Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 130. Kehidupan baru


__ADS_3

Di luar gedung, Ciara yang baru datang dibuat kaget karena sidang ternyata telah usai dan Tiara kini tengah berjalan ke luar bersama yang lain. Sontak Ciara bergegas menghampiri mereka, dengan perasaan panik ia bertanya pada kakak iparnya itu mengenai hasil dari persidangan yang baru saja ia lewati karena terlambat.


"Kak, ini sidangnya udah selesai ya? Gimana hasilnya, kak Tiara jadi cerai sama kak Galen?" tanya Ciara penuh cemas.


Tiara terkejut melihat kehadiran Ciara disana, ia baru sadar kalau sedari tadi memang Ciara belum datang ke tempat sidang. Padahal, sebelumnya baik Tiara maupun Nadira sudah memberitahu pada Ciara mengenai sidang itu. Tapi entah kenapa, pagi tadi Ciara malah hampir lupa dan berujung terlambat menyaksikan sidang itu.


"Kamu kemana aja Ciara? Kakak kamu ini udah resmi bercerai sama Galen, mereka sekarang bukan suami-istri lagi. Makanya sekarang mama mau bawa Tiara pulang ke rumah," ucap Nadira.


"Hah? Kenapa begitu sih kak? Kok harus ada perceraian segala?" tanya Ciara pada iparnya.


Tiara hanya bisa diam menundukkan wajahnya dan tak tahu harus menjawab apa, pasalnya pertanyaan Ciara itu begitu membingungkan baginya. Tiara sejujurnya memang tidak ingin berpisah dengan Galen, namun kelakuan bejat pria itu telah membuat Tiara amat kesal dan tak bisa memaafkannya. Dengan cepat, maka Tiara setuju saja saat Galen mengatakan ingin bercerai dengannya.


Akhirnya Nadira lah yang memberi penjelasan pada Ciara, sebab wanita itu tidak tahan dengan sikap Ciara yang terus saja membela Galen padahal kelakuan kakaknya jelas-jelas salah. Galen sudah berselingkuh di belakang Tiara selama beberapa kali, bahkan sampai memiliki anak bersama wanita selingkuhannya itu.


Ciara pun mengangguk paham, ia tak mungkin mendebat perkataan mamanya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam Ciara masih merasa kasihan pada kakaknya itu. Apalagi, sekarang ini kondisi Galen tengah mengalami lumpuh dan pasti membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya untuk bisa semangat menjalani hidup.


"Tapi ma, terus kak Galen nanti bakal tinggal dimana? Dia itu kan lagi sakit ma, aku khawatir sama kak Galen!" ucap Ciara.


"Kamu gak perlu khawatir sama dia, karena dia itu bisa mengurus dirinya sendiri!" ucap Nadira.


Kali ini Ciara lah yang menunduk karena sedih memikirkan kakaknya, tapi sesaat ia bingung kemana Galen sekarang dan apakah pria itu sudah pergi dari lokasi persidangan. Ciara terus menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan kakaknya, tetapi ia tak berhasil menemukan Galen di sekitar sana karena areanya yang sepi.


"Kamu cari siapa? Galen tadi udah pergi duluan sama anak buahnya yang gak tahu siapa, mungkin sekarang dia lagi mau temuin selingkuhannya yang gak tahu diri itu!" ucap Nadira.


Deg


Ciara terkejut, ia begitu cemas pada kakaknya dan tidak akan setuju apabila Galen masih bersama wanita selingkuhannya. Ciara telah mengetahui semua kebusukan Jessica, dan Ciara tidak mau jika kakaknya kembali tersakiti. Namun, Ciara sendiri juga tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.


"Sayang, sudah jangan bersedih seperti itu! Kamu ikut pulang aja yuk sama mama dan Tiara!" ajak Nadira sembari memeluk putrinya itu.


"Tapi ma, aku mau ketemu sama kak Galen!" ucap Ciara merengut.


Nadira pun mendekati putrinya dan coba meyakinkan wanita itu untuk melupakan Galen, karena mulai sekarang Galen bukan lagi kakaknya dan Galen tidak akan pernah kembali kesana. Sebagai seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya, Ciara tentu tidak bisa semudah itu melupakan Galen yang sudah banyak membantunya selama ini dalam menghadapi berbagai masalah.




