
Libra membawa Ciara ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat Ciara mengajar, Libra sengaja mengajak istrinya itu kesana agar mereka bisa lebih leluasa dalam membahas mengenai perceraian mereka. Libra akan tetap berjuang kali ini, karena ia tak mungkin bisa berpisah dari Ciara. Dari dulu sampai kapanpun, Libra sangat mencintai Ciara dan akan terus seperti itu hingga maut memisahkan.
Ciara terpaksa mengikuti kemauan suaminya dan ikut saja saat diminta turun ke luar, meski awalnya Ciara agak ragu dan tidak ingin bicara apa-apa lagi dengan suaminya itu. Bagaimanapun juga, putusan Ciara akan tetap sama yakni berpisah dengan Libra dan menjalani kehidupan barunya. Ya karena Ciara merasa tak ada yang bisa diperbaiki lagi, sebab Libra sudah keterlaluan terhadap dirinya selama ini.
"Kamu mau apa lagi sih, mas? Kalau kamu cuma pengen minta aku buat berpikir ulang mengenai perceraian kita, itu gak akan pernah terjadi mas!" ucap Ciara dengan tegas.
"Ciara, aku mohon sama kamu! Tolong kamu pertimbangkan lagi niat kamu itu, jangan lah pake acara gugat cerai aku segala! Kamu tarik lagi ya gugatan itu? Apa kamu gak kasihan sama anak-anak nantinya, hm?" ucap Libra.
"Tumben mas kamu mikirin anak-anak, biasanya juga kamu lebih suka pergi ke luar dan gak perduli sama mereka!" cibir Ciara.
Deg
Perkataan Ciara benar-benar menusuk sampai ke jantung, Libra merasa jika Ciara memang sudah sangat membenci dirinya. Pria itu menyesal karena selama ini ia jarang memiliki waktu untuk keluarga kecilnya, termasuk ketika acara hari ulang tahun Cyra yang merupakan momen membahagiakan dalam hidupnya. Namun, Libra justru tidak hadir disana.
"Sekarang disaat aku sudah bulat dan mau pisah dari kamu, baru deh kamu mikirin mereka. Kemana aja kamu selama ini, ha?" ucap Ciara.
"Ciara, kamu jangan gini dong sayang! Kamu kan tau kalau aku ini sibuk banget sama kerjaan aku, aku ini dokter loh sayang. Wajar dong kalau aku jarang di rumah karena banyak pasien?" ucap Libra.
"Iya wajar kok mas, sangking sibuknya kamu sampai pergi ke club dan main sama cewek-cewek seksi disana sambil mabuk. Ya kan mas?" ujar Ciara.
Lagi-lagi Libra dibuat tak berkutik dengan apa yang dikatakan istrinya itu, Libra sungguh bingung harus melakukan apa lagi saat ini. Usahanya untuk bisa membujuk Ciara, justru membuat dirinya semakin tersadar akan kesalahannya. Semua yang dikatakan Ciara memang benar, dan entah kenapa Libra tak bisa berkata apa-apa lagi di hadapan istrinya.
"Sekarang keputusan aku sudah bulat, mas. Aku mau kita cerai, supaya aku gak perlu ngerasa sakit hati lagi sama kelakuan kamu, mas. Setidaknya dengan kita bercerai, anak-anak pasti gak akan nyariin kamu lagi seperti biasa, mas!" ucap Ciara.
"Tapi sayang, kasihan loh sama Adel dan Lio! Mereka itu masih kecil, mereka pasti akan sangat menderita kalau kita bercerai!" ucap Libra.
"Kamu tenang aja mas, aku pasti bisa urus mereka dengan baik kok!" ucap Ciara tegas.
"Tetap aja sayang, anak-anak pasti butuh sosok ayah di hidup mereka. Kamu gak mungkin bisa gantikan posisi aku, sebagai ibu dan ayah sekaligus untuk mereka. Gak akan mungkin sayang!" ucap Libra.
__ADS_1
"Kata siapa? Selama ini aku bisa kok, kamu aja kan jarang ada waktu buat mereka," ucap Ciara.
Libra terdiam, lalu Ciara pun bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi dari sana karena menurutnya pembicaraan mereka telah selesai. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan kali ini, keputusan Ciara tetap sama, yakni berpisah dengan suaminya itu dan mengambil hak asuh atas anak-anaknya tanpa terkecuali.
"Ciara tunggu!" Libra berusaha menahan istrinya itu, tetapi kata tak perduli lagi.
"Aku akan tetap meneruskan gugatan ini, mas. Aku harap kamu mau mengikuti semua prosesnya biar berjalan dengan cepat!" ucap Ciara.
Libra menggeleng saja dan tak mungkin mau mengikuti permintaan istrinya.
