Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 104. Pulang lebih cepat


__ADS_3

Kini Nindi datang menemui seseorang di taman dekat rumahnya, wanita itu terlihat celingak-celinguk begitu sampai disana seolah mencari orang yang hendak ia temui. Nindi memang telah membuat janji sebelumnya disana, dengan seorang pria yang tak lain ialah mantan teman sekolahnya dulu. Meski Nindi ragu, namun ia terpaksa mengiyakan ajakan pria tersebut karena tak memiliki pilihan lain.


Tak lama kemudian, terlihat seorang lelaki datang menyapanya sembari melambaikan tangan. Sontak Nindi terkejut, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pria tersebut sambil tersenyum lebar. Mereka pun terduduk bersama-sama di kursi yang tersedia, tampak pria itu tak henti-hentinya menatap wajah Nindi yang terlihat lebih cantik.


"Nindi, kamu apa kabar? Aku gak nyangka, udah lama kita gak ketemu terus sekarang kamu tampil makin cantik gini. Btw katanya kamu udah nikah, kok gak undang-undang aku sih?" ucap lelaki itu.


Nindi menunduk seraya mengusap rambutnya, "Iya Rama, aku nikah sama laki-laki yang aku cintai. Aku juga udah punya anak kok dari hasil pernikahan kami, dan sekarang hidup aku jauh lebih bahagia dibanding sebelumnya," ucapnya.


"Oh ya? Terus dimana anak kamu sekarang, kenapa gak sekalian diajak aja kesini? Aku punya feeling, anak kamu pasti cakep banget!" ucap Rama.


"Hm, itu sih pasti. Kalau kamu mau ketemu dia, yaudah nanti kapan-kapan aku akan kenalin kamu ke dia. Untuk sekarang ini cukup kita berdua aja dulu yang ketemu," ucap Nindi.


"It's okay, tapi omong-omong anak kamu itu cewek atau cowok?" tanya Rama penasaran.


"Dia perempuan, namanya Daiva." Nindi menjawab dengan santai disertai senyuman lebarnya.


"Dari namanya aja udah cantik, aku yakin banget orangnya pasti juga cantik!" puji Rama.


"Aamiin, yaudah sekarang kamu mau apa ajak aku ketemuan disini? Katanya ada yang penting kan, langsung aja bicara!" ucap Nindi.


"I-i-iya Nindi.."


Tampak kegugupan di wajah pria itu, seketika juga ia memalingkan wajahnya tak berani menatap Nindi. Hal itu tentu saja membuat Nindi penasaran ingin tahu sekali apa yang hendak dibicarakan pria itu padanya, sampai-sampai wanita itu terus saja memandang ke arah Rama seperti menantikan ucapan pria itu.


"Hal penting itu adalah perasaan aku ke kamu, Nindi. Sampai sekarang, aku masih belum bisa menghilangkan rasa cinta aku itu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu, Nindi!" sambung Rama.


"Apa??" Nindi terkejut bukan main, ia tak menyangka jika Rama akan mengatakan itu padanya. Sungguh ia tak habis pikir, berani sekali Rama berbicara seperti itu dan membuatnya kebingungan.


"Ka-kamu serius, Ram? Beneran kamu masih cinta sama aku? Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Nindi tampak terheran-heran.


Rama menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia memang serius mencintai wanita itu. Rama adalah lelaki pemberani, dan ia sudah menyembunyikan rasa ini sejak lama kepada Nindi bahkan sebelum wanita itu menikah.


Tentunya Nindi merasa bimbang saat ini, ia kaget karena ternyata Rama mengajaknya bertemu disana adalah untuk menyampaikan rasa cintanya kepada wanita itu. Kini Nindi tak tahu harus mengatakan apa pada Rama, sebab ia khawatir Rama akan kecewa dan sakit hati jika Nindi meminta pria itu menjauh dan melupakannya.


