Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 205. Masa suka?


__ADS_3

TOK TOK TOK....


Suara ketukan dari arah luar itu membuat Davin reflek panik dan tidak tahu harus melakukan apa agar tak ketahuan oleh seseorang di luar sana, Davin pun terlihat mengusap wajahnya dan terus berpikir keras saat ini. Ia tatap wajah Cyra yang masih ia cengkram dengan kuat, ia memberi kode pada gadis itu untuk tetap diam dan jangan berkata apapun mengenai pembicaraan mereka tadi.


Tak ada jawaban dari Cyra, gadis itu terdiam saja tanpa perduli dengan kepanikan Davin. Ia justru berharap orang di luar sana cepat-cepat masuk ke dalam, supaya ia bisa selamat dari tempat itu. Namun, sepertinya Davin tak mengizinkan orang itu untuk masuk kali ini. Ya Davin malah menarik tangan Cyra, lalu membawa gadis itu menuju tempat persembunyian yang ada di dalam ruangan itu.


"Kamu sembunyi dulu disini, jangan keluar sebelum saya yang perintahkan! Saya gak mau kalau sampai orang itu melihat kamu, bisa-bisa nanti dia salah paham tentang kita!" suruh Davin.


Cyra menggeleng, "Gak mau, saya tuh pengen keluar dari sini. Bapak jangan halangi saya ya, atau saya teriak sekarang juga supaya orang di luar itu bisa dengar dan tangkap bapak!" ucapnya dengan tegas, yang membuat Davin terkejut.


"Tidak Cyra, jangan lakukan itu! Saya mohon sama kamu, saya cuma gak mau ada kesalahpahaman diantara kita!" pinta Davin.


"Saya gak perduli pak, sekarang juga saya akan keluar dari tempat ini!" ucap Cyra kekeuh.


Akhirnya Cyra menarik tangannya secara paksa, ia pun berhasil melepaskan diri dari genggaman kuat pria itu dan langsung berlari cepat mendekat ke arah pintu untuk melarikan diri. Davin yang melihat itu sontak semakin panik, dia tidak mau tentu jika Cyra sampai berhasil keluar dari sana.


Ceklek


Tapi terlambat, Cyra kini telah lebih dulu membuka pintu dan menemui seseorang yang berdiri di hadapannya. Rupanya itu adalah Carlo, sang ketua osis di sekolahnya yang sebelum ini juga sempat menolongnya dari Davin. Cyra pun merasa lega, karena ia tidak perlu khawatir lagi dengan ancaman yang diberikan Davin padanya.


"Loh Cyra, kamu ngapain di ruangan pak Davin? Terus kenapa kamu panik begini?" tanya Carlo.


"Eee a-aku...."


"Cyra!" Davin lebih dulu menyela, ia menyusul Cyra ke luar ruangan dan mencegah gadis itu untuk menceritakan semua kepada Carlo.


Carlo semakin curiga setelah melihat kepanikan di wajah Davin, ia yakin kalau ada sesuatu diantara mereka dan membuatnya amat penasaran. Apalagi, terakhir kali ia melihat dengan jelas kalau Davin pernah memaksa Cyra untuk ikut bersamanya dan gadis itu menolak.


"Cyra, kamu mau kemana sih? Urusan kita belum selesai loh, saya kan masih mau bahas soal materi yang tadi saya jelaskan di kelas," ucap Davin.


"Materi apa sih pak? Ucapan bapak tadi aja gak ada sangkut pautnya sama materi, jadi saya gak mau lagi masuk ke dalam!" sentak Cyra.


Deg


Davin tersentak, Cyra sungguh membuatnya kesal karena telah berani bicara seperti itu di depan Carlo. Davin pun berniat meraih tangan gadis itu, tapi dengan cepat Cyra bergerak mendekat ke arah Carlo dan meminta perlindungan darinya. Cyra terlihat begitu ketakutan, sehingga Carlo yakin kalau Davin sedang berbohong kali ini.


"Cyra, ayo ikut sama saya! Kamu ini kenapa sih? Apa alasan kamu selalu menghindar dari saya?" tanya Davin penuh penasaran.


"Maaf pak, tapi aku gak mau berurusan atau dekat sama orang yang udah melecehkan mama aku! Bapak seharusnya sadar dengan itu, jadi sebaiknya bapak jangan dekati saya lagi!" ucap Cyra.


