
Chapter 24: Kejutan untukmu.
"Kau tidak merindukanku?" tanya Ten.
Langsung membalas pesan dari Ten.
"Tidak" jawab Dashie.
Sudah setelah itu tidak ada balasan lagi dari keduanya.
Ten langsung sibuk di layar komputer bekerja seperti biasa bersama rekan kerjanya yang lain.
Melihat ke layar ponsel diatas meja di sebelah kanan keyboard.
Sepuluh menit lagi berlalu.
Sekali lagi tidak ada pesan masuk dari Dashie.
Sibuk lagi bekerja.
Benar benar Dashie tidak mengirim pesan untuk Ten.
Dashie sedang di depan rumahnya sendiri memilih salah satu tempat dari berbagai pilihan tempat untuk ia kunjungi di hari liburnya ini.
Memilih salah satu tempat dari berbagai macam pilihan membuatnya pusing dan akhirnya dia memilih tempat yang akan dia kunjungi secara acak.
Dia tidak menghubungi atau memberitahukan siapapun kemana dia akan pergi.
Di stasiun kereta bawah tanah.
Dia menunggu kereta datang di stasiun kereta bawah tanah.
Dashie penuh antusias untuk schedule kegiatan hari ini sudah tersusun di isi kepalanya.
Untuk Ten masih sibuk dengan pekerjaan.
Menatap foto Dashie yang berada di meja kerja menambah semangat untuk tiap menit menit kesibukan pekerjaan.
Dashie sudah berada di dalam kereta yang sedang berjalan cepat pergi membawanya pergi dari tempat semula dia menunggu kereta ini.
Mendengarkan lagu dari headset putih dari dalam lagu di ponselnya.
Lagu yang dia dengarkan adalah lagu kesukaan Ten menikmati tiap lirik dari melodi yang terus berputar dari dalam ponsel.
Dia duduk disana diantara tidak terlalu banyak penumpang di jam tidak sibuk ini di pukul delapan pagi.
Lagu tinggal satu menit lebih sepuluh detik lagi akan selesai di putar.
Situasi di luar dugaan dan kendali dari Dashie.
Siapa yang tidak melihat situasi horor dan mencekam ini di setiap sudut gerbong kereta bawah tanah tempat Dashie duduk disana semua nampak tidak peduli dengan apa yang sedang dilihat oleh gadis ini tubuhnya mulai gemetar tangan kirinya menahan rasa gemetar tangan kanan.
Betapa rasa takut hadir di tiap detik menatap ke seluruh penumpang kereta disana dia tidak sedang menebak orang orang yang juga berada di dalam gerbang yang sama juga melihat apa yang dilihat oleh Dashie.
Wajah gadis ini bertambah pucat ketakutan berpikir tindakan apa yang harus dia lakukan untuk menolong gadis yang sedang diambil auranya oleh seseorang yang tidak Dashie kenal.
"Yang kutahu semua ini hanya ada dalam mimpiku" kata Dashie.
Hampir habis aura yang menjadi korban pemuda yang ada tidak jauh dari Dashie masih di dalam gerbong yang sama.
Yang dilihat oleh Dashie adalah salah satu dari bangsa Blacwhe yang sedang menggunakan mantra penghilang diri juga bersama korban yang berada dalam genggaman tangan erat bukan lagi melainkan sangat kuat mencengkram tangan kanannya menjambak gadis yang ada di tangannya itu lalu Dashie tidak tahu kalau orang itu sedang mengambil aura itu tidak terlihat sama seperti dengan gadis yang berada dalam genggaman pemuda di depan Dashie oleh orang orang di dalam kereta terkecuali dirinya.
Pemuda itu tersentak berhenti mengambil aura gadis di tangannya lalu menatap ke arah sekeliling dalam kereta menyadari sesuatu hal aneh ada berada dalam gerbong kereta yang ia naiki.
Tatapan sadis itu menatap kedua mata Dashie dan gadis di tangannya lalu dilempar begitu saja dengan kondisi belum sepenuhnya mati habis diambil aura olehnya.
Darah masih ada di telapak tangan kanan bergerak berpindah cepat di hadapan Dashie. Pemuda itu.
