Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 78: Hening.


__ADS_3

...Chapter 78: Hening....


... Dari lift yang terbuka ada Hoshie duduk menggunakan kursi roda didorong oleh Poet juga dengan satu suster perawat yang berencana akan menuju ruang pemeriksaan ulang bagian tubuhnya lagi bagian dalam....


... Selang infus di bawa oleh suster dengan waktu yang tersedia di ruang pemeriksaan sekitar lima belas menit lagi dengan menghitung nomor antrian dengan pasien lain yang juga sedang menjalani pemeriksaan di dokter spesialis yang sama....


..."Kita berhenti sebentar" kata Hoshie....


... Lagi dan lagi Aka dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan bahkan disaat berada di dalam rumah sakit juga dilihat banyak orang sedang melakukan interogasi layaknya kepada seorang buronan....


... Suaranya yang cukup jelas terdengar dengan kata-kata halus nada suara berisi hinaan dan cacian dengan mudah keluar dari lisan meski sudah dicegah oleh kakak laki lakinya akan tetapi semua yang dikatakan seakan belum habis dilampiaskan kepada Dashie....


... Disana juga ada Ren yang tidak peduli dengan keduanya yang sedang berbincang lebih disebut sebagai dengan pertengkaran tiada akhir....


..."Setelah kau mengambil Hoshie dariku selanjutnya kau akan mengambil Ren. Dasar kau!" kata Aka....


..."Cukup!" kata Hoshie....


... Tangan yang hampir saja menampar Dashie lagi dicegah oleh Hoshie....


..."Ambil laki-laki mu itu" kata Hoshie....


... Meraih tangan Dashie....


..."Ayo kita pergi" kata Hoshie....


... Dashie dan Pax pergi dari mereka lalu untuk Ren lebih memilih tetap berada dengan Aka....


... Poet masih mengambil alih kursi roda yang digunakan oleh Hoshie untuk menjalankan pemeriksaan ulang bagian organ dalam yang akan dilakukan beberapa menit lagi....


... Semakin menjauh dari Aka dan kakaknya serta Ren....


..."Biar aku saja" kata Dashie....


... Meminta untuk menggantikan posisi Poet mendorong Hoshie dengan kursi roda....


... Senyum kesadaran mengapa sahabatnya menjadi seperti ini....


..."Ini sudah menjadi tugasku" kata Poet....


... Menatap Dashie....


..."Jangan merasa bersalah" kata Hoshie....


..."Ok" kata Hoshie lagi....


... Mengangguk pelan kepada Hoshie....


... Sudah sampai di ruang pemeriksaan organ dalam Hoshie dibawa perawat laki laki yang bertugas mendampingi dokter spesialis bagian dalam untuk pemeriksaan ulang lagi....


... Pemeriksaan baru saja dimulai lalu mereka bertiga akan menunggu di luar ruangan pemeriksaan....


... Di depan ruang pemeriksaan dengan kursi berjajar panjang berbaris dua baris....


..."Kalian istirahat disini sebentar aku akan mengambil sesuatu di dalam ruang rawatnya" kata Poet....


... Pax akan ikut bersama dengan Poet sebentar....


..."Kebetulan aku ikut denganmu untuk mengantar ini" kata Pax....


... Pax dengan buah-buahan untuk Hoshie....


... Poet melihat Dashie yang duduk di salah satu kursi di depan ruang pemeriksaan....


... Pax melihat situasi dan langkah apa yang harus diambil....


..."Berikan ini padaku" kata Pax....


... Mengambil buah-buahan dan juga coklat dari tangan Dashie untuk membawanya ke ruang rawat inap Hoshie....


... Mereka berdua pergi menuju ruang rawat Hoshie dan Nawa....


... Poet memperhatikan Pax yang mau direpotkan dengan barang-barang yang bisa dibilang cukup berat jika dibawa oleh seorang wanita....


..."Biarkan aku membantumu" kata Poet....


... Poet mengambil lebih banyak makanan yang dibawa oleh teman Dashie ini....


... Senyumnya ringan yang bisa memikat hati siapapun diberikan oleh Pax....


..."Terima kasih banyak" kata Pax....


..."You're welcome" kata Poet....


... Hatinya yang berkata setelah melihat senyum dari Pax....


..."Bidadari darimana ini" kata Poet....


..."Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Pax....


... Menaikkan sedikit kedua bahunya lalu membalas senyuman ramah dari Pax barusan....


..."Dia tidak mau denganku tapi temannya juga nggak apa-apa" kata Poet....