Davin terbelalak saat itu juga, ia baru tahu kalau Cyra menjauh darinya karena alasan tersebut.

__ADS_1




Singkat cerita, Cyra diantar pulang oleh Carlo dengan motornya karena ia tak berhasil menemukan keberadaan Askha di sekitar sekolah tadi. Selain itu, Cyra juga ingin segera pergi dari sekolahnya untuk menghindari Davin. Ya Cyra merasa lega saat ini, karena ia telah berhasil mengatakan yang sejujurnya kepada Davin mengenai apa alasan ia menjauh dari pria itu belakangan ini.


Sesampainya di depan rumah, Cyra pun turun dari motor Carlo dan menatap pria itu sambil menyerahkan helm padanya. Cyra sangat senang karena Carlo mau menolongnya tadi, jika saja Carlo tak datang maka mungkin saat ini Cyra masih tertahan di dalam ruangan Davin itu.


"Kak, makasih ya udah bantu aku tadi buat lepas dari pak Davin! Kalau gak ada kakak, gak tau deh aku bakal gimana tadi," ucap Cyra sambil tersenyum.


"Sama-sama Cyra, aku sebenarnya udah lihat kamu waktu sebelum masuk ke ruangan pak Davin. Dari situ aku curiga, soalnya kamu kelihatan gak suka banget masuk kesana. Makanya aku mutusin buat tunggu kamu dari luar deh," ucap Carlo.


"Oh begitu, iya kak emang aku gak suka banget dipaksa kayak gitu sama pak Davin," ucap Cyra.


"Yaudah, yang penting kan sekarang kamu udah di rumah. Kalau misal pak Davin maksa kamu lagi besok atau kapanpun itu, kamu lari aja ya!" ucap Carlo memberi usul.


Cyra mengangguk pelan, ia paham dan mengerti dengan apa yang dikatakan Carlo barusan. Meski, entah kenapa Cyra masih merasa tidak enak pada Davin karena belakangan ini ia menjauh dan bersikap tidak baik padanya. Padahal, selama ini Davin juga sangat perhatian kepadanya.


"Loh loh, kenapa kamu sedih kayak gitu Cyra? Ada masalah lagi?" tanya Carlo keheranan.


"Eh eee enggak kok, gapapa kak." Cyra tersadar dan segera mengusap wajahnya serta melebarkan senyum untuk menghilangkan rasa sedihnya.


"Oh okay, kalo gitu aku pergi ya?" pamit Carlo.


Setelah itu, Carlo pun kembali menyalakan mesin motornya dan bergegas melaju meninggalkan Cyra disana. Ada rasa senang di dalam hati Carlo, meski ia tak tahu pasti rasa apakah yang tiba-tiba muncul setiap ia berdekatan dengan gadis itu.


Cyra sendiri masih terdiam di depan gerbang rumahnya, tanpa sadar ia terus tersenyum sembari memandang ke arah Carlo yang sudah menjauh. Sikap baik dan kelembutan yang ditunjukkan Carlo kepadanya, berhasil membuat Cyra tertarik dan tak bisa berpaling dari pria itu.


"Ehem ehem, Cyra!" tiba-tiba saja, deheman dari arah belakang membuatnya terkejut dan reflek menoleh untuk mencari tahu siapa yang datang.


"Mama??" Cyra terkejut, namun merasa lega begitu melihat mamanya berdiri disana.


Cyra pun mencium punggung tangan mamanya itu, sedangkan Ciara terlihat penasaran karena tadi sempat melihat sosok pria yang mengantar putrinya pulang ke rumah dan Ciara tak merasa bahwa pria itu adalah Askha.


"Sayang, kamu diantar sama siapa tadi? Kok kayaknya itu bukan Askha ya?" tanya Ciara.


"Eee iya ma, itu emang bukan kak Askha. Tadi tuh aku diantar sama teman sekolah aku, namanya kak Carlo. Dia senior di sekolah aku sekaligus ketua osis," jawab Cyra.


"Oalah, yaudah masuk yuk! Mama udah siapin makanan kesukaan kamu di dalam," ajak Ciara.