Saling menatap satu sama lain dengan dua makna tatapan berbeda, Dashie mendapatkan tatapan mata rasa ingin memangsa dari pemuda yang sedang berada di depannya dengan jarak amat dekat.
Pemuda itu sadar bahwa Dashie bisa melihatnya meski menggunakan mantra tidak terlihat tersenyum kepada Dashie.
Semakin dekat mendekat kepada Dashie rasa penasaran dengan seseorang yang baru ditemukan.
Langsung dia musnah di depan Dashie.
Terkejut tanpa suara.
Kereta berhenti sejenak lalu pintu terbuka akan datang orang orang masuk kedalam kereta yang akan mereka naiki.
Dashie melihat serta pergi membantunya agar duduk di kursi kereta bersebelahan dengannya gadis yang tergeletak di bawah lantai kereta setelah terhempas oleh pemuda tadi.
Orang orang kemudian ramai ada diantara mereka berdua gadis itu sudah benar benar terlihat oleh manusia biasa karena mantra itu telah menghilang setelah pemuda yang baru saja punah di depan Dashie telah pergi.
Panik dalam diam.
"Apa aku telah memusnahkan manusia?" tanya Dashie.
Gadis disebelahnya belum sadarkan diri.
Kereta terus melaju dengan cepat membawa mereka pergi sesuai tujuan mereka akan turun di tempat perhentian mana sedangkan dengan Dashie masih berpikir bahwa dia adalah monster.
"Siapa gadis ini?" tanya Dashie
"Siapa pemuda tadi?" tanya Dashie.
Panik dalam diam masih dipertahankan dalam situasi menekan psikologisnya.
"Ada apa denganku?" tanya Dashie
Menatap lurus ke depan tatapan kosong Dashie saat ini.
Pertanyaan gila datang menumpuk penuh isi kepala.
"Aku bukan pembunuh" kata Dashie.
"Aku bukan aku yang sebenarnya" kata Dashie.
Dashie tidak tahu siapa yang baru saja dia tidak sengaja pemuda itu dimusnahkan olehnya adalah salah satu bangsa Blacwhe asli yang sudah tidak memiliki separuh jiwa manusia lagi hampir sempurna hanya beberapa persen aura yang dia butuhkan untuk menjadi bangsa Blacwhe sepenuhnya yang juga sedang diincar oleh senior dari Ved yang sedang mengincar pemuda yang telah dimusnahkan oleh Dashie tadi.
__ADS_1
Senior dari Ved baru saja masuk ke dalam kereta yang sama dengan Dashie.
Dia sedang menyamar menjadi seorang pria berjaket biru duduk disebelah kanan Dashie persis.
"Apa yang dia lakukan disini?" tanya seniornya Ved sekaligus bosnya Dashie.
Mencari lagi target yang akan segera ia lenyapkan.
"Ku rasa tadi dia ada disekitar tempat ini" kata Bosnya Dashie.
Perjalanan dengan menggunakan alat transportasi kereta masih berlanjut.
Callie sudah berada dirumah Neneknya.
Sendiri.
Membuka isi koper berwarna merah muda dengan beberapa setelan pakaian.
Dengan sendirinya wajah Callie berubah dengan identitas baru dan Callie menyadari hal ini telah terjadi.
Mengingat kata kata dari Ved.
"Hanya aku dan Dokter Wan yang mengetahui identitasmu" kata Ved.
Timbul pertanyaan dari Callie.
"Kenapa?" tanya Callie.
"Ini demi kebaikanmu" kata Ved.
Callie menjadi penyewa rumah dari rumah neneknya sendiri dengan identitas gadis lain dengan kartu tanda pengenal yang ia terima langsung dari Ved.
Callie duduk diatas ranjang tempat tidur menutup mata merasakan udara di pagi menjelang siang hari dengan tirai jendela kamar terbuka penuh matahari datang.
Menusuk senjata tajam langsung tanpa jeda dalam satu tusukan.
Darah menyebar keluar dari perutnya.
Membuka mata.
Menghela nafas terkejut.
Terengah engah.
Mencengkram kedua tangan diatas selimut tebal putih.
Hening.
Detak jarum jam berputar di meja rias Callie.
