Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 163: Melihat lebih dekat.


__ADS_3

...Chapter 163: Melihat lebih dekat....


... Memberi jeda waktu....


... Dia yang tidak bisa menghapus ingatan seseorang yang baru saja mendapatkan penyerangan dari salah satu bangsa Blacwhe yang sudah dihancurkan oleh salah satu bangsa Xoco yang menghilang ketika Jarrel datang lalu menghubungi gadis remaja ini mengajaknya bicara dari luar jendela kamar masih berada di bagian dalam kamarnya sendiri....


..."Kau yakin ingin terus melanjutkan ini?" tanya Jarrel....


..."Kau yakin?" tanya Jarrel....


... Meyakinkan....


..."Ini akan sangat menakutkan dan mengerikan jika kau memilih untuk meneruskannya" kata Jarrel....


..."Ya. Aku akan mencobanya" kata Po Sansa....


..."Tak ada pengulangan untuk ini. Kau akan mempertaruhkan nyawamu sendiri" kata Jarrel....


..."Aku akan melakukannya" kata Po Sansa....


... Dia yang belum mengalami sendiri bagaimana penyiksaan yang bisa dilakukan oleh salah satu bangsa Blacwhe yang Jarrel maksud adalah kekasihnya sendiri yaitu Nawa....


... Hari terakhir Nawa bisa melihat kekasihnya....


... Di bandara....


..."Jangan sedih. Ini bukan salahmu, dia memang bukan ditakdirkan untukmu" kata Jarrel....


... Dia dengan kopernya yang ia bawa berganti sudah dengan koper yang dibawa oleh Jarrel....


..."Aku tetap sedih. Tapi, aku yakin dengan pilihan ku ini" kata Po Sansa....


... Memberikan semangat....


..."Hiduplah di dunia yang membuatmu berharga" kata Jarrel....


... Dia dan senyum mempesona membalut kesedihan yang ia pendam sendiri....


... Po Sansa pergi dengan kopernya sendiri yang berwarna hitam....


... Dia melihat gadis remaja itu semakin pergi bukan hanya Jarrel yang melihatnya pergi melainkan juga Oryn yang bertugas menggantikan misi dari sahabatnya itu, Nora....


... Pukul sebelas lebih empat puluh lima menit....


... Ghazi....


... Dia membuka mata kembali menatap dinding yang berjarak sepuluh sentimeter di depannya sendiri....


... Ingin bertanya kepada siapa ia takut sendirian itulah yang ia rasakan....


... Ingin bercerita kepada siapa, ia juga takut untuk memberi rasa kepercayaan diri kepada orang lain....


... Ingin sekali menangis tapi ia terlalu lelah jika orang lain akan terus menghinanya karena terlalu lemah mental yang ia punya....


... Ia takut dan takut dengan akhir yang sama sulit untuk mempercayai orang lain....


... Ia takut orang lain akan memanfaatkan kesedihan yang sedang ia jalani sendiri mungkin itu karena hidupnya terlalu banyak diisi dengan hal-hal yang terlalu unik tentang mereka yang masuk dengan mudah dibagian hidupnya meski ia tak ingin tetap saja ia harus terima lalu berpikir sendiri lagi bagaimana cara keluar dari hal yang membuat jalan hidupnya selalu berwarna....


... Ia takut untuk mengatakan kalau dia sedang sedih. Sebuah salah satu kebiasaan manusia yang seringkali disembunyikan dari banyak orang lain....


..."Apa itu sebuah hal jahat?" tanya Ghazi....


... Malam yang semakin terlewati tapi tidak rasa sayangnya kepada orang lain yang kini sudah meninggalkan dirinya tanpa sebuah alasan mengapa orang itu tega melakukan itu kepadanya....


..."Aku masih belum ingin percaya semua ini" kata Ghazi....


..."Entah mengapa aku tidak bisa membencimu?" tanya Ghazi....


..."Apakah semua baik-baik saja. Aku hanya ingin menanyakan hal ini?" tanya Ghazi....


... Dia tak mungkin untuk menelepon nomor ponsel seseorang untuk meminta sebuah penjelasan tentang alasan kenapa mereka bisa putus semudah ini....


... Dia tak merasa diantara mereka terjadi hal yang menyebabkan perseteruan atau perselisihan yang menyebabkan mereka berpisah. Dia masih mencari alasan mengapa hubungan percintaan mereka bisa berakhir dengan seperti ini....


