
Dikala Ciara dan Libra tengah asyik saling mencumbu satu sama lain, Gita yang masih berada di rumah sakit justru merasa geram lantaran Libra tak kunjung membalas pesan darinya. Ia heran apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan pria itu, dan mengapa Libra tidak memberikan balasan padanya.
Gadis itu pun akhirnya terpaksa menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu berniat pergi karena kesal dengan kelakuan Libra. Akan tetapi, ia terkejut saat tiba-tiba dokter Syifa sudah berdiri tepat di hadapannya dan tengah tersenyum sembari memandangi wajahnya.
"A-ada apa ya dok? Kok dokter ngeliatin saya begitu sih?" tanya Gita dengan wajah gugup.
Syifa terkekeh melihat kegugupan di wajah Gita, ia sampai menutupi mulutnya karena tak tahan dengan ekspresi gadis itu. Tadi Syifa dengar jelas saat Gita bergumam seorang diri dan menyebut nama Libra dengan mulutnya, maka dari itu Syifa sekarang mencoba mencari tahu dan bertanya langsung pada Gita mengapa gadis itu tampak kesal.
"Gapapa, saya cuma bingung aja sama kamu. Tadi saya dengar kamu sebut nama dokter Libra ya sambil marah-marah, memangnya ada apa sih? Kalian lagi marahan?" ujar dokter Syifa.
Deg
Wajah Gita berubah panik saat ini, ia tak menyangka kalau Syifa ternyata mendengar apa yang ia katakan tadi. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, ia benar-benar gugup dan bingung harus menjawab apa di hadapan dokter Syifa. Apalagi, Syifa terlihat terus menatapnya seolah menantikan jawaban darinya.
"Eee sa-saya...." Gita terlihat sangat gugup, ia terus berpikir keras agar tidak membuat dokter Syifa curiga kepadanya.
"Kalau memang saya gak boleh tahu, gak masalah kok. Ya saya cuma penasaran aja, soalnya saya gak sengaja dengar kamu marah-marah sambil sebut nama dokter Libra tadi," sela dokter Syifa.
"Ahaha, iya dok itu tuh karena dokter Libra susah banget buat dihubungi tadi!" ucap Gita grogi.
Gita langsung menutupi mulutnya dan memalingkan wajahnya dari dokter Syifa, ia menyesal karena telah berkata jujur di depan dokter Syifa saat ini. Sekarang pastinya dokter Syifa akan semakin merasa bingung dengan pengakuan Gita barusan, bukan hal yang wajar jika seorang wanita berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri tentunya.
"Maksudnya gimana ya? Emangnya kamu itu sering berhubungan sama dokter Libra?" heran Syifa.
Gita benar-benar dibuat gugup saat ini, dokter Syifa itu terus saja menatapnya dengan wajah penuh tekanan. Seolah-olah sekarang dokter Syifa tengah menginterogasinya dan mengajukan berbagai pertanyaan menjebak, Gita pun sangat bingung harus menjawab apa pada dokter Syifa saat ini.
"Eee i-i-iya dok, saya tadi coba chat ke nomor dokter Libra. Ya sewajarnya aja kok dok, saya mah gak ada chat yang aneh-aneh," usap Gita.
"Ohh, emang yang wajar itu gimana? Nanyain dokter Libra udah sampai rumah apa belum ya?" tanya dokter Syifa dengan senyum di wajahnya.
Sontak Gita kembali dibuat terkejut dengan ucapan dokter Syifa yang benar-benar seperti sebuah tusukan pisau baginya, ia tampak gelisah dan bingung saat hendak menjawabnya. Sedangkan dokter Syifa malah tersenyum kali ini, lalu menggerakkan tangannya menyentuh pundak Gita sembari mengusapnya perlahan.
__ADS_1
"Saya bercanda kok suster Gita, gak mungkin lah kamu kayak gitu kan. Lagian pasti apapun itu isi chat kalian, palingan soal pekerjaan," ujar dokter Syifa.
"Hah? I-i-iya dok, bener itu. Buat apa juga saya tanyain dokter Libra udah sampai apa belum?" ucap Gita dengan gugup.
Dokter Syifa tersenyum dibuatnya, "Yasudah, saya mau ke ruangan saya dulu ya?" pamitnya.
"Ah iya dok, silahkan!" Gita langsung menyingkir dan memberi jalan bagi dokter Syifa untuk lewat, ia lega karena akhirnya dokter itu mau pergi dari sana.
Tanpa basa-basi lagi, dokter Syifa pun pergi dan melangkah melewati Gita. Tentu saja Gita langsung mengusap dadanya dan dapat bernafas lega, sebab dokter Syifa tidak curiga padanya yang memang mengirim pesan tersebut pada Libra tadi.
"Huft, untung gak ketahuan! Bisa salah paham nanti bu dokter kalau tahu soal ini," gumam Gita.
