
Hari berganti, dan kini Libra baru saja keluar dari kamarnya berniat untuk pergi ke restoran di bawah sana yang memang disediakan oleh pihak hotel. Ya Libra akan membawakan makanan itu khusus untuk Ciara nanti, sebab Ciara tidak ingin diajak makan di restoran dan malah memilih berdiam diri di kamar sambil terbaring dengan wajah cemberut.
Libra sendiri tak mengerti apa yang membuat Ciara sampai seperti itu hingga kini, padahal ia sudah berulang kali meminta maaf padanya dan membujuk wanita itu untuk tidak terus marah. Namun, usahanya selalu gagal dan malah membuat Ciara semakin emosi serta mendiamkannya. Jujur saja Libra kecewa, karena seharusnya momen ini bisa ia manfaatkan untuk lebih romantis dengan sang istri.
Disaat ia hendak melangkah menuju lift, tiba-tiba pintu kamar di sebelahnya terbuka dan memperlihatkan sosok Gita yang keluar dari sana. Sontak Libra menghentikan langkahnya, karena Gita memang sengaja memanggil nama pria itu. Ya mereka lalu saling berhadapan, Libra cukup syok melihat penampilan Gita saat ini yang begitu berbeda dibanding biasanya.
"Hai Libra! Good morning!" sapa Gita sembari menghampiri pria itu dan mengunci pintunya.
Libra terdiam selama beberapa detik di tempatnya, sampai kemudian Gita mendekatinya dan menepuk pundaknya bermaksud menyadarkan pria itu. Ya Libra pun tersadar, lalu tambah terkejut ketika melihat Gita sudah berada di dekatnya kini.
"Hah? Gita, kamu ngapain berdiri di depan aku kayak gini?" tanya Libra sembari mengucek-ngucek matanya.
"Ahaha, kamu tuh yang ngapain ngelamun aja disini? Aku sapa kok bukannya jawab malah diam aja, dasar kamu!" cibir Gita.
"Oh ya ya, maafin aku." Libra terlihat begitu gugup dan terus mengerutkan keningnya.
"Kamu itu lagi kenapa sih Libra? Kelihatannya kamu banyak masalah ya, ada apa sih? Cerita aja deh sama aku, biar kamu gak stress terus kayak gini!" ucap Gita.
"Ceritanya nanti aja di bawah yuk! Kebetulan aku mau cari sarapan buat Ciara, soalnya dia kayaknya lagi gak enak badan," ucap Libra.
"Oh gitu, ya ampun kasihan banget sih Ciara! Pasti gara-gara itu ya kamu jadi gak fokus begini? Emang Ciara sakit apa sih, Libra?" ucap Gita penasaran.
Libra menggeleng perlahan, lalu mengajak Gita berjalan menuju lift karena ingin cepat-cepat sampai di restoran bawah sana demi bisa mendapatkan makanan untuk Ciara. Gita menurut saja kali ini, keduanya pun melangkah berdampingan dan mulai memasuki lift yang kosong dan hanya ada mereka berdua disana.
"Umm Libra, kamu sama istri kamu lagi baik-baik aja kan?" tanya Gita tiba-tiba.
Libra tersentak mendengarnya dan spontan menatap wajah Gita dengan tatapan dingin, "Maksud kamu apa ya bicara seperti itu? Memangnya kamu kira aku sama Ciara lagi bermasalah gitu?" ucapnya.
Gita pun merasa kaget melihat reaksi Libra saat ini, ia tak menyangka jika Libra akan sangat marah padanya hanya karena ia menanyakan itu. Sungguh Gita menyesal, seharusnya tadi ia lebih berhati-hati lagi dalam berbicara agar tidak membuat Libra menjadi emosi seperti sekarang ini.
"Duh, aku nyesel deh nanya kayak gitu ke Libra tadi. Harusnya aku pikir-pikir dulu, payah banget sih kamu Gita!" gumam wanita itu dalam hatinya.
