Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 15: Selera Humor.


__ADS_3

Chapter 15: Selera Humor.


 Tepat darah merembes jatuh dari baju putih Dashie bagian tubuhnya ikut terluka jauh lebih banyak mengeluarkan darah dari kedua tangan yang menggenggam erat senjata senjata tajam milik sahabatnya yang sedang menarik kembali dari genggaman tangan Dashie. 


 Tersenyum tipis dalam keadaan mabuk membuka mata pria berkacamata minus berhasil menusuk bagian atas perut gadis di depannya.


 Mendengar suara itu lagi.


"Ved" panggil Dashie.


 Darah yang keluar dari dalam tubuh Dashie menyebar cepat di bajunya lalu senjata senjata tajam itu terlihat jelas didepan Ved.


 Tangan kiri Ved mengeluarkan senjata.


 Dia melanjutkan misi untuk menghabisi pria berkacamata minus dengan senjata milik Ved menusuk bagian atas perut pria tersebut.


 Darah datang keluar dari dalam raga membasahi lantai dibawah mereka menyusul darah milik Dashie.


 Mulutnya menjadi pucat melebihi Dashie.


 Senjata milik pria berkacamata minus masih menembus raga Dashie dan mulai retak dengan sendirinya.


 Dashie merasakan rasa dingin hadir dari dalam luka yang berdarah yang berasal dari senjata milik orang dibelakangnya.


 Gadis itu mencoba melepaskan diri dari senjata senjata yang menembus bagian atas perutnya mendekat ia pergi kepada Ved.


 Ved masih dengan tangan yang penuh dengan senjata senjata menusuk raga pria itu.


 Dashie semakin terlepaskan diri dari senjata senjata yang ada dibagian atas perutnya hingga ia benar benar tidak membuat seseorang terlalu lama melukai.


 Pria berkacamata minus menjadi jauh lebih pucat dengan darah yang banyak sekali keluar tidak hanya itu suara suara retakan terdengar dan itu berasal dari senjata senjata yang baru saja terlepas dari raga Dashie menjadi hancur dengan sendirinya setelah terlepas dari raga gadis yang ia lukai. 


 Dashie tidak berbalik ke belakang dia menatap lurus lalu menghilang dari hadapan mereka.


 Retakan retakan yang terjadi kepada bagian dari raganya terhenti ketika Dashie pergi.


  Ved menusuk jauh lebih dalam bagian atas perut pria berkacamata minus dan pria ini tertawa ketika Ved melakukan itu.


 Tertawa kecil.


"Hahahahah"


 Dia sadar bahwa nyawanya dalam bahaya sehingga dia meski dalam keadaan sekarat berpikir bagaimana terlepas dari senjata yang membuatnya terperangkap tidak bisa melarikan diri.


 Arogan.


"Aku tidak bisa mati" kata Pria berkacamata minus.


 Satu tendangan mengarah ke bagian perut Ved.


"Bugggggg!"


 Ved terdorong jauh dari hadapan pria itu dengan  senjata milik Ved terlepas dengan ikut terbawa Ved setelah ia ditendang menjauh dari raga pria berkacamata minus membentur keras dinding pembatas kamar apartemen.


 Ya benar dia langsung pergi dengan meninggalkan banyak darah di lantai tempat dia tadi terluka.


 Dashie ada diatas tempat tidur dengan kedua mata terpejam juga dengan luka yang ia dapat yang dengan sendirinya pergi tak berbekas sama sekali dengan darah yang juga ikut pergi terbawa udara yang masuk kedalam kamar.


 Ved kembali didepan rumah Dashie melihat kamar atas Dashie dengan lampu kamar yang masih menyala terang.


 Dia terbangun.


 Memeriksa bagian atas perut sendiri.


"Tidak terjadi apapun?" tanya kepada diri sendiri.


 Melihat kedua telapak tangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Dashie.


"Itu terlalu nyata untuk sebuah mimpi" kata Dashie lagi.


 Ved menelepon Dashie.


 Dering ponsel Dashie terdengar dari tempat Ved sekarang berdiri didepan rumahnya.


 Menunggu Dashie mengangkat panggilan darinya.


 Tiga detik kemudian.


"Ya. Ada apa?" tanya Dashie.


 Ved merasa lega.


"Aku mengganggumu?" tanya Ved.


