Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 162. Mengincar anaknya


__ADS_3

14 tahun kemudian....


Seorang gadis cantik berseragam SMP tengah berjalan ria di pinggir trotoar sembari bersenandung dan tampak sangat bahagia, ia melangkah sambil meloncat serta sesekali bersuara cukup keras seolah menandakan betapa bahagianya ia. Gadis cantik itu adalah Cyra, yang kini telah berusia 13 tahun dan sebentar lagi akan genap menuju yang ke-14 tepatnya pada tahun ini.


Ya sebab itulah mengapa Cyra tampak begitu bahagia saat ini, karena sebentar lagi akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-14 bersama kedua orangtuanya. Rasanya Cyra sudah tidak sabar menanti hal itu, apalagi terakhir kali di pesta ulang tahunnya ia tidak bisa merasa bahagia setelah sang ayah lagi-lagi mengecewakannya dengan tidak hadir pada acara pesta tersebut.


Disaat gadis itu tengah asyik berjalan sambil menyanyikan lagu ulang tahun, tiba-tiba saja ia justru tersandung oleh tali sepatunya sendiri. Ya tentu saja Cyra langsung terjatuh dan merintih kesakitan, ia memegangi lutut serta telapak kakinya yang terasa sakit dan bahkan terluka sedikit. Cyra adalah gadis yang manja dan juga cengeng, maka dari itu kali ini ia dengan mudah menangis akibat luka di kakinya.


"Hiks hiks, sakit!" Cyra terus merengek dan menangis seraya memijat kakinya sendiri.


Tak lama kemudian, seorang pria muncul di hadapannya dan mendekat ke arahnya dengan wajah panik. Pria itu terlihat berusaha membantu Cyra menghilangkan rasa sakit di kakinya, ia juga ingin menenangkan Cyra agar tidak terus menangis. Sontak Cyra merasa terkejut, matanya menatap ke arah si pria dan tidak bisa berkedip.


"Lain kali hati-hati ya, sebelum jalan itu dipastiin dulu tali sepatunya udah keiket apa belum! Kalau begini kan jadinya sakit, kaki kamu juga jadi terkilir kayak gini deh!" ucap pria itu mengingatkan.


"I-i-iya pak, makasih ya udah mau nolongin Cyra!" ucap Cyra sembari menyeka air matanya.


Pria itu tersenyum dan membantu Cyra mengikat tali sepatunya, kemudian memapah tubuh Cyra secara perlahan sampai gadis itu dapat berdiri. Kondisi kaki Cyra sudah membaik saat ini, sehingga pria itu merasa sangat senang. Ya Cyra pun kembali menatap ke arah si pria, rasanya ia senang karena bisa bertemu orang sebaik pria itu.


"Sekali lagi terimakasih ya pak, Cyra berhutang deh sama bapak!" ucap gadis itu sambil tersenyum.


"Sama-sama, Cyra."


Cyra pun mengernyitkan dahinya seolah bingung dengan apa yang baru diucapkan si pria, sedangkan pria itu sendiri hanya tersenyum menatapnya dan tidak bisa berpaling dari wajah cantik Cyra yang memang sangat menggemaskan. Wajar tentu bagi gadis seusianya, apalagi Cyra memiliki darah keturunan barat yang menambah keimutan dirinya.


"Loh kok bapak tahu nama aku sih? Jangan-jangan bapak intel ya?" ucap Cyra terheran-heran.


Pria itu terkekeh dibuatnya, "Hahaha, kamu ini ada-ada aja Cyra! Daritadi kamu sebut sendiri tuh nama kamu, masa iya kamu gak sadar sih?" ucapnya sambil menepuk wajah.


"Ups, eh iya aku lupa pak! Pantas aja bapak bisa tahu nama aku ya?" ujar Cyra merasa tersipu.


Pria itu pun semakin gemas dengan Cyra saat ini, apalagi ketika wajah Cyra memerah dan menambah kesan imut dari gadis itu. Jika saja tidak ada yang namanya pelecehan, maka mungkin si pria itu sudah bergerak mengusap wajah Cyra dengan lembut. Ya karena pria itu sudah tak tahan lagi, terlebih Cyra terus menunjukkan ekspresi gemasnya.


"Btw, nama bapak siapa sih? Saya belum tahu nih pak," tanya Cyra penasaran.


