Call Me, You?

Call Me, You?
Chapter 23: Kemungkinan baik.


__ADS_3

Chapter 23: Kemungkinan baik.


"Dia yang bernama Ved" kata Ten.


"Biasanya orang itu yang datang" kata Ten lagi.


 Ten membuka telapak tangan lalu memakai kalung yang diberikan oleh Ved.


 Menyala bongkahan batu menyala hijau laut masuk kedalam raga Ten tidak terlihat lagi.


 Jatuh langsung Ten tidak sadarkan diri di lantai rumah ruang tamu.


"Jajuja jajiju" 


 Ved memantau Ten dari atas sebuah gedung bangunan bertingkat enam memastikan Ten jatuh pingsan akibat efek dari kalung yang baru saja dipakai.


 Pemuda ini selesai dengan tugasnya lalu pergi kemudian dari banguanan bertingkat itu.


 Jarum jam bergerak sudah sepuluh menit berlalu.


 Ten terbangun tak ada perbedaan disaat sepuluh menit yang lalu baru saja tak bisa bergerak seperti tak bernyawa sendirian di lantai ruang tamu.


 Duduk menatap sekitar ruang tamu lalu melihat diri sendiri.


 Wajah tidak bersalah khas baru bangun dari pingsan.


 Ponsel di saku baju piyama ungu bergetar menyala layar ponselnya.


 Mengambil ponsel.


 Berbicara dengan seseorang dari dalam ponsel lalu dia beranjak bangun dari atas lantai menuju kamar.


"Tidur lagi" kata Ten.


 Dia dengan tujuan hidupnya sendiri.


 Menunggu semalaman di mobil merahnya sendiri tertidur berselimut warna hitam menunggu seseorang untuk bangun dari tidurnya setelah satu minggu lebih berjuang hidup untuk tetap bertahan.


 Ketukan kaca jendela dilakukan oleh seorang wanita mengetuk kaca jendela mobil sebelah kanan baris pertama mobil.


 Ved terbangun yang duduk di kursi kemudi sebelah kiri.


"Ya. Aku sudah bangun" kata Ved.


 Terbangun dari tidur melipat selimut itu lalu menaruhnya di kursi sebelah kanan ditempatnya duduk sekarang membuka pintu sebelah kiri mobil keluar dari dalam mobil.


 Menutup pintu mobil.


 Pergi mengikuti wanita yang baru saja membangunkannya.


 Sesuai dengan rencana dari Ved dan Dokter rekan satu misinya keputusan ini harus diambil.


 Dokter itu memberikan cermin berukuran satu telapak tangan orang dewasa kepada seseorang yang sedang berbaring di sebuah ranjang dengan selang infus yang ia dapat dan alat alat bantu medis lain baru saja sadar setelah satu minggu koma diatas ranjang di rumah dokter yang juga merupakan salah satu dari bangsa Blacwhe.


"Ini bukan aku" kata Callie.


 Ved mengambil cermin di tangan Callie segera dengan penjelasan yang akan segera menjadi identitas baru gadis yang sedang diajak berkomunikasi serius dengan bangsa Blacwhe ini lalu Dokter di depan Callie mengambil kursi besi duduk di sisi kiri tempat Callie berbaring.


"Ini wajah dan identitas barumu" kata Ved.


 "Kau juga akan mendapatkan pekerjaan baru dengan identitas ini" kata Ved.


"Kami akan memberikan kartu tanda pengenal untukmu serta alamat tempat kerja barumu" kata Ved.


 Satu pertanyaan pertama dari Callie.


"Apakah aku sudah menjadi bangsa Blacwhe?" tanya Callie.


 Senyum kedua bangsa Blacwhe di depan Callie.


"Tidak. Kau hanya meminjam salah satu kekuatan kami" kata Ved.


 Belum percaya dengan penjelasan dari mereka.


"Berapa lama aku mendapatkan pertolongan ini?" tanya Callie.


 Menyilangkan kedua tangan di bawah dada, Ved dengan santai menjawab pertanyaan dari Callie.


"Manfaatkan dengan baik kesempatan ini" kata Ved.


 Wajah Callie kembali menjadi wajah aslinya.


 Memberikan cermin yang sama yang tadi digunakan oleh Callie.


 Pertanyaan ketiga dari Callie.


"Wajahku kembali lagi?" tanya Callie.


"Kau harus pergi ke kantor polisi menemui kedua orang tuamu melaporkan kamu sudah baik baik saja" kata Ved.