... Pertemuan pertama mereka ini membuat Pax tidak begitu paham dengan maksud perkataannya itu....


... Poet dari arah manapun dilihat sedang mulai berusaha menjadi seseorang yang menyenangkan bagi orang yang ada di dekatnya saat ini....


... Dashie....


... Dia melihat sesuatu ketika pergelangan tangannya dipegang oleh Hoshie tadi....


... Melihat gambaran tangan yang sama dengan gelang coklat yang sama dengan jam tangan orange ada melingkar di pergelangan tangan sebelah kanan....


... Tangan yang menyentuh pipi seorang gadis yang dikenalnya selama ini sebagai sahabatnya sendiri sedang menangis memohon agar dilepaskan dari pemilik gelang dan jam tangan orange....


..."Veer?" tanya Dashie....


..."Siapa nama yang dipanggil oleh Callie itu?" tanya Dashie....


... Mengingat dengan jelas....


..."Ku rasa dia tidak pernah bercerita tentang siapa itu Veer" kata Dashie....


... Dashie melihat wajah pria yang dipanggil dengan nama Veer oleh Callie dalam bayangan memori orang lain....


... Masih belum mengerti dari gambaran yang dilihatnya tadi dan apa hubungannya dengan semua itu....


..."Lagi lagi aku berhalusinasi" kata Dashie....


... Mendapatkan sebuah ide....


..."Tapi, apa aku harus menanyakan siapa itu Veer kepada Callie langsung?" tanya Dashie....


... Tersadar dengan tindakan yang akan dilakukan oleh Dashie berpikir ulang untuk masuk dalam ranah pribadi sahabatnya....

__ADS_1


..."Bukankah ini privasi orang lain" kata Dashie....


..."Tidak. Tidak, kurasa ini belum saatnya" kata Dashie....


..."Jika gambaran itu benar" kata Dashie....


... Mengambil ponsel dari dalam tas merah dengan tali berwarna yang sama ada dipangkuan rok jeans hitam dengan atasan putih berlengan panjang....


... Mencoba menghubungi nomor ponsel Callie....


... Belum diangkat oleh Callie....


... Panggilan diakhiri....


... Panggilan di mulai lagi menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu....


..."Mungkin dia sedang sibuk" kata Dashie....


... Dengan nomor ponsel yang masih aktif sahabatnya tidak mengangkat panggilan darinya....


..."Aku akan mencobanya lagi nanti" kata Dashie....


... Pax dan Poet belum juga kembali dan dia sedang menunggu Hoshie sampai pemeriksaan kesehatannya selesai....


... Sepuluh menit sudah berlalu butuh beberapa waktu lebih lagi diketahui oleh Dashie untuk Hoshie selesai keluar dari ruang pemeriksaan....


... Waktu bertambah lima menit lagi lalu bertambah lima menit lagi pemeriksaan sekaligus konsultasi dengan dokter jaga yang menangani Hoshie....


... Hoshie keluar dari ruang pemeriksaan bersama perawat laki laki yang mendorong kursi roda yang digunakan oleh Hoshie sebagai mobilitas....


..."Sudah selesai" kata Dashie....


... Mengangguk pelan....


..."Mmm" jawab Hoshie....


... Lalu, seorang suster wanita mendorong Hoshie untuk kembali ke ruang rawat untuk istirahat lagi....


... Dashie kemudian ingin membantu mendorong Hoshie dengan kursi rodanya....


..."Biarkan saya menjalankan tugas saya" kata suster tersebut....


... Jawaban terpaku....


..."Oh" jawab Dashie....


... Hoshie tentu senang dengan perhatian yang diberikan oleh Dashie....


... Berjalan beriringan dengan Hoshie dan suster jaga melanjutkan menuju kamar rawatnya lagi....


... Masuk ke lift....


... Suster perempuan itu memilih tombol nomor empat di tombol lift....


... Kebetulan di dalam sana hanya mereka bertiga....


... Lift bergerak naik ke atas menuju lantai keempat rumah sakit....


... Lantai dua ...


... Beberapa detik kemudian....


... Lantai tiga lalu tiba di lantai keempat....


... Sudah menunggu beberapa orang akan menggunakan lift yang baru saja mereka gunakan....


... Suster tersebut kembali mendorong kursi roda yang digunakan oleh Hoshie keluar dari dalam lift diikuti oleh Dashie....


... Melewati beberapa kamar di dalam bangsal lantai atas ini hingga akhirnya suster tersebut berhenti mendorong Hoshie sebentar untuk membuka pintu kamar rawat lalu mendorong lagi Hoshie masuk ke ruang rawat disana sudah ada Nawa yang ditemani Fable....


