
Chapter 27: Beautiful Target.
Siapa yang ingin terperangkap dalam kegelapan jika diri masih memiliki bekal cahaya yang berguna dan bermanfaat untuk orang lain atau keinginan yang tidak terlalu muluk muluk cukup untuk membahagiakan diri sendiri itu sudah cukup.
Mengembalikan bunga.
"Apa?" tanya Jarrel.
Berniat mengembalikan bunga.
"Bungamu" kata Callie.
"Untukmu saja tadi aku curi dari toko seseorang" kata Jarrel.
Menyeruput boba ice di satu cup ukuran sedang di tangan kanan dan tangan kirinya membawa barang belanjaan milik Callie.
Bunga itu tidak sengaja Jarrel peroleh dari toko bunga ibunya.
Teringat kata kata dari Ved tentang Jarrel.
"Dia memang orangnya seperti itu suka menolong orang lain" kata Ved.
Apa yang dikatakan oleh Ved tentang Jarrel terbukti benar.
Callie memandang terpaku kepada Jarrel yang sedang berjalan di sisi kirinya menuju keluar dari pusat perbelanjaan.
"Sedari tadi kau memandangku" kata Jarrel.
Terpaku.
"Oh, sorry" kata Callie.
Sejak tadi Jarrel menunggu Callie balik memperkenalkan diri setelah Jarrel lebih awal memberi kartu nama kepadanya disaat pertemuan kedua dengan wajah barunya sekarang disaat digoda oleh Hoshie.
Callie sudah mendapatkan sebuah taksi.
Dia masuk kedalam taksi lalu Jarrel menunggu di luar taksi sampai Callie akan pergi.
Menyeruput lagi minuman boba ice di tangan kanan lalu Jarrel melihat jendela belakang taksi yang di naiki oleh Callie terbuka dan dia melihat gadis itu berbicara padanya.
Taksi mulai bergerak menjauh dari hadapan Jarrel.
Berteriak sedikit.
"Owen. Panggil aku Owen" kata Callie.
Jarrel tersenyum manis sambil minum boba ice kepada Callie lalu dia melambaikan tangan kanannya kepada Callie yang semakin menjauh dengan taksi yang dia tumpangi mengantarnya untuk perjalanan pulang.
Callie menutup jendela taksi tidak penuh seluruhnya menyisakan udara agar bisa masuk ke dalam ruang mobil.
Gadis ini bersandar di kursi mobil taksi.
Berbalik ke belakang melihat Jarrel dari dalam taksi.
"Dia sudah pergi" kata Jarrel.
Melihat boba ice miliknya yang belum terminum banyak.
Callie kembali duduk bersandar di kursi belakang taksi.
Masuk ke pusat perbelanjaan.
Jarrel kembali masuk ke dalam pusat perbelanjaan dengan kesibukan pekerjaan yang masih berlanjut di pagi menuju siang.
Aka sudah mendapatkan gaun yang cantik yang dipilihkan langsung dari pacarnya yang sedang duduk disebelahnya sedang memilih menu sarapan pagi menjelang siang di sebuah cafe di tempat lain setelah pergi ke pusat perbelanjaan.
Letak cafe ini juga tidak terlalu jauh untuk mereka berdua berpindah tempat semula dengan tempat baru.
"Kita pesan ini?" tanya Hoshie.
Langsung mengiyakan rekomendasi menu makanan dari Hoshie.
Dia lebih tertarik dengan hal lain selain dari apa yang dikatakan oleh Hoshie.
Sebuah foto couple dari para pengunjung cafe terpajang di bingkai besar yang terpasang di dinding cafe.
"Kita foto bersama" kata Hoshie.
Hoshie pergi ke bagian kasir dan menanyakan apakah di dalam kafe masih mengadakan momen foto bersama dengan pasangan dan hasil fotonya bisa di pasang di dinding cafe tersebut.
Hoshie datang dengan karyawan cafe yang membawa kamera.
Ceria langsung.
"Ayo kita foto bersama" ajak Hoshie.
Aka terlihat malu malu ketika diajak foto bersama dengan pacarnya tapi itulah Hoshie seorang yang mudah mengambil hati wanita siapapun yang dia inginkan.