Galen sendiri sekarang sudah tiba di rumah rahasianya bersama seorang anak buah pengganti Leon, ya sebut saja namanya Farrel. Galen pun memasuki rumah itu dengan bantuan Farrel yang mendorong kursi rodanya, suasana di sekitar sana begitu sepi karena Galen memang tidak bisa menugaskan banyak pengawal lagi sekarang.


Perlahan pria itu membuka pintu kamar dengan kunci di tangannya, ia lalu masuk kesana bersama Farrel yang dengan setia mendorong kursinya. Tampak seorang wanita tengah menangis sesenggukan di atas ranjang yang empuk itu sambil menutupi wajahnya, tampilan wanita itu benar-benar buruk dan ada beberapa luka di bagian tubuhnya.


Siapa lagi wanita itu jika bukan Jessica, ya sebelum ini Jessica memang sempat tertangkap dan ditahan oleh Leon serta Liam di dalam sebuah gedung kosong sebagai jaminan. Namun, karena kasihan akhirnya Galen meminta mereka untuk melepaskan Jessica dan memberikan wanita itu padanya. Biar bagaimanapun, Galen masih mengira kalau Jessica tengah mengandung anaknya saat ini.


Begitu melihat kehadiran sang lelaki, Jessica yang sebelumnya menangis langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Galen. Jessica tentu amat senang melihat kehadiran Galen disana, setidaknya ia bisa meminta pada lelaki itu untuk membiarkannya pergi. Ya walau itu bukan suatu hal yang mudah, sebab ia telah berulang kali memintanya pada Galen dan selalu ditolak.


"Galen, syukurlah kamu sudah kembali. A-aku mau keluar dari sini Gal, kamu biarin aku pergi ya! Aku janji sama aku, aku gak akan ganggu kamu dan keluarga kamu lagi!" bujuk Jessica.


"Terlambat Jes, saya udah gak punya keluarga lagi sekarang. Jadi, kamu harus tetap disini dan temani saya selamanya! Lagipula, memangnya kamu mau kemana? Pacar kamu itu saja sudah tidak perduli dengan kamu Jessica," ucap Galen.


Jessica terdiam, seketika ia kembali mengingat kekasihnya yang tak lain adalah Bagas. Hingga kini, Bagas bahkan tidak pernah terdengar kabarnya dan Jessica sendiri bingung apakah Bagas masih perduli atau tidak padanya. Mungkin saja pria itu memang sudah memiliki yang lain, apalagi saat ini Bagas baru saja mendapatkan perusahaan milik Galen.


"Kamu itu beruntung karena saya masih beri kesempatan kamu untuk hidup, kalau tidak maka kamu sudah menyusul ibu saya sekarang di alam lain!" ucap Galen tegas.


Sontak wanita itu melongok lebar mendengar kata-kata yang diucapkan Galen, ia tak bisa membayangkan bagaimana dirinya disiksa sampai mati dan meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini. Jessica belum sanggup untuk pergi selamanya, karena ia merasa masih banyak hal yang harus ia lakukan sepanjang hidupnya.


"A-ampun Gal, aku tahu aku salah! Tapi, aku ngelakuin semua itu karena perintah Bagas. Aku gak ada niatan buat hancurin kamu," rengek Jessica.

__ADS_1


"Yasudah, lupakan semua itu! Saya sekarang mau memulai hidup yang baru, saya butuh bantuan kamu untuk bisa menggantikan posisi istri saya saat ini! Apa kamu bersedia?" ucap Galen.


Jessica terkejut, permintaan Galen barusan sungguh di luar nalar pemikirannya. Tatapan wanita itu terus mengarah ke wajah Galen, tentu saja ia bersedia menjadi istri pengganti bagi Galen dan melayani pria itu dengan sepenuh hati. Semua pengkhianatan yang Bagas lakukan padanya, membuat Jessica sudah tak memiliki siapapun kecuali Galen.


"I-i-iya Galen, a-aku bersedia kok. Aku akan rawat kamu sebaik mungkin!" jawab Jessica mantap.


