
...Chapter 213: Yakin....
..."Kenapa kau jadi tersedak?" tanya Gan....
... Nawa mode seperti tidak terjadi apapun....
... Menyimak....
..."Hey. Ku pikir telah terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Ansel....
... Kesal....
..."Kau pasti sedang membuat banyak rencana. Ya, kan?" kata Yellow....
..."Jangan buat dia marah. Kau belum tahu dia sebenarnya" kata Yellow....
... Teringat akan sesuatu....
..."Dia bisa membuatku dihukum satu minggu membersihkan lapangan sekolah" kata Gan....
..."Itu semua memang salahmu. Aku jadi terbawa-bawa ikut dihukum" kata Yellow....
..."Terakhir kali seseorang hampir dikeluarkan dari sekolahnya" kata Gan....
... Sengaja membuat takut Nawa....
..."Cowok dari sekolah lain" kata Gan....
..."Hanya karena membuat dia marah" kata Yellow menambahkan....
..."Aku tidak tahu hadiah apa yang sedang dipersiapkan untuk seseorang lagi selain kami" kata Gan....
... Nawa yang sedang memutar otak bagaimana harus bersikap di depan Jeje besok....
... Sorot mata tajam....
... Ans sedang berusaha untuk membaca isi pikiran dari seseorang yang berada di sisi kirinya itu....
..."Kau kenapa?" tanya Nawa....
... Curiga....
... Menunjuk dengan jari telunjuk tangan kanan di dekat wajah remaja laki-laki ini....
..."Pasti ada sesuatu" kata Ans....
..."Ya, kan" kata Ans....
... Mengelak....
... Penuh ketegasan....
..."Jangan dekat-dekat dengan ku!" kata Nawa....
... Melirik ke arah Si Ketua Kelas yang diam-diam sudah menakutkan sejak menit-menit yang lalu....
..."Orang itu akan marah" kata Nawa....
..."Lihat wajahmu memerah" kata Ansel....
... Menarik Ansel agar berhenti untuk meledek teman satu kelasnya yang sudah terpojok oleh godaannya yang tidak ingin berhenti terus dilakukan setelah melihatnya mendekati seorang gadis lain....
... Makam malam berlanjut hingga hampir pukul jam sepuluh malam....
... Beberapa menit kemudian Hoshie datang dari anak tangga sendirian....
... Dia kini berada di atas rooftop melihat Nawa yang terlihat tanpa tanda-tanda yang aneh yang terlihat oleh orang lain tapi tidak untuk pandangan mata Hoshie....
... Di rooftop tempat tinggal Nawa....
... Disana hanya ada remaja laki-laki itu dan Hoshie....
... Melihat pemandangan kota dari atas sana....
..."Aku tidak menyangka sahabatku sudah pergi" kata Hoshie....
..."Menjadi seorang pria pantang untuk menangis tapi apakah semua bisa berubah setelah dia pergi" kata Hoshie....
..."Dia seakan sering terdengar memanggil namaku" kata Hoshie....
... Melihat ke arah Nawa....
..."Namun, aku tidak bisa membawanya kembali" kata Hoshie....
... Jujur....
... Melihat Hoshie....
..."Aku sudah keluar dari organisasi itu" kata Nawa....
..."Ada apa lagi?" tanya Nawa....
..."Aku juga tidak harus melaporkan semua privasi ku pada orang lain" kata Nawa....
... Dia tersenyum melihat ke arah lain melihat pemandangan kota dari atas rooftop gedung....
..."Setidaknya kau masih bisa membedakan yang mana kesal dan yang mana tidak" kata Hoshie....
... Melihat ke atas langit....
..."Kenapa kita dilahirkan sebagai bangsa Blacwhe?" tanya Nawa....
..."Aku memang pria brengsek" kata Nawa...
..."Kau akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan?" tanya Hoshie....
..."Apa?" tanya Nawa....
..."Apa kau tidak menyukai Rumy?" tanya Hoshie....
... Tidak ingin menaikkan nada suaranya di depan orang yang jauh lebih dewasa dengannya tiga tahun ini....
..."Kau juga tahu. Dia pacar adikmu" kata Nawa....
..."Kenapa aku harus melarang orang lain menyukainya?" tanya Hoshie....
... Mulai kesal....
..."Tapi, bagaimana nanti kalau Bloom kembali?" tanya Nawa....
... Berbicara seperti tidak pernah punya dosa....
..."Paling kalian bakalan berantem" kata Hoshie....
