termudah baginya semua berarti sama apapun yang dia pilih dia ragu akan semua jalan yang dia pilih seperti tak ada lagi yang ingin dilakukan dalam hidup semua tak berarti semua tentang dirinya sekalipun ia bercermin bahwa dia akan baik-baik saja....
..."Aku ragu dengan apa yang ku pilih" kata Hoshie....
..."Aku tidak bisa bergerak terasa tak bernyawa bahkan ketika aku bisa bernafas" kata Hoshie....
..."Siapa yang akan ku hakimi. Aku memang sangat memuakkan" kata Hoshie....
... Di tempat kosnya Dashie....
... Pukul sebelas lebih dua puluh tujuh menit....
... Gadis ini masih tidak dalam mata terbuka sepenuhnya mengambil ponsel lalu melihat layar ponsel untuk mencari kontak nama seseorang bolak-balik beberapa kali lalu detik selanjutnya tertidur lagi sebenarnya lalu terbangun lagi....
... Mencari kontak nama dari dalam ponsel dengan kondisi mata yang sama belum sempurna....
... Menelepon seseorang....
..."Sayang!" panggil Dashie. ...
... Dia yang ditelfon kaget....
... Hening....
... Diam dia memilih untuk mendengar lagi apa yang akan dikatakan oleh gadis yang meneleponnya ini....
... Dashie dengan mata tertutup tapi sedikit kesadaran baru terbangun dari tidurnya....
..."Sayang. Aku tidak mau kau pergi, kau dengar itu" kata Dashie....
... Tiba-tiba sedih....
..."Aku sedih. Jika tidak bisa melihatmu jadi jangan pergi" kata Dashie....
..."Sayangku. Aku mencintaimu" kata Dashie....
..."Aku juga mencintaimu" kata Hoshie....
..."Aku sayang Hoshie" kata Dashie....
..."Aku ingin segera memelukmu" kata Hoshie....
... Hoshie memandang luasnya laut di dekat pasir pantai yang ia pijaki dia dengan sedikit air mata kesedihan dengan selebihnya adalah kebahagiaan yang ia rasakan dengan mendengar suara seseorang yang dia sayang selama ini....
... Sambungan obrolan mereka belum terputus tapi ia sadar kalau seseorang sedang terbangun di hampir tengah malam hanya untuk mengajak bicara dengannya langsung dalam kondisi belum sempurna membuka kedua matanya....
... Hoshie memutuskan untuk pergi meninggalkan salah satu pilihan yang akan dia pilih kembali dengan pilihan hidupnya yang lain....
__ADS_1
... Jejak langkahnya tersapu ombak perlahan hilang....
... ...