Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 114: Membutuhkan waktu.


__ADS_3

...Chapter 114: Membutuhkan waktu....


..."Kau lembur hari ini?" tanya Hoshie....


... Dia meneguk bir dalam kaleng yang berwarna hijau....


..."Ku pikir kita tidak pernah dekat" kata Ren....


..."Kita memang tak seakrab itu" kata Hoshie....


..."Enyahlah dari hadapan ku!" kata Ren....


... Dia menawarkan bir kepada Hoshie....


... Hoshie hanya melihatnya saja lalu penolakan yang ia dapat dari keramahan yang coba ia tawarkan....


..."Kau ingin membunuhku" kata Hoshie....


..."Aku baru ingat kau sedang terluka parah" kata Ren....


... ...


... Dia meminum sendiri bir yang coba ia berikan kepada Hoshie barusan dengan kaleng yang ketiga sudah ia minum....


... Memperhatikan Hoshie yang terlihat jauh lebih baik dari pemulihan yang ia lewati....


... Udara di malam hari yang cukup dingin dengan angin malam yang menusuk menambah rasa sunyi suasana....


..."Bagaimana kau bisa tahu kalau itu adalah aku?" tanya Ren....


..."Dulu. Ya, dulu sekali kita pernah satu arah. Bukankah, itu cukup mudah untuk saling mengenali" kata Hoshie....


..."Kita tidak pernah satu arah hanya saja kita memang seperti ini" kata Ren....


... Dia menyalahkan hal yang menimpanya saat ini semuanya kepada Hoshie....


... Marah-marah....


..."Ini semua salahmu. Aku merasa tubuhku sakit semua" kata Ren....


... Belum selesai dengan emosi yang ada dalam diri....


..."Apa tujuanmu kemari?" tanya Ren....


... Menunjuk kepada diri sendiri....


..."Aku?" tanya Hoshie....


..."Aku hanya ingin memastikan kau masih hidup atau sudah pergi" kata Hoshie....


... Meneguk bir ditangan kirinya lagi....


..."Mati. Tidak mungkin, sebelum kau mati. Aku harus tetap hidup" kata Ren....


... Tawa sinis dari seorang Ren palsu ini....


..."Kau akan mati dengan cepat. Aku akan buatkan makam palsu untuk mu" kata Hoshie....


... Berbicara mulai mereda amarahnya kepada salah satu bangsa Blacwhe itu....


..."Kau kemari hanya ingin berkata itu" kata Ren....


..."Tidak mungkin. Kau tidak senaif itu tidak tahu maksud kedatangan ku" kata Hoshie....


..."Aku juga tidak sesenggang itu untuk mengurusi kehidupan orang lain" kata Ren....


... Hoshie melihat layar ponsel melihat fotonya bersama dengan Dashie....


... Tanpa perlu memeriksa Ren sudah melihat siapa foto yang sedang terus dilihat oleh orang disebelah kirinya itu beberapa kali ketika sedang berbicara dengannya....


..."Pilihanmu sudah cukup baik" kata Ren....


..."Ku kira kau juga mengincarnya" kata Hoshie....


..."Aku hanya menyukai satu orang saja dalam hidupku" kata Ren....


... Hoshie tertawa sangat puas dengan jawaban yang tidak meyakinkan itu....


... Merasa apa yang dilakukan oleh Hoshie sangat menyinggung dirinya....


..."Hentikan. Aku terlihat seperti penipu saja" kata Ren....


... Dia tertawa lagi....


..."Hahahaha" tertawa Hoshie....


... ...


..."Kau yakin dengan kata-kata mu" kata Hoshie....


... Percaya diri luar biasa dengan apa yang ia tegaskan atas ketidakyakinan seseorang yang tidak percaya dengan apa yang ia katakan....


..."Yakinlah" kata Ren....


..."Aku tetap tidak percaya" kata Hoshie....


..."Terserah" kata Ren....


..."Kau jelas sangat kesal padaku" kata Hoshie....


..."Jangan tanya lagi. Kau memang menyebalkan" kata Ren....


... Melempar kaleng ke tempat sampah kecil dekat pembatas balkon apartemen....


... Bunyi kaleng kosong masuk ke tempat sampah....


... Hening lagi....


... Melihat ke luar apartemen dengan lampu lampu kota malam sudah menyala juga jalanan yang terang berjalan kendaraan kendaraan terlihat juga dari atas mereka ada di sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal....


