
Chapter 8: Demi menyelamatkan?.
Suasana mulai akan berubah menjadi ledakan kembang api seperti di langit malam.
"Wajah kalian kenapa?" tanya Ved.
Menunggu sebuah penjelasan terjebak dalam situasi ini ingin lari namun sudah tidak bisa.
"Dia sulit dihubungi. Jadi, aku khawatir" kata Ved.
Dashie langsung menarik tangan Ved yang memegang kedua tangannya.
Mencegah sahabatnya untuk lebih banyak lagi menjelaskan tentang hubungan mereka.
"Ponselku sedang di charge. Sorry membuatmu khawatir" kata Dashie.
Callie dan Jarrel saling menatap dengan kode sebuah kata "Bagaimana ini Bos?".
Sebagai tuan rumah akhirnya dia mengambil sikap kepada tamu tamunya ini.
"Apa kalian tidak duduk. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian?" tanya Jarrel.
Hoshie menaruh di atas meja satu kantong merah besar berisi banyak makanan dan tangan kirinya dengan banyak kopi dan air soda yang sudah ia bawa.
"Aku membawa ini untuk kalian" kata Hoshie.
Menatap keduanya.
Kedua sahabat ini melepas pegangan tangan mereka masing masing.
Menjadi salah tingkah.
Tuan rumah menjadi serba salah dengan situasi saat ini.
Beberapa pengunjung toko datang kedalam toko sekitar lima orang dua laki laki dan tiga perempuan semua sekitar seusia remaja tujuh belas tahunan.
Segera Dashie membantu Callie untuk melayani pertanyaan dari para pengunjung dengan lilin yang mereka perjual belikan.
Jarrel ada di diantara kedua pemuda yang saling menatap dengan tatapan tajam ingin menyerang satu sama lain.
Menjadi penengah, sedang berusaha.
"Apa kalian tidak akan main bersama lagi?" tanya Jarrel.
Jarrel mengambil minuman yang dibawa oleh Hoshie lalu membaginya diatas meja masing masing kursi yang tersedia.
Masih dengan dalam diam.
Jarrel dengan kedua tangan diatas meja.
Menunggu.
Menghela nafas.
Mengajak bicara.
"Kalian hanya diam disini dan membiarkan dia bekerja sendiri!" kata Jarrel.
Keduanya belum paham dengan maksud perkataan dari Jarrel.
Mengambil nafas lagi.
Mencoba menyadarkan mereka lagi.
"Dia akan memilih laki laki yang pekerja keras bukan yang seperti … " kata Jarrel.
Datang pelanggan tetap dari toko ini.
Seorang pria dengan wibawa datang meski hanya memakai setelan casual tapi dia memang luar biasa jika dikatakan sebagai profesional bisnis.
Dashie menyapa seseorang.
"Presdir Jo!" kata Dashie.
Tersenyum ramah.
"Hello. Dashie" kata Presdir Jo.
Jarrel memberi kode kepada kedua kawannya itu.
"Lihat!" kata Jarrel.
Baru Jarrel membuka sebuah kode kehidupan langsung datang pesaing dengan level kelas A di hadapan mereka.
Ramah dan baik hati.
"Kau pasti mau mengambil pesananmu" kata Dashie.
Senyum mempesona.
"Iya. Adik kecilku" kata Presdir Jo.
Jarrel pergi kedalam mengambil satu dus lilin yang sudah ia pesan dari satu minggu kemarin kepada neneknya Jarrel.
Kedua pemuda yang sedang berselisih sedang melihat keakraban antara Dashie dan Presdir Jo.
Jarrel sengaja merusak suasana.
"Ini pesanan Anda" kata Jarrel.
Sedikit terkejut.
"Jarrel. Kau disini?" tanya Presdir Jo.
Bos yang ramah tamah sedang menjadi pembisnis.
"Ya" kata Jarrel.
Hening.
Presdir Jo sebenarnya berniat ingin lebih lama berada disana akan tetapi sepertinya dia akan melakukannya lain waktu saja.
Tujuh detik berlalu.
"Baiklah. Saya pergi dan untuk pembayarannya saya sudah lakukan kepada Nenek. Ini bukti pembayarannya" kata Presdir Jo.
Setelah memastikan bahwa ia sudah membayar pesanan yang ia lakukan beliau memutuskan untuk cepat cepat pergi.