Perlahan Rama meraih satu tangan Nindi dan digenggam erat olehnya, tak ada yang bisa dilakukan Nindi selain terdiam saja membiarkan Rama melakukan yang dia inginkan. Karena Nindi tahu, Rama saat ini sedang benar-benar terluka setelah mengetahui kebenaran mengenai pernikahan wanita itu dengan lelaki lain.


"Aku mana mungkin bercanda, Nindi? Semua yang aku bilang itu sesuai dengan yang ada di dalam hati aku, aku cinta sama kamu!" ucap Rama.


Nindi masih diam tak percaya, rasanya bibir wanita itu sulit sekali untuk dibuka saat ini. Ia bingung harus bagaimana, apalagi ekspresi Rama kini benar-benar membuat Nindi merasa tidak enak. Ia tahu Rama sepertinya tengah kecewa dan sedih, ia tidak mau membuat pria itu makin bersedih nantinya.




Tiara tampak terduduk sembari memegangi kedua lututnya di atas ranjang, ia menangis dengan kondisi yang begitu berantakan akibat hukuman yang baru saja diberikan Galen tadi. Ya sebelumnya Tiara baru selesai mendapat hukuman itu, dimana Galen terus meminta jatah darinya dengan permainan kasar yang membuat Tiara meringis menahan sakit.


Sementara itu, Galen sendiri baru keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri istrinya itu di ranjang. Perlahan ia mendekatinya, tersenyum lebar lalu berniat merangkulnya sebagai upaya untuk membuat Tiara senang kembali. Akan tetapi, usaha itu tidak dihargai oleh Tiara yang memang terlanjur kecewa dengan sikap kasar sang suami.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku dulu, mas! Aku masih kecewa sama kamu, aku gak nyangka kamu tega ngelakuin itu ke aku! Apa sih yang bikin kamu sampai semarah itu, ha?" geram Tiara.


Galen mengernyitkan dahinya, "Kamu masih tanya soal itu sayang? Jelas-jelas aku emosi, karena kamu masih ketemu sama mantan kamu itu! Padahal kan kamu udah janji mau jauhi dia, kenapa kamu malah bawa dia kesini coba?" ujarnya tegas.


"Sekali lagi aku bilang ke kamu, bukan aku yang bawa Nico kesini tapi dia sendiri yang datang mas!" ucap Tiara kesal.


"Kalau bukan kamu, terus siapa sayang? Kenapa bisa Nico datang ke rumah kita, siapa yang udah kasih tahu alamat rumah ini ke dia kalau bukan kamu mantannya?" tanya Galen.


Tiara menggeleng dengan mata berkaca-kaca, "Aku serius mas, memang bukan aku. Aku juga gak tahu apa-apa loh mas," jawabnya terisak.


Galen terdiam saja memandangi wajah istrinya itu, entah kenapa ia masih sulit untuk mempercayai Tiara dan mengira jika wanita itu sedang bohong padanya saat ini. Apalagi amarahnya jika belum sepenuhnya pudar, pria itu masih amat kesal setelah melihat istrinya menemui mantannya lagi di rumah itu tanpa sepengetahuan dirinya.


"Kalau emang kamu gak percaya, kamu bisa tanya ke satpam kita kok mas! Dia lihat sendiri kejadian waktu itu, mungkin dengan itu kamu bisa lebih percaya sama aku!" ucap Tiara mengusulkan.


"It's okay, nanti aku akan tanya ke pak Heru. Sekarang kamu diam disini, jangan kemana-mana tanpa seizin aku!" ucap Galen tegas.


"I-i-iya mas, aku juga biasanya gak pernah pergi tanpa seizin kamu. Emangnya kamu yang selalu pergi gitu aja dan gak pernah minta izin sama aku, ya kan?" ucap Tiara sengaja menyindirnya.


"Diam kamu Tiara! Aku pergi juga karena ada urusan pekerjaan, bukan menemui mantan aku dan minta dia buat datang ke rumah kita!" sentak Galen.


"Iyain aja deh mas," singkat Tiara.