..."Kembalikan kekuatan ku" kata Ren....


..."Tidak akan" kata Hoshie....


..."Mudah sekali kau mengambil dan menggunakan kekuatan milik orang lain" kata Ren....


... Tidak mau kalah berargumen dengan orang disebelah kanannya itu....


..."Bagaimana dengan dirimu, sepertinya kau juga menikmati peran orang lain?" tanya Hoshie....

__ADS_1


..."Dia cukup mudah untuk diterima oleh banyak orang" kata Ren....


... Membuka kaleng bir lagi untuk yang ke empat kalinya....


... Suara bunyi bir keluar dari dalam kaleng yang baru terbuka....


..."Pessss"...


... Meneguk lagi bir yang ia buka tutupnya....


... Merasakan keheningan malam....


..."Pergilah. Kita takkan pernah berteman" kata Ren....


..."Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ren....


... Dengan bir ditangan berbalik melihat ke arah Hoshie lalu Hoshie juga melihat ke arah orang yang diajaknya bicara....


..."Ini adalah kesempatan yang bagus. Bunuh saja aku" kata Ren....


... Hoshie tertawa sedikit sinis terhadap situasi canggung ini....


..."Aku tidak serendah itu" kata Hoshie....


... Ren tertawa lebih keras ...


..."Hahahaha"...


... Dia tertawa lebih keras seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh salah satu dari bangsa Blacwhe sama seperti dirinya....


... Berhenti tertawa....


... Serius dengan situasi ini....


..."Kau lupa seberapa keji kita tanpa orang lain tahu semuanya dengan apa yang sudah kita lakukan" kata Ren....


..."Bahkan aku juga bisa mengambil nyawamu jika aku mau" kata Ren....


... Hoshie dengan wajah dingin kembali....


..."Kau sudah selesai. Aku bisa menghajarmu sekarang juga" kata Hoshie....


... Dia tidak takut sama sekali....


..."Silahkan saja. Aku pikir itu tidak akan terjadi. Lihat dirimu jauh lebih mirip dengan manusia" kata Ren....


... Hoshie sadar bahwa orang yang diajaknya bicara masih dalam keadaan mabuk jangan sampai ia kehilangan kendali....


... Tapi, apa yang dikatakan oleh Ren kali ini bukan karena hanya dia sedang mabuk saja seakan tahu bagaimana keadaan Hoshie meski baru kali ini mereka berusaha untuk mengakrabkan diri....


..."Ku lihat kau sudah lama tidak mengambil aura manusia. Sepertinya nyawamu tidak akan lama lagi" kata Ren....


..."Hari-hari mu pasti sulit" kata Ren....


... Tertawa dalam diamnya menertawakan Hoshie....


..."Makhluk seperti kita memang sudah seharusnya hilang dari muka bumi ini" kata Ren....


... Dia lalu terjatuh dengan kaleng bir yang terlepas bersamaan dari tangannya....


... Hoshie jongkok memeriksa keadaan Ren lalu melihat ke bawah meja kotak yang ada di bagian dalam balkon....


... Banyak sekali kaleng bir yang sudah kosong ada disana....


..."Ku rasa bukan dia pelakunya" kata Hoshie....


... Benar juga apa yang dikatakan oleh Ren dengan kesempatan ini bisa saja Hoshie melenyapkan nyawanya dengan mudah tapi urung untuk dilakukan. Hal ini juga menjadi alasan dasar jika ia adalah pelaku utama dari kematian adiknya tidak bisa langsung bisa menyimpulkan bahwa dia bersalah karena ia tahu sedang berhadapan dengan siapa....


..."Siapa yang akan percaya jika kau salah ataupun tidak. Aku tidak suka basa-basi" kata Hoshie....


... Terpaku dengan tatapan kosong terlihat dingin menakutkan bagi siapapun yang melihat kondisi Hoshie....


... Dia dengan senjata dari telapak tangan kini muncul kembali seakan tanpa terkendali ingin menghabisi nyawa seseorang tanpa ia kehendaki menguasai dengan mudahnya pemilik senjata itu. ...


... Naluri membunuh Hoshie datang lagi sesuai dugaan dari Ren yang sudah dibicarakan secara terus terang dalam beberapa menit yang lalu....


... Dia datang dari dunia yang ia kendalikan tanpa ia sadari sedang melihat apa yang akan dilakukan oleh Hoshie....