Galen tersenyum lebar mendengarnya, meski Jessica adalah penyebab utama hancurnya rumah tangga ia dan Tiara, tetapi Galen merasa bahagia lantaran Jessica masih mau perduli padanya. Ya karena kini Galen hanya memiliki Jessica seorang, setelah ia memutuskan bercerai dengan Tiara dan pergi dari rumahnya.




Ciiittt


Dengan cekatan, mobil yang dikendarai Libra berhasil mencegat mobil milik Syifa dan berhenti tepat di hadapannya. Pria itu langsung turun dari mobilnya, sedangkan dokter Syifa terlihat panik di dalam sana dan tak tahu harus berbuat apa. Libra benar-benar serius ingin menangkapnya, karena ia sudah memiliki bukti yang menyatakan bahwa dokter Syifa adalah pelaku pembunuhan Gita.


Libra pun terus berteriak meminta agar Syifa turun dari mobilnya, ia ketuk ketuk kaca mobil itu disertai suara teriakan yang garang dan membuat siapapun yang mendengarnya merasa ngeri. Libra memang sudah kehabisan kesabaran, sebab dokter Syifa selalu saja berhasil lolos dari kejaran para anak buahnya dan juga polisi.


Sehingga, akhirnya Libra memutuskan untuk mengejar sendiri pelaku kejahatan itu. Dan ajaibnya, baru satu kali saja Libra sudah berhasil menemukan keberadaan dokter Syifa dan memaksanya menyerahkan diri ke polisi. Namun, semua itu belum berakhir karena dokter Syifa yang masih kekeuh tak ingin keluar dari mobilnya saat ini.


"Syifa, ayo cepat keluar! Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu ke Gita, kamu sudah membunuh dia Syifa!" sentak Libra.


Tak lama kemudian, dokter Syifa memberanikan diri keluar dari mobilnya dengan wajah menunduk. Libra senang melihatnya, pria itu berharap Syifa mau mengalah dan ikut bersamanya menuju kantor polisi. Akan tetapi, tiba-tiba saja Syifa menangis dan seolah-olah menyesal perbuatannya. Seketika Libra dibuat bingung dengan tingkah gadis itu, karena tak biasanya dokter Syifa menangis.


"Hiks hiks, Libra aku mohon maafin aku! Aku benar-benar gak sengaja!" rengek dokter Syifa.


Saat itu juga dokter Syifa langsung memeluk erat tubuh Libra dan membenamkan wajahnya pada dada bidang pria yang ia cintai itu, Syifa pun meluapkan semua kesedihannya juga termasuk apa yang ia pendam selama ini. Syifa ingin Libra tahu, bahwa selama ini ia sangat mencintai pria itu dan ingin memilikinya secara utuh.


"Maafin aku Libra, aku melakukan ini karena aku cinta sama kamu! Aku benar-benar gak bisa jauh dari kamu, apalagi lupain kamu! Aku sengaja palsuin hasil tes Ciara, supaya kamu bisa ceraikan dia dan beralih sama aku Libra!" ucap dokter Syifa.


Libra hanya bisa diam mendengarkan semua ucapan dokter Syifa, lelaki itu paham dengan apa yang dirasakan Syifa padanya selama ini. Kelakuan buruk wanita itu memang tidak terlepas dari cintanya kepada Libra yang sudah tertanam sejak lama, tapi tetap saja Libra tidak bisa membenarkan apa yang sudah dilakukan dokter Syifa.


"I-itu, aku lakuin itu karena aku benci sama dia. Dia yang udah aduin semua ke pak Sulistyo!" ujar Syifa.


"Tetap aja kamu salah Syifa, kamu harus tanggung jawab! Ayo, kamu ikut aku ke kantor polisi sekarang untuk diperiksa!" ucap Libra.


Ekspresi Syifa berubah geram mendengar ucapan Libra barusan yang nyatanya sama sekali tidak perduli padanya, bahkan Libra malah ingin membawanya pergi ke kantor polisi. Syifa yang emosi langsung mengambil sebuah pisau dari dalam kantung bajunya, dan tanpa berpikir panjang mulai mengarahkan pisau itu ke bagian perut Libra.


Jlebb


Seketika Libra tersentak dan merasakan sakit yang amat sangat pada bagian perutnya, apalagi Syifa terus menekan pisau itu semakin dalam disana. Tampaknya Syifa benar-benar emosi, ia sudah tak perduli lagi pada rasa cintanya yang membara. Bagi Syifa, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan dirinya dari kejaran para polisi.