"Oh, tidak. Aku juga baru bangun. Kenapa?" tanya Dashie.


"Aku hanya ingin mendengar suaramu" kata Ved.


 Baterai ponsel Dashie habis dan ponselnya mati lalu Ved melihat dari bawah rumah Dashie gadis ini akan membuka tirai jendela kamar untuk menebak apakah ada Ved didepan rumah.


 Ved tidak pergi.


 Dia membaca mantra.


"Dugas"


 Dia tetap disana menatap Dashie.


 Sudah membuka tirai jendela kamar.


"Aku kira dia ada didepan rumah" kata Dashie.


 Dashie kembali menutup tirai putih kamarnya.


 Mobil cukup muat untuk di tumpangi tiga orang penumpang.


 Jarrel sudah berada di dalam mobil derek bertiga disana mereka dengan membawa mobil Ved yang diderek menuju bengkel.


 Kedua sisi jendela mobil terbuka memberikan izin udara masuk kedalam ruang kemudi mobil.


 Tidak merasa sesak juga tidak merasa cukup ruang untuk mereka dengan mobil yang sudah tujuh menit bergerak pergi meninggalkan rumah Hoshie.


 Sedari tadi Jarrel menghitung waktu kapan dia akan sampai di rumah.


"Mungkin akan menjadi syok atau mungkin biasa saja" kata Jarrel.


 Kedua staf Ved hemat bicara dengan usaha keramah tamahan teman bos mereka ini.


 Melihat ke sisi kiri dan sisi kanan.


 Menghela nafas.


"Saya bukan orang asing. Kenapa kalian tidak banyak bicara?" tanya Jarrel.


 Kompak menjawab.


"Kita tidak akrab!" kata mereka.


"Sudah kalau jadi karyawan Ved maka jadinya seperti ini" kata Jarrel.


 Mobil derek berhenti didepan rumah Jarrel.


 Ibunya jarrel melihat kejutan ini dan Callie menutup bibirnya dengan telapak tangan kanan.

__ADS_1


 Beranjak keluar dari dalam toko.


"Meteor baru saja jatuh?" tanya Ibunya Jarrel.


 Mobil derek kembali melanjutkan perjalanan ke bengkel.


"Wajah tampanmu?" tanya Ibunya Jarrel.


 Jarrel masuk kedalam toko.


 Nona Sora dan Callie masuk kedalam toko lagi.


Jarrel duduk dan membuka laptopnya lagi.


"Kau belum jawab pertanyaan Mama" kata Nona Sora.


 


"Tak ada meteor jatuh dan … aku baik baik saja" jawab Jarrel.


 Callie mencoba menebak apa yang baru saja menimpa Jarrel dan mobil yang diderek oleh mobil derek towing barusan yang lewat didepan mereka.


 Jarrel tidak menjelaskan yang terjadi sebenarnya dan memberikan rangkaian kata yang masuk akal untuk menjelaskan hal ini agar tidak ada kecurigaan yang berlebih.


 Kembali dengan pekerjaan di depan laptop.


 Pagi pukul delapan Hoshie terbangun setelah tadi malam mabuk berat.


 Pergi ke arah dapur.


 Mengambil air putih dari dalam lemari es lalu mengingat lagi apa yang terjadi tadi malam dan bagaimana dia bisa sampai dirumah dengan selamat.


"Tidak mungkin aku berulah kan" kata Hoshie.


 Dia kembali menuju ruang tamu dan dia melihat seseorang di sudut rumahnya yang lain membuka mata lebih jelas Pria berkacamata minus ada disana tersungkur dengan luka yang masih penuh darah sejak tadi malam.


 Menaruh gelas berisi air diatas meja ruang tamu pergi cepat menemui pria itu.


"Luc!" panggil Hoshie.


 Dia belum tersadar.


 Memanggil lagi sambil mengguncang raganya.


"Bangun!" panggil Hoshie.


 Batuk.


"Uhuk uhuk uhuk!" 


 Membuka mata dan menanggapi panggilan dari Hoshie.


 Mencoba bangun dari bawah lantai.


"Kau bisa sendiri kan?" tanya Hoshie.


 Sombong.


"Aku tidak selemah itu" kata Luc.


 Memperhatikan luka yang didapat oleh Luc cukup parah tapi dia tidak terlihat begitu kesakitan menganggapnya hanya luka biasa.


 Menebak dan berteriak.