Sudah akrab sejak dia sering bermain di toko lilin aromaterapi ini karena sering bertemu maka tidak heran jika mereka berdua terlihat sangat akrab seperti ketika mengajak ngobrol dengan seorang saudara laki laki sendiri.
"Terima kasih sudah kemari" kata Dashie.
Mengantar sampai depan toko.
Jarrel kembali di kursi bagian tengah di sisi kanan Hoshie masih disana berseteru jelas dengan Ved yang ada di kursi di depannya saat ini.
Callie masih dengan dua orang pengunjung toko satu perempuan dan satu laki laki.
Tidak peka.
Dia datang ikut bergabung dan memilih duduk di kursi disebelah Ved bukan di sebelah Callie atau Jarrel yang berbeda arah dari kedua orang yang sedang berseteru itu.
Makan makan di mulai dengan pesanan baru yang sudah Ved pesan sebelum datang kemari.
Perang dingin dimulai.
Jarrel akan menolong Callie yang ada di depannya dalam satu meja dengan jarak sekitar satu setengah meter.
Callie akan membuka tutup botol air berisi soda cukup sulit namun dia akhirnya dengan cepat bisa membuka tutup botol itu.
Tidak jadi menolong.
Melihat ke sisi lain di sebelah kanannya saat ini.
Sengaja dia membiarkan sahabatnya yang sedang kesusahan membuka sebuah tutup botol dari botol yang berisi air soda.
Menunggu ada sebuah tanggapan dari salah satu keduanya.
Mereka berdua dengan tatapan mematikan.
Jarrel mulai geram dengan sikap mereka.
__ADS_1
Sudah tidak sabar lagi.
"Kemarikan botolnya" kata Jarrel.
Callie melihat Jarrel dengan kesal membuka tutup botol minuman soda milik Dashie.
Memberikan kepada Dashie.
Mulai speak up.
"Terima kasih brother" kata Dashie.
Memberikan peluang cuma cuma.
"Kita jadian yuk. Kalau iya, segera setengah warisanku untuk mu" kata Jarrel kepada Dashie.
Terkejut.
"Hah?" kata Dashie.
"Kamu nggak mau?" tanya Jarrel.
Ved dan Hoshie menjadi lebih lembut dan mulai memakan makanan mereka masing masing.
Jarrel berpikir setidaknya tindakannya saat ini bisa membuat mereka lebih sedikit berdamai dan berpikir lebih logis dalam menghadapi masalah tidak seperti tadi.
Bos baik hati.
"Callie. Makan yang banyak, Ok!" kata Jarrel.
Callie mengangguk dengan tersenyum ramah kepada Jarrel.
Dashie baru akan minum air soda yang dibawa oleh Hoshie lalu Ved langsung merebutnya dan mengganti dengan minuman lain yang ia pesan tadi.
"Kau tidak minum itu. Ini!" kata Ved.
Satu cup ice lemonade untuk Dashie dari Ved.
Callie sudah tahu bahwa kalau sahabatnya tidak minum soda dan dia akan memilih minum Lemonade tapi dia tidak ingin ikut campur dengan urusan percintaan seseorang.
Meminum air soda milik Dashie.
"Ini untukku" kata Ved.
Jarrel mulai makan ayam goreng dengan dua rasa yang berbeda satu rasa pedas dan satunya rasa keju.
Sepuluh menit kemudian.
Respon yang amat lucu dan mengagetkan di berikan oleh pria tampan didepan Dashie kepada Callie yang akan mencoba sebuah olahan yang terdapat udang sebagai isiannya.
"Kau tidak makan udang" kata Hoshie.
Waktu yang akan menjawab segalanya.
Callie berkedip dengan mata polosnya melihat ke segala arah.
"Apa dia salah satu mantanmu?" tanya Jarrel.
Respon santai.
"Aku hanya menebak dari tipe kulit wajahnya" kata Hoshie.
Menjadi wajar untuk seorang Hoshie yang menjawab dengan jawaban itu.
Ved menyapa Callie.
"Aku Ved. Salam kenal" kata Ved.
Hoshie menjadi diam lebih sedikit bicara bukan karena apa tapi karena dia sedang berada didekat Callie yang membuatnya terus mencoba untuk menjadi goyah dengan aura yang wanita ini miliki bersama dengan kenangan mereka berdua yang dulu adalah sebagai sepasang kekasih.