Semua tentang apa yang sedang dilakukan semua seakan tercurahkan tulus untuk gadis yang dirangkul mesra berfoto bersama untuk satu kali gambar yang diambil.
"Boleh satu lagi?" tanya Hoshie.
Hoshie mencium pipi kiri Aka secara tiba tiba.
Ini untuk foto kedua mereka.
Untuk foto ketiga.
Aka seperti sedang mencekik Hoshie dari arah belakang menggunakan lengan tangan kanan dan mereka berfoto yang terakhir kalinya dalam pose ini.
Menunggu menu makanan mereka datang di meja.
Memilih satu dari ketiga foto yang akan di pasang di bingkai besar yang ada dinding cafe.
"Aku ingin menyimpan ini" kata Aka di foto kedua.
Mengambil foto yang di pegang oleh pacarnya.
Ngambek tiba tiba.
"Tapi, aku ingin menempel ini di dinding itu" kata Hoshie.
Tidak setuju.
"Tapi, aku ingin menyimpan ini" kata Aka.
Mengalah untuk menang.
"Baiklah. Tapi, cium aku dulu" kata Hoshie.
Aka mengambil foto ketiga pergi ke bingkai besar di dinding cafe untuk menempelkan foto mereka di sana bersama foto foto pasangan lain yang sudah dulu ada terpasang.
Aka pura pura tidak dengar padahal dengar itu karena dia sedang malu ketika Hoshie memintanya menciumnya di dalam cafe yang dengan interior bergaya eropa klasik tidak sepi di jam yang sebentar lagi jam makan siang.
Hoshie tidak marah dan tahu bahwa pacarnya sedang menghindar karena malu.
Mencari bagian untuk fotonya.
__ADS_1
Menemukan.
Aka akan menempelkan foto mereka di bingkai yang tersedia.
Dia menemukan tempat foto mereka dan fokusnya terhenti kepada satu foto tepat di sisi kanan foto yang sedang di tempel di dinding dengan perekat di balik foto.
"Ini kan Callie" kata Aka.
Mulai penasaran sedikit.
"Siapa pria di sebelahnya?" tanya Aka.
Foto itu adalah foto Callie bersama dengan Veer yang juga adalah Hoshie sekali lagi pemuda ini berhasil mengelabui gadis lain yang dekat dengannya selain Callie.
Mendapat kode tidak nyaman dengan kondisi ini sebuah intuisi yang dimiliki seorang wanita mulai berbicara tentang fakta tersembunyi yang dimiliki seseorang yang dia sayang.
Cepat kembali kepada Hoshie yang asyik bermain ponsel.
Mendapatkan satu notifikasi dari dalam ponsel.
"Ren mengirim pesan" kata Aka.
Menaruh ponsel dalam saku celana hitam panjang sebelah kanan lalu kembali duduk di sebelah Hoshie.
Callie tidak langsung pulang ke rumah dia teringat sesuatu yang harus dilakukan.
Tiba di tempat jasa pengiriman barang.
Mengantri.
Mengambil gaun yang akan di paketkan.
Mencari.
"Ketemu!" kata Callie.
Setelah menunggu antrian beberapa menit lalu Callie mendapat pelayanan jasa kirim.
Paket akan tiba di rumah Dashie.
Callie sudah selesai dengan urusan paket setelah ini dia ingin langsung pulang saja.
Taksi datang dan Callie pergi menuju arah rumah.
Di cafe.
Di cafe makanan sudah datang di meja makan mencoba menu baru yang sudah di pesan oleh Hoshie.
"Nasi akan lezat bila dicampur dengan kepiting ini" kata Hoshie.
Aka sedang kesulitan bagaimana cara makan kepiting yang dimasak dengan saus telur asin.
Gadis ini memperhatikan pacarnya yang dengan telaten membantu mengeluarkan daging kepiting dari dalam cangkang dengan menggunakan alat yang mirip dengan gunting.
Memecah cangkang dan berhasil.
Kedua tangan telah memakai sarung tangan plastik transparan menaruh daging kepiting yang baru saja dikeluarkan dari dalam cangkangnya di atas mangkuk yang berisi nasi putih yang masih hangat di taruh juga beberapa potongan mentimun di sebelah daging kepiting.
"Kau bisa langsung memakannya" kata Hoshie.
