Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 234. Senjata rahasia


__ADS_3

Ciara yang sudah selesai menelpon Davin dan berhasil mendapat info mengenai Rila, kini berjalan perlahan menuruni tangga menyusul putrinya yang tadi sudah lebih dulu pergi kesana. Akan tetapi, Ciara cukup heran ketika melihat Cyra tengah berbincang dengan Libra di depan sana. Mereka berdua tampak begitu serius, bahkan Ciara sendiri sampai dibuat penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan disana saat ini.


Tanpa berpikir panjang, Ciara bergegas menghampiri mereka untuk mencari tahu lebih lanjut apakah yang sedang terjadi. Apalagi, tadinya Ciara juga hendak menanyakan mengenai pil pencegah hamil yang ia temukan di dalam tas putrinya. Ya tentu Ciara sangat penasaran, ia juga tak mau kalau sampai putrinya berbuat yang tidak-tidak di luar sana tanpa sepengetahuan dirinya dan pastinya akan membahayakan gadis itu sendiri nantinya.


"Cyra, mas Libra!" kini Ciara memanggil kedua orang itu dan berhenti tepat di dekat mereka.


Sontak baik Libra maupun Cyra, kompak menoleh ke asal suara dan terkejut ketika melihat Ciara sudah berada disana. Mereka pun bingung harus apa, karena pasti Ciara akan bertanya pada mereka terkait perbincangan yang tadi mereka lakukan. Ciara pun bergerak semakin mendekat, lalu menatap Libra dan Cyra secara bergantian.


"Kalian lagi ngobrolin apa sih? Kayaknya serius banget deh, aku boleh tahu dong ya? Kan aku juga ibunya Cyra," ucap Ciara sambil tersenyum.


"Haha, kamu gak perlu takut Ciara! Walaupun aku ngobrol berdua sama Cyra, tapi kamu tetap jadi ibu kandungnya Cyra kok. Lagian kita cuma bahas masalah Cyra yang dijual sama temannya itu," ucap Libra dengan santai.


"Oh gitu, tadi aku juga udah telpon om Davin. Dia udah kasih tau semua tentang teman Cyra yang namanya Rila itu," ucap Ciara.


"Apa ma? Terus sekarang mama sama papa mau apain Rila dong?" tanya Cyra tampak terkejut.


Ciara tersenyum saja dan menaruh telapak tangan di pundak putrinya, ia mengecup pipi Cyra lalu berkata kalau dirinya akan mengurus semua masalah yang terjadi pada gadis itu. Meski Cyra tidak setuju, namun apa boleh buat gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa saat mamanya sudah berbicara.


"Mama akan temuin si Rila Rila itu, terus ya mama minta dia buat tanggung jawab atas tindakan yang udah dia lakuin ke kamu. Mama gak terima dong dia jual anak mama ini," ucap Ciara.


"Huft, mama kebiasaan deh langsung kayak gitu aja. Emang mama mau minta tanggung jawab kayak gimana coba ke Rila?" tanya Cyra.


"Ya pokoknya dia harus tanggung jawab atas apa yang udah dia lakuin ke kamu, mama gak mau tau walau dia masih jadi anak sekolah! Mama bisa kok jeblosin dia ke penjara," ucap Ciara dengan tegas.


Deg


Cyra terkejut mendengarnya, ia reflek menatap wajah mamanya dan terlihat tak percaya dengan apa yang hendak dilakukan wanita itu.


"Hah? Mama serius mau masukin Rila ke penjara? Nanti urusannya bisa makin panjang tau ma, aku gak mau mama sama papa malah pusing mikirin ini!" ucap Cyra.