Untuk Callie tak ada yang aneh dengannya dia sedang menikmati makan malam ini dengan tenang.
Dengungan kedua telinga Ved dan Jarrel terasa begitu keras terasa dengan level lebih kuat dengan keberadaan dari orang yang ia cari serasa berada disekitar mereka.
Kondisi Hoshie saat ini makin tidak stabil ditambah lagi ada Callie disana yang tidak mungkin pergi karena dia masih harus bekerja.
Menatap wajah Ved.
Ved juga menatap wajah Dashie.
"Bagaimana kalau besok kita pergi berlibur?" tanya Hoshie.
"Kita?" tanya Dashie.
"Ya" jawab Hoshie.
"Berlima?" tanya Dashie.
Belum ada kelanjutan dari percakapan mereka berdua.
Berbalik mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka semua.
Memandang lembut mata Hoshie.
"Aku juga ditawari sebuah liburan gratis bersama rekan rekan grup yoga ku. Menurutmu bagaimana?" tanya Dashie.
Jarrel meminum lemonade.
Callie sibuk dengan ayam goreng keju di piring putihnya.
Sedangkan untuk Ved sedang memakan daging sapi panggang.
Berpikir ulang.
"Tapi, aku hanya ingin pergi denganmu" kata Hoshie.
"Kau manis sekali" kata Dashie.
Ved tidak membuka tema obrolan ini jadi dia merasa paling aman.
"Tapi aku ingin kita liburan bareng mereka" kata Dashie.
Jarrel menawarkan sebuah ide yang bisa menghasilkan uang untuk Dashie.
"Kau mau tidak bekerja di toko bunga ibu ku?" tanya Jarrel.
Suasana menjadi lebih serius dan ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan untuk seseorang dan seseorang.
Akhirnya, dia memutuskan apa yang harus ia lakukan sesuai keinginan yang ia butuhkan saat ini.
"Aku tidak akan kemana mana. Aku akan bersantai dirumah sambil menonton tv" kata Dashie.
Belum menyerah untuk mengajak seseorang untuk berlibur bersama.
"Yakin tidak mau?" tanya Hoshie.
Wajah memelas.
"Sorry" kata Dashie.
"Ok. Aku senang kamu bisa memutuskan apa yang kamu inginkan" kata Hoshie.
Tanpa diketahui siapapun selain Hoshie karena sudah terbiasa mengambil aura milik wanita yang ada di sisi kirinya itu secara alami aura milik Callie diambil oleh Hoshie hanya dengan cara menatap matanya saja.
Callie tidak sadar.
Dia mulai duduk dengan kondisi kepala yang menjadi pusing.
Jarrel mengamati perubahan Callie yang terlihat pucat dari detik sebelumnya.
"Jam kerjamu sudah habis. Kau boleh pulang sekarang" kata Jarrel.
Hoshie merasakan menerima aura milik Callie sejak tiga menit yang lalu.
Callie merasa jam kerjanya masih dua jam lagi tapi kenapa sudah disuruh pulang.
"Tapi, … " kata Callie.
Ved memberikan potongan daging panggang baru kepada Dashie.
Menolak argumen dari karyawannya kemudian melihat Dashie yang sedang makan daging panggang dari Ved.
__ADS_1
"Disini aku bosnya. Kau juga harus pulang, jangan mengganggu tempat usahaku" kata Jarrel.
Dashie akan memakan daging panggang di suapan kedua lalu dibatalkan menaruh pisau dan garpu diatas piring.
Menjadi patuh kepada Jarrel.
Memberi salam.
"Selamat malam semuanya" kata Dashie.
Bangun dari tempat duduknya melewati Ved dari belakang kursi.
Mengajak Callie untuk segera pergi dari tempat kerjanya saat ini.
"Ayo kita pulang!" kata Dashie.
Mereka berdua akan pulang melewati pintu keluar depan toko.
Tiba tiba berhenti.
Tanpa diketahui oleh kedua wanita ini datang dua orang teman dari Jarrel.
Keduanya langsung pergi mendahului mereka yang akan datang berjalan tepat dua langkah lagi ada di depan toko.
Ved menghabiskan makan malam dengan santai begitu juga Hoshie.
