
Chapter 19: Tidak pergi jauh.
Ruang di setiap rumah kini hanya tertinggal bayangan kenangan dari seorang sahabat.
"Dia belum kembali" kata Dashie.
Menutup pintu rumah dari luar mengunci kemudian pergi.
Pergi berjalan di pinggir jalan dibawah diantara bunga bunga kertas putih yang berjatuhan di tanah tertiup angin ikut terbawa dengan halus datangnya angin.
Dashie sedang sedih karena sudah satu minggu dia tidak bertemu dengan sahabatnya yang entah kemana perginya lagi tak ada pesan apapun yang ia terima juga tidak berkata akan pergi kemana.
Tiba tiba menghilang begitu saja.
Kini dia sudah didepan toko dengan pegawai baru wanita yang tidak ia kenal.
Di samping tiang lampu jalan di sebelah kanan menunggu siapa, dia juga tidak tahu.
"Kau akan pergi kemana lagi?" tanya seseorang dari dalam ponsel.
Belum mengakhiri percakapan dari dalam ponsel yang ia masukkan kedalam saku jaket sebelah kiri.
Menunggu bus yang delapan menit lagi akan datang di tempat perhentian bus seperti biasa di sekitar depan gang menuju rumah.
Ved sudah satu minggu juga mencari dimana keberadaan dari Callie yang belum ditemukan dari melaporkan kehilangan seseorang ke pihak kepolisian sampai menyebarkan informasi non digital hingga secara digital.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Jarrel.
Dia sedang menengadah ke langit yang sangat cerah menutup sebagian wajahnya menghindar dari sinar matahari hangat tempat yang sama ketika dia menemukan Callie untuk pertama kali dengan payung hitam yang sama disaat dia terakhir kali bertemu dengan gadis itu.
Orang orang datang dan pergi melewati tempat dimana Jarrel berdiri menatap langit yang cerah waktu terus berlalu.
Berharap lagi.
"Bisakah aku tidak setakut itu lagi" kata Jarrel.
"Seseorang tidak sama dengan orang orang yang pergi meninggalkanku kan?" tanya Jarrel.
"Berikan keyakinan untukku agar aku tidak jatuh kembali di tempat sedih itu lagi" kata Jarrel.
Callie membawa satu es krim orange bergandengan bersama dengan kekasihnya yang kini entah kemana juga pergi tanpa jejak mereka juga mencari seakan tak memberi kesempatan untuk datang di kehidupan mereka lagi.
"Kau rupanya suka bermain petak umpet" kata Jarrel.
Menatap sebuah toko bunga.
Dia mengingat juga di tempat ini melihat Callie bersama kekasihnya menatap depan jendela kaca tersenyum bahagia.
Dia masih mengingat hari itu senyum lebar menawan Callie kepada Veer belum ada tanda tanda kesedihan yang ditunjukkan dari wajah Gadis ini.
Melewati toko bunga lalu berlanjut berjalan lagi melewati toko toko lain kemudian dia mengingat lagi Callie sedang merangkul lengan kiri Veer saling menatap satu sama lain.
Jarrel mengikuti kenangan itu mengikuti kemana mereka pergi selanjutnya.
Disana juga ia mengingat Veer memeluk Callie penuh cinta dan kasih sayang di sebuah wilayah luas yang terbuka untuk umum dengan tanah berumput hijau lalu saling mengejar dengan suasana musim gugur diantara orang orang yang juga datang untuk sekedar melihat dedaunan jatuh dari atas pepohonan disekitar tanah luas berumput hijau.
Dia menganggap mereka adalah sepasang pasangan bahagia tanpa sebuah masalah hingga suatu hari Jarrel menemukan sebuah fakta dari wajah seorang gadis yang baik baik saja berubah seketika dengan luka dari berbagai bagian wajah tangan serta bagian anggota tubuhnya yang lain berlari dengan sekuat kuatnya menghindar dari seseorang tanpa peduli dengan hal hal lain yang dia pedulikan hanya bagaimana dia bisa selamat dan berhasil pergi dari kejaran pria yang dulu menjadi kekasihnya yang kini telah merubah segala bentuk fisiknya menjadi wajah yang berbeda namun dengan sifat dan karakter yang sama dan belum berubah.