Aka memakan daging kepiting yang diberikan dari Hoshie dengan sendok.
Menunggu reaksi Aka.
Mata jernih Hoshie menatap Aka.
"Bagaimana?" tanya Hoshie.
Hoshie teringat bagaimana dia bisa memesan dan menyukai menu makanan ini serta bisa tahu cara bagaimana memakan makanan yang dia pesan itu.
Hatinya sedang galau tapi dia sedang lari tidak percaya bahwa dia sedang teringat dengan seseorang.
Menyuapi Aka lagi dengan daging kepiting saling berbalik kompak menyuapi satu sama lain.
Sungguh luar biasa untuk Hoshie dia sedang ada bersama orang lain dengan mudahnya dia beradaptasi mengerahkan segala usahanya agar aktingnya berjalan sempurna.
"Kenapa aku teringat dengan Dashie?" tanya Hoshie.
Mengelak isi pikirannya tentang realita bahwa dia semakin sadar menyukai Dashie.
"Tidak. Tidak, tidak mungkin" kata Hoshie.
Wajah heran dan ingin bertanya Aka kepada Hoshie.
Hening dalam beberapa detik.
Memanggil pacarnya yang melamun.
"Sayang" kata Aka.
Tersadar dari lamunan.
"Oh, ya" kata Hoshie.
Kembali mereka menikmati makanan di atas meja cafe di depan mereka lalu tiba saat waktu makan siang.
Cafe mulai didatangi oleh beberapa pengunjung cafe diantaranya para pekerja kantor yang datang lalu datang lagi beberapa orang lagi ke dalam cafe.
Ren datang bersama dua rekan kerja satu kantor masuk ke dalam cafe.
Mengobrol dengan rekan kerja mereka mengambil tempat duduk dekat dengan jendela depan cafe yang terbuka dengan sisi dalam jendela di taruh pot pot kecil tanaman hias sejenis bonsai dan tanaman hijau lain ada di belakang Ren duduk saat ini.
Menu makanan sudah di pesan tanpa sengaja arah matanya mengarah menatap ke bagian lain dari sisi dalam Cafe bagian arah kiri saat ini dia ada duduk di dalam sana.
Callie dan Hoshie membelakanginya.
Ren menjadi fokus kepada pasangan ini.
Marah sudah jelas tapi mau bagaimana lagi gadis yang dia sukai lebih memilih orang lain ketimbang dirinya.
"Aku bisa apa" kata Ren.
Mereka berdua tetap mesra dengan cara mereka sendiri tanpa mengetahui ada Ren dibelakang mereka.
Makanan yang dia dan teman temannya pesan sudah datang.
Mereka sudah reservasi dan memesan makanan di cafe ini satu jam sebelumnya sebelum mereka datang.
Makan dengan tenang dia usahakan tapi tatapan mata lebih banyak memperhatikan Aka dari jauh dari tempat dia menikmati makan siang sampai sampai teman temannya lebih banyak tidak dihiraukan olehnya ketika dia diajak bicara oleh mereka.
Kedua temannya jadi penasaran apa yang sedang dilihat oleh Ren hingga temannya ini susah diajak untuk berkomunikasi.
Pria berdasi biru.
"Ahhh. Itu rupanya" kata pria berdasi biru.
__ADS_1
Sedangkan, pria berdasi hitam berkemeja biru menahan tawa setelah mengetahui kebenaran dari rasa penasaran mereka tentang apa yang membuat Ren jadi seperti ini.
Aka selesai dengan makan siang bersama dengan Hoshie.
Bersiap untuk meninggalkan cafe.
Hoshie sedang membayar semua makanan yang baru saja mereka pesan dan makan bersama.
"Apa boleh merebut pacar orang lain?" tanya Ren.
Batuk keduanya pelan lalu minum air mineral di gelas.
Tidak percaya bahwa seorang Ren bisa memiliki ide seperti itu juga.
Mencari dukungan.
"Aku tidak salah" kata Ren.
Mengiris potongan ayam dengan tepung crispy juga dengan saus pedas manis bertabur biji wijen diatasnya.
"Tidak peduli dengan kata orang" kata Ren lagi.
Mendapatkan potongan daging yang dia mau lalu segera memakannya.