"Maafin aku Libra, tapi kamu yang memaksa aku melakukan ini!" bisik Syifa di telinga Libra, sesaat sebelum ia menarik pisau tersebut.


"Ughh.."


Libra merintih sembari memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan darah, ia menatap wajah Syifa seolah tak percaya dan menunjuknya menggunakan satu jari. Setelah itu, Libra pun ambruk dengan posisi terlentang karena tidak kuat lagi menahan rasa sakit akibat tusukan tersebut.




Praangg


Gelas yang hendak diraih oleh Ciara dari tangan mamanya itu, malah terjatuh dan pecah hingga berserakan di lantai. Sontak Ciara terkejut dan tak menyangka hal itu akan terjadi, Ciara pun menutupi mulutnya serta merasa bersalah karena telah memecahkan gelas milik mamanya hanya karena tidak fokus.


Tak biasanya memang Ciara seperti itu, apalagi sedari tadi Ciara terus saja cemas memikirkan keadaan suaminya yang sekarang tengah melakukan pengejaran terhadap dokter Syifa. Ciara khawatir terjadi sesuatu pada suaminya, namun ia memilih tetap berpikir positif dan terus mendoakan keselamatan sang suami.

__ADS_1


"Ma, maafin aku ya? Gara-gara aku gak fokus, gelas mama jadi pecah satu deh. Biar aku yang beresin bekas pecahannya ya, ma?" ucap Ciara.


"Eh udah gausah, kamu jangan sembarangan nyentuh beling itu ya, bahaya tau! Kamu itu kan lagi hamil, gak boleh jongkok juga takut terjadi sesuatu. Mending kamu ambil gelas lain aja, soal ini biar diurus bik Vita nanti!" ucap Nadira mencegahnya.


"Iya ma, tapi aku minta maaf banget ya ma? Gak tahu kenapa aku malah gak fokus tadi," ucap Ciara.


"Iya loh Ciara, sebenarnya kamu lagi mikirin apa sampai gak fokus begitu? Padahal biasanya kamu kan selalu ceria tiap di dapur," heran Nadira.


"Eee a-aku mikirin mas Libra, ma."


Mendengar jawaban putrinya itu, sontak Nadira mengernyitkan dahi pertanda bahwa ia penasaran dengan apa yang dimaksud Ciara barusan. Nadira pun mengira kalau Ciara tengah menaruh rasa cemas pada suaminya, Nadira juga khawatir kalau Libra mengikuti jejak Galen yang berselingkuh di belakang istrinya.


"Memangnya ada apa sama suami kamu itu? Dia gak lagi selingkuh di belakang kamu kan sayang?" tanya Nadira penuh curiga.


"Hah? Ih amit-amit ma, mama kok mikirnya gitu sih! Enggak lah ma, mas Libra mah bukan orang yang kayak gitu! Mama jangan asal bicara ya, nanti aku jadi ikutan parno loh!" ucap Ciara.


Nadira tersenyum dibuatnya, "Hahaha, iya iya mama minta maaf. Abisnya kamu sih aneh-aneh aja, terus ngapain kamu mikirin Libra coba?" ucapnya.


"Ya aku cemas aja sama dia ma, soalnya sekarang mas Libra tuh lagi bantu polisi buat kejar pelaku tabrak lari yang bikin korbannya sampai meninggal. Makanya aku gak bisa tenang mikirin mas Libra sampai sekarang," jelas Ciara.


"Apa? Ngapain Libra ikut-ikutan sama polisi sampai kejar buronan coba? Emang Libra ada keperluan apa sama orang itu?" kaget Nadira.


Ya akhirnya Ciara menceritakan semua kejadian yang dialami Gita hingga meninggal karena ditabrak secara sengaja oleh dokter Syifa, tak ada satupun yang terlewati dan membuat Nadira menganga. Ciara sendiri saja masih tak percaya hal itu bisa terjadi, padahal dokter Syifa dan Gita adalah rekan kerja yang sudah saling mengenal sejak lama.