Menyedihkan kabarnya saat ini dia belum kembali atau lebih parahnya lagi dia mungkin tidak akan kembali.
Terhenti menatap tanah luas berumput hijau dibawah pepohonan rindang.
"Aku hanya ingin menyapa selamat pagi lagi" kata Jarrel.
"Selamat siang, Callie" kata Jarrel.
"I am sorry" kata Jarrel.
Duduk diatas rumput hijau tertunduk.
Bertanya kepada Callie.
"Kau akan kembali Callie?" tanya Jarrel.
"I am sorry" kata Jarrel.
"Seharusnya aku menunggumu sampai masuk kedalam rumah" kata Jarrel.
Sedangkan baru saja Dashie datang di bagian informasi kemahasiswaan tempat Callie berkuliah dengan kabar yang mengejutkan yang baru saja dia dapat dari pihak kampus.
Dashie duduk di kursi sebuah taman kampus menahan air mata jatuh setelah menerima kabar itu.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Dashie.
"Kenapa semua terdengar misterius untukku?" tanya Dashie.
Telapak tangan sebelah kanan menghapus air mata yang baru saja jatuh mengenai pipi sebelah kiri.
"Kesedihan apa yang membuatmu sampai tidak mau berbagi cerita denganku" kata Dashie.
Menengadah ke langit agar tidak banyak lagi air mata yang jatuh karena kesedihan ini.
Dia sudah tidak mengikuti perkuliahan hampir dua tahun dan hanya masuk di awal awal semester pertama lalu setelah itu tidak ada kabar lagi yang diterima oleh pihak kampus tempat Callie berkuliah.
Sesuatu yang tidak mungkin hal semacam ini bisa terjadi kepada Callie dengan semangat yang tinggi dalam meraih pendidikan juga dengan kemampuan yang ia miliki yang juga minim hambatan bagi seorang Callie dari latar belakang yang dimiliki oleh Sahabatnya.
"Pantas saja. Dia tidak bisa ku hubungi selama ini" kata Dashie.
"Meski aku tidak tahu apa apa tentang masalahmu tapi sungguh maafkan aku" kata Dashie.
"Kau pasti saat itu sedang sangat sedih dan membutuhkan orang lain untuk menolongmu" kata Dashie.
"Dan aku hidup dengan duniaku sendiri" kata Dashie.
Mendengar sebuah teriakan dari suatu tempat.
Awalnya tidak begitu percaya ada sebuah teriakan lagi di lingkungan kampus yang sedang libur semester ini.
Penasaran lalu mencari menengok ke kanan dan ke kiri.
Dia belum menemukan apa yang sedang ia cari.
Suara itu kembali menghilang.
Dashie duduk disana bersandar di kursi panjang taman.
Istirahat sejenak.
Membuka ponsel dan membaca pesan lalu membalasnya.
Terdiam lagi.
Suara itu datang lagi dan gadis ini bertambah penasaran menengok ke kanan dan ke kiri lalu menengok ke bagian belakang.
Tidak ada hal aneh sama sekali.
Masih penasaran.
__ADS_1
"Mengapa suata itu datang lagi?" tanya Dashie.
Mendengar suara itu semakin dekat terdengar.
"Suara perutku?" tanya Dashie.
Mengakui.
"Ternyata aku lapar" kata Dashie.
Sudah pukul satu siang dia mencari dimana Callie berada berkeliling kota dan sejak pagi tidak sarapan hanya meminum dua kotak susu tanpa gula sebelum keluar rumah untuk menempuh perjalanan yang dia kira belum berakhir.
Kepada diri sendiri.
"Dia bilang aku harus menunggu disini" kata Dashie.
Menelepon nomor ponsel Ved.
Menunggu telepon tersambung.
Nomor telepon terdengar aktif dan Dashie masih menunggu Ved menjawab panggilan darinya.
Telepon tersambung.
"Ved?" tanya Dashie.
"Ya" kata Ved.
Menjelaskan.
"Setelah ini aku langsung mau pulang" kata Dashie.
Dashie sudah berdiri dari tempat duduknya sekarang akan segera meninggalkan kampus Callie.