Tindakan yang dilakukan oleh Veer atau Hoshie kepada Callie membuat trauma tidak hanya untuk Callie hal ini juga akan terjadi pada siapapun yang pernah mengalami kejadian seperti itu tidak mengenal dia perempuan atau pria sekalipun.
Malam itu dengan senjata senjata itu menjadi bukti ingatan yang terekam jelas di isi kepala.
Ada sebuah sedikit keramaian datang dari pihak yang tidak diketahui oleh Callie lewat di sekitar rumah neneknya lewat di balik pagar tembok dengan tumbuhan terawat menjalar menutupi rapi tertata dengan bunga yang bermekaran di bagian beberapa dedaunan di sekitar dinding tembok pagar.
Callie pergi keluar dari dalam rumah untuk pergi ke suatu tempat.
Membuka pintu gerbang yang terbuat dari besi reflek tanpa kata Callie dalam situasi ini.
Rambut pirang agak kecoklatan terkena angin sejuk di waktu matahari belum berada di tengah tengah langit dengan kulit lembut setelan cream agak peach tidak berlengan kalung berwarna hitam dengan charm berbentuk matahari orange bawahan celana berwarna sama pendek dan sepatu tali coklat kaus kaki setinggi mata kaki tak lupa tas ransel kotak berukuran sedang dibawa.
Seseorang yang sedang menghubungi seseorang terlambat ikut menatap Callie yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Agak menundukkan kepala tanpa ekspresi lebih untuk Callie berbeda dengan Callie yang lebih menatap kedua mata pria yang sedang menelepon seseorang.
Callie dengan wajah dingin langsung menghindar dari pertemuan ini pergi dari beberapa orang yang memakai setelan formal kantor.
Dia mengusahakan agar berjalan tanpa seorangpun curiga dengan dirinya terutama kepada pemuda yang dia hindari.
"Cara berjalannya mengingatkan ku kepada seseorang" kata Jarrel.
Jarrel mengingat lagi siapa orang yang dia maksud.
"Callie" kata Jarrel.
Menghentikan mengingat seseorang.
Dia mengajak lagi seseorang bicara dari dalam ponselnya lagi.
Callie bertambah menjauh pergi dari Jarrel yang sedang membantu permasalahan pekerjaan usaha penyewaan rumah.
Berbicara sendiri.
"Untung saja dia tidak tahu aku adalah Callie" kata Callie.
Callie akan pergi setelah mendapatkan sebuah taksi berwarna kuning.
Dan Jarrel dengan pekerjaan yang sedang ia kerjakan terjun ke lapangan melihat memeriksa secara langsung usaha barunya yang baru saja di rintis.
Selesai berbicara dengan seseorang dari dalam ponsel.
Berbalik lagi melihat ke arah Callie yang baru saja mendapatkan sebuah taksi.
Pergi Callie.
Jarrel menatap diri sendiri.
"Orang setampan ini belum tentu gadis itu suka aku" kata Callie.
"Ya. Itu benar" kata Jarrel.
Menghela nafas.
"Buktinya Callie tidak tertarik sama sekali denganku" kata Jarrel.
Di dalam taksi di bagian kursi belakang.
Callie duduk tenang menatap keluar jendela sebelah kiri yang separuh terbuka.
Tak ada sesuatu yang menarik perhatian dari gadis ini. Dia hanya ingin melihat keluar jendela dari dalam taksi.
__ADS_1
"Dia tidak mengenalku. Syukurlah" kata Callie.
Membaca lagi buku puisi dari dalam buku bersampul putih dengan judul buku puisi dengan huruf berwarna hitam dominan dan merah sebagai nama pengarang.
Menunggu taksi sampai di tempat tujuan.
Gadis disebelah Dashie terbagun.
Melihat Dashie yang sedang memandang lurus ke depan.
Terkejut.
Apa reaksi yang diterima oleh Dashie.
Teriakan keras sempurna.
Menunjuk Dashie dengan seenaknya sendiri.
Berteriak.
"Dia menculikku!" kata gadis itu.
Tidak percaya dengan situasi ini Dashie heran dengan apa yang gadis di sebelahnya katakan padanya secara spontan.
