
...Chapter 162: Pink!. Pink!....
..."Apa aku harus mengatakannya lagi?" tanya Hoshie....
... Menghela nafas panjang....
... Nuansa yang biasa saja seakan diubah sesesuka orang lain....
... Dashie masih dengan dirinya mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Hoshie....
..."Aku harus mengatakan "Aku mencintaimu". Begini?!" kata Hoshie....
..."Apakah kau juga mencintai ku?" tanya Hoshie....
... Keadaan yang semula biasa saja terlihat semakin berubah ketika Hoshie menyatakan cinta lagi seperti yang sudah ia lakukan didepan gadis yang ia sayang....
... Tawa kecil dari orang-orang disekitar mereka yang secara tidak langsung dan sengaja mendengar obrolan keduanya....
... Merengek....
..."Kapan kau akan menerimaku?" tanya Hoshie....
... Suaranya terdengar seperti anak kecil yang ingin memakan es krim....
..."Ayolah kapan kau akan menerimaku?" tanya Hoshie....
... Nada suara yang belum berubah dari setiap intonasi kata yang terdengar....
..."Aku nggak bercanda kalau aku sayang kamu. Beneran … " kata Hoshie....
... Dia sudah lumayan malu jika sekali lagi ia akan memohon kepadanya jika ia masih terus diabaikan oleh gadis yang ia sayang di depannya yang sedang kembali membuat hati dan pikirannya kacau....
..."Pink!. Pink!. Pink!" ...
... Dashie baru saja menunjuk kedua pipi wajah Hoshie....
... Dia sambil tersenyum tak tahan lagi melihat ekspresi dari wajah Hoshie....
..."Cute" kata Dashie....
... Dia ngambek....
... Melihat mata Dashie lalu tidak bisa menyembunyikan dirinya yang sedang salah tingkah lalu melihat ke segala arah agar tidak tertangkap basah oleh Dashie kalau dia sedang malu....
... Memainkan tangan Hoshie menariknya ke kanan dan ke kiri berulang asik bermain....
..."Lihat!. My eyes" kata Dashie....
... Dia masih ngambek dan Dashie belum ingin berhenti menenangkan suasana hati dari orang didepannya itu....
..."Lihat. Ini Hoshie yang ku kenal" kata Dashie....
... Dia terlihat lucu setelah baru saja dengan emosi sudah selesai ia luapkan setelah sekian lama ia tahan....
... Malu-malu....
... Lalu memberanikan diri untuk menatap Dashie lagi....
... Senyum hangat sekaligus kelegaan dari bibir menyebar keseluruh wajahnya....
... Membalikkan keadaan....
... Kini giliran Hoshie yang mengayunkan tangan Dashie....
..."Ini sudah malam. Aku harus pulang sekarang" kata Hoshie....
... Dia terlihat berlari terburu-buru pergi menuju kendaraan roda empat dengan bodyguard yang menunggu di dalam kursi kemudi....
... Hoshie pergi dengan mobil yang dikendarai oleh bodyguard sekaligus sebagai driver pribadinya itu....
... Mendekat dengan kendaraan roda dua yang ia kendarai dari arah rumah....
... Xie berada di area yang cukup dekat melihat keduanya yang semakin dekat terlihat lebih akrab kian hari....
... Melihat seseorang yang ia tahu itu adalah kakak laki-lakinya sendiri....
... Dashie yang tidak jadi berbalik akan segera masuk kedalam gedung kos kosan....
... Xie yang datang setelah Hoshie pulang....
..."Ini" kata Xie....
... Menerima makanan dari kakak laki-lakinya itu....
... Membuka isi kantung plastik....
... Dia memberikan satu kilogram grapefruit yang ada didalam kantung plastik putih....
..."Aku tidak memesan ini" kata Dashie....
..."Berbagilah dengan Ghazi" kata Xie....
... Selesai memeriksa buah yang ada didalam kantung plastik lalu melihat kakaknya yang sedang mengajaknya bicara....
..."Ok" jawab Dashie....
... Xie belum pergi....
... Menunggu beberapa detik....
... Bicara lagi....
..."Ada yang ingin kau katakan lagi?" tanya Dashie....
... Bicara serius....
..."Kau sudah menerimanya atau akan segera menerima orang tadi?" tanya Xie....
... Dia mode seorang adik perempuan yang manis....
..."Kenapa?" tanya Dashie....
... Dia yang tanpa basa-basi....