Namun, nasib tragis menimpa Gita yang harus meninggal di tangan rekannya sendiri. Sungguh Ciara tak habis pikir dengan semua kejadian itu, ia pun masih menunggu kabar dari suaminya mengenai alasan apa yang membuat dokter Syifa tega melakukan itu. Meski, sudah jelas bahwa kemungkinan terbesar adalah karena dendam.


Setelah mendengar semua cerita dari Ciara, kini Nadira merasa syok dan reflek memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Entah karena membayangkan kejadian itu atau apa, tetapi tanpa aba-aba lebih dulu bagian dadanya malah terasa sakit dan membuat Nadira harus terduduk sejenak di kursinya untuk menenangkan diri.




Ciara pun pergi menemui Tiara yang sedang bersantai seorang diri di taman belakang rumah, Ciara merasa kasihan saat melihat Tiara begitu bersedih setelah berpisah dengan suaminya. Ciara tentu dapat merasakan apa yang tengah dirasa oleh Tiara saat ini, karena bagaimanapun dirinya juga merupakan seorang wanita.


Kini Ciara turut membawakan minuman serta cemilan untuk Tiara, rencananya ia akan mengajak Tiara berbincang singkat di saung dekat sana dan membahas perihal Galen. Selain itu, Ciara juga berniat untuk menghibur Tiara dan membuat Tiara terbiasa dengan hidup barunya yang akan terasa sulit karena tidak ada sosok suami.


"Kak Tiara, daripada bengong sendirian aja kayak gitu mending kita ke saung yuk! Nih aku udah buatin minuman favorit kamu sama cemilan yang enak, kita kesana aja biar lebih santai dan adem juga!" ucap Ciara menegur iparnya itu.


Tiara sempat menoleh karena terkejut dengan suara Ciara yang tiba-tiba muncul, tapi kemudian ia kembali memalingkan wajahnya dan menunjukkan ekspresi seolah-olah tidak suka dengan apa yang ditawarkan Ciara tadi. Rasanya Tiara masih sulit untuk berbicara dengan orang lain, apalagi saat ini ia masih dalam keadaan bersedih.


"Aku tahu kak Tiara pasti sedih banget pisah dari kak Galen, tapi aku yakin kakak bisa melupakan semua masalah kakak ini dan hidup bahagia bersama Askha!" bujuk Ciara.


"Maaf Ciara, aku mohon kamu jangan ikut campur ya!" pinta Tiara dengan ketus.


"Hah? Tapi kak, aku kan cuma pengen hibur kakak dan ajak kakak ngobrol. Emang salah ya? Oh apa karena aku adiknya kak Galen?" heran Ciara.


Tiara menggeleng perlahan, "Bukan begitu, aku ini gak mau diganggu sama siapapun sekarang. Aku butuh waktu untuk tenangin diri aku, jadi lebih baik kamu pergi ya Ciara!" ucapnya.


"Kak, sendirian itu emang menyenangkan. Tapi di situasi kakak yang sekarang, alangkah baiknya kalau kakak ditemani sama seseorang!" ucap Ciara.


Tiara benar-benar jengkel dengan pemaksaan yang dilakukan Ciara padanya, akhirnya mau tidak mau Tiara terpaksa mengiyakan ajakan Ciara dan pergi lebih dulu menuju saung di depan sana. Tentu saja Ciara amat senang, tanpa basa-basi lagi Ciara langsung bergegas mengikuti langkah kaki Tiara dan membawa nampan tersebut kesana.


Setibanya di saung, Ciara pun meletakkan minuman serta makanan yang ia bawa disana dan mempersilahkan Tiara menyantapnya. Namun, Tiara hanya tersenyum tipis dan terduduk pelan disana sembari menatap sekitar. Lagi-lagi yang ada di dalam bayangannya adalah sosok Galen, apalagi sekarang Tiara masih berada di rumah keluarga mantan suaminya itu.


Tak lama kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi disana. Ciara dan juga Tiara sama-sama dikejutkan dengan kemunculan sosok pria yang mengenakan kacamata tengah berdiri di hadapan mereka berdua, pria itu menyapa keduanya lalu tersenyum dengan lebar. Sontak mereka menoleh secara bersamaan, lalu kompak membelalak melihat kehadiran sosok tersebut.


"Halo Ciara, halo Tiara!"

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2