
Gavin baru saja selesai menebus Davin keluar dari penjara. Meski butuh waktu yang cukup lama, tetapi Davin merasa bahagia karena akhirnya ia dapat kembali menghirup udara bebas. Kini Davin pun tampak merentangkan kedua tangannya dan menatap langit disertai senyuman lebarnya, sedangkan Gavin hanya memperhatikan dari dekat.
Sejujurnya Gavin tidak ingin melakukan itu, tapi desakan dari Davin yang terus saja mengingatkan dirinya mengenai pesan dari sang ayah membuat Gavin tak berkutik. Gavin pun terpaksa menyuruh pengacaranya untuk membebaskan Davin dari penjara, dengan catatan Davin harus berjanji padanya kalau dia tidak akan mengganggu Ciara ataupun Libra lagi.
"Haaahhh lega banget, akhirnya gue bisa balik hirup udara segar! Berbulan-bulan di penjara rasanya tuh gak enak, bang. Kalau lu gak percaya, silahkan aja lu cobain sendiri sana!" ucap Davin penuh bahagia.
Gavin tersenyum seraya melangkah ke dekat adiknya, "Vin, syukurlah kalau kamu udah tahu rasanya di penjara itu kayak gimana. Sekarang aku minta ke kamu, tolong berubah dan stop ganggu Ciara! Biarkan dia bahagia dengan pilihannya, kamu gak boleh paksa dia lagi!" ucapnya tegas.
"Lu tenang aja bang, itu semua gak akan terjadi kok. Gue udah buang jauh-jauh semua kenangan gue sama Ciara, jadi lu gak perlu panik!" ucap Davin.
"Baguslah, aku harap kamu bisa memegang kata-kata kamu. Yasudah, ayo sekarang aku antar kamu ke apartemen! Atau mungkin kamu mau pulang ke rumah?" ujar Gavin.
Davin menggeleng pelan, "Tidak usah, kak. Gue bisa pulang sendiri, lu mending balik aja sana terus balik ke tempat istri lu!" ucapnya menolak.
"Yakin kamu bisa sendiri?" tanya Gavin curiga.
"Iya kak, gue tinggal cari taksi. Lu kan udah kasih gue uang tadi buat biaya hidup, jadi lu gausah khawatir tentang gue!" jawab Davin mantap.
"Ya okay, kalo gitu aku pergi duluan. Ingat ya Vin, kamu harus pegang kata-kata kamu!" ucap Gavin.
Davin menganggukkan kepalanya, kemudian Gavin pun pergi dari sana dengan mobilnya meninggalkan sang adik begitu saja. Meski sebenarnya Gavin masih belum bisa percaya seratus persen pada adiknya itu, namun ia berharap kalau Davin tidak akan lagi melukai Ciara atau mengganggunya. Jika sampai itu terjadi, maka Gavin tidak akan pernah memaafkan Davin dan ia sendiri lah yang akan memberi hukuman kepada Davin nantinya.
"Davin!!" tiba-tiba saja, suara seorang wanita terdengar di telinganya dan membuat Davin terkejut bukan main.
Sontak Davin menoleh, "Nadira?" ucapnya dengan wajah terheran-heran.
Ya wanita yang dilihatnya saat ini adalah Nadira, istri dari Gavin yang juga merupakan kakak iparnya. Sontak Davin terlihat bingung, ia heran mengapa bisa Nadira ada disana padahal Gavin baru saja pergi beberapa saat lalu. Sedangkan Nadira sendiri tampak mendekat ke arahnya, wanita itu memberikan tatapan tajam tanpa berkedip.
"Mau apa kamu kesini, hm? Mau kasih selamat ya ke saya karena saya sudah berhasil keluar dari penjara ini?" tanya Davin disertai tawa mengejek.
"Tch, buat apa aku melakukan itu? Justru aku kesini untuk memberi peringatan ke kamu!" ucap Nadira.