..."Aku melihat kalian semakin dekat saja" kata Xie....
... Dia merasa tidak ada yang berubah dari pertemanan mereka....
..."Ku rasa biasa saja" kata Dashie....
... Dia tegas menjawab, dan ia berkata "Tidak. Itu yang ku amati"....
..."Lagi?" tanya Dashie....
... Mode seorang kakak laki-laki....
..."Ya" jawab Xie....
... Belum ingin pergi masih ingin memberi nasihat kepada adiknya itu....
..."Aku juga Kakak mu" kata Xie....
..."Ya. Aku tahu, kau sudah mengatakan itu sejak kecil" kata Dashie....
... Dia yang siap dengan nasihat yang mungkin di suka atau tidak suka ia dengar....
..."Kakak tidak menyuruh mu menjauh dari anak itu" kata Xie....
... Jeda sejenak....
__ADS_1
... Melanjutkan apa yang akan dikatakan kepada Dashie....
..." … Tapi kakak hanya menyarankan jika dekat dengan siapapun diniatkan untuk menjadi teman yang tulus tanpa niat tersembunyi" kata Xie....
... Mengiyakan nada suara patuh....
..."Ya" jawab Dashie....
..."Sudah itu saja" kata Xie....
... Kaget....
..."Sudah?" tanya Dashie....
..."Ya" jawab Xie....
... Melihat adiknya....
..."Kau tidak temui Ghazi?" tanya Xie....
... Bergegas pergi masuk kedalam kamar kos kosan yang disana sudah ada kakak perempuannya yang sedang istirahat di kamar adik perempuannya itu....
... Xie menunggu sampai adiknya muncul melihat dirinya dari bagian dalam jendela kamar....
... Menunggu beberapa menit....
... Dari luar bangunan tersebut Xie memperhatikan jendela kamar Dashie....
... Dua menit kemudian....
... Dashie melambaikan kedua tangan kepada kakak laki-lakinya itu lalu menutup segera jendela kamarnya tanpa mematikan lampu yang sedari tadi menyala terang....
... Xie pergi dengan kendaraan roda dua bergaya retro berwarna biru navy pergi menuju arah jalan pulang ke rumah yang masih berada di daerah yang sama dengan tempat tinggal kedua adik perempuannya itu....
... Dashie melihat dari dalam kamar dari jendela....
... Menghela nafas....
..."Akhir akhir ini, dia lebih protektif terhadap kita berdua" kata Dashie....
... Kembali menutup tirai jendela dan bersiap untuk istirahat....
... Dari arahnya yang semakin samar terdengar jauh namun suara mereka yang masih mengobrol terdengar dari tempatnya yang sekarang sedang menaiki kendaraan pribadinya bahwa perkembangan kemajuan dari pendekatan yang sudah lama ia usahakan hingga kini tidak begitu disetujui dengan mudah dari salah satu orang terdekat dari orang yang ia sayang....
..."Ini sudah kuduga akan terjadi" kata Hoshie....
... Hoshie yang semakin jauh dari arah kedua kakak beradik yang sudah tidak terdengar lagi sedang mengobrol....
... Kembali kepada Dashie dan Ghazi....
... Melihat Ghazi yang terlihat sudah tidur di sisi kiri tempat tidur dengan selimut hitam cukup tebal yang dikenakan menutup separuh tubuhnya....
... Mengingat bahwa kakaknya baru saja putus dengan kekasihnya itu....
..."Pasti sulit untuknya menerima semua itu" kata Dashie....
... Merapikan selimut yang sedang dipakai kakaknya untuk menghangatkan diri di cuaca yang dingin melebihi waktu di menit menit terakhir....
... Dia juga menggunakan selimut yang sama menyusul kakak perempuannya yang sudah lebih awal tertidur....
... Malam masih panjang untuk ...
...di lalui dan remaja laki-laki itu masih disana dengan buku-buku yang ada di meja belajar....
... Ponselnya yang berada dalam mode senyap lebih tidak dipedulikan oleh Nawa ketika salah satu sahabatnya terus menelepon....
... Namir....
... Dia dan kedua sahabatnya....
..."Aku tidak tahu dengan dua orang ini. Kenapa sulit sekali membuat hidupku damai?" tanya Namir....
... Dia marah-marah....
... Ramai meski sudah hampir tengah malam dengan para pengunjung warung internet tersebut....
..."Alamat ini benarkan?" tanya Namir....