Galen menggeram kesal, ia langsung bangkit dari tempat tidur itu berniat keluar kamar. Sedangkan Tiara masih tampak menatap wajah suaminya, wanita itu meminta izin pada Galen untuk bertemu dengan putranya sekarang. Ya sebab Tiara ingin tahu Askha sedang apa, karena sedari tadi dia tak melihat keberadaan putranya tersebut.


"Mas, aku boleh kan ketemu Askha? Dia kayaknya kangen juga deh sama aku, lagian udah daritadi aku gak lihat dia mas," ucap Tiara merengek.


"Ta-tapi mas..."


Rengekan Tiara tak diperdulikan oleh Galen, pria itu malah berbalik kembali dan berjalan keluar kamar meninggalkan Tiara disana seorang diri. Galen berniat menemui satpamnya, lalu menanyakan mengenai kebenaran cerita dari Tiara mengenai pertemuan wanita itu dengan Nico kemarin.




Ciara tengah membereskan barang-barangnya ke dalam koper saat ini, tampak juga ekspresinya masih begitu kesal mengingat kejadian yang ia lihat saat suaminya bertegur sapa dengan Gita bahkan terlihat akrab padanya. Sungguh Ciara tak terima, untuk itu ia ingin pergi saja dari sana meski waktu liburannya masih sekitar beberapa hari lagi.


Tak lama kemudian, Libra masuk ke dalam sana lalu terkejut melihat kelakuan istrinya itu. Ia sontak mendekat dan terduduk di sebelahnya, menanyakan maksud dari wanita itu membereskan bajunya. Tentu Libra tak mengerti mengapa Ciara melakukannya, karena waktu liburan mereka masih lama dan kini Ciara malah sudah merapihkan pakaiannya.


"Sayang, ini kamu kenapa sih? Kok baju-baju kamu dimasukin ke koper kayak gini, kamu emangnya mau kemana?" tanya Libra penasaran.


Ciara menghela nafasnya, "Aku mau pergi om, lebih baik aku pulang ke Indonesia dan tinggal bareng mama sama papa. Daripada aku disini, bukannya liburan malah makan hati," ucapnya ketus.


"Hah? Ya ampun sayang, jadi karena Gita kamu sekarang ngambek dan mau pergi? Jangan gitu dong sayang, tahan diri kamu ya!" bujuk Libra.


Ciara menggeleng perlahan, "Gak dulu, kamu disini sama Gita aja sana. Mendingan aku pulang tahu, males banget aku disini terus-terusan lihat kamu sama Gita dekat!" ucapnya tegas.


"Ja-jangan sayang! Kamu disini aja sama aku, kita nanti pulang bareng begitu waktu kita selesai ya sayang!" bujuk Libra lagi.

__ADS_1


"Enggak om, aku udah gak tahan lama-lama disini. Kalau kamu gak mau ikut aku, yaudah kamu tetap disini aja! Aku yakin, kamu pasti senang kan bisa berduaan sama si Gita itu!" ucap Ciara.


"Ciara, aku gak pernah begitu loh. Kamu mah mikirnya aneh-aneh aja sih," elak Libra.


Ciara menggeleng saja, dan kembali memasukkan baju-bajunya ke dalam koper tanpa memperdulikan ucapan Libra. Rengekan serta bujukan dari pria itu seolah tak didengar oleh Ciara, sebab Ciara sudah terlanjur emosi dan ingin segera pergi dari sana melepaskan dirinya. Namun, Libra tak terima dengan itu dan terus berusaha menahan istrinya.


"Sa-sayang, please kamu nurut ya sama aku! Jangan pergi dari sini sayang, aku masih mau senang-senang sama kamu tahu!" ucap Libra.


"Kalau aku bilang enggak ya enggak, kamu ngerti gak sih om? Udah deh sana minggir, kamu temuin aja tuh si Gita yang ada di sebelah kamar kita ini! Kamu ajak dia jalan-jalan sana!" sentak Ciara.


"Gak sayang, biar aku ikut sama kamu pulang ke rumah kita! Kalau kamu pergi, ya pasti aku ikut kamu lah sayang," ucap Libra.


