Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 31: Sudah menjadi mantan


__ADS_3

Chapter 31: Sudah menjadi mantan.


 Ada disana diatas sofa duduk bersebelahan menatap dari arah yang dia suka terus menatap wajah gadis yang ada di sebelahnya itu sesekali juga berkedip tenang dia benar benar ada disebelah Dashie belum pergi sejak sedari tadi gadis itu sedang memejamkan kedua mata mengarah wajahnya ke atas langit langit ruang tamu.


"Apa kau tidak sadar dengan apa yang telah terjadi dengan dirimu?" tanya Hoshie.


"Ya" kata Hoshie.


"Tentu" kata Hoshie.


 Ingin mendekat lebih mendekat tapi itu tidak mungkin setelah baru saja efek dari tindakan sebelumnya yang hampir saja kehilangan raganya sendiri.


"Ini tidak mudah untukku tapi aku menikmati waktu ini" kata Hoshie.


 Bibir kecil itu sedikit tersenyum kepada Dashie ingin menginginkan apa yang ingin dia lakukan namun semuanya terbatas untuk dirinya sendiri tersimpan untuk dirinya sendiri.


 Membuka kedua mata dengan memasang raut wajah waspada dengan sekitarnya terus menyeluruh gadis ini mencari.


 Dia tidak sadar bahwa ponsel yang ada di dalam sakunya bisa berdering kapan saja dan dimana saja seperti saat ini sedang terjadi bunyi nada dering sebuah lagu yang tidak asing di kedua telinga gadis disebelahnya itu membuat orang lain mulai curiga dengan keberadaannya di rumah temannya itu.


 Tiba tiba bertanya pada diri sendiri.


"Apa hantu sudah sekeren itu?" tanya Dashie.


 Dia berpikir dengan tingkat imajinasi bahwa hantu di zaman sekarang bisa menggunakan ponsel canggih seperti manusia.


"Fantasiku setidaknya mengurangi rasa takut ku  terhadap hantu" kata Dashie.


 Hoshie tidak mengangkat panggilan dari seseorang langsung menonaktifkan ponsel layar sentuhnya itu lalu tetap disana bersebelahan duduk dengan Dashie seperti semula.


 Dashie pergi ke kamarnya lagi untuk mengambil sesuatu.


 Hoshie menunggu masih ditempat yang sama.


 Dashie datang lagi dengan laptop lalu menaruhnya di atas meja dan gadis ini belum duduk lagi di tempat semula dia pergi lagi ke bagian belakang ruang tamu dan itu bukan kamarnya lagi melainkan dapur.


"Kapan dia bisa duduk tenang?" tanya Hoshie.


 Kembali dengan satu box popcorn original ditaruhnya di atas meja lalu aquarium yang berisi dua pasang ikan koi tadi dipindahkan ketempat lain yang jauh lebih aman dekat ruang sofa yang ada di ruang tamu ditaruhnya di atas meja yang berada di sudut ruang tamu.


 Sudah siap dia mulai menyalakan layar monitor laptop mencari sebuah karya yang sudah ditunggu tunggu seri kedua dari sebuah drama tentang fantasi horor sejak awal kapan akan tayang secara online di sebuah aplikasi streaming film dan drama.


"Seharusnya aku akan menonton ini dengannya tapi kita putus" kata Dashie.


 Episode pertama drama itu penuh adegan action sebuah seri yang menceritakan bagaimana harus bertahan hidup dengan sumber daya yang serba terbatas di tiap detik waktu nyawa sangat berharga.


 Merespon.


"Dia masih suka dengan drama ini" kata Hoshie.


 Serius dengan sesekali mengambil popcorn di pangku di atas kakinya yang bersilah di atas sofa Hoshie juga mengambil popcorn yang dimiliki oleh gadis di sebelahnya ikut menikmati adegan action keseruan tiap peran peran yang diperankan dari tiap pemeran drama yang ditonton.


 Dashie tidak sadar selain popcorn dimakan olehnya sendiri juga dimakan oleh Hoshie.