Tidak paham makna dari situasi ini.
Semua mata seisi kereta yang dinaiki oleh Dashie tertuju kepada Dashie mulai dengan gerak mendekat memberi kode kecil untuk menangkap Dashie saat itu juga.
Dashie merasa terpojok dengan tuduhan yang dilayangkan untuknya membuat kedua jemari tangan mencengkram erat tali tas hitam di kedua pundak ada di pelukannya.
Tidak terima dengan tuduhan.
"Siapa kamu?" tanya Dashie.
Dashie menjauh dari gadis yang baru saja dia tolong mencari tempat duduk lain agar tidak berdekatan dengan gadis itu.
Bos tempat dia bekerja yang juga merupakan bangsa Blacwhe yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda seumuran dengan Dashie tidak memberikan respon apapun mengenai masalah ini.
"Dia bisa menyelesaikan masalah ini sendiri" kata Bosnya.
"Gadis tangguh" kata Bosnya lagi.
Tuduhan itu tidak berlanjut karena memang tidak ada bukti bahwa Dashie melakukan hal yang baru saja gadis itu tuduh kepadanya.
Dashie mendapatkan tempat duduk yang lain menjauh dari gadis itu.
Melirik ke arah Dashie yang sedang bad mood setelah kejadian itu terjadi padanya.
Menyimpulkan kondisi yang terjadi pada gadis yang baru saja ditolong oleh Dashie.
"Ternyata ini salah satu efek lain jika aura seseorang baru saja diambil oleh bangsa Blacwhe" kata Bosnya Dashie.
"Untung saja karyawanku ini tidak merespon lebih" katanya lagi.
Sudah dengan rencana di tangan.
Tersenyum sendirian dengan ide barunya yang sudah siap untuk gadis di sebelah kirinya itu.
Ponsel Dashie mendapatkan panggilan dari Ten.
Di saat seperti ini dia tidak ingin berbicara dengan siapapun karena suasana hatinya sedang kacau.
Ponselnya menjadi tidak menyala lagi Ten berhenti menghubungi Dashie tidak begitu dia cepat lagi menghubungi gadis kesayangannya.
Sedang di kafetaria kantor.
Menu makan siang sudah di depan meja duduk dia bersama teman temannya sedang makan siang.
Khawatir.
"Mengapa dia sulit dihubungi?" tanya Ten.
Masih di dalam lingkaran kasih sayang untuk Dashie sampai beberapa menu makanannya diambil oleh beberapa temannya juga dia tidak marah lebih fokus dengan ponsel.
Menghubungi nomor pacarnya lagi untuk yang kelima kalinya.
Panggil Ten.
"Sayang" kata Ten.
"Kau mau apa?" tanya Dashie.
Semua teman temannya tertawa dengan jawaban yang diberikan dari Dashie untuk Ten terdengar dalam ruang cafetaria yang tenang belum terlalu ramai berdatangan karyawan lain untuk makan siang.
Ten tidak peduli dengan jawaban yang diberikan oleh Dashie.
Mengambil brokoli rebus dari piring dengan garpu.
"Sudah makan siang?" tanya Ten.
"Belum" jawab Dashie.
"Jangan khawatir aku selalu menyayangimu" kata Dashie.
Senyum lagi Ten mendengar kata kata dari Dashie.
Dashie melihat waktu di jarum jam di jam tangannya jam yang sama yang selalu dia pakai setiap akan pergi kemanapun dia pergi.
Ten mendengar suara kereta dari dalam ponsel saat menelepon Dashie.
"Kau sedang berpetualang?" tanya Ten.
Menjawab pertanyaan dari Ten.
"Ya" kata Dashie.
Ada sesuatu yang aneh dari nada suara yang terdengar dari jawaban pacarnya.
Perhatian.
"Kau tidak kenapa kenapa kan?" tanya Ten.
"Ehm" jawab Dashie.
__ADS_1
Bosnya Dashie tidak sengaja mendengar sedikit obrolan Dashie dengan orang lain dari dalam ponsel dari dalam ruang kereta yang sedang bergerak itu.
"Dia tidak lari tapi dia sudah punya seseorang dan itu bukan Ved" kata Bosnya Dashie.