Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 144: Teman lama.


__ADS_3

...Chapter 144: Teman lama....


..."Pacarmu. Ahhh, aku baru saja ditolak" kata murid baru....


..."Ini hanya obrolan biasa" kata Nawa....


... Ketua kelas yang tidak terlalu heran begitu juga dengan kedua sahabat pacarnya itu....


... Mereka memilih untuk memakan menu makanan yang harus mereka makan setelah mendengar dan melihat obrolan ini....


... Dia tidak merasakan apapun dengan kata-kata yang diucapkan oleh teman satu kelasnya itu....


... Senyum ceria berbeda dengan Nawa yang bersikap sedingin ini....


..."Ok" kata murid baru....


... Balasan tatapan matanya dibalas oleh Nawa....


... Makin bertambah tidak nyaman seperti biasa itulah yang dilihat oleh ketiga orang yang berada dekat dengan Nawa saat ini ketika bersama dengannya tidak beda jauh ketika masih ada pacarnya, Po....


... Seorang remaja laki-laki dari salah satu dari bangsa Blacwhe ini belum menyadari bahwa ia sedang merindukan orang lain ia tidak tahu perasaan ini bisa ia rasakan dari salah satu sisi manusia yang masih ia miliki muncul begitu saja....


..."Kita tidak harus terburu-buru menjadi akrab" kata murid baru itu....


... Menyantap nasi dengan chiken honey lemon dengan sendok dan garpunya....


... Dia bahkan masih bisa tersenyum lembut tanpa merasa tertekan dalam situasi semacam ini....


... Dia tetap dengan aura positif yang ia miliki menyantap makanan tanpa rasa takut atau ingin lari dari sikap yang ditunjukkan oleh teman satu kelasnya yang sedang berubah moodnya....


... Dia menerima telepon dari seseorang....


... Tidak pergi tetap disana didepan teman temannya itu. ...


..."Ayo kita putus" kata seseorang kepada murid baru ini....


... Tanpa ragu....


..."Ok" Jawa murid baru....


... Percakapan berakhir dengan singkat tapi lihat orang-orang yang berada disekitarnya. Mereka semua ada yang sampai tersedak ketika mendengar seseorang yang tampak biasa saja ketika diputuskan lewat telepon....


... Ketua kelas....


..."Hari-hari kita akan bertambah seru" kata ketua kelas....


... Dia mengambil makanan yang dimiliki oleh Yellow....


... Yellow lalu kemudian menyerahkan sebagian menu makanan yang diminta oleh temannya itu....


..."Aku lupa ini makanan kesukaan mu" kata Yellow....


..."Aku akan ambil ini" kata Yellow....


... Sebagai ganti dari menu makanan yang dia miliki ada dalam mangkuk....


..."Aku juga ambil ini" kata Jeje....


... Mengambil dimsum dengan isian daging sapi giling milik ketua kelas....


... Keduanya masih dengan situasi melihat satu sama lain dan kini tidak jauh berbeda ekspresi yang mereka tunjukkan seperti dua orang yang bermusuhan dipertemukan kembali dalam suatu momen....


..."Apa kalian akan tetap seperti ini?" tanya ketua kelas....


... Mereka kembali untuk menghabiskan makanan yang ada diatas meja....


... Sebagai ketua kelas hal ini cukup aneh kenapa dua orang yang terlihat memiliki kemiripan ini bisa menjadi pribadi yang patuh....


... Yellow dan Jeje melihat Gan yang mendapatkan perlakuan istimewa ini....


... Menunjuk ke arah temannya dengan menggunakan sumpit kayu ditangan kanan....


..."Aku akan membelikan tiket pameran seni untukmu" kata Yellow....


..."Bagaimana denganku?" tanya Jeje....


..."Kau juga" kata Yellow....


..."Padahal aku tidak minta" kata Gan....


... Dia dengan hadiah itu....


..."Thank you, Yellow" kata Jeje....


..."You're welcome" kata Yellow....


... Seakan dunia hanya milik mereka bertiga tak ada murid baru dan Nawa....


... Murid baru itu ingin bisa membaca isi pikiran yang ada didalam diri Nawa tapi tidak bisa ia lakukan....