... Meski ia sudah tahu bahwa alamat yang ia dapat benar dan sudah ada didepan mata akan tetapi ia ragu untuk datang disana....
..."Dia akan marah jika aku datang ke rumah gadis yang ia suka" kata Namir....
... Dibuat bingung dengan dua pilihan....
..."Pergi atau tidak?" tanya Namir....
... Dia tetap memilih jika ia harus di marahi atau dipukuli oleh Nawa....
... Dia dan motor sportnya yang sudah terparkir didepan rumah Rumy bersama motor-motor yang lain yang juga berada disana turun dari motornya dengan helm dikepala dan satu helm ia bawa ditangan kanan....
... Masuk kedalam warung internet....
... Mencari seseorang....
... Menemukan apa yang sedang ia cari....
... Dia yang kesal karena baru tahu salah satu sahabatnya belum pulang dan dia jadi korban kemarahan orang tuanya sendiri akibat alasan ini....
... Suasana warung internet yang terbilang ramai hampir setiap meja yang tersedia disana dengan para pengunjung....
... Didepan Ayah Rumy yang sedang minum kopi....
..."Kau belum pulang. Tadi, ibumu datang ke rumah ku untuk mencari mu" kata Namir....
... Melihat Namir....
... Pertanyaan yang sering ia dengar diucapkan santai oleh salah satu sahabatnya itu....
..."Kau habis dimarahi orang tuamu?" tanya Eir....
... Dia seperti seorang yang sangat khawatir....
..."Ya" kata Namir....
... Eir mengambil tasnya lalu meminta izin kepada Rumy dan Ayahnya untuk pulang....
... Setelah itu ia menerima helm yang dibawa oleh Namir yang sengaja ia bawakan dari rumah....
... Dia mengambil kunci motor yang dibawa oleh Namir....
..."Biar aku saja yang mengemudi malam ini" kata Eir....
... Melihat ada sesuatu yang harus dibetulkan dari diri Eir....
..."Pakai helm mu dengan benar" kata Namir....
... Dia yang sadar kalau tak ada hal yang perlu diperbaiki dari cara memakai helmnya....
..."Katakan saja. Jika itu memang salahku" kata Eir....
... Dia mengambil motor Namir mulai menaikinya lalu selanjutnya menyalakan mesin motor sport milik Namir....
... Mengajak bicara Eir sebelum ia membonceng motor yang dikendarai oleh sahabatnya sendiri....
... Nafas pendek dengan berjuta kesabaran untuk seseorang didepannya itu....
..."Kenapa kau lakukan ini?" tanya Namir....
... ...
__ADS_1
... Kepada diri sendiri....
..."Aku?" tanya Eir....
..."Aku hanya ingin tahu bagaimana sifat orang yang disukai oleh sahabat ku" kata Eir....
... Menatap sahabatnya itu....
..."Bagaimana dengan dirimu sendiri. Apa kau tidak menyayangi dirimu sendiri?" tanya Namir....
..."Apa kau tahu seberapa khawatirnya aku ketika kau belum pulang?" tanya Namir....
... Dia tahu kalau dia salah dan dia minta maaf langsung didepan sahabatnya itu....
..."Sorry. Aku janji ini yang terakhir kalinya aku melakukan ini" kata Eir....
..."Aku minta maaf" kata Eir....
... Dia berkata lebih serius dari biasanya....
..."Pernahkah kau berpikir aku adalah orang jahat?" tanya Namir....
... Tegas tanpa menyakiti kata-kata yang ia ucapkan....
..."Pernah?" tanya Namir....
..."Kau tidak menjawab pertanyaan ku tapi kau juga tahu itu" kata Namir....
... Dia yang pantas untuk marah....
..."Jangan pernah lupakan. Aku juga bisa menjadi orang jahat" kata Namir....
... Dia dan mesin motor yang sudah menyala....
... Eir....
... Dia yang sering di marahi oleh sahabatnya itu menjadi anak penurut....
..."Sorry. Aku terlalu mencemaskan mu" kata Namir....
... Namir membonceng motornya sendiri yang dikendarai oleh Eir....
... Mereka beranjak pergi meninggalkan rumah Rumy mengambil tingkat kecepatan berkendara yang cukup aman untuk mereka berada di jalan raya....
... Namir yang tahu bagaimana cara berkendara sahabatnya itu berusaha tetap tenang jangan sampai mengganggunya yang sedang berkendara dengan konsentrasi penuh....