 Dokter Wan memberikan rekam medis tentang berapa hari dia dirawat olehnya sebagai bukti bahwa Callie baru saja sadar setelah mengalami penusukan oleh orang tidak dikenal.


 Callie menerima hasil rekam medisnya sendiri.


 Membacanya dengan teliti.


"Kau mengenal siapa orang yang melukaimu?" tanya Dokter Wan.


 Menjawab tanpa menimbulkan rasa curiga.


"Aku tidak melihat wajah pelaku itu" kata Callie.


 Ved bersiap untuk pergi dari rumah Dokter Wan.


 Mereka tahu darimana asal luka luka yang gadis di depan mereka dapat dengan DNA yang tertinggal di dalam bekas luka dari senjata yang telah menusuknya terdapat DNA yang sama seperti ciri ciri DNA dari bangsa Blacwhe yang tidak bisa diketahui siapa pasti pelakunya.


"Ok. Kamu juga mempunyai dua pilihan untuk tetap menjadi Callie yang dulu atau menjadi  identitas baru yang kami berikan" kata Dokter Wan.


"Yang jelas kami akan bertanggung jawab atas perlakuan bangsa kami" kata Dokter Wan.


 Menunggu empat detik.


"Silahkan. Kau bisa memilih diantara dua pilihan itu" kata Dokter Wan.


 


 Detik detik berikutnya Callie memberikan jawaban dari dua pilihan yang diberikan kepadanya untuk dipilih.


 Setelah berdiskusi panjang, akhirnya Callie memutuskan pilihannya.


 Bersiap untuk pergi.


"Baiklah. Aku harus segera pergi" kata Ved.


 Ved pergi setelah menyelesaikan satu misi lagi berpamitan kepada Dokter yang berada dengan mereka di ruang yang sama.


 Dokter wanita itu mengantar Ved sampai diluar rumah melihat sampai juniornya pergi.

__ADS_1


 Ved melambaikan tangan dari dalam mobil dengan jendela sebelah kanan yang terbuka dari kursi kemudi sebelah kiri baris pertama lalu pergi melajukan mobil merahnya pergi keluar dari gerbang rumah.


"Sekarang dia sudah tumbuh dewasa" kata Dokter Wan.


 Dokter Wan kembali masuk kedalam rumah.


 Di apartemen Luc.


 Menu breakfast sudah siap di meja depan kamar Luc dengan udara sejuk pagi yang cerah memakai seragam kantor sudah siap di menit menit selanjutnya akan berangkat pergi ke kantor.


 Berteriak.


"Bangun!" kata Luc.


 Satu kali teriakan Hoshie sudah terbangun dari tidurnya membuka selimut pergi berjalan ke kamar  mandi.


 Luc sambil memotong roti panggang diatas piring dengan peralatan makan garpu dan pisau.


 Dalam waktu lima menit, Hoshie selesai mandi keluar dari kamar mandi mengambil tempat duduk di depan Luc.


 


 Menunjuk satu piring menu sarapan pagi ini.


"Ini milikku?" tanya Hoshie.


 Luc akan mengambil potongan buah alpukat dari piring Hoshie.


 Hoshie langsung reflek mengambil sarapan miliknya yang akan diambil dari Luc.


"Kau belum putus dengan Aka?" tanya Luc.


"Belum" jawab Hoshie.


 Hoshie memakan potongan roti dengan telur goreng setengah matang yang digoreng dengan olive oil.


 


 Kalimat ekstrem akan segera Luc katakan kepada Hoshie.


"Kau belum tidur dengannya?" tanya Luc.


 Hoshie batuk.


"Uhuk uhuk uhuk!" 


 Belum reda batuknya Hoshie.


 Batuk lagi.


"Uhuk uhuk uhuk!" 


 Hoshie minum susu hangat dari dalam gelas di sebelah kanan piring mengambilnya dengan tangan kanan.


 Luc sedang serius lagi dengan kalimat selanjutnya yang akan ditanyakan kepada Hoshie.


"Benarkan?" tanya Luc.


 Menghela nafas Luc.


 Berkata seadanya tentang hobi Hoshie.


"Sudah kuduga tidak mungkin kau tetap mempertahankan gadis itu hanya karena dia seksi" kata Luc.


 Diam menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.


 Akhirnya, dia berani menjawab pertanyaan dari sahabat sekaligus seniornya itu.


 Menekan jawaban dari Hoshie mendorong Sahabatnya agar memberikan penjelasan yang lebih jelas atas jawaban yang dia berikan.