 Ketakutan menjerit bersama kompak tanpa Dashie mendengar suara dari Hoshie mereka rukun tanpa saling menyerang berdua ada yang terdengar lucu tentang arti hubungan mereka yang sedang dibangun oleh Hoshie.


 Sesekali mereka berdua tertawa.


 Beberapa menit kemudian mereka menangis lalu serius lagi menonton drama  episode perdana ini.


 Waktu yang sudah mereka lewati hampir satu jam kurang lima belas menit lagi sudah satu jam penuh untuk durasi waktu yang sudah ditentukan dalam satu episode perdana ini.


 Dashie melihat jarum jam di dinding rumah lalu kembali menonton lagi drama di layar monitor.


 Hoshie menatap Dashie lagi dan lebih lembut dia menatap kedua mata indah itu lalu lima belas detik kemudian ia lanjut melihat layar monitor sama dengan apa yang sedang Dashie lakukan.


"Apakah aku harus pulang?" tanya Hoshie.


 Hoshie menghubungi nomor ponsel Dashie dengan ponselnya sendiri ingin tahu apakah orang yang dia hubungi lewat ponsel saat ini akan mengangkat panggilan telepon darinya nyatanya dia melihat sendiri layar ponsel yang menyala ada diatas meja hanya dibiarkan begitu saja tanpa dia sentuh hanya melihatnya begitu saja lalu kembali menatap langit ruang tamu.


 Dia melihat sendiri dia kembali menangis setelah mengalir air mata dari kedua sudut mata menangis lagi menutup mata dengan lengan kanan sendiri.


"Ada apa dengan orang itu. Kenapa menelponku disaat seperti ini" kata Dashie


 Kesal mengapa harus Hoshie yang ada yang belum tentu akan peduli dengan keadaannya.


 Masih menghubungi Dashie dan dia belum berhenti menatap gadis ini berharap orang yang ada di depannya sekarang mau menjawab panggilan darinya berbeda dengan apa yang ada di isi pikiran gadis ini yang ingin sendiri tanpa orang lain tahu tentang masalah ini lalu seperti saat ini pintu rumah yang terdengar dengan suara ketukan juga suara bel rumah yang berulang kali berbunyi dari seseorang yang terdengar tidak asing untuk dirinya suara gadis yang merupakan pacar dari Hoshie.


 Hoshie berhenti menelepon Dashie dan kini Aka meneleponnya lagi seperti sebelum Hoshie menghubunginya.


 Dari luar rumah.


"Dia tidak ada dirumah sepertinya" kata Aka.


 Dia pergi dengan bodyguard yang menunggunya di kursi kemudi mobil sebelah kiri memakai kaca mata hitam depan rumah temannya itu.

__ADS_1


"Apa kau tidak melihatku sama sekali?" tanya Hoshie.


"Aku disini akan menunggumu sampai bisa melihatku dengan kondisiku saat ini" kata Hoshie.


"Bulshit memang semua yang kukatakan ini tapi aku tidak berbohong" kata Hoshie.


 Dashie tidak bisa mendengar apa yang baru saja Hoshie katakan tentang dirinya kepada Dashie di sebelahnya yang dia terus perhatikan.


 Memejamkan kedua mata pria disebelah gadis ini menunggu dengan tatapan lembut dalam masih penasaran kenapa dia sulit mendekati gadis yang sedang tertidur bersandar di sofa.


 Senyum gemas melihat Dashie.


"Dia bahkan lebih cantik ketika sedang tertidur" kata Hoshie.


 Ragu juga sudah seharusnya dia pergi dari rumah gadis ini waktu berjalan dengan jarum jam di dinding ruangan itu berputar maju pukul delapan malam lebih dan lebih bertambah detik demi detik.


"Dia membuatku ingin tetap tinggal" kata Hoshie.


 Mendekat Hoshie dan dia semakin mendekat pada Dashie berhenti untuk tidak mendekat pada gadis ini lalu pemuda ini pergi dari rumah yang dia datangi ini.


 


 Di rumah Hoshie.