Kini Gita berusaha mencari cara untuk menjelaskan pada Libra bahwa ia tak bermaksud menyinggung atau membuat pria itu marah, ya tentu Gita tak ingin Libra terus marah padanya hanya karena kata-kata yang ia ucapkan tadi.
"Ma-maaf Libra, aku gak bermaksud bikin kamu marah. Aku cuma mau tau aja kok, barangkali kamu sama Ciara memang lagi ada masalah," ucap Gita.
"Ya gapapa, aku dan Ciara baik-baik aja kok. Kamu gak perlu khawatir ya Gita!" ucap Libra santai.
"Okay, sekali lagi aku minta maaf ya kalau pertanyaan aku tadi menyinggung kamu? Aku benar-benar gak bermaksud loh," ucap Gita cemas.
"Iya Gita, aku ngerti kok." singkat Libra.
Sesaat kemudian, pintu lift terbuka dan mereka langsung memutuskan keluar dari lift tersebut untuk segera menuju restoran. Tampak ekspresi Libra masih dingin kali ini, sepertinya pria itu memang benar-benar kesal pada pertanyaan Gita tadi. Gita pun terus merasa tidak enak, gadis itu menyesal karena sudah gegabah bertanya seperti tadi.
Saat di restoran, Libra langsung mengatakan pesanannya kepada pelayan yang bertugas disana. Begitu juga dengan Gita yang memang ingin melakukan sarapan juga, barulah mereka kini sama-sama terduduk di tempat yang masih kosong dan terlihat saling bertatapan.
"Oh ya, aku mau tanya sesuatu deh sama kamu Gita. Eee lebih tepatnya sih sebuah saran ya," ucap Libra tiba-tiba.
Gita sontak terkejut sekaligus bahagia mendengar Libra bersuara, "Iya boleh Libra, apapun yang kamu minta dari aku pasti aku bakal bantu. Kamu mau saran apa?" ucapnya antusias.
__ADS_1
"Kira-kira aku kasih hadiah apa ya buat Ciara? Soalnya aku lagi bingung banget nih," ucap Libra.
"Hah? Hadiah??" Gita terkejut seraya membelalakkan matanya begitu mendengar perkataan Libra, kini ia semakin yakin jika Libra tengah bertengkar dengan istrinya.
•
•
Setelah obrolan singkatnya di restoran bersama Gita dan juga menyelesaikan sarapannya, kini Libra kembali ke kamar untuk menemui Ciara. Ya tak lupa juga Libra telah membawa hadiah untuk istrinya itu, tentunya ia berharap dengan ini Ciara dapat kembali seperti biasanya dan tidak marah lagi padanya. Ia pun langsung melangkah menghampiri istrinya di ranjang, ia tersenyum lalu menyentuhnya perlahan.
Ciara sendiri masih terlihat memejamkan mata dan menghadap ke samping memunggungi suaminya, dapat dipastikan tentu Ciara masih memendam amarah kepada suaminya atas kejadian kemarin saat mereka tiba di lobi hotel. Ciara tak terima tentunya, sebab Libra justru lebih akrab dan terlihat bahagia begitu bertemu dengan Gita yang entah kebetulan atau apa menginap di hotel itu juga.
"Sayang, nih aku udah bawain sarapan buat kamu. Tapi selain itu, aku juga bawa satu kotak nih yang harus kamu tebak apa isinya sayang!" ucap Libra berupaya membujuk istrinya.
Ciara langsung membuka matanya, berbalik ke arah Libra lalu terkejut melihat kotak berukuran sedang yang dibawa oleh suaminya itu.
"Apa itu dad?" tanya Ciara penasaran.
"Hm, kamu penasaran ya? Coba tebak dong sayang kalau mau tahu!" ujar Libra.
"Umm..."
Ciara mengetuk-ngetuk jarinya ke dagu sembari memikirkan jawaban dari pertanyaan Libra itu, ya Ciara belum tahu apa sebenarnya yang ada di dalam kotak tersebut dan Ciara sangat penasaran kali ini. Untuk itu, Ciara coba berpikir dan menebak apa isi di dalamnya. Setelah mendapat jawaban, Ciara langsung mengatakan itu kepada suaminya.
