
Chapter 18: Marshmallow.
Ved membantu kakaknya Aka yang juga pura pura sibuk padahal sejak detik pertama Hoshie datang di ruang utama hotel ada disana langsung lebih banyak mengawasi pacar adiknya itu.
Panggil lirih dalam keheningan.
"Kak Brees!" kata Ved.
"Kenapa memanggil ku terus?" tanya Kak Brees.
Berkata jujur menegaskan.
"Baru sekali" kata Ved.
Sibuk dengan dokumen yang baru ia terima dari asistennya barusan.
"Ya. Adik ipar" kata Kak Brees.
"Kapan mereka putus?" tanya Ved.
Berhenti membalik halaman dokumen dengan cover kuning.
Tidak mau menjawab pertanyaan dari Ved.
Kembali membaca berkas dokumen.
Pemuda ini belum menyerah.
"Aku ingin membuat mereka putus" kata Ved.
Selesai membaca berkas dari asistennya lalu ikut memperhatikan lagi adiknya yang sedang bersama pacarnya.
"Tidak perlu" kata Kak Brees.
"Kau merestui mereka" kata Ved.
"Alam ini tidak mengizinkan mereka bersama" kata Kak Brees.
Setelah memberikan pendapatnya tentang hubungan percintaan adiknya itu langsung dia pergi menuju lift menuju ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaan.
Panutannya baru saja memberikan contoh secara langsung kepada Ved.
"Maksudnya, aku hanya perlu menunggu waktu" kata Ved.
Dia tersenyum manja kepada pacarnya membelai rambut di telinga pacarnya satu kali dalam hening ruang ini menyapa lembut tanpa kata mata indah bersinar malam ini wajah tanpa rasa sedih terlalu manis untuk Hoshie bagi Aka.
Membalas pesan indah dari tatapan lembut Hoshie tanpa pemuda ini tahu apa isi hati dari gadis yang sedang ia beri percikan kasih sayang yang Aka tahu ini bukanlah yang dia butuhkan.
"Darrr!"
Petir sudah datang.
Cuaca semakin dingin dengan angin yang kencang ikut berteman dengan hujan malam ini.
Kedua orang tua gadis yang hilang itu memutuskan untuk istirahat di dalam kamar hotel.
Ved mengambil tempat lain untuk beristirahat bersandar kemudian di sebuah sofa hitam panjang bersama para relawan lain yang juga menunggu hujan reda.
Duduk di sofa dengan warna yang sama di sofa yang berbeda ada disana mereka berdua duduk bersebelahan. Aka dan Hoshie.
Ved mengartikan kata kata yang diucapkan oleh Brees yang terdengar santai tapi sangat serius dengan caranya berbicara.
Pemuda ini mengambil acak majalah yang tersedia diatas meja.
Serius membaca majalah dengan masih memperhatikan kedua orang yang tidak jauh darinya. Mereka berdua duduk di sofa di sebelah kanannya persis.
Hoshie mengajak Aka mengobrol mesra tapi tanpa kata kata lebih dia lebih fokus dengan pekerjaan didepan meja dengan lima tumpukan file dokumen hotel.
Hoshie bersandar di pundak sebelah kiri gadis yang sedang sibuk membaca banyak dokumen.
Hoshie asik bermain helai rambut Aka yang menjuntai panjang di bahu pacarnya dan Aka tidak merespon balik apa yang sedang dilakukan oleh Hoshie kepadanya lebih memilih melanjutkan membaca berkas berkas file di kedua tangan lagi.
"Aku harus memberikan semua ini kepada Kakakku" kata Aka.
Mengangguk Hoshie.
"Sebentar saja aku segera kembali" kata Aka.
Aka pergi sedangkan Hoshie menunggu di sofa sendirian lalu membuka ponsel dengan urusan bisnisnya lagi.
Dengungan bertambah keras terdengar terasa di kedua telinga datang dalam detik ketiga jarum jam berdetak di jam dinding besar antik dalam hotel.
Ved pergi mengejar salah satu bangsanya yang memiliki ciri suka mengambil aura milik manusia tanpa diketahui bahwa seseorang yang baru saja dilewatinya adalah salah satu bangsanya sendiri yang ia cari juga selama ini.