"Ya?" tanya Luc.


 Menjadi anak baik.


"Ya. Aku belum tidur dengannya" jawab Hoshie.


 Melamun.


 Hoshie mengingat sesuatu yang janggal mengapa dia tidak bisa melakukan hal yang dipertanyakan oleh sahabatnya itu.


 Kemeja itu berwarna hitam dengan kancing hitam  dan celana panjang hitam sudah tidak sadarkan diri di sebuah mobil di sebelah kursi kemudi pemuda ini masih sadar dan ingat situasi malam itu hujan gadis di sebelahnya dengan kalung emas dan serasi dengan anting panjang menjuntai panjang di kedua telinga.


 Kancing hitam baju gadis itu mulai ia buka satu langkah diambil dan selanjutnya dia akan melakukan langkah yang sama dia lakukan sebelumnya.


 Dia akan mencium bibir merah dari gadis yang disebut Luc sebagai pacarnya. 


 Kedua pasang mata pemilik bibir merah cantik itu terbuka berubah seketika wajah pacarnya menjadi wajah orang lain.


 Kaget Hoshie.


 Dia akan melanjutkan niat buruknya untuk melakukan hal keji itu kepada gadis di depannya meski dia telah berubah menjadi orang lain.


 Satu hempasan tangan penolakan dari gadis yang dilihatnya langsung mendorong kuat sampai membuatnya bisa berpindah tempat keluar dari dalam mobil.


 Jelas Hoshie terpental jatuh dari dalam mobil.


 Melihat dari luar gadis yang ada di dalam mobilnya.


 Dengan wajah perubahan yang sama dan tidak membuka mata.


 Heran penuh tanda tanya.


"Kenapa wajahnya berubah menjadi Dashie?" tanya Hoshie.


 Pemuda ini akan mencoba bangun dan dia sulit bangun setelah terpental jatuh.


 Berusaha lagi untuk bangun.


 Belum juga berhasil.


 Tiba tiba tubuhnya lemas dan tidak memiliki energi seperti sebelum dia terpental keluar dari dalam mobil.


 Melihat Aka menjadi Dashie.


 Dia masih belum percaya kenapa hal ini bisa terjadi di dunia yang bukan dunia mimpi.


 Dengan keteguhan pendapat diri sendiri.


"Gadis itu adalah target terbaik dari bangsaku" kata Hoshie.


 Tertawa jahat untuk Dashie.


 Dua menit berlalu Hoshie memaksakan diri untuk bangun dari atas tanah duduk tanpa alas bergerak membuka pintu mobil sebelah kiri kemudi masuk kembali.


 Aksinya sekali lagi dia tidak ingin menyerah untuk berbuat keji kepada pacarnya dan dia mendapatkan kejutan bahwa dia masih tetap dengan wajah milik Dashie.


 Mengusap kedua mata dengan telapak tangan bagian bawah bahwa dia sedang tidak berhalusinasi lagi.

__ADS_1


"Tetap wajah gadis itu" kata Hoshie.


 Tertawa suara kecil tidak percaya dengan situasi ini.


 Tapi, tetap saja wajah yang dia lihat bukanlah wajah pacarnya melainkan wajah Dashie.


 Dia berpikir lagi setelah ia teringat juga inilah waktu yang juga ia tunggu ketika bersama dengan Dashie yang selama ini ditunggu tunggu belum bisa ia lakukan kepada Dashie.


 Hoshie bergerak lagi akan menyentuh helai rambut yang menutupi wajah Dashie.


 Tersengat listrik.


 Lebih dari itu yang dia rasakan ketika akan melakukan niat jahatnya kepada gadis di sebelah kanannya.


"Gadis sepertimu membuatku gila" kata Hoshie.


 Aka dengan wajah Dashie tidak bisa sama sekali disentuh oleh Hoshie bahkan satu helai rambut pun tidak bisa walaupun dia sudah beberapa kali mengubah dirinya menjadi orang lain namun tetap tidak ada perubahan kalau Aka sedang terlindungi oleh kekuatan yang Hoshie juga tidak tahu itu.


 Akhirnya Hoshie memutuskan untuk mengantar Aka pulang.


 Memperhatikan sesekali sambil mengemudikan mobil menuju ke arah rumah pacarnya dan tetap saja dengan wajah Dashie yang dia lihat hingga dia mulai menyadarkan lagi Aka setelah terkena mantra darinya sehingga tidak sadarkan diri selama satu jam barusan.