Mencegah Dashie untuk pergi dari posisi lokasinya siap pergi.
"Kamu ada di kampus Callie kan?" tanya Ved.
"Ya. Kenapa?" tanya Dashie.
"Aku segera datang. Tunggu" kata Ved.
Spontan.
"Aku mau langsung cari bus saja. Jangan menjemputku" kata Dashie.
Penolakan keras yang tidak diterima.
"Aku sudah mengambil arah ke arah dimana kamu ada disana" kata Ved.
"Itu terdengar merepotkan" kata Dashie.
Menjawab penuh gembira.
"Tidak. Tidak sama sekali" kata Ved.
Memaksa untuk menunggu.
"Tunggu aku" kata Ved.
Menunggu Ved datang di taman kampus.
Berpikir kenapa CCTV di sekitar rumah tidak bisa menampilkan gambar bergerak kemana Callie pergi.
"Semua CCTV juga menggunakan teknologi yang cukup bagus tapi kenapa … " kata Dashie.
Menunggu.
Suara suara teriakan dari dalam perut belum berhenti.
Dia mulai galau.
"Makan atau tidak" kata Dashie.
Bertekad.
"Kuatkan dirimu" kata Dashie.
Sepuluh menit kemudian.
Ved datang menyapa.
"Hei" sapa Ved.
Membawa makan siang tidak, dia tidak membawa makan siang.
Berada didepan banyak kedai kedai dan restoran serta kafe dengan cita rasa Asia tersedia di depan mereka.
"Pilih yang mana?" tanya Ved.
Menjawab jujur.
"Aku sedang diet" kata Dashie.
Menawarkan ingin makan dimana.
Melirik dengan penuh keyakinan.
"Aku akan makan dan kamu akan menonton" kata Ved.
"Ya" jawab Dashie.
Ved sedang di depan sebuah kedai memesan menu makan siang.
Sambil minum jus alpukat yang tadi ia beli lalu dia berlatih membuat CV dari dalam ponsel untuk berjaga jaga barangkali dia harus mencari pekerjaan lagi.
Sepuluh menit kemudian seseorang mengetuk kaca jendela dari sisi kanan kursi baris pertama sebelah kursi pengemudi.
Ved sudah memberitahu sebelumnya bahwa akan datang seseorang yang menggantikannya mengemudi.
Membuka kaca jendela.
Menyapa semangat.
"Hello. Dashie" kata teman Dashie.
Dashie membuka pintu mobil keluar dari dalam mobil membawa satu cup jus alpukat untuk teman sekolah menengah pertamanya itu.
Berterima kasih.
"Thank you!" kata teman Dashie.
Antusias.
"Nora!" kata Dashie.
"Ya. Kenapa?" tanya Nora.
Memuji lagi sejak dulu ketika masih sekolah bersama.
Menatap dengan kagum.
__ADS_1
"Bidadari ini" kata Dashie.
Tersenyum senang setelah dipuji lalu segera dalam mode biasa saja dan tidak terguncang.
Ved datang dengan membawa makan siang dan camilan sehat untuk Dashie.
Cuaca sangat cerah hari ini lalu mengajak masuk kedalam mobil untuk makan siang bersama.
Membagikan makanan yang ia beli barusan kepada kedua temannya.
Ved berada di kursi baris kedua menikmati makan siang.
Nora menggoda Dashie yang sedang berjuang untuk diet hari ini.
"Perutmu sudah selangsing itu dan kau masih ingin diet" kata Nora.
Percaya diri.
"Of course" kata Dashie.
Mencoba ikut dalam obrolan antara dua gadis di depannya.
Memakan daging bumbu kecap.
"Apa aku juga harus diet?" tanya Ved.
Kompak menjawab dan berbicara cukup ramai ceria.
"Tidak!" kata kedua gadis di depannya.
Ved minum air mineral dari dalam botol.
Sesudah minum air mineral lalu segera membela diri.
"Sepertinya aku penjahatnya disini" kata Ved.
Mereka berdua tidak peduli dengan komentar Ved tentang mereka lalu setelah merasa dicuekin Ved kembali melanjutkan makan siang dengan gayanya sendiri.