Hoshie tidak ingin tahu kemana Ved pergi.
Membaca sesuatu di dalam ponsel.
"Kemana dia pergi bukan urusanku tapi siapa yang beraksi di hujan hujan begini?" tanya Hoshie.
Hoshie yang mudah mengantuk akhirnya tidur di sofa itu sendirian bersandar sebelum pacarnya datang.
Di ruang kerja telah terjadi pertengkaran antara kedua kakak dan adik yang cukup menguras emosi.
Benar, dia tahu bahwa tidak pernah kakaknya untuk berniat menjerumuskan adiknya kepada hal yang tidak baik semua yang ia lakukan hanyalah untuk kebaikan dari adik perempuannya itu.
"Tok tok tok!"
Suara ketukan pintu dari luar ruang kerja Brees.
Asisten Brees datang mengetuk pintu untuk melaporkan sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan.
Pertengkaran itu berakhir.
Aka keluar dari dalam ruangan kerja kakaknya dia pergi melewati Asisten Kakaknya itu.
Dia sama sekali tak menatap wajah Asisten pribadi kakaknya lalu pergi berlalu meninggalkan mereka yang melihat Aka keluar dengan kondisi marah.
Dia menghapus air mata setelah bertengkar dengan kakaknya barusan.
Brees duduk di kursi kerja sedangkan Asistennya sedang menunggu Brees menyuruhnya untuk masuk kedalam masih didepan pintu.
Brees memberi perintah.
"Masuklah!" kata Brees.
Memberikan laporan yang Brees minta lalu ia segera pergi dari ruangan tempat kerja Brees setelah menyerahkan sebuah laporan perkembangan hotel kepada Brees.
__ADS_1
Brees dengan rasa cemas kepada adiknya yang memiliki pacar dan itu Hoshie.
"Dia bisa tidak mencari pria yang jauh lebih baik" kata Brees.
Brees tidak kenal dengan Hoshie tapi dia juga tidak sampai tidak tahu bagaimana seorang Hoshie seperti apa mengingat siapa yang terakhir kali gadis yang selalu bersamanya yang tentu itu adalah Dashie.
"Aku takut dia akan tidak memiliki teman" kata Brees.
Dia tidak ingin orang yang dia sayang akan menangis suatu hari nanti dan dia terlambat memberi nasihat setelah kisah sedih itu terjadi Brees tidak ingin hal itu sampai terjadi.
"Apa dia tidak bisa belajar dari gadis itu?" tanya Brees.
Brees sedang memikirkan bagaimana sedihnya seseorang yang baru saja dicampakkan dengan mudahnya oleh orang yang disukai oleh adiknya itu.
Menghubungi seseorang lalu memberi perintah untuk terus mengawasi kemana adiknya pergi.
"Jangan sampai dia tahu tetap laporkan apa saja yang kamu lihat kepada saya" kata Brees.
Aka akan kembali di sofa sebelumnya bertemu dengan Hoshie.
Melihat sebuah pemandangan yang pernah ia lihat di kampus ketika Hoshie sedang beristirahat di sebuah kelas dan dia tertidur.
"Dia bahkan sangat manis ketika sedang tidur" kata Aka.
Aka pergi ke tempat resepsionis.
Aka meminta selimut yang tersedia di lemari meja resepsionis untuk tamu hotel.
"Berikan satu selimut untukku" kata Aka.
Staf yang bekerja di meja resepsionis memberikan satu selimut tebal dan cukup besar kepada Aka.
"Terima kasih" kata Aka.
Senyum ramah diberikan untuk Aka.
"Sama sama" kata staf perempuan.
Gadis ini pergi membawa selimut menuju Hoshie yang tertidur pulas.
Ved kembali dengan cepat ia mengambil selimut yang dibawa oleh Aka lalu duduk disebelah Hoshie yang sedang tertidur pulas membuka selimut lalu berbagi bersama dengan temannya itu dengan wajah saling berlawanan arah.
Sahabatnya menutup mata pura pura tidur dengan cepat di sisi kanan Hoshie.
Tidak ada ekspresi marah untuk Aka.
"Ok. Tidak masalah" kata Aka.