"Gajah!" tebak Ciara.
Libra tersentak mendengarnya, "Hah? Gila aja kamu ya sayang, kalo ada gajah di kotak ini ya pasti mati dong gajahnya sayang!" ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Nah itu tau, terus kenapa kamu nebaknya malah gajah coba?" heran Libra.
"Becanda sayang, lagian aku juga lagi males tebak-tebakan. Udah deh mending kamu kasih tahu aja buruan apa isi kotak itu, jangan bikin aku bete!" ucap Ciara merengut.
"Huft, iya deh iya sayang. Demi kamu, nih aku buka nih kotaknya ya!" ucap Libra.
Ciara manggut-manggut tersenyum, ia terlihat terus menatap ke arah Libra yang hendak membuka kotak di tangannya itu dengan perlahan. Karena sangat penasaran dan ingin tahu, Ciara pun bangkit lalu terduduk di ranjangnya dengan posisi lebih dekat dari suaminya. Tentu Ciara amat berharap, kalau sesuatu di dalam kotak itu adalah hadiah menarik.
Begitu kotak itu dibuka, dua bola mata Ciara langsung membulat seketika saat melihatnya. Ya bagaimana tidak, rupanya di dalam kotak itu terdapat dua buah kalung serta anting permata yang indah dan mahal. Pancaran sinarnya saja sudah membuat Ciara berdecak kagum, wanita itu tak percaya jika Libra akan membelikan kalung itu untuknya.
"Wah dad, ini cantik banget permatanya! Semua ini buat aku, dad?" tanya Ciara.
Libra menjawab dengan anggukan, sontak saja Ciara tersenyum lebar penuh bahagia karena mendengar jawaban dari suaminya itu. Tiba-tiba saja, Ciara bangkit dari posisinya kemudian memeluk erat tubuh Libra sembari mengusap punggungnya dengan lembut. Ciara benar-benar bahagia, berulang kali wanita itu mengucapkan terimakasih kepada Libra atas hadiah yang diberikan olehnya itu.
"Sekali lagi makasih ya dad, aku bahagia banget dibeliin permata ini sama daddy!" ucap Ciara sambil tersenyum renyah.
"Ya sayang, sama-sama. Itu hadiah untuk kamu karena kamu udah berikan semua yang kamu punya buat nyenengin aku, sekaligus aku juga mau hibur kamu supaya gak marah lagi sama aku!" ucap Libra sembari mengusap rambut istrinya.
Ciara pun melepaskan pelukannya, ia tatap wajah pria di hadapannya itu dengan senyuman yang sumringah. Lalu, Libra kini menangkup wajah Ciara dan mengecup hangat keningnya cukup lama. Ciara bahkan sampai memejamkan matanya, ia amat menikmati kecupan hangat sang suami yang seperti sengaja sangat lama menempelkan bibirnya di kening serta pipi wanita itu.
"Aku sayang banget sama kamu! Gak mungkin aku bakal duain kamu Ciara, jadi kamu gak perlu khawatir ya soal Gita! Dia itu cuma rekan kerja aku, gausah cemas!" ucap Libra.
__ADS_1
Ciara mengangguk perlahan, "Iya dad, tapi tetap aja aku takut daddy kepincut sama dia. Secara dia itu kan perawat yang cantik dan seksi, aku mah apa atuh kalah jauh dibandingin sama dia. Aku rasa juga kayaknya dia suka sama kamu deh," ucapnya.
"Gausah khawatir, biarin aja kalau dia emang suka sama aku mah. Yang paling penting itu, aku kan gak punya rasa apa-apa sama dia," ucap Libra tegas.
"Iya tahu, tapi bisa aja kan kamu jadi kepincut nantinya. Contohnya kamu juga malah suka sama aku tuh sekarang, padahal dulu waktu pertama ketemu kita selalu berantem," ucap Ciara
Libra terdiam saat itu juga, ia mengingat kembali masa lalunya bersama wanita itu saat pertama kali saling mengenal. Ya memang benar yang dikatakan Ciara tadi, mereka sempat saling bertengkar dan malah membenci satu sama lain hanya karena masalah sepele. Namun, tentunya Libra akan memastikan jika hal itu tidak mungkin terulang pada dirinya dan Gita nanti.