"Aku lupa mereka sudah lama tidak bertemu" kata Ved.
Perjalanan pulang Nora mengambil alih kemudi mobil.
Tenang.
Nora akan menaikan suhu AC menjadi lebih dingin di dalam mobil.
Sambil melihat ke arah GPS yang terpasang di depan sebelah kanan Nora mengemudi sebuah kalimat keluar dari lisan Ved, dan dia berkata "Dashie akan kedinginan jika suhu AC bertambah dingin".
Senyum usil Nora kembali hadir mewarnai suasana.
"Uuuuuuuhhhh. Sebentar lagi" kata Nora.
Menjadi Miss perdamaian.
"Dia memang selalu baik bukan hanya denganku" kata Nora.
"Setuju seratus persen" kata Nora.
Ved menyibukkan diri lagi dengan tablet di tangannya.
Menyetel musik penuh semangat.
Bernyanyi bersama mengikuti lirik lagu yang diputar dari ponsel Dashie.
Mengobrol mendiskusikan tentang mereka berdua.
"Ku dengar kau bekerja sebagai sales promotion girl" kata Dashie.
"Kata Ved?" tanya Nora.
Langsung lanjut bercerita.
"Hari ini hari terakhirku bekerja" kata Nora.
"Aku baru saja diterima sebagai mahasiswa baru" kata Nora.
Penasaran dan menyimak dengan serius penjelasan dari temannya ini.
"Congratulations!" kata Dashie.
"Thank you" jawab Nora.
Bercerita lagi.
"Aku akan bekerja di bengkel Ved mulai besok" kata Nora.
"Kita akan selalu bertemu" kata Dashie.
"Tentu. Aku dengar dari Ved, kau bekerja di bidang jasa di sebelah tempat usahanya" kata Nora.
"Ya" kata Dashie.
"Aku mengambil tawaran pekerjaan dari Ved karena cukup dekat dengan tempat kuliah kita" kata Nora.
Menebak.
"Really. Berarti kita akan satu kampus" kata Dashie.
Nora mengangguk anggun kepada Dashie.
Perjalanan membutuhkan beberapa jam lagi menuju arah rumah.
Ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh ketiga anak anak muda ini.
Ved memakan keripik singkong rasa rumput laut.
Dashie menyuapi Nora dengan keripik kentang rasa ayam bakar.
Dashie memakan yogurt dengan buah yang tadi dibelikan oleh Ved bersamaan ketika membeli makan siang di sebuah minimarket.
Tiga puluh menit berlalu dan temannya yang ada di sebelahnya tidur di sebelah kanan disaat Nora menyetir mobil.
Ved sibuk dengan pekerjaan.
Lima menit kemudian Dashie terbangun setelah itu waktu berjalan sepuluh menit lagi dan Ved kini yang tertidur dengan pulas di kursi belakang.
Membuka kaca jendela sedikit angin masuk mendinginkan hati.
Dashie melihat ke arah luar mobil yang sedang berjalan melewati pertanian dan perkebunan hijau dengan rumah rumah tradisional yang masih dipertahankan oleh penduduk setempat.
Perjalanan yang berlangsung sekitar tiga jam telah mereka lalui tiba di depan rumah Jarrel lalu mobil diparkirkan di depan toko lilin aromaterapi semua turun keluar dari dalam mobil masih terlihat tak ada apapun yang membuat Nora curiga bahwa telah terjadi sesuatu.
Nora dengan tas ransel hijau pergi memisahkan diri untuk pergi ke suatu tempat lagi untuk sebuah urusan pribadi.
Waktu yang sangat pas untuk Nora, bus tiba di tempat perhentian bus ketika dia tiba di tempat itu lalu dia langsung melambaikan salam perpisahan kepada kedua teman sekolahnya dengan balasan yang sama kedua temannya kepada Nora melambaikan tangan perpisahan kepada Nora.
Dashie kembali dengan perasaan itu berjalan menuju arah pulang.
Ved ada disebelah kanan gadis ini dengan menyeka air matanya.
Menatap Ved.
__ADS_1
"Dia tidak pergi jauh kan?" tanya Dashie.