Ciara terdiam kali ini, sedangkan Libra beranjak lalu turut mengambil kopernya dari atas lemari. Libra pun tak mau kalah dengan istrinya, ia kini ikut memasukkan baju-bajunya ke dalam sana karena ia ingin juga pergi bersama wanita itu. Ya meski Libra masih kurang yakin untuk pergi, sebab waktu mereka disana baru beberapa hari saja.


Akhirnya keduanya selesai membereskan barang masing-masing, tanpa menunggu lama lagi Ciara pun bangkit dan berniat keluar dari kamar itu. Libra kini mengikuti wanita itu, lalu sama-sama keluar dengan tangan bergandengan. Walau begitu, tetap saja Ciara masih cuek dan tidak mau bertatapan dengan pria tersebut.




Saat di luar, Ciara dan Libra lagi-lagi berpapasan dengan Gita yang sudah berdiri tepat di depan kamar mereka. Tentu saja wajah Ciara semakin terlihat geram, ia reflek melepaskan tangannya dari genggaman Libra lalu memalingkan wajahnya. Ciara sudah tak tahan lagi, ingin rasanya ia cepat-cepat pergi dari tempat itu sekarang juga.


Sementara Libra menyapa Gita disana sambil tersenyum, ia juga heran mengapa bisa Gita sudah berdiri di depan sana dan mencegat langkah dirinya dengan sang istri. Padahal tadinya saat ia masuk ke kamar, tidak ada siapapun yang berdiri disana termasuk Gita. Namun, kini Gita tampak mendekati mereka sembari melebarkan senyumnya.


"Kamu ada apa berdiri di depan sini, Gita?" tanya Libra terheran-heran.


"Umm, aku cuma pengen tahu aja kalian udah baikan apa belum. Eh ini tapi kalian kok malah keluar bawa koper kayak gini, pada mau kemana?" ujar Gita tampak penasaran.


"I-i-iya, kita harus pulang ke Indonesia sekarang. Ciara katanya ada urusan disana, jadinya kita gak bisa lama-lama disini," ucap Libra.


"Oh begitu, yah sayang banget dong! Berarti aku gak bakal bisa ketemu sama kalian lagi ya? Padahal aku masih pengen kenal lebih dekat loh sama kamu Ciara," ucap Gita.


"Eee..."


Libra terlihat gugup saat ini, ia terus menundukkan wajahnya karena tak tahu harus berkata apa. Tampak Ciara juga masih terdiam dengan wajah cueknya, seolah menandakan bahwa wanita itu sangat tidak nyaman berada disana. Libra pun ingin segera membawa istrinya itu pergi, namun ia merasa tidak enak pada Gita.


"Yasudah ya Gita, kalo gitu aku sama Ciara pamit dulu ya? Kapan-kapan nanti mungkin kita akan bertemu lagi, terutama ketika kita sudah sama-sama kembali bekerja di rumah sakit," ucap Libra.


"Iya Libra, itu pasti. Kalian berdua hati-hati ya, bahagia selalu!" ucap Gita sambil tersenyum.


Libra dan Ciara kompak menganggukkan kepalanya, lalu tanpa berlama-lama lagi sepasang suami-istri itu melangkah pergi meninggalkan Gita begitu saja. Tapi tetap saja wajah Ciara belum terlihat bahagia seperti biasanya, malahan kali ini Ciara lebih tampak kesal dan emosi setelah tadi lagi-lagi ia bertemu dengan Gita yang sangat ia benci.


"Ciara, kamu masih marah dan cemburu sama Gita? Sudahlah sayang, kita kan udah mau pulang. Kamu gausah khawatir lagi ya!" ucap Libra.


Ciara hanya diam, meneruskan langkahnya sampai memasuki lift bersama sang suami tanpa mengatakan apapun. Libra menghela nafasnya perlahan, benar-benar sulit untuk bisa membujuk wanita itu dari kesedihannya kali ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2