Davin mengernyitkan dahinya keheranan, "Maksud kamu gimana? Peringatan apa yang mau kamu berikan ke saya, Nadira?" tanya bingung.
"Jauhi anak aku, Ciara! Kalau tidak, maka kamu akan berhadapan langsung dengan aku!" jelas Nadira.
Davin menyeringai dibuatnya, wanita di hadapannya itu sungguh berani sudah mengatakan itu kepadanya tanpa rasa takut sedikitpun. Sontak Davin bergerak lebih dekat ke arah Nadira, kekehan kecil keluar dari mulutnya seolah menandakan bahwa ia tengah meledek wanita itu. Namun, Nadira sama sekali tak terpengaruh dan tetap berdiri tegak disana.
"Memangnya kamu bisa apa Nadira? Selama ini kamu selalu berlindung dibalik ketiak suami-suami kamu, mulai dari Albert sampai sekarang bang Gavin juga. Apa kamu bisa menghentikan saya, Nadira?" ucap Davin meledek.
Deg
•
•
Disisi lain, Libra yang bingung dan tak tahu apa yang sudah terjadi pada dirinya itu akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen karena ia memang hanya memiliki satu tujuan saat ini. Pria itu mengendarai mobilnya seperti orang kesetanan, ia terus memukul-mukul setirnya sambil juga menampar wajahnya sendiri dan menyesali semua perbuatan yang sudah ia lakukan semalam.
Meski Libra masih belum mengingat dengan jelas, namun semua penjelasan Bella dan juga para karyawan di bar itu membuat Libra amat depresi. Pria itu tak menyangka, kalau dirinya akan melakukan itu dengan wanita lain disaat sekarang ia sudah berstatus sebagai tunangan Ciara. Libra sungguh menyesal, ia juga kecewa pada dirinya sendiri karena tak mampu mengendalikan itu.
Sesampainya di apartemen, Libra dengan tergesa turun dari mobilnya dan berjalan memasuki area apartemen itu sambil terus meracau tidak jelas. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa diam memandanginya, mereka tidak ingin ikut campur walau turut merasa prihatin dengan apa yang dialami Libra saat ini. Ya mereka tahu jika Libra tengah memiliki masalah besar, sampai-sampai pria itu tak perduli dengan kehadiran orang lain disana.
__ADS_1
Ting
Pintu lift terbuka, Libra bergegas melangkah keluar dari sana untuk menuju unitnya. Namun, langkah pria itu terhenti sesaat setelah ia menyadari keberadaan seseorang di depan pintu unit apartemen miliknya. Ya Libra dapat melihat jelas siapa wanita itu, sebab dia adalah Ciara alias kekasih pujaan hatinya. Tentu Libra tampak kebingungan, ia tak tahu harus menceritakan apa pada Ciara nantinya.
"Ciara!" akhirnya pria itu tetap memanggilnya, sontak gadis sang pemilik nama menoleh ke arahnya disertai senyum merekah.
"Eh sayang, kamu darimana aja sih? Semalaman kamu gak pulang ke apartemen ya?" tanya Ciara.
"Eee a-aku..."
"Terus juga semalam kenapa kamu pergi gitu aja dari pesta, hm? Kamu marah ya sama aku, gara-gara aku lebih asyik main sama teman-teman aku dan malah ngelupain kamu semalam?" sambung Ciara.
Libra menggeleng perlahan, "Gak gitu sayang, aku gak marah kok sama kamu. Semalam itu aku ada urusan penting, jadinya aku pergi tanpa bilang ke kamu deh. Maafin aku ya sayang, aku jadi bikin kamu cemas deh!" ucapnya berbohong.
"Oh gitu, beneran nih kamu pergi karena ada urusan? Bukan karena pengen berduaan sama Bella? Soalnya semalam tuh satpam di rumah aku bilang kalau ada Bella yang datang ke rumah," ucap Ciara.
"Hah??" Libra tersentak saat itu juga, ia tak menyangka jika Ciara telah mengetahui semuanya.