Cyra manggut-manggut saja disertai senyuman tipis, sedangkan Ciara langsung merangkul pundak putrinya dan mengajak masuk ke dalam rumah. Hingga kini, Cyra belum bisa melupakan sosok Carlo yang sudah dua kali menyelamatkannya dari paksaan Davin di sekolah.

__ADS_1


"Ih aku kenapa ya ini? Kok malah jadi mikirin kak Carlo terus? Masa iya aku suka sama dia?" pikirnya di dalam hati.




Disisi lain, Askha ditemani Laura dan Daiva datang ke rumah papanya demi mencari sosok mamanya yang hingga kini tak tahu ada dimana. Askha sungguh cemas, ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada mamanya itu. Apalagi, Askha juga tak bisa menghubungi nomor mamanya dan sampai sekarang belum ada kabar apapun dari wanita itu.


Sesampainya disana, dengan cepat Askha segera memanggil papanya dan mengetuk pintu pagar berulang kali dengan penuh emosi. Askha tampak tak sabar ingin bertemu papanya, sebab ia yakin kalau papanya itu terlibat dalam hilangnya sang mama. Meski, Askha belum memiliki bukti apapun yang dapat memperkuat tuduhannya.


"Pa, papa keluar pa! Temuin aku pa, aku mau bicara sama papa!" teriak Askha dengan kencang.


Askha terus saja berteriak dan menggoyangkan pagar dengan kasar, Laura serta Daiva pun tak bisa berbuat apa-apa selain diam membiarkan Askha melakukan apa yang dia inginkan. Ya mereka tahu bagaimana perasaan Askha saat ini, karena hanya mamanya lah yang ia punya.


"Papa keluar! Jangan sembunyi pa, temuin aku!" Askha kembali memanggil papanya dan kali ini lebih bertenaga dibanding sebelumnya.


"Kak, sabar kak! Mungkin om Galen lagi gak ada di rumah, jangan emosi ya!" ucap Daiva menenangkan.


Askha menggeleng, "Gak Daiva, gue yakin banget papa pasti ada di dalam. Bahkan, gue juga yakin kalau papa yang bikin mama hilang gak ada kabar. Gue harus ketemu sama papa sekarang juga, terus selamatin mama!" ucapnya tegas.


"Tapi kak, nanti kalau lu begini terus bisa-bisa kita diusir sama warga setempat. Kita dikira mau maling atau bikin keributan," ucap Daiva.


"Iya sayang, tenang dulu ya!" sahut Laura.


Tak lama kemudian, Amar yang kebetulan ada di dalam pun muncul setelah mendengar suara keributan dari arah luar. Ia menemui Askha dan juga kedua gadis cantik di dekatnya, lalu tampak heran karena merasa tidak ada kejahatan yang ia atau papanya lakukan pada mereka. Namun, dari suara teriakan Askha tadi seolah menandakan bahwa pria itu sangat emosi kepada papanya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian teriak-teriak di depan rumah papa aku kayak gitu, ha? Kalau kalian mau ketemu papa, gak gini caranya. Kalian itu kan lebih dewasa, harusnya tau ada dong!" ucap Amar.


"Eh diem lu anak pelakor! Dimana bokap gue? Suruh dia keluar sekarang juga!" sentak Galen.


Amar terkejut dibuatnya, ia sampai tak bisa berkata-kata ketika mendengar Galen mengucapkan kalimat itu padanya. Seketika jantungnya seolah berhenti berdetak, hatinya bahkan terasa sakit karena mengingat mendiang ibunya. Amar memang anak dari Jessica dan Bagas, ia sudah tau semua itu sejak Galen bercerita padanya dan Amir dulu.


"Lo gak bisa sembunyiin papa dari gue, biarin gue masuk atau gue kasih pelajaran lu!" ucap Galen mengancam dengan tegas.


"A-aku gak ada niatan buat sembunyiin papa, tapi emang papa lagi gak di rumah," ucap Amar gugup.


"Ck, lu pikir gue percaya gitu aja sama lu? Minggir lu, biar gue pastiin sendiri ke dalam!" Galen yang emosi, tak perduli lagi pada apapun itu dan langsung bergerak cepat melewati tubuh Amar.


Galen pun masuk ke dalam secara paksa, diikuti oleh Laura dan juga Daiva yang begitu cemas dengan kondisi Galen saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2