 Luc yang sedang makan buah melon di dalam mangkuk plastik di depan rumah Hoshie tepatnya di halaman rumah sedang mendengarkan nyanyian serangga di malam hari.


 Pemilik rumah jatuh langsung ditangkap oleh sahabatnya itu yang kaget dengan kondisi Hoshie yang terlihat tidak sehat atau bisa dikatakan seperti baru berkelahi dengan seseorang namun tanpa luka berdarah ada di fisik Hoshie.


 Membentak tanpa ragu.


"Hey!" kata Luc.


 Orang yang jatuh di bahu seniornya itu masih menutup mata.


"Kau tidak mati kan?" tanya Luc.


 Hoshie tidak menjawab pertanyaan dari Luc.


 Memeriksa dari hidung sahabatnya itu apakah dia masih hidup atau telah pergi tubuh Hoshie dingin seperti es tak bergerak.


"Aku kira kau sudah tiada" kata Luc.


 Hoshie dibawa masuk kedalam rumah tidak diseret tapi juga tidak digendong.


"Kau kurus tapi berat sekali" kata Luc.


 Mengeluh jujur.


"Kau makan apa padahal makan mu biasa biasa saja" kata Luc.


 Akhirnya melewati anak tangga dan membuka pintu kamar Hoshie membawa masuk kedalam kamarnya lalu dia dibaringkan di tempat tidur.


 Luc melepas sepatu dan kaos kaki Hoshie selanjutnya selimut lava berwarna ini menutupi tubuh Hoshie yang sedang dalam kondisi seperti  ini.


 Berdiri di sebelah tempat tidur Hoshie sedikit dengan arah pintu pria berkacamata minus ini meletakkan kedua tangan diatas pinggang melihat kondisi Hoshie.


"Siapa yang hampir saja membuatmu tewas?" tanya Luc.


"Apakah kau bertemu bangsa pemburu bangsa kita?" kata Luc.


 Pria ini mulai curiga dengan bukti apa yang sedang ditunjukkan Hoshie berpikir keras kalau jika benar nyawanya juga akan terancam dan bangsa "Blacwhe" yang lain selain dirinya yang mulai tidak tenang dengan petunjuk petunjuk kecil yang di dapat selama ini tanpa memberitahu lebih detail kepada juniornya yang memerah wajahnya seperti terbakar karena kepanasan terkena demam tinggi.


 Luc pergi menghabiskan camilan yang tadi belum habis sambil didepan rumah memeriksa hasil pekerjaan kerja di kantor di meja taman itu tersisa hanya seperempat saja selebihnya dengan lembaran lembaran kertas penting dan benda elektronik penunjang pekerjaan kantor dengan layar monitor menyala.


 Memegang lima lembar kertas dokumen terdiam ketika sedang membaca file file itu mengangkat dagu lebih keatas lagi lurus menatap ke arah depan.


"Mungkinkah itu Dashie" kata Luc.


 Manusia dengan level A yang dicari dari bangsa Blacwhe yang bisa menjadi senjata mereka sekaligus pemusnah bangsa mereka. 


"Tapi, aku tidak melihat ciri ciri dari bangsa itu dari gadis itu" kata Luc.


 


 Ada cukup sebagai senior serta sahabat Hoshie berpikir mengulik tentang karakter dan perilaku gadis ini selama masih sering bersama mereka berteman akrab.


"Dia juga cantik tapi pria itu suka membohongi diri sendiri" kata Luc.


 Waktu kembali disaat Ten bergabung dengan kedua sahabat dari mantan pacarnya yang memilih untuk sendiri setelah diputuskan oleh nya sedih pulang ke rumah.


 Ved berada sibuk di depan layar laptop milik Jarrel yang sudah selesai dengan pekerjaan yang dia kerjakan.


"Itu dia datang" kata Jarrel.


 Pura pura tidak terlalu akrab dengan Ten tapi juga akrab atau bisa dibilang kenal.

__ADS_1


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Jarrel.


 Ten mengambil sikap lebih awal.


"Kita sudah saling kenal" kata Ten.