... Ini cukup lama untuk seorang Eir untuk tidak mengendarai sebuah kendaraan yang hampir sama yang digunakan olehnya saat ini....
... Sudah cukup lama atau bahkan itu bukanlah waktu yang singkat waktu yang sudah mereka lalui setelah kejadian itu belum bisa dengan mudah untuk dilupakan olehnya begitu juga oleh kedua sahabatnya itu. Akankah, dia kembali setelah lama menghilang tanpa sebuah jejak petunjuk yang ditinggalkan untuk mereka agar bisa merasakan sebuah harapan bahwa sebuah harapan tetap ada bisa di miliki untuk merasakan sedikit harapan yang mustahil bagi mereka akan kembalinya orang lain lagi bermain bersama lagi bercanda kembali....
..."Bisakah dia kembali?" tanya Eir....
..."Aku takut dia tidak akan kembali" kata Eir....
... Curiga....
..."Kau tidak mengatakan hal itu padanya kan?" tanya Namir....
... Melewati persimpangan kota di antara banyak pengendara motor dan kendaraan roda empat lain....
..."Mana mungkin" kata Eir....
... Melanjutkan kata-kata yang ingin diucapkan....
..."Tapi, aku tidak janji" kata Eir....
... Menebak....
..."Apa kau setuju dengan ku kalau dia juga tidak mengatakan hal itu kepadanya?" tanya Namir....
..."Aku kira apa dia berpikir akan melakukan itu" kata Eir....
... Orang-orang terlihat sedang menunggu di sisi jalan dari kedua arah yang berbeda secara bersamaan....
... Melaju mengurangi kecepatan berkendara gadis remaja ini lakukan saat itu juga....
... Mengendarai motor sport itu melewati tempat penyeberangan jalan dengan lampu belum berwarna merah masih berwarna hijau sebagai penanda mereka boleh terus mengendarai kendaraan mereka....
..."Bagaimana jika dia tahu kalau kita sahabat dari kekasihnya?" tanya Namir....
..."Dia tidak jauh berbeda dengan orang itu yang pintar menyembunyikan kesedihannya sendiri" kata Eir....
..."Tidak seperti ku?" tanya Namir....
... Jujur....
..."Setidaknya kau masih punya emosi" kata Eir....
..."Kau ingat dia. Aku khawatir jika dia tetap dengan dirinya yang seperti itu" kata Eir....
... Mengajak bercanda temannya yang begitu serius mengajaknya bicara....
..."Aku tahu kau menyukainya" kata Namir....
... Percaya diri....
... Tiba-tiba galak....
..."Bilang saja kau cemburu!" kata Eir....
..."Apa itu sebuah pernyataan cinta?" tanya Namir....
... Dia membalik pernyataan dari apa yang dikatakan oleh Namir....
..."Berapa kali kau mengatakan kalimat yang sama itu kepada ku?" tanya Eir....
... Seperti akan bertengkar keduanya....
..."Kita tidak sedang balapan!" kata Namir....
... Dia mengendarai motor dengan kecepatan yang terbilang sangat tinggi apalagi dikendari oleh seorang wanita dengan motor sport yang ia bawa....
... Dia belum mendengarkan nasihat dari sahabatnya itu....
..."Kau ingin mengajak ku ke neraka!" kata Namir....
... Dia belum mendengarkan nasihat dari Namir lagi....
... Namir semakin berpegangan erat dari arah belakang disaat membonceng motor yang dikendarai oleh sahabat perempuannya itu....
... Dia sudah menghitung kapan waktunya akan mengurangi kecepatannya saat berkendara melihat dari arahnya yang semakin dekat dengan tempat penyeberangan jalan selanjutnya....
... Bertambah berkurang kecepatan berkendara Eir....
... Berhenti tepat waktu ditempat penyeberangan jalan dengan warna lampu merah sebagai tanda mereka harus berhenti sejenak dengan mesin motor yang masih menyala....
... Dia menggenggam kedua alat kemudi dengan sangat erat berbisik masih menatap ke arah depan tanpa melihat ke arah sebelah kanannya saat ini....
... Perintah langsung dari Eir....
..."Jangan melihat ke arah kanan" kata Eir....
... ...
... Berbisik lagi....
..."Aku akan cerita nanti" kata Eir....
... Dia melihat seseorang dengan kendaraan roda empat pribadinya yang ia kendarai sendiri....
__ADS_1