..."Ini sungguh aneh. Kenapa aku tidak bisa membaca isi pikirannya?" tanya Murid baru tersebut....


... Nawa yang sedang menyantap sup bayam dengan nasi....


..."Dia takkan pernah bisa membaca isi pikiran ku" kata Nawa....


... Dia tidak mengizinkan seseorang dengan mudah bisa membaca isi pikirannya saat ini....


..."Apa yang dia inginkan dariku?" tanya Nawa....


..."Siapa yang menyuruhmu?" tanya Nawa....


... Keduanya seperti dua siswa biasa yang sedang menikmati menu makanan bersama para siswa dan siswi lain yang ada didalam kantin sekolah seperti biasa tak ada yang aneh....


... Dia dan teman lamanya, Soft....


... Dia melihat banyak pesan kembali diterima tapi tetap ia abaikan sekali lagi....


... Soft kembali menghubungi nomor ponsel remaja laki-laki ini tapi tetap tak ada yang berubah dari Nawa yang tak ingin berurusan dengan remaja putri ini lagi....


... Didepan kelas....


... Dia kesal dengan bantuannya yang tak dihiraukan oleh salah satu temannya itu....


..."Apa dia tidak butuh bantuanku?!" kata Soft....

__ADS_1


... Mengumpat....


..."Dia tetap dengan sifat angkuhnya itu" kata Soft....


... Dia juga menelepon orang lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang ia pikirkan sehingga membuatnya terlihat tidak tenang....


... Orang yang ia hubungi sama saja dengan orang yang sebelumnya ia telfon dan kirim pesan....


..."Ada apa dengan kedua orang ini?" tanya Soft....


... Salah satu temannya datang menghampiri, dia dengan es krim stroberi di tangan....


... Menggigit es krim dalam satu gigitan....


... Melempar satu bungkus es krim kepada Soft....


... Soft menerima es krim dari salah satu temannya itu....


... Remaja putri dengan potongan rambut pendek lurus seorang remaja dengan wajah melon....


..."Ada yang membuatmu kesal?" tanya temannya itu....


..."Kemarin aku bertemu Rumy" kata Soft....


... Dia tertawa puas dengan cerita yang barusan diceritakan oleh teman gengnya itu....


... Wajah kesal dengan suara datar sedang marah tak tertinggal tatapan sinis tidak suka....


..."Hentikan itu" kata Soft....


... ...


... Dia menutupi mulutnya agar tidak melanjutkan tawanya lagi....


..."Upss. Sorry" kata temannya....


... Soft membuka bungkus es krim stroberi ditangannya lalu memakannya perlahan dalam satu gigitan....


... Dia melihat keluar lapangan sepakbola didepan kelas mereka yang terdapat para murid laki-laki sedang bermain sepakbola....


... Apa dia tidak menyadari sesuatu hal yang sedang bersiap dengan rencana yang sudah disiapkan oleh seseorang yang tidak diketahui olehnya atau ini akibat dari rasa keingintahuan yang seharusnya ia hentikan segera mungkin....


... Es krim ditangannya jatuh ke bawah....


... Dia bergerak gemetar mundur langkah kaki yang ia ambil satu langkah....


..."Soft" kata temannya itu....


... Dia dengan darah yang sebagian dari temannya yang terkena serangan senjata yang menembus bagian tengah tubuhnya darah darah yang menimpa seragam Soft juga sweater merah muda yang ia pakai....


... Tangan Soft akan meraih pundak temannya....


..."Shan" kata Soft....


... Dia dengan mata menahan kesedihan melihat temannya sendiri semakin menghilang tidak terlihat dalam hitungan detik bersama dengan darah miliknya yang menimpa pakaian seragam sekolah Soft....


... Senjata itu terlihat dengan racun melapisi bagian luar dari lima senjata yang sudah pergi menembus menghilang dari raga Shan....


..."Siapa yang melakukan semua ini?" tanya Soft....


... Dia masih ketakutan dalam diam diwajah teduhnya itu....


..."Dia juga pergi" kata Soft....


... Semua yang terlihat disana berlangsung sangat cepat tanpa seorangpun tahu kejadian ini selain dirinya yang tak melihat keanehan yang terjadi lagi diluar kendali....