"Kenapa kamu kaget kayak gitu? Benar kan apa yang aku bilang tadi, kamu pergi sama Bella semalam?" tanya Ciara disertai senyum tipisnya.
"Eee ka-kamu jangan mikir yang enggak-enggak dulu sayang! A-aku bawa Bella pergi karena aku gak mau dia gangguin acara pesta kamu sayang, makanya aku suruh dia pergi," jawab Libra.
"Ohh, terus kamu bawa Bella kemana sayang? Kok sampai semalaman kamu gak pulang kesini, hm?" tanya Ciara penasaran.
Deg
Libra benar-benar bingung saat ini, tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Ciara. Pastinya Ciara akan sangat marah jika tahu kalau semalam ia membawa Bella ke bar, dan tanpa diduga Bella justru menjebaknya sampai mereka melakukan hal yang tidak senonoh karena dirinya mabuk.
•
•
"Gimana sayang, kamu suka gak kuliah disini? Ini tuh salah satu kampus terbaik loh, kakak rasa kamu pantas kuliah disini," ucap Galen.
Ciara menggeleng dengan wajah merengut, "Enggak ah kak, aku gak suka. Disini auranya kayak gak enak gitu tau, takutnya nanti aku malah gak betah kuliah di kampus ini," ucapnya.
"Hahaha, ada-ada aja deh kamu. Emangnya sejak kapan kamu bisa ngerasain aura-aura kayak gitu?" kekeh Galen.
"Ih aku serius kak, ayo ah kita ke kampus lain aja! Aku beneran gak mau kuliah disini, aku kan tahu dimana tempat yang nyaman atau enggak buat aku," ucap Ciara.
"Okay, yuk!" ajak Galen.
Disaat mereka hendak pergi ke mobil, tiba-tiba ponsel milik Ciara berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Sontak Ciara menghentikan langkahnya dan meminta sang kakak untuk menunggu, ya gadis itu hendak mengecek siapakah yang mengirim pesan ke nomornya tadi. Setelah dicek, betapa terkejutnya Ciara karena ternyata pesan itu dikirim oleh Davin alias pamannya yang jahat itu.
"Om Davin ngapain ngajak aku ketemuan? Apa dia udah keluar dari penjara?" batin Ciara.
Ya gadis itu sangat bingung, sebab yang ia tahu Davin masih mendekam di penjara dan tidak mungkin bisa keluar. Namun, kali ini Davin justru mengajak Ciara bertemu di salah satu tempat yang ditentukan olehnya. Tentu saja Ciara tampak heran karena ia tak menyangka jika pamannya bisa lepas dari penjara untuk kedua kalinya, padahal harusnya pria itu dihukum seberat-beratnya.
"Ada apa sih Ciara? Siapa yang kirim pesan ke kamu, terus kenapa kamu jadi kebingungan kayak gitu?" tanya Galen menegurnya.
"Ah gapapa kok kak, ini temenku tiba-tiba ngajak ketemuan. Kayaknya kita ngecek kampusnya besok lagi aja deh kak, soalnya katanya dia pengen ketemu sekarang ada hal penting," bohong Ciara.
__ADS_1
"Oh yaudah, ayo kakak antar kamu ketemu teman kamu itu!" ucap Galen.
"Eh gausah kak, aku naik taksi online aja. Aku gak enak lah sama kakak, kan kakak harus kerja. Lagian juga deket kok dari sini," ucap Ciara menolak.
"Gapapa, kakak anterin kamu sampai tempatnya aja kok. Abis itu kakak pergi deh," ucap Galen.
"Umm ta-tapi kak..."
"Udah ayo kakak antar, gausah banyak protes!" Galen langsung memotong ucapan adiknya itu dan memaksanya pergi ke mobil.
Akhirnya Ciara tak memiliki pilihan lain, ia hanya bisa pasrah menerima ajakan dari kakaknya. Meski ia juga bingung apa yang harus ia katakan nanti pada Galen saat pria itu bertemu dengan Davin, ia khawatir akan kembali terjadi keributan diantara mereka nantinya seperti dahulu kala.