"Kamu gak perlu khawatir soal itu, justru mama ini udah pusing dari lama gara-gara kamu. Bisa kamu jelaskan soal ini sayang?" ucap Ciara sembari mengambil pil pencegah kehamilan yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Kedua bola mata Cyra membulat seketika melihat itu, ia kini teringat kalau pil itu sama persis dengan apa yang diminum Daiva beberapa waktu lalu. Bisa dibilang Cyra yakin sekali kalau itu adalah milik Daiva, ya karena memang ia masih mengingat betul obat yang diminum oleh kakaknya itu.


"Apa ini punya kamu sayang? Mama temuin ini di dalam tas kamu, kenapa bisa kamu punya pil seperti ini Cyra?" tanya Ciara.

__ADS_1


Cyra menggeleng perlahan, "Enggak ma, itu bukan punya aku. Buat apa juga coba aku minum obat yang aku aja gak tahu apa kegunaannya? Mama jangan salah paham dulu dong!" ucapnya mengelak.


"Terus kalau bukan punya kamu, kenapa pil ini ada di dalam tas kamu sayang?" tanya Ciara kembali.


"Ya aku gak tahu ma, bisa aja orang yang punyanya itu salah taruh. Aku tahu banget kok ini punya siapa, soalnya aku lihat kak Daiva waktu itu minum obat yang persis banget kayak gini. Pasti ini punya dia ma," jelas Cyra.


"Kamu mau nyalahin orang lain sayang, ha? Apa buktinya kalau emang pil ini punyanya Daiva?" ujar Ciara tak percaya dengan ucapan putrinya.


Cyra kembali menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka kalau mamanya akan berkata seperti itu dan tidak mempercayai ucapannya. Padahal, apa yang ia katakan tadi adalah benar adanya. Ya memang Cyra tak memiliki bukti, namun tentu saja ia tak mungkin berbohong pada mama ataupun papanya saat ini.


"Aku gak bohong ma, mama percaya dong sama aku! Kalau mama mau, mama bisa tanya langsung kok ke kak Daiva!" ucap Cyra.


"Gimana mama mau percaya sama kamu sayang? Kamu aja baru bohongin mama, kamu pamit mau ke sekolah tapi nyatanya kamu malah pergi ke hotel sama teman kamu," ucap Ciara.


Perkataan Ciara berhasil membuat Cyra terdiam, lalu tanpa diduga Ciara melangkah pergi dari sana meninggalkan Cyra serta Libra. Sontak Cyra berusaha mengejar mamanya itu, namun Libra malah menahannya dan meminta Cyra untuk tetap disana bersamanya.


"Udah udah Cyra, kamu disini aja sama papa! Biarin mama kamu sendiri dulu!" ucap Libra.


"Hiks hiks..." Cyra pun terisak dan merasa bersalah karena telah membohongi mamanya.




Sesampainya di depan rumah wanita itu, Galen pun menghentikan mobilnya dan melirik ke arah Tiara yang terduduk di sebelahnya. Tampak Tiara begitu sedih dan terus meneteskan air matanya, ia juga mengusap perutnya dan masih belum percaya jika saat ini ada bayi dari Galen di dalam sana.


"Tiara, kita udah sampai nih. Kamu mau aku antar sampai ke dalam, atau enggak?" ucap Galen berusaha menegur mantan istrinya itu.


Tiara melirik ke arahnya, "Gak perlu, kamu bisa pulang sekarang! Makasih udah anterin aku, tapi tolong kamu jangan pernah muncul lagi di depan aku nantinya!" ucapnya dengan tegas.


"Hah? Kok kamu ngomongnya begitu Tiara? Aku gak mungkin bisa menjauh dari kamu, apalagi di dalam perut kamu ada anak kita!" ucap Galen.


Tiara menggeleng dibuatnya, ia menyingkirkan tangan Galen yang hendak menyentuh perutnya. Ya Tiara tak sudi disentuh oleh lelaki yang sudah melecehkannya itu, apalagi Galen juga tampak memaksa untuk terus ada di dekatnya. Memang benar saat ini ada anak Galen di dalam rahimnya, namun Tiara tak mungkin mau mengikutinya.