... Sedikit curiga....


..."Mungkinkah ini hanya sebagian dari rencana seseorang?" tanya Ghazi....


... Berpikir ulang....


..."Sudahlah. Jangan sedih lagi, kau bukan anak kecil" kata Ghazi....


... Dia kembali melanjutkan tidur lagi disebelah kiri adiknya yang juga sudah tertidur pulas sejak ia sepuluh menit berbaring di sampingnya itu....


... Pukul dua belas kurang delapan menit....


... Di tempat yang ingin didatangi oleh Hoshie....


..."Apa aku seharusnya tidak datang?" tanya Hoshie....


... Fable sedang membuka sendiri tutup botol bir yang mereka pesan lalu menuangkan ke dalam tiga gelas secara bergantian dengan volume yang terlihat penuh hampir satu gelas bahkan bisa dibilang tumpah meluber dari dalam gelas....


... Dia yang juga ada disana....


..."Ambil ini" kata Fable....


... Hoshie menerima satu gelas penuh bir berukuran besar tapi belum ia minum segera....


... Merasa aneh....


..."Kau tidak minum?" tanya Poet....


... Hoshie masih tetap menatap satu gelas minuman memabukkan ditangan kanannya itu lalu ke arah lain memandang sekitar klub dengan suasana sangat ramai....


... Musik sangat keras dengan banyak orang yang menari di sekitar mereka yang dikelilingi oleh banyak para sosok yang sempurna seperti untuk perempuan dan para pria yang terlihat dengan gaya keren menurut standar tersendiri....


... Kembali melihat satu gelas bir yang ada di tangan ingin sekali ia teguk tapi ingat lagi apa yang dikatakan oleh seseorang....


..."Minum itu maka kau akan langsung mati!" kata Nawa....


... Dia dengan segelas bir di tangan memperhatikan dengan tenangnya orang lain menikmati satu gelas lebih dari itu menambahkan lagi beberapa gelas sudah ia lihat meminumnya dengan mudah tanpa sebuah masalah....


..."Untuk apa aku datang ke tempat seperti ini lagi?" tanya Hoshie....


... Melihat ke sekitarnya lagi belum ingin pergi....

__ADS_1


..."Aku jadi merindukan seseorang" kata Hoshie....


... Dia dan teman-temannya yang sengaja mendatangkan banyak wanita yang berpenampilan seperti peri yang berasal dari klub yang mereka datangi itu....


... Hoshie merasa ada yang aneh dengan dirinya yang semakin bertambah aneh tidak ingin menari bersama dengan mereka para wanita yang saat ini sedang menari bersama Fable dan Poet diatas lampu disko bersama para pengunjung klub lainnya....


..."Tidak mungkin aku ajak Dashie kemari. Aku bisa dijambak olehnya" kata Hoshie....


... Dia kesal dengan dirinya sendiri....


..."Aku ingin minum dan dia" kata Hoshie....


... Dia dengan satu gelas bir berukuran besar tanpa sebuah kata yang diucapkan tanpa sadar saat ini ia sedang menjadi seorang pemikir yang mendalam dengan di antara beberapa wanita yang ada di kedua sisinya tanpa ingin diajak bicara tak ada interaksi yang dilakukan sejak mereka datang menyambut Hoshie dan kedua temannya yang sedang menari....


... Selesai menjadi pemikir yang mendalam menaruh gelas berisi bir yang diberikan oleh Fable diatas meja....


... Dia yang sedang gila dengan perubahan yang memaksanya harus berubah tanpa harus minum bir yang ada di meja panjang di depan sofa merah gelap panjang yang ia duduki bersama dua wanita di sisi kanan dan tiga wanita di sisi kirinya yang tak boleh mendekati dirinya meski dalam satu sofa panjang yang sama....


... Hoshie bersandar sambil melihat waktu di layar ponsel yang menunjukan pukul satu lebih dua puluh menit....


... Melihat ke arah kanan dan kirinya lagi....


..."Perlukah aku mengusir mereka dari sini" kata Hoshie....


..."Ahhh. Cara berpikirku terlalu kasar" kata Hoshie....


... Dia kembali melihat layar ponsel sambil memainkan sebuah game online....


... Fable datang dengan dua wanita di sisi kanan dan kirinya....


... Dia kembali menghampiri salah satu sahabatnya itu....


... Duduk bersandar di sebelah kanan Hoshie....


... Melirik ke arah kiri lalu senyum meledek datang kepada pria yang sibuk dengan layar ponselnya sendiri....