"Ohh, kenalkan saya Davin! Kamu bisa panggil saya om Davin, gausah pak lah ketuaan!" jawab pria itu seraya menyodorkan tangannya.


"Iya om Davin," Cyra tersenyum lebar dan mencium punggung tangan pria itu.

__ADS_1


Entah mengapa jantung Davin serasa berdetak lebih kencang dari biasanya ketika Cyra menyentuh tangannya, sepertinya Davin memang menyukai Cyra dan kelembutan telapak tangan gadis itu berhasil mengingatkan Davin kepada sosok Ciara. Memang tidak salah Davin muncul kali ini, karena ia dapat bertemu dengan anak dari wanita yang dicintainya.


"Umm om, tangan aku kok gak dilepas-lepas sih?" Cyra tiba-tiba berbicara dan membuyarkan lamunan Davin mengenai sosok Ciara.


"Ah iya iya, maaf ya Cyra! Tangan kamu halus banget sih, saya jadi betah deh megangnya," ucap Davin.


Cyra tersenyum saja mendengarnya, tak ada rasa kesal atau curiga sama sekali di dalam dirinya ketika Davin berkata seperti itu. Barulah Davin melepas tangan gadis itu sekarang, meski rasanya Davin tak rela untuk melepaskan tangan mulus itu. Telapak tangan Cyra memang mirip sekali dengan Ciara, membuat Davin kembali teringat pada wanita itu.


"Cyra!" tiba-tiba saja, satu orang lelaki lainnya muncul dan meneriaki nama gadis itu dari belakang.


Sontak baik Cyra maupun Davin kompak menoleh ke asal suara, gadis itu tersenyum sumringah ketika melihat sosok lelaki yang memanggilnya. Sedangkan Davin hanya terdiam menatapnya, seolah-olah menunjukkan ketidaksukaan Davin terhadap pria yang baru datang tersebut. Meski, Davin belum mengenal siapa pria itu.


"Eh kak Askha, kenapa?" tanya Cyra pada si pria yang ternyata adalah Askha, putra dari Tiara serta Galen.


Askha yang kesal langsung menarik telinga Cyra dan membuat gadis itu meringis kesakitan, ya Askha memang berusia dua tahun lebih tua dibanding Cyra sehingga lelaki itu dipanggil 'kak' oleh Cyra. Selain itu, Askha juga ditugaskan untuk menjaga Cyra yang memang masih kecil dan baru duduk di bangku SMP kelas dua itu.


"Hadeh, bagus ya lu Cyra? Malah nanya kenapa lagi, lu itu yang kenapa! Gue bilang kan tunggu dulu di gerbang, eh lu malah kabur gak tahu kemana. Lu itu emang hobi banget ya bikin gue dimarahin sama tante Ciara?" geram Askha.


"Awhh aduh sakit kak, sakit! A-aku gak sengaja kok, tadi aku maksudnya pengen jalan duluan aja!" ucap Cyra sembari merintih.


"Banyak alasan lu, tahu gak sih gue itu panik banget nyariin lu tadi! Sekali lagi lu kayak gitu, gue kasih hukuman lu! Lu tahu kan, tante Ciara itu udah titipin lu ke gue! Jadi, gue harus bisa jaga lu dengan baik!" ucap Askha tegas.


"Eee sudah sudah, kasihan itu adiknya kalau dijewer terus kayak gitu nanti telinganya bisa putus loh!" ucap Davin menengahi.


Askha sontak melirik ke arah Davin dengan tatapan bingung, ia tak mengenal siapa Davin karena selama ini Davin memang tidak pernah datang lagi ke rumah mereka. Namun, Askha menurut saja dengan perintah Davin dan melepaskan telinga Cyra. Saat itu juga Cyra mengusap telinganya yang terasa perih, sembari menatap tajam wajah Askha.


"Tuh dengerin kata om Davin! Kakak mah emang jahat banget, masa aku dijewer mulu!" cibir Cyra.


"Iya iya maaf, yaudah kita pulang yuk! Gue yakin tante Ciara sama om Libra pasti udah nungguin kita di rumah," ajak Askha.


Cyra mengangguk saja mengikuti perintah Askha, kemudian ia pamit kepada Davin dan tak lupa kembali mencium tangan pria itu. Askha pun juga melakukan hal yang sama, sehingga membuat Davin bersedih secara tiba-tiba. Sepertinya Davin juga ingin memiliki seorang anak, namun saat ini saja ia masih belum menikah.