..."Kenapa hanya aku yang merasa kehilangan disini?" tanya Soft....


..."Mereka semua terlihat bisa tertawa dengan segala aktivitas" kata Soft....


..."Apa aku harus selalu dengan hidup seperti ini?" tanya Soft....


... Dia jongkok memegang kepalanya tertunduk dengan rasa takut....


... Semakin harus ia terima bahwa salah satu temannya sendiri telah menjadi korban dari keganasan salah satu bangsa Blacwhe....


... Kepalanya sakit seketika setelah menerima ini secara mentah-mentah tanpa ada kesempatan untuk menolong orang yang ia kenal dipilih langsung untuk menjadi korban karena sebuah kecerobohan....


... Yang lebih parahnya lagi keadaan memaksa dirinya agar cepat terbiasa dengan waktu yang masih terus berjalan tidak mempedulikan bahwa telah tejadi kematian dari salah seorang manusia. Ia dituntut bersikap seperti biasa dengan ekspresi wajah tanpa luka perasaan sedih dihadapan orang lain meski itu sulit ia harus tetap melakukannya sebagai salah satu peraturan ketika menjadi bangsa Blacwhe....


... Dia bangun memegang tembok disisi kirinya lalu berdiri tegak dengan wajah yang selalu tegar tanpa sebuah masalah apapun yang pernah menimpanya lalu masuk kembali kedalam kelas. ...


... Dia dengan hati kecilnya menolak menjadi bangsa Blacwhe....


... Menyalahkan diri sendiri....


..."Aku harus ingat ini. Semua ini adalah salahmu" kata Soft....


... Tak berapa lama lagi sekolah akan mengabarkan bahwa mereka telah kehilangan salah satu dari siswa mereka yang tak mungkin bisa kembali ditemukan oleh orang lain termasuk oleh Soft sendiri....


... Soft yang berada didalam kelas duduk ditempat duduknya seperti biasa melihat tas milik Shan dengan buku-buku diatas meja tanpa pemiliknya....


... Gadis ini berada di baris ketiga sedangkan untuk Shan ada di baris keempat dekat pintu masuk kelas....


... Dia di kursi baris tengah satu baris dengan kursi Soft dari lima baris kursi dikelas mereka. ...


... Jam pelajaran selanjutnya belum dimulai dengan waktu yang tersisa sepuluh menit di waktu istirahat pertama....


... ...


... Menyeka air mata....


..."Maaf. Maafkan aku, Shan" kata Soft ...


..."Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini" kata Soft....


... Menyandarkan wajahnya diatas meja menghadap ke sisi kiri dengan tangan kanan lurus di sebelah kepalanya persis melihat keluar jendela kelas dengan suasana kelas yang berjalan seperti biasa tampak normal....


... Air mata yang berhenti mengalir dari kedua ujung mata....


... Dia dengan kata yang ia pilih untuk mengatakan bahwa ia sedang sedih....


..."Aku tidak suka situasi ini" kata Soft....


..."Sadarlah. Ini bukan pertama kalinya kau menyaksikan hal seperti ini" kata Soft....

__ADS_1


... Empat menit berlalu....


... Tujuh menit berlalu....


... Bel masuk ke kelas kembali berbunyi sebagai tanda dimulainya kembali proses belajar mengajar di seluruh kelas di sekolahnya....


..."Sepertinya, aku tidak harus menceritakan ini kepada Stud. Dia bisa khawatir" kata Soft....


..."Aku" kata Soft....


... Dia gemetar kembali ketika mengingat kejadian yang merenggut nyawa salah satu temannya itu....


... Melihat meja temannya yang sudah pergi....


... Dia tidak akan kembali ketika namanya dipanggil seperti yang terjadi saat ini....


..."Shanaya" panggil guru salah satu mata pelajaran mereka....


..."Dimana dia?" tanya guru mereka....


... Soft menjelaskan bahwa ia tidak melihatnya sejak setelah istirahat pertama di beberapa menit yang lalu....


... Di dalam pikiran Soft....


... Memprediksi....


..."Berita yang tidak jauh dengan apa yang pernah terjadi pada Bloom akan datang lagi" kata Soft....


... Satu pesan ia terima....