..."Kau membiarkan mereka semua" kata Fable....


... Mengangguk cepat dengan masih dengan layar ponsel yang ia lihat....


..."Lalu untuk apa kau membawa mereka datang kemari?" tanya Fable....


... Dia bingung sendiri....


..."Entahlah" jawab Hoshie....


... Dia yang ingin usil kepada Hoshie....


..."Apa aku harus mengundang gadis itu?" tanya Fable....


... Dia belum paham dengan siapa orang yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu....


..."Siapa?" tanya Hoshie....


..."Nama gadis itu Dashie kan?" tanya Fable....


... Berhenti bermain game sejenak lalu melihat Fable dengan sedikit terusik jelas ekspresi yang ditunjukkan oleh Hoshie....


..."Kau ingin dia tidak mau bicara denganku" kata Hoshie....


... Menunjukkan kontak nomor ponsel Dashie yang ada di dalam ponselnya kepada Hoshie....


..."Ini nomornya kan?" tanya Fable....


... Dia melihat barisan angka di ponsel yang ia ingat itu adalah benar nomor ponsel dari Dashie....


... Merebut ponsel Fable dengan cepat lalu segera menghapus nomor ponsel Dashie dari dalam daftar kontak nama ponsel sahabatnya itu....


... Sudah dengan urusannya dengan ponsel Fable....


..."Ini" kata Hoshie....


... Ponsel Fable dikembalikan kepada pemiliknya lalu Hoshie kembali bermain game dengan ponselnya lagi....


... Dia tertawa sedikit tidak percaya dengan apa yang ia lihat sebagai perubahan yang tidak biasa oleh seseorang yang terkenal bukanlah orang yang seperti yang sedang ditunjukkan oleh Hoshie....


... Dia semakin usil....


... Menunjuk ke arah salah satu wanita yang bergaun putih yang sedang menari di antara Poet dan dua wanita yang sedang menari bersama asik bersama....


..."Lihat. Dia sangat seksi" kata Fable....


... Hoshie melihat ke arah mereka....


..."Ya. Aku tahu" kata Hoshie....


... Keusilannya belum berakhir....


..."Sungguh kau tidak tertarik?" tanya Fable....


... Menggelengkan kepalanya dengan tegas sambil melihat perangkap sahabatnya itu....


... Dia tidak tahu kalau dia dan dirinya sedang bertarung hebat agar tidak tergoda dengan apa yang sedang membuat pendiriannya goyah untuk sekali lagi dan sahabatnya yang tahu kalau dia adalah orang yang tidak mudah melepaskan salah satu hobinya ini....


..."Kau yakin?" tanya Fable....


... Dia yang berusaha tetap dengan penalaran yang ia teguhkan dalam diri....


... Tajam serius sorot mata sahabatnya yang lebih memilih bermain ponsel....


..."Ya" jawab Hoshie....


... Fable melihat ke sekitar melihat para gadis yang tadi duduk disebelah kedua sisi Hoshie yang lebih sibuk dengan aktivitas mereka terlihat tanpa interaksi dengan Hoshie sejak mereka datang hingga kini....


... Salah satu dari gadis di sofa yang sama menuangkan bir di dalam gelas yang dipegang oleh Fable....


... ...


... Bir dalam gelas yang ia pegang sudah hampir penuh terisi lalu ia mengangkatnya lalu meneguk dengan dua tegukan sekaligus....


... Merasa ada yang aneh....


..."Dia juga tidak minum sejak tadi" kata Fable....


... Senyum keheranan terhadap salah satu sahabatnya ini....

__ADS_1


... Musik keras dengan hentakan kaki mengikuti lagu yang diputar dengan kolaborasi DJ yang menjadi bintang tamu malam ini di klub tersebut....


... Memiliki sebuah ide yang tidak jauh berbeda dari keusilan sahabatnya sendiri yaitu Fable terhadap Hoshie....


..."Dia sedang di klub sekarang" kata Poet....


... Terdengar tidak terkejut sama sekali....


..."Benarkah?" tanya Dashie....


... Melihat ke arah Hoshie memperlihatkan pria yang selalu hampir sehari-hari mengikutinya kemanapun ia pergi....


... Gambar bergerak itu memperlihatkan seseorang diantara para gadis juga minuman diatas meja....


..."Bagaimana?" tanya Poet....


... Dia yang masih ngantuk ingin tidur lagi....