... Darah dari senjata itu jatuh ke bawah lantai mengalir dari telapak tangan....


..."Seseorang mengatakan hal ini padaku haruskah aku percaya?" tanya Dashie....


... Senjata itu hampir saja menyentuh leher Ren dalam beberapa sentimeter saja....


... Di melihat kearah Dashie yang ada didepannya dengan jarak empat langkah saja....


... Dia belum juga bisa mengendalikan diri sadar bahwa orang yang mengajaknya bicara adalah Dashie....


... Dia kembali akan melanjutkan aksinya menghabisi nyawa orang lain....


... Dia melangkah mendekat satu langkah lagi maju mendekat kepada Hoshie....


..."Kau akan tetap melakukan ini bahkan jika aku adalah targetmu?" tanya Dashie....


... Dia kembali sadar perlahan mengembalikan senjatanya lagi masuk kedalam telapak tangan yang sudah berdarah....


... Darah darah itu menghilang terbawa aura hitam yang keluar dari dalam diri Hoshie....


... Dashie meraih tangan Hoshie yang masih terlihat terluka setelah mengeluarkan senjata yang ia miliki menyentuh sisa darah yang perlahan kian menghilang....


..."Apa ini sakit?" tanya Dashie....


... Tanpa kendali aura milik Hoshie akan segera mengambil aura milik gadis didepannya itu....


... Waktu yang singkat jelas terlihat di depan Hoshie bahwa Dashie sudah pergi dari tatapan kedua matanya tanpa sebuah kata lagi ia dengar dari lisan gadis itu....


... Hoshie kembali tersadar dan ia juga pergi dari apartemen Ren....


... Di tempat kos kosan Dashie....


... Dia terbangun dengan telapak tangan sebelah kanan mendapatkan sebuah darah yang merupakan darah Hoshie dari tangannya yang mencoba menyentuh luka-luka yang ia lihat ada dianggap di dalam mimpinya itu....


... Dia duduk bersandar ditempat tidur kamarnya dekat pintu kamar....


..."Tak ada luka ditangan ku tapi ini apa?" tanya Dashie....


... Dia mencium cairan yang berwarna merah itu langsung dari telapak tangannya sendiri....


..."Darah?!" kata Dashie....

__ADS_1


... Dia segera mengambil slipper yang ada dibawah tempat tidur lalu bangun beranjak pergi menuju kamar mandi....


... Dari balik pintu kamar luar Dashie....


... Dia ada disana memeriksa apa yang sedang terjadi kepada Dashie....


... Dia melihat layar ponsel....


..."Kau sudah tidur?" tanya Hoshie....


... Dia baru saja mengirimkan pesan kepada Dashie....


... Dashie masih didalam kamar mandi yang sedang mencuci kedua tangannya dengan menggunakan sabun tapi darah-darah itu sulit untuk dibersihkan bahkan dengan sabun masih menempel ditelapak tangannya sebelah kanan....


..."Kenapa ini sulit untuk dibersihkan?" tanya Dashie....


... Tapi dalam beberapa detik kemudian darah-darah itu menghilang sendiri....


..."Ini?" tanya Dashie....


..."Apakah aku berhalusinasi lagi?" tanya Dashie....


... Dia membasuh tangannya dengan air yang masih mengalir dari dalam keran wastafel kamar mandi....


... Kemudian membasuh mukanya sampai ketiga kali....


... Mematikan kran wastafel lalu mengambil handuk kering yang didalam lemari kecil yang ia siapkan baru tadi sore ini....


... Mengeringkan wajah setelah itu mengeringkan kedua tangan lalu keluar segera dari kamar mandi....


... Dia melihat layar ponsel yang menyala....


..."Dia mengirim pesan padamu lagi" kata Dashie....


... Melihat pukul berapa sekarang ia baru saja bangun dari tidurnya dari jam di ponsel....


..."Ini sudah setengah dua belas malam" kata Dashie....


..."Dia belum istirahat" kata Dashie....


... Dia akan membalas pesan dari Hoshie tapi enggan membalasnya sekarang....


... Hoshie mengirim pesan lagi kepada Dashie....


..."Bisakah kita bicara besok pagi?" tanya Hoshie....


... Dashie membalas pesan kepada Hoshie....


..."Apa terjadi sesuatu?" balas Dashie....


..."Tidak ada" kata Hoshie....


..."Lalu?" tanya Dashie....