 Aka terbangun dengan wajah Dashie tidak berubah dan dia tidak menyadari hal ini.


"Aku tertidur?" tanya Aka.


 Senyum hangat pria baik baik dari Hoshie.


"Ya. Sudah satu jam kau tertidur" kata Hoshie.


 Belum sepenuhnya sadar.


"Sudah sampai di rumah" kata Aka.


 Mengangguk.


"Ehem" kata Hoshie.


 Hoshie keluar dari kursi kemudi berjalan melewati depan mobil berniat membukakan pintu mobil untuk Aka dicegah langsung oleh Kakaknya Aka yang segera membukakan pintu mobil untuk adiknya.


 Wajah Aka masih dengan wajah Dashie membuat Hoshie lumayan panik.


 Aka keluar dan wajahnya langsung berubah menjadi wajah aslinya lagi.


 Hoshie tidak terkena serangan jantung lega menghela nafas pelan tanpa suara di hadapan mereka.


 Memerintah Aka.


"Kau masuk kedalam rumah!" kata Brees.


 Patuh.


"Ya" kata Aka.


 Dari arah belakang Kakaknya, Aka memberikan semangat untuk pacarnya yang akan segera disidang oleh kakaknya itu.


 Hoshie tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan saat menerima perlakuan baik dari Aka lagi karena pembelaan dari gadis yang baru saja memberikan balasan baik untuk dirinya yang tidak sebaik yang pacarnya kira.


 Sidang dimulai.


 Momen sidang itu juga lebih menegangkan untuk Hoshie yang juga memiliki jiwa separuh manusia ada didalam raga. Dia juga bisa merasakan rasa yang sama seperti manusia ketika di marahi oleh seseorang apalagi orang itu jauh lebih dewasa dari dirinya.


 Tersadar dari lamunan.


"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Luc.


 Memakan potongan lembaran daging panggang di sebelah telur goreng setengah matang dari atas piring.


 Hoshie melanjutkan sarapan.


 Luc menghentikan lamunan sahabatnya itu yang sudah terlalu lama hingga menu sarapan miliknya telah habis separuh dari atas piring.


 Di rumah Dashie.


 Dashie akan siap berangkat bekerja setelah menghabiskan makan pagi di meja ruang makan.


 Minum susu yang satu kali teguk lagi akan dihabiskan oleh Dashie.


 Tanpa suara dia meminum susu dari dalam gelas.


 Mendapatkan panggilan dari sebuah nomor tidak dikenal.


 Menatap wajah seseorang dari dalam layar ponsel  lalu reaksi yang diberikan oleh Dashie kepada orang tersebut dia menangis tersedu sedu tanpa banyak kata ia sanggup ucapkan dengan kabar gembira ini.


"Dashie" panggil Callie.


 Dashie menghapus air matanya sendiri disaat dia tahu keajaiban seperti ini bisa dia dapat lagi dari sebuah harapan yang selalu ditunggu dan hari itu datang.


"Inilah hari itu" kata Dashie.


 Callie bersama dengan kedua orang tuanya sedang berada di kantor polisi bersama juga Dokter Wan yang mengantarnya sendiri ke kantor polisi untuk melaporkan tentang kembalinya Callie setelah menghilang satu minggu.


 Senyum bahagia.


"Jangan sedih lagi tersenyumlah" kata Callie.


 Dashie mengangguk.


 Tersedu sedu menangis.


"Apakah kau akan datang ke rumahku lagi?" tanya Dashie.


"Tentu" jawab Callie.


"Tapi, sepertinya tidak untuk sekarang. Sorry" kata Callie.


 Menghapus air matanya lagi.


"Why?" tanya Dashie.


 Senyum persahabatan.


 "Aku akan pergi ke suatu tempat ... , tapi kau jangan khawatir aku pasti kembali lagi" kata Callie.


 Mulai tenang.


"Baik tapi tetap harus mengabariku ya" kata Dashie.


 Senyum perpisahan.


"Ok" kata Callie.


 Obrolan keduanya berakhir lalu panggilan telepon dari orang lain datang.


 Dengan sisa dari tangis tadi, dia menjawab panggilan dari orang yang memanggilnya, dan dia berkata "Ya. Bos".


"Libur?" tanya Dashie.

__ADS_1


  Dashie libur dari pekerjaannya hari ini secara tiba tiba mendapat informasi ini langsung dari bosnya dengan alasan karena telah menjaga anaknya ketika ada dirumah sakit.


 


__ADS_2