..."Terserah dia saja. Aku tidak punya hak untuk mengubah karakter orang lain" kata Dashie....


... Ponselnya diputus secara sepihak oleh Dashie....


... Di dalam kamarnya yang disana masih ada Ghazi yang belum tidur....


... Adiknya langsung tidur lagi setelah melakukan komunikasi dengan seseorang yang ia pernah dengar suara yang baru saja menelpon adiknya itu....


..."Apa tadi itu Poet?" tanya Ghazi....


... Di klub malam....


... Hoshie....


... Hoshie yang mendengar percakapan Poet dan Dashie barusan tak merespon lebih....


..."Apa mereka tidak punya pekerjaan selain mengganggu ku?" tanya Hoshie....


... Dia yang sebenarnya khawatir kalau orang yang ia sayang bakalan langsung marah kalau tahu dia ada di sebuah klub malam....


... Dia jadi senyum-senyum sendiri setelah ia tidak dimarahi oleh Dashie....


... Fable yang tidak tahan dengan kegembiraan orang lain....


..."Kau senang?" tanya Fable....


..."Bagaimana kalau dia berjodoh dengan ku?" tanya Fable....


... Dia datar menjawab tidak terima....


..."Tidak mungkin!" kata Hoshie....


... Poet ada disebelah kiri Hoshie duduk di sofa yang sama....


..."Mungkin saja" kata Poet....


... Dia tidak mau takdirnya diatur oleh siapapun termasuk oleh kedua sahabatnya itu....


..."Aku selalu mencintai Dashie meski seluruh dunia membencinya" kata Hoshie....


... Tidak percaya seperti biasa....


..."GOMBAL!" kata Poet....


... Dia seperti anak kecil ketika butuh validasi....


..."Sungguh. Aku nggak bohong" kata Hoshie....


... Mereka berdua yang baru pulang kerja setelah lembur lalu mengajak sahabat mereka untuk datang ke klub....


..."Kau belum masuk ke dunia kerja. Jangan membuat janji apapun" kata Poet....


...Menambahkan....


..."Benar. Di luar sana masih banyak wanita cantik. Kau hanya akan membuat hati seseorang sedih" kata Fable....


... Hoshie mendengarkan setiap kata yang keluar dari kedua sahabatnya itu yang terlihat sudah mabuk....


... Dia dengan responnya atas nasihat yang ia terima baru saja....


..."Untung saja mereka sedang mabuk. Bayangkan kalau tidak" kata Hoshie....


..."Apa bekerja itu sangat melelahkan?" tanya Hoshie....


... Beberapa kendaraan terdengar dari atas sebuah balkon bagian dalam sebuah apartemen yang pernah ia tempati bersama orang yang sudah pergi lebih awal....


... Hening dengan angin datang mengisi udara yang cukup dingin di pagi pukul dua lebih tiga puluh lima menit....


... Kedua sahabatnya sudah tertidur setelah mabuk berada diatas tempat tidur terlihat dari arah Hoshie sedang ada di bagian dalam sebuah balkon....


..."Insomnia ku datang lagi" kata Hoshie....


... Dia dengan susu hangat tanpa gula ia buat tinggal separuh gelas ia taruh diatas meja didekatnya sebelah kiri dengan jarak sekitar dua meter dari tempatnya berdiri berbalik lagi melihat pemandangan kota di antara sungai yang melewati setiap baris gedung yang dibangun di setiap sisi....


... Waktu terus bergerak dan ia masih disana belum pergi....


... Hoshie melihat dari arahnya sebuah gedung dengan beberapa lantai lalu rooftop gedung yang terlihat masih disana kedua orang yang diperhatikan sejak pukul lima pagi....


..."Apa seperti ini menjadi orang biasa?" tanya Ghazi....


... Dia tersenyum sambil minum air hangat dari dalam gelas....


..."Menyedihkan bukan" kata Dashie....


... Meneguk perlahan air hangat didalam gelas duduk disana disebuah bangku kayu panjang sambil menunggu matahari terbit....


... Melihat ke arah adiknya yang sedang minum....


..."Kau menyindirku?" tanya Ghazi....


..."Aku memang bukan siapa-siapa" kata Dashie....


... Dia salah sangka lalu sadar kalau Dashie tidak menyindir kakaknya itu....


... Melihat lebih dekat....


..."Kau sedang membicarakan Hoshie?" tanya Ghazi....

__ADS_1


__ADS_2