Kaki Ved mengambil banyak tempat sehingga tidak ada tempat untuk Aka bisa duduk disebelah Hoshie.
Aka mengambil tempat duduk yang lain untuk dia bersandar menghilangkan lelah setelah sejak pagi bekerja membantu Brees.
Ruangan masih dengan hening dengan suara hujan serta angin tak juga jarang Petir dan guntur datang.
Mendengar keduanya mendengar apa yang dikatakan oleh Hoshie sebuah nama yang sama yang pernah keduanya dengar juga ketika pemuda ini mabuk.
"Dashie" kata Hoshie.
Ved membuka kedua mata langsung melihat ke sisi kiri melihat ke sumber suara tersebut.
"Dashie" kata Hoshie lagi.
Emosi.
"Siapa pacarmu?" tanya Ved.
Jawaban lucu yang tidak diduga dari Hoshie.
"Dashie" kata Hoshie.
Ved menutup mata lagi berpura pura tertidur.
Ved menganggap kalau Aka tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Hoshie tentang siapa yang dipanggil ketika sedang tertidur.
Aka masih dengan berpura pura tertidur setelah sepuluh menit menghitung waktu, dia pergi meninggalkan ruang utama hotel pergi menuju kamar di hotelnya.
Dan dia menebak apa yang akan terjadi tentang kisah asmara sepasang kekasih ini kedepannya akan bagaimana.
"Aku terlalu peduli dengan kisah mereka lalu bagaimana dengan diriku sendiri?" tanya Ved.
Dia sudah melepas jaket transparan yang ia pakai setelah tadi menghilang dari jangkauan Ved.
Luka menganga di tangan kanan hasil dari pekerjaan Ved menyatu kembali dengan otot otot serta saraf saraf lain bagian tangan yang di rusak oleh Ved hampir saja mengoyak tangan kanannya menjadi hancur.
Darah mengucur deras ke bawah lantai di bawah tepat lengan Luc sedang menyatu kembali di tiap bagian bagian yang hampir terkoyak hancur oleh senjata Ved.
Di bagian apartemen yang juga tempat tinggalnya yang berada di depan pantai dengan pemandangan luas pantai yang bisa dilihat langsung dari dalam kamar apartemen.
Memakan marshmallow dengan coklat hangat.
Sebelum dia ada di dalam apartemen.
Ved mencari tanpa bayangan setelah membaca mantra "Dugas" mencari sumber dengungan yang ia dengar amat kuat terdengar di kedua telinga.
Luc juga sedang menggunakkan mantra "Dugas" menunggu siapa yang akan muncul setelah dia menggunakkan dirinya sendiri sebagai umpan.
Ved tidak terkena hujan meski hujan cukup deras jatuh mengguyur seluruh tubuhnya.
"Dia anak baru" kata Luc.
"Kita lihat nanti siapa yang akan tetap hidup" kata Luc.
Luc berlari akan menyerang Ved.
Getaran kehadiran dari Ved bisa diketahui oleh Luc meski tak ada bayangan tapi dia bisa merasakan energi kuat milik Ved berada ada dimana segera dia berlari lalu dia terhenti.
Di atas udara merasakan bahwa senjata miliknya tidak bisa keluar dari telapak tangan di sebelah kanan atau kiri.
Ved singkat langsung merasakan Luc didepannya.
"Krashhh!"
Darah keluar ikut terbawa angin dari telapak tangan Luc.
Tangan kanan Ved belum ingin melepas senjatanya yang berhasil melukai tangan Luc.
__ADS_1
Dari arah belakang punggung Ved muncul senjata tajam yang hampir sama tapi lebih tajam keluar dengan cepat mengepung raga Luc tanpa bayangan dari Luc terlihat oleh mata.
Luc pergi menghilang.
Senjata Ved hampir saja menghabisi nyawa dari Luc.
Banyak darah berterbangan jauh lebih banyak dari awal luka yang ia berikan melepas diri dengan tanpa perhitungan.
Hujan belum reda menunggu dengungan itu datang lagi dari atas sebuah bangunan tinggi apartemen yang bukan tempat tinggal Luc.
Dua belas menit kemudian.
Kembali ke hotel untuk menemui sahabat dan pacarnya.