"Kau melakukan itu lagi?" tanya Hoshie.


 Akan pergi ke kamar mandi.


 


 Berhenti berjalan berbalik kepada Hoshie.


"Kau masih menahan nyawa gadis itu?" tanya Luc.


"Siapa?" tanya Hoshie.


"Pacar barumu" jawab Luc.


"Apa aku harus mengambil nyawanya?" tanya Hoshie.


 Berbalik lagi pergi ke kamar mandi.


 Berkata sambil berjalan kepada Hoshie.


"Kita tidak bisa berpura pura kasihan kepada orang lain" kata Luc.


 Hoshie melihat lantai rumah penuh darah dari luka yang dimiliki oleh pria berkacamata itu luka yang diperoleh dari Ved tadi malam.


 Lantai rumah yang penuh jejak kaki darah dari Luc dari ruang tamu menyebar sampai ke kamar mandi.


"Ini rumahku atau rumahnya" kata Hoshie.


 Luc mengingatkan tentang pacar barunya yang belum berhasil ia ambil aura semua milik gadis itu.


 Dia menjadi tidak seperti biasanya menjadi lembut kepada target korbannya seperti kali ini. Dia juga memikirkan hal lain yang jauh lebih penting yaitu mengapa Dashie seakan akan ada di tempat kejadian pemuda ini akan menghabisi nyawa Aka akan tetapi di waktu yang sama Dashie juga tidak ada disana ketika dihubungi lewat ponsel dia sedang bekerja seperti biasa di tempat kerja yang sama jauh sekali dengan lokasi tempat ia akan mengambil nyawa Aka.


 Selain kebingungan ini dia juga masih mencurigai bahwa manusia level A yang di cari cari oleh bangsa Blacwhe adalah Dashie.


"Tak ada yang spesial darinya. Dia juga terlihat biasa biasa saja" kata Hoshie.


"Mengapa harus dia yang lemah dari yang ku tahu?" tanya Hoshie.


 


 Luc sudah selesai mengganti pakaian dan sudah tidak terlihat pucat seperti menit sebelumnya.


 Dengan jus jeruk duduk di sofa ruang tamu lalu ikut melamun sama seperti Hoshie.


 Wajahnya sudah kembali lagi menjadi wajah sahabat dari Hoshie tidak menggunakan wajah yang dilihat oleh Dashie dan Ved semalam.


 Dia mengingat ulang wajah  orang yang tadi malam hampir saja mengambil nyawanya.


 Luc melihat Hoshie yang serius dengan dirinya sendiri.


"Kau tidak membersihkan lantai?" tanya Luc.


 Hoshie langsung pergi ke arah belakang untuk mengambil alat pel lantai.


 Tertawa kecil tanpa suara.


 Kembali memikirkan peristiwa tadi malam.


"Siapa gadis itu?" tanya Luc.


 Mengingat lagi.


"Sial. Aku tidak ingat wajahnya" kata Luc.


 Bertanya tanya.


"Mengapa dia ingin menolongku?" tanya Luc.


"Dia seharusnya terluka tapi setelah itu aku yang akan mati dibuatnya" kata Luc.


 Rasa sakit yang ia alami akibat menyerang Dashie masih  dirasakan tangannya hampir saja remuk dibuat oleh gadis itu.

__ADS_1


 Masih dengan teka teki.


"Seharusnya dia langsung mati tapi kenapa yang terjadi sebaliknya?" tanya Luc.


 Hoshie datang dengan alat pel lantai lalu menjalankan perintah dari Luc.


 Mengepel lantai.


 Dia juga memikirkan untuk mengambil keputusan apakah dia harus mengambil nyawa Aka atau tidak.


 Ragu.


 Luc meminum jus jeruknya lagi.


 Merasa ada bau aneh disekitar ruang tamu.


 Mencari dan mencari.


 Pencarian yang tidak sia sia.


"Sepertinya aku belum mandi" kata Hoshie.


 Mencium bajunya sendiri dan pada kenyataannya memang berbau minuman keras yang sangat kuat.


 Hoshie berhenti mengepel lalu memberikan alat pel kepada Luc.


 Membentak cukup keras.


"Kau yang mengotori lantai ini dan aku yang harus membersihkannya!" kata Hoshie 


 Dia pergi setelah memberikan alat pel kepada Luc lalu pergi ke kamar mandi.