... Dia belum melihat pesan yang ada di ponselnya....


... Tiga pesan ia terima dari ponselnya yang diubah menjadi mode senyap....


... Dari dalam kelas....


... Nawa melihat ke arah luar gedung melihat gedung seberang sekolah....


..."Setenang ini tapi ku rasa ini hanya kebohongan" kata Nawa....


... Menebak....


..."Sepertinya ada sesuatu yang sedang ditutupi" kata Nawa....


... Memikirkan teman lama yang sedari beberapa hari terus menelpon dan mengirim pesan tapi tidak ditanggapi....


..."Apa dia baik-baik saja?" tanya Nawa....


... Dia enggan untuk menjalin hubungan pertemanan dengan Soft kembali setelah kematian sahabat mereka yaitu Bloom yang hingga saat ini belum diketahui alasan sebenarnya ia pergi....


..."Apa yang membuatnya menjadi terus menghubungiku?" tanya Nawa....


..."Aku jelas khawatir tapi ini baik untuknya" kata Nawa....


... Soft yang harus mengendalikan diri dan itu terlihat sulit dari balik sisinya yang selalu terlihat kuat tidak terkalahkan....


... Ia masih diselimuti oleh rasa takut kengerian yang luar biasa tidak bisa dijabarkan yang ia tahu saat ini ia ingin lari sejauh mungkin lari dari apa yang ia sudah ketahui....


... Dia dengan kedua telapak tangan berkeringat memegang pulpennya sangat erat hingga akhirnya patah menjadi dua bagian....


..."Aku harus meminta pertolongan kepada siapa?" tanya Soft. ...


... Memohon dengan harapan ada siapapun yang bisa membantunya keluar dari momen yang sulit ini....


... Isi hatinya yang berteriak....


..."Siapapun tolong aku!" kata Soft....


... Dia juga mulai ketakutan akan bagaimana ia bisa menjalani hidupnya sendiri....


..."Aku bisa gila" kata Soft....


..."Siapapun?!" kata Soft....


..."Siapapun tolong aku. Aku mohon!" kata Soft....


... Ruang kelas yang nyaman dengan mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh pengajar di kelas yang diikuti oleh remaja putri ini tak ada kebisingan yang mengganggu proses belajar mengajar....


... Soft dengan tangannya yang terluka akibat tertusuk pulpen yang patah menjadi dua olehnya sendiri. ...


... Melihatnya tanpa menghapus hilang dengan sendirinya luka dan darah yang ia miliki....


... Mengambil pulpen lain yang ada dari dalam kotak tas kecil berwarna putih dengan gantungan kunci hati....


... Satu pulpen hitam ia ambil dari dalam tas kecil....


... Di area rumah sakit....


... Dia yang menyempatkan diri untuk menemui kekasihnya yang berada disana....


... Di lantai keempat didalam sebuah rumah sakit dari salah satu balik jendela menuju arah pintu lift dengan jarak tujuh belas meter mereka ada disana melihat langit yang sama....


... Mendung langit pagi sudah kembali cerah terlihat pesawat membuat jejak putih dilangit pergi ke arah utara....


..."Dia sulit dihubungi lagi?" tanya Oryn....


... Dia mengangguk dengan ekspresi wajah yang tidak ingin hal ini berlangsung lama....


..."Apa yang kau pikirkan?" tanya Oryn....


..."Dia sudah memilih jalannya sendiri" kata Oryn....


... Mereka dengan kaleng yang berisi minuman jus buah jeruk yang sedang mereka minum duduk disana terlihat dibalik jendela luas dengan tanaman sejenis kaktus ada beberapa disisi depan jendela setinggi kurang lebih lima puluh sentimeter....


..."Dia dengan segala macam jenis masalahnya. Apakah kita bisa mengendalikan semua itu?" tanya Oryn....


..."Tapi, dia bisa pergi tanpa seizin kita" kata Ghazi....


..."Aku tidak ingin kau bisa sebaik ini" kata Oryn....


..."Aku tahu ini bukanlah masalah yang dipandang remeh" kata Ghazi....


... Ghazi meneguk jus jeruk yang ada di tangan....


... Oryn memandang kekasihnya dengan jarak setengah meter....

__ADS_1


__ADS_2