..."Dashie" sapa Fable....


... Nawa menyapa dengan memperhatikan Dashie yang membantu suster jaga tersebut untuk Hoshie naik ke atas tempat tidur....


... Suster memasang selang infus dengan menggantungkan bantalan cairan infus ke tiang infus di sebelah kanan....


... Sedangkan untuk Dashie merapikan selimut yang menyelimuti separuh bagian tubuh Hoshie....


... Suster kemudian pergi untuk memeriksa pasien di ruang pasien lain masih satu bangsal dengan ruangan tersebut....


... Dashie merapikan kerah baju Hoshie....


... Hoshie menarik tangan kanan Dashie....


..."Duduklah" kata Hoshie....


..."Apa ada yang sakit?" tanya Dashie....


... Dashie duduk di kursi besi rumah sakit disebelah kiri ranjang Hoshie memeluk tangan gadis ini lalu menutup mata....


... Banyak pasang mata yang sedang pura-pura tidak melihat sikap Hoshie ini terhadap Dashie....


... Dashie belum paham juga dan terus bertanya lagi....


..."Ada apa?" tanya Dashie....


... Fable tiba-tiba mengambil bantal sekaligus bantal sofa lalu berbaring pura-pura ingin tidur sambil mengambil ponsel sembunyi sembunyi tanpa suara mengirim pesan kepada Poet....


..."Lebih baik kau menjauh sejauh mungkin!" kata Fable....


... Poet sedang mencerna maksud dari pesan yang diterimanya dari Fable....


... Dua detik langsung paham....


... Melirik Pax....


..."Maukah kau temani aku keluar sebentar?" tanya Poet....


..."Kebetulan sekali aku juga membutuhkan sesuatu" kata Pax....


... Mereka keluar dari rumah sakit untuk mencari perihal hal-hal yang mereka butuhkan....


... Menyimpan ponselnya lagi didalam jaket hitam bomber yang dipakai melanjutkan pura-pura tidur dilanjutkan sedangkan untuk Nawa sudah dengan peran seperti yang dilakukan oleh Fable lebih awal mengambil arah mencegah dirinya menerima semua percakapan yang dikatakan oleh kedua orang yang kembali tidak bertengkar....


... Akan melepaskan tangannya yang dipeluk oleh Hoshie....


... Dia yang menutup mata tapi belum tertidur membuka mata menatap Dashie....


..."Kau ingin pergi kemana. Sebentar saja tetaplah seperti ini" kata Hoshie....


... Dashie menatap Hoshie yang menjadi lebih patuh tidak ingin menjauh dari sisinya menerima perhatian dari gadis yang sedang memandang wajahnya lembut menyentuh kepalanya....


... Dia terhenti dari apa yang dilakukan dengan tanpa mengagetkan Hoshie....


..."Bug!" ...

__ADS_1


... Mengejutkan dengan suara pukulan....


..."Lepaskan aku!" kata Callie....


... Terdengar suara sahabatnya lagi dari sisi lain dimensi yang tidak seharusnya diketahui oleh Dashie....


... Teriakkan keras....


..."Tidak akan!" kata seorang pria....


... Suara aneh terdengar lagi....


..."Bug!" ...


... Menebak suara itu lagi sebuah suara pukulan yang terulang kembali....


... Kini dia melihat gambaran seseorang tercekik oleh seorang wanita yang berbalik membalas dari pukulan yang didapat dari pria dalam gambaran yang belum bisa terlihat sempurna untuk Dashie saksikan....


..."Bug!" ...


... Kali ini bukan suara pukulan akan tetapi suara wanita yang baru saja mencekik pria tersebut yang terlempar cukup keras di dinding ruangan....


... Tersadar dalam lamunan....


... Suara itu mengingatkan suara pria yang muncul ada didalam lamunan gambaran yang datang baru saja....


..."Siapa dia?" tanya Dashie....


... Dashie tidak yakin suara itu adalah suara dari Hoshie....


..."Itu bukan suara Hoshie" kata Dashie....


..."Aku takut ini adalah sebuah manipulasi seseorang" kata Dashie....


... Untuk Hoshie tahu bahwa disaat seperti ini seharusnya dirinya menjauh dari gadis yang dia sayang tapi inilah yang dipilih olehnya yang sudah mengetahui akibat yang diterima olehnya bahwa sisa waktu yang dimilikinya akan semakin berkurang sudah disadari oleh kondisinya yang semakin melemah....