... Agak mencurigakan dengan pertanyaan yang diutarakan kepada Nawa bagi orangnya langsung membuat ia sadar bahwa mungkin saja orang disebelah kirinya itu mengirimkan mata-mata untuk terus memberikan pengawasan untuknya selama dua puluh empat jam penuh....
__ADS_1
... Sadar....
... Mode bicara di dalam isi pikiran tanpa bisa didengar oleh siapapun termasuk Hoshie....
..."Seseorang bisa sangat membenciku" kata Nawa....
..."Bagaimana besok kalau aku bertemu dengannya?" tanya Nawa....
..."Sampai kapan dia bisa mengontrol diri" kata Nawa....
..."Untuk tidak marah padaku" kata Nawa....
... Melihat Hoshie yang sibuk dengan layar ponsel sibuk melihat pesan dari orang lain yang tidak diketahui oleh remaja laki-laki ini....
... Penasaran....
... Mencuri momen untuk mengetahui apa yang membuatnya penasaran....
..."Jangan coba-coba untuk … " kata Hoshie....
... Terhenti dengan rasa penasaran yang sedang ada didalam diri Nawa....
... Mengisi indera penglihatan dengan pemandangan sungai yang ada di antara gedung-gedung kota dari atas sana....
... Melihat Nawa sekilas....
..."Apa dia menarik untuk mu?" tanya Hoshie....
... Dia lalu pergi meninggalkan Nawa akan menuruni anak tangga dengan meninggalkan situasi yang membuat remaja ini yakin orang yang dia lihat sekarang sudah mengirimkan mata-mata untuknya dengan keakuratan sembilan puluh enam persen....
... Baru akan memasuki area rooftop....
... Keduanya saling melihat satu sama lain....
..."Apa yang baru saja kau katakan?" tanya Dashie....
..."Luc pergi?" tanya Dashie....
..."Dia pergi kemana?" tanya Dashie....
... Dia tidak biasanya tidak mendengar kehadiran dari Dashie begitu juga dengan remaja laki-laki di belakangnya yang datang menyusul akan menuruni anak tangga seperti yang dilakukan oleh Hoshie....
... Melihat ke arah Nawa lalu kembali menatap Hoshie....
..."Siapa yang bisa menjelaskan semua ini?" tanya Dashie....
... Sedih....
... Akan menangis dengan nada suara memohon agar bisa menjelaskan hal yang belum bisa diterima oleh Dashie bahkan orang lain....
..."Dia pergi kemana jawab aku" kata Dashie....
... Seseorang yang dianggapnya sebagai salah satu orang yang menjadi orang yang berharga bukan hanya sekedar teman biasa tidak hanya karena sebuah alasan "Kita dekat". ...
..."Aku tidak pernah menerima balasan pesan darinya dan aku juga tidak bisa menghubungi ponselnya meski" kata Dashie....
..."Meski nomor ponselnya masih aktif. Apa ini?" tanya Dashie....
... Dia malah bertambah sedih....
..."Apa aku harus menyalahkan orang lain. Tidak bukan, aku hanya ingin tahu kabarnya sekarang" kata Dashie....
..." … Lalu ku dengar sendiri kalau dia … " kata Dashie....
... Hoshie ataupun Nawa tidak bisa menghapus ingatan seseorang tentang apa yang baru saja di katakan sendiri dan dibahas oleh keduanya tanpa sepengetahuan dari mereka berdua Dashie mendengar apa yang seharusnya tidak didengar yang hanya akan membuat hatinya sedih....
..."Bagaimana aku tetap tenang kalau orang yang ku sayang tidak jelas dimana keberadaannya sekarang?" tanya Dashie....
... Dia bergegas pergi menuruni anak tangga berjalan cepat meninggalkan Hoshie dan Nawa dibelakangnya yang kemudian mengejar Dashie yang terlihat berubah jauh lebih khawatir dari apa yang pernah dilihat oleh Hoshie jika orang yang ia sayang ini dalam situasi tidak jauh berbeda dari situasi semacam ini....
..."Kau mau kemana?" tanya Hoshie....
..."Kantor polisi" jawab Dashie....
... Berjalan menuruni anak tangga lebih cepat....
..."Sekarang?" tanya Hoshie....
..."Ya" jawab Dashie....
..."Hati-hati pelankan jalan mu agar tidak jatuh" kata Hoshie....
... Dashie lebih cepat lagi terus menuruni anak tangga....
... Hoshie jadi ikut sedih dan berpikir bagaimana kalau dia sampai tahu kalau dia juga mungkin akan bernasib sama dengan sahabatnya yang telah pergi....