•
•
Cup!
"Malam ini kamu nikmat banget, aku puas sama goyangan kamu sayang!"
Ucapan sensual itu diucapkan oleh Galen yang baru saja menuntaskan permainan panasnya bersama seorang wanita cantik yang ia sewa untuk memuaskan dirinya malam ini, tak lupa Galen mengecup serta menjilat keringat yang menempel di kening wanita itu sembari memainkan bagian tubuh milik si wanita penghibur tersebut.
Wanita itu hanya tersenyum seraya mengatur nafasnya, baru saja ia selesai dihujam berulang kali oleh Galen yang memang telah lama menyimpan tenaganya itu. Sejak Tiara melahirkan putra mereka, Galen pun terpaksa mencari kepuasan di luar bersama wanita lain karena tidak mungkin ia memaksa Tiara untuk memuaskannya.
Akan tetapi, hal itu justru menjadi candu bagi Galen yang seolah ingin terus melakukannya bersama wanita tersebut. Terhitung sudah puluhan kali ia mengulanginya, padahal kala itu ia berjanji hanya akan menyewa wanita malam selama Tiara masih dalam proses penyembuhannya. Hanya saja, kenikmatan yang diberikan si wanita mampu membuat Galen ketagihan hingga kini.
"Sama-sama sayang, kamu juga nikmat kok. Makin jago aja kamu goyang aku tadi, aku sampai kewalahan kayak gini loh. Luar biasa kamu Galen, istri kamu pasti selalu puas deh!" ujar si wanita.
Galen sontak terdiam begitu mendengar kata 'istri' yang disebutkan oleh si wanita, ia langsung mendekati wajah wanita itu dan mencengkram lehernya dengan kuat sembari mengancamnya untuk tidak membawa nama istrinya dikala mereka tengah bersenggama seperti sekarang ini.
"Hey, jangan pernah kamu sebut-sebut nama istri aku itu lagi disaat kita sedang bersenang-senang sayang! Aku gak mau acara kita ini terganggu, aku harap kamu paham soal itu!" pinta Galen.
"It's okay, apapun yang kamu minta akan aku turuti Galen. Aku ini kan sekarang milik kamu, jadi kamu bebas minta apapun sayang!" ucap si wanita.
"Ya Jessica, itu memang tugas kamu. Kalau begitu, aku harus pulang sekarang. Maaf ya, aku gak bisa temenin kamu sampai pagi dan menginap disini seperti kemarin! Tapi mungkin, lusa aku bakal nginep disini lagi kok," ucap Galen pamitan.
Wanita bernama Jessica itu mengangguk paham, "Iya sayang, kamu boleh pulang kok. Tapi, jangan lupa biaya malam ini langsung ditransfer ke rekening aku ya sayang!" ucapnya.
"Pasti." Galen manggut-manggut perlahan.
Lalu, pria itu pun tampak membenarkan pakaiannya seperti semula dan memakainya kembali. Ia juga beranjak dari atas tubuh Jessica, dan bersiap untuk pergi saat itu juga. Sedangkan Jessica terlihat tersenyum memandangi Galen dari posisinya, wanita itu juga masih bertubuh polos dan belum berniat untuk memakai pakaiannya.
"Aku pergi ya, bye sayang! Good night!" ucap Galen sembari mengecup bibir Jessica sekilas.
Setelahnya, Galen langsung berbalik dan pergi dari apartemen milik wanita itu karena hari sudah malam dan ia tidak mau Tiara curiga padanya jika ia terlambat pulang.
TOK TOK TOK...
Tak berselang lama, suara ketukan langsung muncul dari luar apartemen itu. Jessica sontak mengambil bathrobe miliknya dan memakainya, lalu turun dari ranjang untuk menghampiri seseorang di luar sana yang hendak bertemu.
"Iya sebentar!" teriak Jessica sembari melangkah ke dekat pintu.
Ceklek
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...