•
•
Singkat cerita, Ciara bersama Galen akhirnya tiba di lokasi yang ditentukan oleh Davin. Mereka sampai dengan cepat karena memang jarak dari tempat mereka tadi kesana lebih dekat, namun tampak kini Ciara masih kebingungan tak tahu harus menjawab apa pada kakaknya nanti. Ia juga tidak mau jika sampai Galen bertemu dengan Davin, pastinya nanti mereka akan terlibat keributan hebat.
Galen pun tampak heran melihat Ciara melamun terus sedari tadi sejak mereka berada di mobil, sontak Galen bergerak mendekat dan menatap wajah adiknya itu dari jarak dekat. Ciara yang asyik melamun memikirkan cara untuk membuat Galen pergi dari sana, tidak sadar jika kakaknya itu telah berada di dekatnya. Akibatnya, saat Ciara menoleh ia terkejut melihat kakaknya ada di sebelahnya.
"Hah kakak? Ih kakak tuh ngagetin aku aja deh, ngapain sih dekat-dekat banget begini? Kurang kerjaan banget sih jadi orang!" protes Ciara.
"Hey, makanya kamu jangan melamun! Kakak tuh daritadi tegur kamu loh, ajak bicara kamu. Eh kamu malah diam aja gak nanggepin, yaudah kakak deketin aja kamu biar kamu sadar," ucap Galen.
"Ah lebay! Untung aja aku gak jantungan tadi gara-gara kakak!" ucap Ciara.
"Ahaha, yaudah kalem dong sayang! Nih kita dah sampe nih di tempat teman kamu, sana gih kamu turun katanya mau ketemu temen!" ucap Galen.
"I-i-iya kak, tapi kakak pergi dulu ya? Soalnya aku gak mau kelihatan ada kakak disini," ucap Ciara.
"Loh kenapa gitu? Emangnya kamu mau ketemu sama teman kamu yang mana sih, apa kakak kenal?" tanya Galen penasaran.
"Eee kakak pasti gak kenal, udah ya aku turun mau temuin teman aku dulu?" ucap Ciara gugup.
Galen mengangguk saja, lalu Ciara pun turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam cafe yang sudah ditentukan oleh Davin sebelumnya. Galen kini melajukan mobilnya, tetapi ia tiba-tiba berhenti tak jauh dari cafe tersebut. Ya Galen ingin memantau Ciara dari jauh, ia hendak memastikan apakah Ciara benar-benar bertemu dengan temannya.
"Huft, apa om Davin beneran udah keluar dari penjara? Kok bisa sih ya?" gumam Ciara.
Langsung saja Ciara memasuki cafe tersebut dan mulai celingak-celinguk ke kanan serta kiri untuk mencari dimana pamannya, tapi kemudian tanpa diduga seseorang justru menutup matanya dari belakang menggunakan telapak tangan. Sontak Ciara terkejut, ia berontak sambil berusaha melepaskan diri dan terus teriak karena ketakutan.
"Hey hey Ciara, ini saya! Kamu gak perlu takut sayang!" ya orang itu adalah Davin, yang memang sengaja melakukan itu untuk mengejutkan Ciara.
"Hah om Davin? Jadi benar kalau om itu udah bebas dari penjara? Kok bisa sih?" ujar Ciara terkejut.
Davin tersenyum menyeringai, "Ya tentu, apa sih yang gak bisa dilakukan oleh seorang Davin? Saya ini bisa melakukan semuanya sayang, termasuk merebut kamu dari Libra," ucapnya.
Deg
Ciara terkejut bukan main mendengar ucapan pamannya, ia tak percaya karena ternyata pria itu masih saja mengincarnya. Ciara pun sangat takut kali ini, namun ia berusaha tetap tenang dan mengikuti perintah Davin untuk duduk berdua di tempat yang sudah tersedia sambil memesan makan serta minuman.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...