..."Entahlah. Aku harap hari itu masih lama" kata Hoshie....
..."Bisakah hari itu tidak pernah ada" kata Hoshie....
... Di depan gedung itu sudah ada bodyguard Hoshie yang menunggu untuk menjemput bosnya setelah pergi seharian dengan aktivitas yang sudah dikerjakan....
... Menarik tangan kanan Dashie....
..."Ikut aku" kata Hoshie....
... Penolakan....
..."Tidak aku akan tetap pergi" kata Dashie....
... Ghazi datang menggunakan sepeda motor yang tidak digunakan oleh kakak laki-lakinya yang sedang lembur lagi bekerja....
... Berhenti didepan Dashie....
..."Sepertinya aku datang tepat waktu" kata Ghazi....
... Nawa sudah siap dengan sepeda motor yang sudah keluar dari dalam tempat parkir gedung di belakang mereka....
..."Kapan kita pergi?" tanya Nawa....
... Dashie mengambil helm yang ada di depan kursi kemudi motor kakaknya yang belum dimatikan mesinnya sedang dibawa oleh Ghazi....
... Dia mengambil kendali kemudi motor retro berwarna kuning yang dibawa oleh kakaknya sendiri....
..."Kita mau kemana?" tanya Ghazi....
..."Kantor polisi" jawab Dashie....
... Terkejut....
..."Kantor polisi?!" kata Ghazi....
... Berputar ke arah jalan raya dengan Ghazi yang kini sudah beralih membonceng adiknya yang akan pergi ke suatu tempat....
... Hoshie ikut membonceng Nawa yang membawa motor sportnya mengikuti kemana Dashie akan pergi....
__ADS_1
... ...
... Pukul sepuluh lebih lima belas menit....
... Dia sedang membawa buah apel dan tomat jika ditimbang sekitar satu kilogram masing-masing keduanya ditaruh kedalam lemari pendingin....
... Kedua orangtuanya sudah tertidur di kamar mereka....
... Menunggu waktu untuk kakaknya pulang setelah membereskan kedai yang segera akan ditutup beberapa menit lagi....
... Menaruh satu persatu apel yang berukuran cukup besar lalu mengambil satu kilogram lagi dari atas meja apel-apel yang tadi sore dibeli oleh kakaknya itu yang dibawa ke kedai tadi sekalian bersama dengan tomat-tomat yang sudah dimasukkan kedalam kotak penyimpanan khusus buah dan sayuran....
... Mamikirkan seseorang....
..."Mustahil untuknya meminta maaf" kata Jeje....
... Notifikasi muncul dari ponsel dan Jeje masih sibuk merapikan buah-buahan dan sayuran....
... Layar ponsel menyala lagi dengan notifikasi baru yang diterima di ponsel yang ada diatas meja makan....
... Mendengar suara langkah kaki dari sekitar rumah....
... Berbalik ke belakang....
... Tanpa kata dengan melihat sendiri suatu hal yang seharusnya tidak terlihat oleh seorang manusia manapun termasuk Jeje yang bersikap tetap tenang ketika hantu itu datang mengendap masuk ke ruangan....
..."Dia belum datang" kata Jeje....
... Arah pandangan yang belum berubah tetap melihat ke arah Si Monster tanpa harus menunjukkan sikap terkejut atau takut semua tersimpan tak diizinkan untuk meledak....
... Padahal dia melihat sendiri sesosok hantu yang tidak tahu bagaimana bentuknya lebih jelas terlihat seperti monster berukuran besar dengan dagu seperti terkena sayatan di bagian daging di bagian dagu panjang ikut terseret dengan kaki yang mengucur darah berbau amis busuk menusuk tajam ke pernafasan....
... Melihat sudah pukul berapa sekarang dari jam dinding ruang makan....
..."Seharusnya dia sudah pulang kerumah tapi kenapa dia belum datang juga?" tanya Jeje....
..."Motornya juga tadi sudah ku periksa. Semuanya baik-baik saja" kata Jeje....
... Masih khawatir....
..."Kenapa dia belum juga pulang?" tanya Jeje....
... Hantu itu menghilang....
... Dia beranjak pergi dari tempatnya semula jongkok dari bawah lantai di dekat lemari pendingin mengambil ponsel sambil jalan menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh diatas lantai beserta ponsel yang ada di tangan berlumuran darah akibat tabrakan tanpa sengaja membuatnya sadar kalau hal yang bersifat tak kasat mata ada disekitarnya baru saja ditabrak olehnya sendiri....