•
•
Malam harinya, Cyra tengah fokus mengerjakan tugas di dalam kamarnya dengan ditemani oleh Askha yang masih setia berada disana. Akan tetapi, Askha tampak asyik bermain game di ponsel genggam miliknya. Cyra pun terlihat jengkel dibuatnya, apalagi seringkali Askha berteriak dan membuat fokusnya terganggu.
Kini gadis itu beralih menatap ke arah sang kakak yang berada di atas ranjangnya, ya Askha tengah bersandar disana sambil bermain game disertai earphone yang menempel di telinganya. Tentu saja Cyra menggeleng dan menghela nafasnya, ia bangkit dari kursi lalu mendekati kakaknya itu berniat memintanya untuk diam.
"Awhh akh!! Apa sih Cyra? Lo gak lihat nih gue lagi fokus main? Push rank nih push rank, kalo kalah bisa berabe!" protes Askha.
"Haish, ya tapi kakak juga lihat dong tuh! Tugas aku masih banyak belum dikerjain, kakak pelanin sedikit dong suaranya atau malah gausah bersuara sama sekali biar aku bisa fokus!" sentak Cyra.
"Hm, iya deh iya. Yaudah sana lu balik kerjain pr nya, gue juga mau pulang aja deh nih. Udah malem juga kasihan mama sendirian," ucap Askha.
"Eh eh kok pulang?" tanya Cyra keheranan.
Askha sontak mengurungkan niatnya untuk mengambil tas miliknya, karena Cyra tiba-tiba memegang tangannya saat ini. Tampak Cyra tak ingin Askha pergi dari sana, namun Askha malah merasa heran dengan sikap Cyra. Ya tak biasanya Cyra seperti itu, padahal seringkali Cyra lah yang memaksa Askha untuk keluar dari kamarnya.
"Jangan pulang dulu, kak! Aku mau curhat sesuatu sama kakak, sekarang kakak duduk lagi ya disini! Lanjutin dah tuh main gamenya!" ucap Cyra.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Cyra? Mau curhat apa lu?" tanya Askha tampak penasaran.
Cyra malah menggeleng, "Enggak kok, udah kakak sekarang main gamenya diselesaikan aja dulu! Aku juga mau balik kerjain pr kok," jawabnya.
"Hadeh, aneh-aneh aja lu ah! Gue tuh mau balik, malah gak dibolehin!" kesal Askha.
Cyra terkekeh saja melihat ekspresi kesal di wajah Askha, lalu terpaksa Askha pun duduk kembali dan bersandar di atas ranjangnya. Sedangkan Cyra juga kembali ke meja belajarnya, ia berusaha menyelesaikan semua tugasnya itu agar bisa leluasa berbincang bersama kakaknya nanti. Ya karena Cyra merasa, hanya Askha yang bisa mengertinya saat ini.
Singkat cerita, semua tugas Cyra telah selesai dan ia pun sangat lega saat ini. Ia langsung membereskan semua buku-buku sekolahnya itu, lalu beralih menatap Askha yang masih fokus bermain game. Cyra menggeleng pelan, kemudian melangkah menghampiri sang kakak dan ikut terduduk di sampingnya sambil tersenyum lebar.
Askha terkejut karena tiba-tiba saja Cyra sudah berada di dekatnya, ia tatap wajah gadis itu dengan bingung. Dari tatapan matanya, Askha dapat mengetahui jika Cyra tengah dalam dilema yang amat besar. Gadis itu menginginkan kasih sayang, tetapi kedua orangtuanya terlalu sibuk dan jarang memerhatikan dirinya selama ini.
"Cyra, lu udah ngerjain tugasnya?" Askha pun meletakkan ponselnya, ia kini fokus menatap wajah Cyra dan bertanya padanya.
Cyra mengangguk pelan, "Udah kak, itu kok hpnya ditaruh? Emang kakak udah kelar main gamenya? Atau gara-gara aku ya? Maaf deh aku ganggu, aku mau tidur aja!" ucapnya langsung berbalik dan menarik selimutnya bersiap untuk tidur.
"Eh eh, jangan tidur! Lu katanya mau curhat tadi, gimana sih?" Askha menahan gadis itu, membuat Cyra tidak jadi merebahkan tubuhnya.
"Umm, emang kakak mau dengerin curhatan aku?" tanya Cyra dengan wajah gemasnya.
Askha sontak tersenyum, ia cubit kedua pipi gadis itu karena gemas melihat ekspresinya yang seperti anak kecil. Cyra memang telah berusia 14 tahun, namun sikap dan perilaku Cyra masih tidak jauh beda dengan anak kecil lainnya. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas, begitu juga dengan Davin.
"Pasti gue dengerin kok, lu kenapa emangnya Cyra? Cerita sini sama gue!" ujar Askha.
Cyra menundukkan wajahnya, "Aku takut kak, tadi sore aku dengar mama papa bertengkar di kamar. Mereka bahas soal cerai, aku takut banget kalau mereka beneran bakal pisah!" ucapnya.
Deg
Askha melongok mendengarnya, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Cyra saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...