•
•
Nindi kini mendatangi bar seorang diri untuk menemui temannya disana yang tidak lain adalah Rama, atau pria yang sudah memperkosa serta menghamili Nindi beberapa waktu lalu. Nindi sengaja menerima ajakan Rama malam ini, sebab wanita itu ingin tahu lebih jelas mengenai alasan Rama melakukan itu padanya.
Pukkk
Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang saat Nindi sedang menatap ke sekeliling, ia menoleh dan menemukan Rama berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Tetapi pria itu tidak sendiri, melainkan ia datang bersama dua orang pria lainnya. Salah satu dari mereka bahkan sangat Nindi kenali, ya orang itu adalah Erland alias teman sekolahnya saat SMP dulu.
"Hai Nindi! Aku gak nyangka kamu mau terima ajakan aku buat datang kesini, kalo gitu ayo kita duduk disana!" ajak Rama.
Nindi tersenyum saat Rama mengatakan itu, wajahnya memerah karena sebenarnya ia juga belum pernah datang ke tempat seperti itu dan ini adalah kali pertama baginya. Apalagi, Nindi juga harus bertemu kembali dengan orang yang sangat ia benci dari dulu, ya dia lah Erland.
"Ya wajar aja lah bro, si Nindi ini kan luarannya doang yang polos. Dalamnya mah kita udah pada tahu sendiri, dia tuh nakal dan hyper sukanya digenjot!" cibir Erland.
"Jaga bicara kamu ya Erland! Aku bukan perempuan seperti itu, jadi kamu sebaiknya tutup mulut atau aku akan laporin kamu!" kecam Nindi.
"Hahaha, lu lupa gue ini siapa Nindi? Gue gak takut sama ancaman lu, lagian emang jelas kok kalau lu itu cewek nakal yang suka main!" ejek Erland.
__ADS_1
"Eh udah udah, jangan pada ribut disini! Gak baik tahu dilihat orang-orang!" tegur Rama.
Erland mengalah dan menurut saja pada perkataan Rama, tentunya Nindi sangat bingung karena biasanya Erland lah yang paling berkuasa diantara teman-temannya yang lain. Tapi kali ini, Erland justru terlihat patuh pada Rama dan tidak berani membantah apa yang dikatakan oleh Rama.
Kini mereka sama-sama melangkah menuju tempat yang masih tersedia, Nindi diminta duduk di tengah ketiga pria itu dan ia tidak bisa menolaknya. Rama pun tampak memesankan minuman untuk mereka, sedangkan Erland serta rekannya satu lagi yang bernama Fero masih terus saja menatapnya.
"Ram, sebenarnya kamu ngapain ajak aku kesini? Terus pakai ajak Erland sama Fero lagi, kamu tuh mau apa sih Ram?" tanya Nindi penasaran.
Bukannya menjawab, Rama justru meraih satu tangan Nindi dan menggenggamnya erat. Rama tersenyum memandangi wajah wanitanya itu, disertai jarinya yang mengelus lembut punggung tangan Nindi. Diperlakukan seperti itu membuat Nindi tersipu, entah mengapa wanita itu menjadi lebih sensitif saat bersama Rama.
"Aku itu cuma pengen senang-senang sama kamu dan yang lain, kita nikmati malam ini bersama ya Nindi!" jawab Rama sambil tersenyum.
"Maksud kamu apa sih? Katanya kamu ada yang mau disampaikan ke aku, tapi kok ini jawabnya malah beda sih Ram?" heran Nindi.
"Udah lah Nindi, lu gausah banyak tanya deh! Tuh minuman kita udah datang, mending sekarang kita minum aja bareng-bareng!" Erland langsung menyela dan mengalihkan pembicaraan.
"Bener tuh kata Erland, kamu juga minum ya Nindi!" ucap Rama.
"Hah??"
Nindi benar-benar terkejut dengan perkataan Rama barusan, melihat minuman itu saja Nindi sudah syok dan tidak habis pikir. Apalagi ketika nanti ia dipaksa meminumnya, maka mungkin saja ia bisa langsung mual atau muntah-muntah. Tetapi, pastinya Rama serta yang lain akan memaksanya untuk meminum itu dan ia tidak mungkin bisa menolaknya.
"Ayo Nindi, diminum sampai habis ya!" suruh Erland yang sudah menuangkan minuman itu di gelasnya.
Nindi terbelalak dibuatnya, ia menatap tajam ke arah Erland dan berusaha menolak karena ia belum pernah meminum itu. Namun Erland tidak mau tahu, pria itu tetap kekeuh meminta Nindi untuk meminumnya sampai habis. Jika tidak, maka Erland sendiri lah yang akan memaksa Nindi melakukan itu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
__ADS_1
...NINDI BAKAL DIAPAIN YA NANTI?...