 Luc menerima bahwa dia memang harus membersihkan darahnya sendiri yang mengotori rumah Hoshie.


 Toko pagi ini dibuka tanpa bantuan dari putra kesayangannya, Jarrel yang pergi lagi sejak semalam setelah lima belas menit menyelesaikan pekerjaan di layar laptop dan setelah itu belum kembali.


 Callie datang.


 Membantu bosnya mempersiapkan untuk membuka toko.


 Meminta pertolongan.


"Tolong bantu saya merapikan ini" kata Ibunya Jarrel.


 Merapikan lilin lilin dari dalam dus besar dipajang berjajar sesuai jenis nama wangi ke dalam etalase toko.


"Anakku mengirim pesan padamu?" tanya Ibunya Jarrel.


  Memeriksa ponsel lagi.


"Saya belum menerima pesan darinya sejak semalam" kata Callie.


 Menaruh dua lilin aromaterapi wangi vanila di etalase lagi.


 Melihat  Callie.


"Dia juga tidak mengirim pesan padaku. Dia hanya bilang akan kembali" kata Ibunya Jarrel.


 Membuka pintu depan rumah.


 Bersiap untuk pergi bekerja.


 Memeriksa ponsel dan tak ada pesan sama sekali yang masuk lalu dia menutup pintu dan mengunci kembali pintu rumah.


 Rumah ceria berseri pagi ini terkena sinar matahari Dashie tidak merasa khawatir untuk meninggalkan rumah.


"Aku pergi tidak akan lama tetap sabar menunggu diriku" kata Dashie.


 


 Dia memeriksa ponselnya lagi. 


 Tidak ada pesan.


 Tetap tersenyum melewati rumah rumah di jalan yang ia ambil untuk pergi dijalan awal yang sama menuju tempat kerja.


 Tak ada yang mencurigakan juga keanehan datang semua cerah dalam mata Dashie.


 Rintik hujan datang dengan cepat membasahi semua yang ada di bawah awan hitam gelap awan mendung menyelimuti langit diatas Dashie yang sedang berjalan santai menjadi lari terbirit birit menghindar dari hujan deras.


 Berlari di antara air hujan di atas aspal diikuti dengan orang orang lain yang juga akan memulai aktivitas mereka di pagi ini.


 Menghayal.


 Hatinya berbicara mengisi.


"Bukankah disaat seperti ini seharusnya ada seseorang yang memberiku payung" kata Dashie.


 


 Menengok ke kanan dan kekiri nyatanya tidak ada sama sekali semua dengan melarikan diri masing masing menjauh dari air hujan.


 Membentak diri sendiri.


"Berhenti berkhayal!" kata Dashie.


 Berhasil berteduh di tempat perhentian bus di antara banyak orang yang juga menunggu bus datang petir datang lebih awal menyapa.


"Darrr!" 


 Sekali lagi.


"Darrr!"


 Cukup mengejutkan semua yang ada disana.


 Hujan bertambah deras bus akan datang di sekitar dua menit lagi sesuai jadwal yang tertera dari papan elektronik penunjuk rute bus yang beroperasi di kota ini diatas Dashie di atap bagian dalam tempat perhentian bus.


 Dashie baru saja melihatnya lagi lalu memeriksa waktu di jam tangan disebelah kiri pergelangan tangan.


 Dia melihat layar jam tangannya retak perlahan lalu pecah.


 Ekspresi terkejut.


 Pecahan layar jam tangan mengenai bagian perut sebelah kiri juga melukai pergelangan tangan darah mengalir kemudian.


 Berusaha tetap tenang lalu melihat ke arah sekitar.


 Mereka yang terlihat oleh Dashie tidak merasa terusik sama sekali dengan ini tak ada yang berteriak ketakutan tidak ada sama sekali.


 Rasa takut kembali ia beranikan diri untuk melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


 Dia tidak salah lihat dan dia juga merasakan dari pecahan layar jam tangan miliknya yang menimbulkan luka di pergelangan tangan darah juga mengenai baju ungu yang ia pakai saat ini kemeja polos yang terkena cipratan darah.


 Bus datang.


 Dashie tepat berada didepan pintu masuk bus lalu dia mendapatkan kesempatan untuk masuk lebih awal dari penumpang di belakangnya.


 Teriakan.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"


 


 

__ADS_1


__ADS_2