 Kakak dari Dashie datang dengan membawa empat box popcorn dengan berbeda rasa di tiap boxnya dan minuman soda menaruh di atas meja membagi Jarrel merata kepada semua yang ada disana siap menonton drama series yang juga di tonton oleh Dashie bersama dengan Hoshie.


"Dashie sudah ku hubungi sejak tadi tapi tidak ada jawaban" kata Ved.


 Xie melirik sedikit ke arah Ten yang dengan tenang menjadi dirinya yang tidak seorangpun di toko itu tahu selain Dashie orang yang mereka kenal.


 Mengambil tempat duduk di sebelah kanan Ved dan di sebelah kanannya ada Jarrel yang sedang makan popcorn lalu ada Ten disebelah kanan selanjutnya.


 Laptop ditaruh di meja tengah ruang toko semua sedang fokus menunggu drama series fiction horor yang mereka tunggu hening suara disana dengan beberapa suara kendaraan yang lewat di depan toko.


 Sepuluh menit masih baik baik saja tetap fokus dengan tontonan mereka lalu dua puluh menit kemudian inilah yang terjadi.


"Tadi, aku bertengkar dengan Dashie" kata Ten.


 Xie minum air soda dari atas meja.


"Itu wajar bukan" kata Xie.


 Dua menit berlalu.


"Kau juga mengenal Dashie?" tanya Ved.


 Melihat Xie yang sedang fokus dengan layar laptop.


"Sangat kenal" jawab Ten.


 Jarrel tenang menonton series drama sambil memakan popcorn caramel strawberry.


 Terlintas di atas kepalanya tentang makna pembicaraan yang barusan terdengar.


"Dashie tidak pernah bercerita tentang orang ini kepada kita" kata Jarrel.


 Tiga menit bertambah waktu semua masih baik baik saja.


"Kita berdua sudah putus" kata Ten.


 Tenang menyimpan kejutan dari ketiga orang disana tatapan mengarah tajam kepada orang yang baru saja mengatakan putus dengan seseorang.


 Jarrel menaruh cup berisi air soda di atas meja.


 Xie langsung akan menghajar wajah Ten dengan tangan kanan mengepal emosi menarik kerah baju jaket hoodie abu abu Ten mencengkram kuat.


"Lepas!" kata Jarrel.


 Ten menerima perlakuan ini karena dia tahu kalau dia salah.


 Ved terkejut dengan situasi diam meredam emosi yang ingin meledak segera di ruangan itu ingin menghajar Ten.


 Jarrel memisahkan keduanya agar tidak berkelahi emosi Xie belum turun melepas kerah jaket hoodie dengan luaran jaket jeans biru dan celana jeans hitam itu duduk kembali di kursi abu abu semula yang dia duduki.


"Kau pacaran dengan Dashie dan kami tidak tahu" kata Jarrel.


 Ved dan Jarrel duduk kembali di kursi mereka dengan layar laptop yang masih menyala dengan series yang mereka tonton.


 Kondisi disana kacau terlebih lagi Ved yang marah besar setelah mengetahui berita ini tidak langsung didengar dari Dashie.


"Dia pasti sedang sedih" kata Xie.


 Duduk lagi ditempat yang sama Xie menghela nafas berusaha menurunkan tingkat emosi dari ulah Ten.


 Sedih dengan ekspresi tanpa perasaan bersalah dia tunjukan didepan mereka semua yang ada disana.


"Sorry. Aku sangat mencintai Dashie jadi … jadi aku memilih memutuskannya" kata Ten.


 Xie menutup wajah dengan kedua telapak tangannya menghela nafas lagi.


"Kau suka bermain main dengannya!" kata Xie.


 Empat detik berlalu Ten memberikan argumennya lagi.


"Ya" kata Ten.


 Dia terpaksa berkata seperti itu agar Dashie tidak berharap lebih dengan dirinya lagi dirinya yang seperti ini.


 Hening dua kendaraan roda dua terdengar lewat di depan toko melintas dengan kecepatan sedang.


"Buggggg!" 


 Satu pukulan dari Ved melayang di wajah Ten terjatuh ke lantai darah keluar dari mulut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2