... Mengambil ponsel....
... Memeriksa sekitar dengan indera penglihatan dan penciuman yang bekerja lebih dari sebelumnya kini sekali lagi....
... Dia tak melihat apapun tapi tidak dengan darah-darah yang menempel beserta serpihan daging di baju yang dia kenakan dengan wajahnya yang terasa berair lengket disentuh dengan tangan kanannya melihat mendapatkan jawaban dari bau busuk yang tercium dari sekitar ternyata juga ada didalam diri merasakan tangannya yang penuh gumpalan daging berbau busuk berbau darah yang diambilnya dari wajah sebelah kanan yang juga belum mengering....
..."Apa yang ada di hadapanku sekarang?" tanya Jeje....
... Berteriak....
..."Siapa kau?!" kata Jeje....
..."Tunjukan wujudmu!" kata Jeje....
... Dia ada didepan gadis remaja ini tanpa bergerak tapi siap untuk mengambil nyawa satu langkah lagi sedang terus melihat targetnya yang mulai menyadari kehadirannya yang tak kasat mata dalam mode tidak terlihat....
... Jeje bangun segera bangkit mencari benda yang bisa digunakan untuk perlawanan diri....
... Menemukan kayu panjang yang biasa digunakan untuk membuat adonan kue....
... Melihat ke sekitar....
... Dia yakin ada sosok tak kasat mata yang sedang terus mengawasi dan mengincar dirinya yang belum berhenti dalam rasa takut yang mulai aktif disetiap waktu yang terus berjalan di setiap detik jarum jam di ruangan terdengar jelas dalam ruangan lebih memperkuat aura horor kematian....
... Tangannya yang terbentuk tak sempurna jika dibilang sebagai sebagai tangan manusia meraih tangan gadis ini merebut benda yang ada di tangannya merambat dengan cepat mengambil darah milik gadis ini yang mulai terjatuh diatas lantai bersama menyatu dengan darah dan remahan daging milik monster itu....
... Dia masih tak melihat wujud dari Monster yang masih dalam mode tidak terlihat tapi dia sadar bahwa darah dari dalam tubuhnya sedang diambil oleh sosok yang mengerikan yang tidak bisa dijelaskan dengan hanya satu kalimat dengan darahnya terlihat diambil semakin merambat ke atas lengan lalu dia mulai semakin terlihat dengan kedua matanya yang saling menatap dengan ekspresi tak berbelas kasihan tetap tenang dengan apa yang sedang dilakukan terhadap gadis itu....
... Melihat wujud Si Monster lalu menendang wajah monster itu dalam satu kali tendangan kuat dari kaki sebelah kanan....
... Tangannya terlepas dari cengkraman tangan kanan monster bangsa Blacwhe itu....
... Perlawanan dari Jeje hanya berdampak kecil bagi Si Monster....
... Jeje mulai pucat setelah sebagian dari darah yang ada didalam diri telah menghilang akibat diambil oleh makhluk dengan wajah mengerikan membiru sangat bengkak tak jauh berbeda dengan seluruh bagian tubuhnya yang berbalut helaian kain yang rusak karena bentuknya yang sudah tak bisa dibilang masih sebagai sosok seorang manusia....
... Kakak dari Jeje menelpon terdengar memanggil dari dalam layar ponsel....
... Tersambung....
..."Bisakah kau datang kemari?" tanya Kakaknya Jeje....
... Adiknya belum melakukan percakapan dengan kakaknya meski ponsel mereka saling tersambung....
... Memanggil....
..."Bantu aku. Datanglah, kemari" kata kakaknya Jeje....
... Obrolan mereka berdua berakhir....
... Di kantor polisi....
... Mode serius....
..."Kau sudah tahu siapa aku" kata Hoshie....
..."Terus?" tanya Oryn....
..."Kenapa kau masih membiarkan ku tetap hidup?" tanya Hoshie....
... Tertawa sebentar dalam beberapa detik lalu kemudian kembali dalam mode serius....
..."Kau mau tahu alasannya?" tanya Oryn....
..."Hmmm" jawab Hoshie....
... Mendengar dengan seksama....
..."Selamat. Kali ini kau sedang beruntung" kata Oryn....
... Curiga....
..."Beruntung?" tanya Hoshie....
..."Sepertinya aku harus mempersiapkan banyak hal" kata Hoshie....
..."Tak ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Oryn....
... Menaruh rasa curiga lagi kepada Oryn....
__ADS_1
..."Tak ada" jawab Hoshie....
... ...