... Bisakah Dashie melihat kondisi Hoshie yang sungguh menjadi lebih buruk tanpa ada tanda kematian yang seharusnya terlihat dari ciri-ciri bangsa Blacwhe yang akan pergi selamanya menguap di udara tapi kali ini tidak. Dia tetap dengan raga yang ada di sisi Dashie seakan semua baik-baik saja memeluk lembut tangan Dashie tidak memikirkan nyawanya akan segera berakhir....


... Dashie melihat Hoshie dengan mata tertutup tersenyum dengan kondisinya saat ini sangat penuh rasa sakit tanpa memberitahu Dashie yang membaringkan kepalanya di sisi Hoshie saling berhadapan duduk di sana di sebelah Hoshie berbaring dengan kursi besi rumah sakit....


... Berbisik....


..."Aku tidak ingin melihat itu lagi" kata Dashie....


..."Semua itu hanya dirimu yang telah pergi" kata Dashie....


... Seakan menyadari apa yang baru saja dilihat dari gambaran yang dianggapnya sebagai halusinasi yang terjadi pada Dashie. Dia membalas kata kata yang diucapkan oleh Dashie....


..."Berjanjilah. Jangan pergi" kata Hoshie....


... Rasa sakit itu semakin kuat membuat Hoshie sama sekali tidak bisa bergerak selain membuka mata untuk melihat seseorang yang sangat disayang olehnya berada di dekatnya tidak lari pergi sejauh yang bisa diambil keputusan jika gadis didepannya ini tahu siapa dirinya yang begitu jahat....


..."Janji" kata Dashie....


..."Aku tidak tahu apa itu sebuah janji" kata Dashie....


... Suaranya bertambah lirih....


..."Maaf" kata Hoshie....


..."Aku sudah mencintaimu" kata Hoshie....


..."Kau tidak perlu meminta maaf" kata Dashie....


... Wajahnya memelas benar-benar tidak ingin melepaskan Dashie dari sisinya tapi apakah Dashie menginginkan apa yang diinginkan oleh Hoshie....


..."Kau membuatku merasa bersalah" kata Dashie....


..."Tidak. Aku disini yang bersalah" kata Hoshie....


..."Kau sudah tahu jawaban dari semua ini" kata Dashie....


... Memohon....


..."Jangan pergi" kata Hoshie....


..."Dia sudah cukup bersabar" kata Dashie....


..."Dia terlalu baik untuk mu hingga mau selalu menunggu" kata Hoshie....


... Menghapus air mata yang jatuh dari pipi sendiri....


..."Tidak seperti itu" kata Dashie....


... Menyentuh pipi sebelah kiri Dashie....


..."Aku bisa lebih dari apa yang kau mau" kata Hoshie....


..."Sorry" kata Dashie....


..."Kau tahu aku sudah memilihnya" kata Dashie....


... Alasan Hoshie tidak ingin seseorang yang disayanginya datang untuk menjenguknya di rumah sakit kali ini bukan hanya salah satu dari kondisi mereka berdua akan memburuk seperti yang menimpa Hoshie kali ini akan tetapi hal yang tadi malam diketahui oleh dirinya secara langsung tanpa sebuah perantara menjadi sebuah alasan tanpa perlu membutuhkan penjelasan dari Dashie lagi....


..."Maafkan aku sekali lagi" kata Dashie....


..."Aku bilang jangan meminta maaf lagi" kata Hoshie....


..."Maaf" kata Dashie....


... Waktu kembali disaat Dashie baru selesai merapikan selimut yang dipakai oleh Hoshie....


... Mengirim pesan kepada seseorang dimana dirinya berada sekarang....


... Pesannya terkirim....


... Mendapat balasan dari orang yang mendapat pesan darinya langsung....


..."Tunggu aku" ...


... Dia seseorang yang sudah lama berusaha menerima tentang siapa orang yang dianggapnya sebagai pilihan tidak banyak berkata lebih untuk membuktikan bukan hanya kata melainkan lebih banyak tindakan yang selalu menjadi bukti tanpa harus semua orang tahu....


... Orang itu sudah tiba di depan pintu untuk menunggu seseorang yang menjadi miliknya tetaplah miliknya....


... Dashie menghapus air mata Hoshie lalu pergi....


..."Sorry" kata Dashie....


... Dashie pergi....


... Hening....


... Di dalam ruangan semua melihat dengan siapa Dashie pergi....


... Hoshie yang terkenal tidak mudah menyerah baru kali ini terlihat sesedih ini ketika ditinggal seseorang....

__ADS_1


__ADS_2