..."Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan padamu" kata Hoshie....


..."Jangan seperti ini. Aku tak ingin kita selalu bertengkar" kata Dashie....


..."Besok, aku mengantarmu kerja lagi?" tanya Hoshie....


... Balasan pesan terakhir dari Dashie....


..."Besok. Kakakku menjemput kami" kata Dashie....


... Hoshie pergi dari depan pintu kamar Dashie dalam mode tidak terlihat....


... Di tempat lain yang juga tidak terlalu jauh jarak mereka berseberangan kamar mereka ada seseorang yang secara tak sengaja melihat sebuah jendela kamar yang berubah menjadi es yang mencair mengeras melihat dengan teropong yang ia pakai sejak Dashie terbangun dari tidurnya secara tidak sengaja melihat hal ini ketika akan menutup tirai jendela kamarnya sendiri....


... Dia juga melihat perbandingan yang ada di kamar seseorang yang terlihat biasa-biasa saja tak ada perubahan yang sama yang terjadi di jendela kamar orang lain....


..."Jendela kamar Nawa tidak seperti itu tapi dijendela itu" kata Po....


... Mengambil arah lain untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat baru saja bukanlah sebuah kenyataan....


..."Apa ini. Tidak ada perbedaan dari sebelumnya" kata Po....


... Rasa penasaran gadis remaja ini membuatnya memutuskan untuk akan membuka pintu jendela kamar tapi rencananya dibatalkan dengan apa yang ia lihat saat ini juga membuatnya takut. Dia langsung mengunci rapat lagi pintu jendela kamarnya lalu segera menutup tirai jendela dengan cepat segera mematikan lampu kamarnya sebagai penanda bahwa ia sudah tertidur sebagai penghuni kamar....


..."Apa yang barusan ku lihat?" tanya Po....


... Dia kembali melihat secara sembunyi-sembunyi melihat lagi luar jendela kamar dengan sesuatu yang terus terbang kesana kemari di gedung kos kosan samping rumahnya yang berjarak cukup dekat jelas membuatnya bisa melihat wujud rupa dari makhluk yang ia anggap mengerikan yang sedang terbang melayang-layang tanpa rasa takut akan terlihat oleh manusia....


... Dia berusaha melihat dengan layar ponsel yang menyala tapi apa yang ia lihat seperti didalam film atau drama terjadi kepada dirinya bahwa sesuatu yang ia lihat dari dunia nyata tak terlihat di layar ponselnya....


... Dia melirik ke arah Po langsung seketika ponselnya dimatikan mengambil selimut bersembunyi dari balik selimut....


..."Aku harap dia tidak datang kemari" kata Po....


... Jangan sampai gadis remaja ini membuka selimutnya walaupun hanya beberapa detik saja karena jika iya maka ia akan melihat makhluk yang ia lihat barusan sedang mencoba berusaha untuk membuka jendela kamar gadis ini akan tetapi sulit untuk makhluk itu melancarkan aksinya....


... Dia masih belum menyerah untuk tetap melihat siapa penghuni kamar melalu jendela kamar tersebut....


... Di rumah sakit....


..."Ya. Aku sudah memasang pelindung dirumah gadis itu. Apa kau puas?" tanya Jarrel....


..."Berhenti menggangguku lagi. Aku sedang istirahat" kata Jarrel lagi....


... Ved yang ada dirumah sakit melihat ke arah Rumy yang sedang terlelap tidur disamping ibunya yang tertidur di kursi rumah sakit....


... Dia berbisik lagi....


..."Kau tidak akan patuh dengan seniormu" kata Ved....


... Jarrel yang ada didalam kamarnya sendiri langsung terbangun duduk melihat keluar jendela dengan tirai yang masih terbuka....


... Menghela nafas panjang....


..."Apa perintahmu selanjutnya?" tanya Jarrel....


..."Tak ada" kata Ved....


... Obrolan mereka berdua diakhiri secara sepihak oleh Ved....


... Jarrel....


... Dia sudah tidak ingin marah-marah dengan sahabatnya itu jika melihat kondisinya yang sangat membutuhkan banyak istirahat setelah seharian bekerja....


... Dia terbaring menatap langit....

__ADS_1


..."Ayo cepat tidur lagi" kata Jarrel....


... Dia yang berjuang untuk tetap bisa beristirahat meski itu sulit tapi ia membutuhkan waktu untuk tidur....


__ADS_2