Mereka berdua bisa kompak tanpa panduan dari tuan rumah bahwa mereka sedang bertengkar.
Mereka datang.
Jarrel menyambut.
"Hai. Kawan!" kata Jarrel.
"Tadi bukankah gadis waktu itu?" tanya temannya Jarrel berjaket kulit biru.
"Ya. Sudahlah, itu sudah berlalu" kata Jarrel.
Berjaket coklat penuh antusias untuk membicarakan hal itu.
"Lukamu masih belum sembuh" kata Teman berjaket coklat.
Mulai berpikir obrolan akan semakin melebar kemana mana. Jarrel menjadi anak baik.
"Dia melemparmu ke pembatas jalan hingga dua jam tidak sadarkan diri" kata teman berjaket biru.
Sudah siap di permalukan.
"Rio" kata Jarrel.
Semangat menggebu gebu.
"Salahnya sendiri mabuk dan mau … " kata Teman berjaket coklat.
Tetap gentleman dan cool.
"Lanjutkan saja" kata Ved.
Hoshie tertawa tanpa suara.
Kedua teman Jarrel mengambil ayam goreng dan memakannya.
Jarrel menutup wajahnya dengan jaket hitamnya sendiri.
"Dashie memanggil kami karena dia ada dirumah sakit" kata Rio.
Hoshie juga penasaran.
"Intinya?" tanya Hoshie.
Teman berjaket coklat mengambil jaket yang menutupi wajah sahabatnya itu.
Jarrel duduk bersandar di kursi kayu bercat ungu dengan kedua tangan diatas lutut menunduk dengan merasa bersalah dan malu.
"Dia mabuk lalu gadis itu akan membantu membawanya pulang kemari tapi orang ini malah akan mencium gadis itu" kata teman berjaket coklat.
"Ren. Aku tidak mengajakmu berlibur gratis lagi" kata Jarrel.
"Tidak apa. Uangku banyak" kata Ren.
Tertawa semua disana.
Jarrel makin malu dibuat oleh mereka.
Mereka berdua terlihat santai dengan apa yang baru saja mereka dengar dari teman teman Jarrel.
Ved buka suara.
"Lalu?" tanya Ved.
Rio siap dengan cerita selanjutnya.
"Dashie memukul kepalanya dengan tas dan orang ini langsung jatuh terlempar ke pembatas jalan" kata Rio.
Ren lebih bersemangat lagi sambil memeriksa kepala bagian belakang Jarrel.
"Apa lukamu sudah sembuh. Kemarin , banyak sekali darah dari sini?" tanya Ren.
Ved dengan tatapan mematikan kepada Jarrel.
Sudah cemas dengan nyawanya sendiri.
"Sorry" kata Jarrel.
"Pantas saja sedari tadi kau sangat baik padanya" kata Ved.
Hoshie selesai dengan makan malam bersama teman temannya barusan.
Tetap cool.
"Aku pergi" kata Hoshie.
Berteriak.
"Kau tidak akan menghajarku" kata Jarrel.
Berbalik Hoshie kepada Jarrel.
"Sangat ingin" kata Hoshie.
Dia pergi lalu semua yang ada disana terdiam dengan ekspresi kemarahan yang berbalut ketenangan.
Ved tidak tahu kalau Hoshie bisa memiliki emosi ini untuk seorang wanita.
"Dia akan menjadi rival terberat ku nanti" kata Ved.
Hoshie pergi dari sana dengan mobil merah miliknya berbeda arah terlihat tidak pergi ke arah rumah.
Pukul tujuh malam.
Tuan rumah membereskan piring piring yang digunakan tadi oleh kedua gadis yang telah ia suruh pulang lebih awal dari toko.
"Pria berjaket biru kau sengaja berkata itu?" tanya Jarrel.
"Ya" kata Rio.
"Sorry!" kata Ren dan Rio.
Ved menyimak sambil membalas pesan dari seseorang.
"Kenapa?" tanya Jarrel.
"Kalau aku mendapat waktu yang pas untuk menguji cinta Hoshie kepada Dashie" jawab Ren.
"Kau berhasil" kata Jarrel.
"Menurutku ini masih kemungkinan" kata Rio.
"Bagaimana dengan orang ini?" tanya Jarrel.
Ved merasa bahwa mereka sedang membicarakan dirinya sekaligus bertanya tentang kisah asmara.
Menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Ved.