Ren sudah ancang ancang menutup wajahnya dengan buku menu cafe ketika Aka dan Hoshie akan pergi melewatinya seperti yang terjadi saat ini.
Tetap mesra untuk sebuah pasangan baru itu melewati Ren yang juga ada di cafe yang sama.
Pasangan itu telah pergi.
Mencari dukungan lagi.
"Bagaimana menurut kalian?" tanya Ren.
Meminum air mineral dari dalam gelas.
"Apanya?" tanya pria berdasi biru.
Agak ngegas.
"Ideku yang tadi?" tanya Ren.
Menjadi pendukung pertama.
"Tentang merebut pacar orang" kata pria berdasi hitam.
Mendukung lagi.
"Aku ingat itu" kata pria berdasi hitam.
Pendukung kedua muncul.
"Tidak salah jika pacarnya tidak baik untuk gadis itu" kata pria berdasi biru.
Muncul kembali pendukung pertama.
"Mereka belum menikah jadi tidak masalah" kata pria berdasi hitam.
Senang mendapat banyak dukungan.
Diam memikirkan sesuatu.
Penuh banyak ide gila muncul dari isi kepala pria yang sangat tampan hanya dengan satu kali senyum saja ini.
Menyusun rencana yang akan sekaligus bisa mendapatkan banyak kemenangan dalam satu langkah pertama.
Pendukung pertama berkomentar.
"Gadis itu sangat cantik tapi murni. Ssssttttt, aku jadi khawatir" kata pria berdasi hitam.
Pendukung kedua juga tidak bisa semudah itu percaya dengan ide yang akan dilakukan oleh Ren kepada Aka.
"Ingat. Dia juga seorang wanita kita tidak tahu naluri hati orang lain" kata pria berdasi biru.
Memakan lagi potongan daging ayam goreng lumayan penuh isi mulut sebelah kiri pria berdasi hitam.
"Kau jauh lebih mengerti perasaan wanita" kata pria berdasi hitam.
Tegas lebih kali ini.
"Tentu saja. Adikku juga perempuan" kata pria berdasi biru.
Ren sudah menemukan beberapa ide gila yang sudah dia dapatkan sedikit kelegaan terlihat dari sikap Ren yang sedang senyum senyum sendiri sedangkan kedua rekan kerjanya sibuk berargumen dengan pendapat mereka sendiri.
Ren kembali dengan sikap cool menghabiskan makanan yang memang harus dihabiskan juga menghabiskan sisa waktu makan siang mereka setelah bekerja sejak pagi tadi.
Pukul satu siang tepat Hoshie yang sedang menunggu pacarnya yang sedang ada di toilet umum wanita. Hoshie bersandar di sebelah kanan bagian luar baris kursi pertama mobil merahnya.
Mendung cukup tidak terlalu mendung.
Melihat ke langit memegang ponsel di tangan kanan ibu jari sedang mengscroll layar ponsel.
Menghubungi seseorang.
Bersemangat juga ingin segera menggoda.
"Kita sudah lama tidak pergi bersama" kata Hoshie.
Tawaran masih berlaku untuk orang yang sedang di hubungi Hoshie.
Senyum usil dari Hoshie untuk Dashie.
"Kau tidak mau. Beneran?" tanya lagi Hoshie.
Dia tidak tahu apa ide gila yang akan ditawarkan padanya dari Dashie karena ia terus menggoda dengan senang hati tanpa ragu.
Menegaskan.
"Kau sudah punya pacar kan" kata Dashie.
Menegaskan juga.
"Kau juga" kata Hoshie.
Tawaran itu sengaja untuk mendorong Dashie agar mau harus menuruti permintaan kejutan listrik dari Hoshie.
"Bagaimana?" tanya Hoshie.
Dashie yang baru saja tiba di tempat wisata di hari liburnya menjadi murka dengan tingkah Hoshie yang tidak biasa ini.
"Ok" kata Dashie.
Dashie belum selesai dengan kalimat selanjutnya yang akan dia katakan kepada Hoshie.
"Tapi bersama dengan pacarku juga. Bagaimana?" tanya Dashie.
Suara pawangnya terdengar memanggil namanya merdu dari suaranya dan Hoshie santai mengakhiri secara sepihak obrolan dengan Dashie.
__ADS_1