Callie akan pulang kerja.
Menelepon Dashie.
"Kau tidak perlu apapun?" tanya Callie.
Sambil memeriksa peralatan balita.
"Kurasa tidak. Aku sudah mendapatkan sebuah kiriman paket" kata Dashie.
Bertanya lagi.
"Kau ingin aku belikan apa?" tanya Callie.
"Aku sedang berjuang untuk diet" kata Dashie.
"Ok" kata Callie.
Mengakhiri percakapan dengan Dashie lalu menyimpan ponsel di saku baju sebelah kiri.
Jarrel menatap hangat mata Callie.
Callie tidak mau kalah dia berbalik menatap Jarrel.
Jarrel menyerah.
"Hentikan" kata Jarrel.
Serius.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu" kata Jarrel.
"Tentang?" tanya Callie.
Tidak tega jika terus tanya tentang Callie.
"Sorry tapi ini penting buat kamu" kata Jarrel.
"Ya. Apa?" tanya Callie.
Terpaksa tanya.
"Tadi, siapa yang berani mau jahat sama kamu?" tanya Jarrel.
Gadis ini menceritakan tidak berbelit belit hanya dengan beberapa kalimat.
Menghela nafas.
"Aku sedang hidup untuk masa depanku" kata Callie.
"Dia bangsa Blacwhe sama seperti ku?" tanya Jarrel.
"Yang kutahu sifat dan karakter orang berbeda beda misalnya Anda?" tanya balik Callie.
Jarrel kemudian mendorong Callie untuk cepat pulang.
Sebuah perintah.
"Cepat pulang. Disini tidak ada lembur" kata Jarrel.
Jarrel menutup toko segera dan Callie pulang.
"Ada apa dengannya seharusnya aku yang takut bercerita tapi dia yang malah ketakutan" kata Callie.
Di dalam toko tirai tirai mulai ditutup lalu mengambil kunci rumah dan mengambil payung hitamnya lagi kelur dari toko menguncinya dari luar toko menyusul Callie.
Dari arah belakang gadis dengan payung transparan.
Mengikuti berteriak kemudian.
"Aku mengikutimu!"
Menjawab dengan suara keras.
"Aku tahu!" kata Callie.
"Aku mau pergi kerumah Ved" kata Jarrel.
Jarrel berhasil menyusul Callie berjalan di depannya dan sekarang berjalan beriringan.
Callie mengantuk menutupi rasa kantuknya dengan menutup mulutnya yang menguap.
Jarrel jauh berbeda dengan Callie dia masih bersemangat di waktu yang sudah di pukul sembilan malam ini.
Saling menjauh dengan tujuan masing masing mereka saling menjauh tanpa meninggalkan jejak yang berlebihan dengan perpisahan biasa dan pasti akan kembali jika salah satu ingin kembali tidak saling mempersulit kisah tentang mereka.
Hujan deras jatuh menyejukkan jiwa gadis ini dengan lampu lampu terang menyala serta bunga bunga kertas putih bermekaran di sepanjang jalan menuju arah rumah tetap disana dengan kelopak bunga yang berjatuhan.
Semua terlihat oleh mata semakin kabur dan semakin ingin tidak ingin semua yang baru dimulai cepat berakhir.
Callie duduk didepan pintu dengan mata berkaca kaca melihat Jarrel semakin bertambah jauh senyum itu tertinggal di tiap tiap detik yang indah bagi Callie bisa menikmati apa yang tersisa untuknya dia belum berhenti tersenyum sambil menatap Jarrel dari arah belakang.
Dia semakin jauh dan menghilang pergi dan Callie melihat perutnya memeriksa darah yang mengalir ikut terbawa hujan payung milik Jarrel ada disebelah kiri gadis ini.
"Terima kasih untuk semua ini" kata Callie.
Hoshie mengambil senjata miliknya lagi yang ada di perut bagian kiri Callie melewati tangan mantan kekasihnya dan dia telah berhasil juga mengambil aura milik Callie hingga tersisa satu persen.
Dia tidak mabuk.
Dia dalam keadaan sadar melakukan hal keji ini kepada Callie.
Hoshie pergi dan Callie menutup mata.
__ADS_1