Setelah Cyra dan Askha pergi dari hadapannya, Davin masih tidak bisa melupakan kejadian tadi dan bagaimana wajah imut Cyra ada di depan wajahnya. Rasanya semua ini seperti mimpi, karena sudah lama Davin tak mendengar kabar mengenai Ciara ataupun keluarganya. Namun, kali ini ia justru langsung bertemu dengan anak dari wanita itu.


"Kamu cantik banget Cyra, persis seperti mamamu itu! Kalau saya tidak bisa mendapatkan mama kamu, maka saya masih bisa mengejar kamu Cyra!" gumam Davin sambil tersenyum lebar.


__ADS_1



Singkat cerita, Cyra dan Askha telah tiba di rumah tempat tinggal Libra serta Ciara. Mereka berdua turun dari mobil, lalu bergegas masuk ke dalam halaman rumah itu untuk menemui Libra maupun Ciara. Kebetulan juga, Libra keluar dari rumah itu dan sudah bersiap untuk pergi ke tempat prakteknya seperti biasa.


"Papa!" Cyra langsung menyapa dan berlari menghampiri Libra dengan cepat.


"Eh eh, ada anak papa yang cantik. Kok baru pulang sih, hm? Kemana aja kamu Cyra? Main dulu ya pasti?" tanya Libra dengan bingung.


Cyra menggeleng dengan cepat, "Enggak pa, tadi aku langsung pulang kok," jawabnya mengelak.


"Masa sih? Terus kenapa coba kamu baru pulang jam segini? Kalau misal langsung pulang dari sekolah, harusnya udah sampai daritadi dong," ucap Libra keheranan.


Cyra kini melirik ke arah Askha dan mencoba menyalahkan lelaki itu atas terlambatnya ia sampai ke rumah, namun Askha lebih dulu menyela dan berbalik menyalahkan Cyra yang kabur dari sekolah entah kemana. Tentu saja Libra tampak pusing dibuatnya, kedua anak itu memang selalu berdebat dan seringkali membuatnya pusing.


"Ini semua tuh gara-gara kak Askha, pa. Dia tadi lama banget ngobrol dulu sama ceweknya di sekolah, terus aku disuruh nunggu," ucap Cyra.


"Heh! Mana ada kayak gitu? Kita sampainya lama gara-gara kamu ya Cyra, kan kamu yang kabur gak tahu kemana tuh tadi. Aku aja sampai pusing nyariin kamu tahu," ucap Askha tegas.


"Ya aku kabur kan gara-gara kelamaan nungguin kamu, wle!" cibir Cyra.


"Ta-tapi kan—"


"Hey, udah udah jangan pada ribut! Pusing tahu papa dengarnya, mending kalian masuk aja deh ke dalam terus ganti baju! Cyra, kamu jangan kemana-mana loh abis ini!" ucap Libra menyela.


Cyra mengangguk patuh, "Iya pa, aku bakal diam di rumah kok sama adik-adik aku yang lucu-lucu itu," ucapnya menurut.


"Bagus, kalo gitu papa pergi dulu ya? Askha, om titip Cyra sama kamu! Ya kalau dia bandel atau gak mau nurut, kamu boleh kok hukum dia supaya dia gak gitu lagi!" ucap Libra.


"Siap om!" ucap Askha dengan tegas.


Setelahnya, Libra pamit pada putrinya untuk segera pergi ke tempat praktek. Cyra pun mencium tangan papanya itu dengan lembut, begitu juga dengan Askha yang melakukan hal sama. Barulah setelah itu, Libra pergi menuju mobilnya dan meninggalkan Cyra berdua dengan Askha disana.


"Eh anak nakal, ayo masuk! Awas loh ya kalau lu kabur lagi, gue pasung lu di kamar nanti biar gak bisa kemana-mana!" ucap Askha.


Cyra terkejut dan mencubit lengan Askha secara spontan, lalu mereka pun terlibat keributan seperti biasa dan langsung sama-sama masuk ke dalam rumah yang besar itu. Cyra memang sering sekali mencari gara-gara pada Askha, karena ia merasa Askha terlalu menyebalkan dalam menjaganya sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2