"Ini emang anak kamu mas, tapi kita udah bukan suami-istri lagi. Kamu gak bisa dekat terus sama aku kayak gini, ingat itu mas! Lagian kehamilan aku terjadi juga bukan kemauan aku," ucap Tiara.

__ADS_1


"Walaupun kamu gak menginginkan itu, tapi tetap aja dia ini anak kita sayang," ucap Galen.


Tanpa diduga, Tiara turun dari mobil dan berniat masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Galen yang masih terdiam di mobil. Akan tetapi, ia tak mengira kalau ternyata Adrian sudah berada disana menantinya dan langsung menyambut wanita itu begitu ia turun dari mobilnya.


"Halo Tiara! Saya senang banget bisa ketemu kamu disini, saya sudah menunggu kamu daritadi loh," ucap Adrian sambil tersenyum.


"Pak Adrian, ada apa ya bapak datang ke rumah saya? Bukannya diantara kita sudah tidak ada urusan lagi, hm? Sebaiknya anda pergi, sebelum saya panggil security buat usir anda!" ucap Tiara.


"Jangan Tiara! Kamu itu salah besar, urusan kita gak mungkin selesai gitu aja. Saya cinta sama kamu, dan saya akan terus perjuangkan cinta saya ini ke kamu Tiara!" ucap Adrian dengan tegas.


"Anda ini keras kepala sekali ya? Mau sampai kapan anda terus begini, ha?" geram Tiara.


"Selamanya Tiara, selamanya saya akan terus begini. Saya gak mungkin bisa melupakan kamu, apalagi menghapus rasa cinta saya ini ke kamu!" ucap Adrian.


"Ck, maaf saya gak bisa!" ujar Tiara.


Disaat Tiara hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja Adrian mencekal lengannya seolah menahan wanita itu pergi dari sana. Tiara sontak merasa kesal, ia berusaha melepaskan diri tetapi tidak bisa karena cekalan pria itu terlalu kuat. Akan tetapi, Galen yang sedari tadi hanya diam kini bergerak maju dan melepas paksa tangan Adrian dari Tiara.


"Hey, jangan paksa Tiara kayak gitu! Anda memang bos di kantor, tapi disini anda bukan siapa-siapa! Jadi, tolong anda harus tau diri dan jangan pernah memaksa Tiara!" sentak Galen.


Adrian menyeringai, "Haha, kenapa Galen? Kamu cemburu ya lihat saya dekat dengan mantan istri kamu, ha?" godanya.


"Kalau saya cemburu, kenapa? Apa urusannya dengan anda? Lagipula, Tiara sudah terang-terangan menolak anda. Kenapa anda masih saja memaksa dia, hm? Segitu gak lakunya ya anda sampai masih kejar-kejar Tiara?" ucap Galen.


"Sialan kamu Galen! Saya ini atasan kamu, berani sekali kamu bicara seperti itu sama saya!" geram Adrian tampak emosi.


"Saya tidak perduli siapa anda, tapi jika anda menggangu Tiara maka anda akan berurusan dengan saya! Asal anda tahu, saya ini sekarang adalah pelindung bagi Tiara!" ucap Galen tegas.


"Pelindung? Haha, memangnya bisa apa kamu Galen?" ejek Adrian.


Galen tersenyum dibuatnya, ia tak ingin terpancing emosi saat Adrian mengatakan itu padanya. Lagipula, niatnya saat ini hanyalah untuk melindungi Tiara dari orang seperti Adrian yang terus saja memaksa wanita itu. Apalagi, sekarang Galen memiliki senjata yang bisa ia gunakan untuk kembali mendapatkan Tiara seutuhnya.


"Sekarang kamu bisa bilang begitu Adrian, tapi nanti setelah kamu tahu kalau Tiara sedang mengandung anak saya, pasti kamu akan kebakaran jenggot!" gumam Galen dalam hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2