Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 113. Lebih liar


__ADS_3

Saat ini Ciara tengah berada di salah satu restoran bersama Keenan yang tadi tak sengaja ia temui di jalan, mereka tampak menikmati santap siang dengan penuh nikmat sambil saling berbincang riang. Keenan juga mengajukan berbagai pertanyaan kepada Ciara, terkait mengapa wanita itu sebelumnya ada di jalan raya seorang diri dan terlihat sedang bersedih seperti memiliki masalah.


Tanpa ragu, Ciara pun menjelaskan semua permasalahan yang ada di dalam dirinya saat ini kepada Keenan. Ya wanita itu juga memberitahu kalau ia sudah menikah dengan pamannya sendiri, yang tidak lain adalah Libra. Keenan tentu saja terkejut, pria itu baru tahu jika Ciara sudah menikah karena sebelumnya tak ada kabar atau apapun dari mulut Nadira maupun Gavin mengenai hal itu.


Keenan mewajarkan saja, karena sudah lama juga ia tak berhubungan dengan Nadira maupun keluarganya. Bahkan, ia sudah resign dari pekerjaan yang selama ini diemban olehnya. Keenan pun tidak marah atau kecewa, justru ia terlihat senang ketika mengetahui Ciara telah hidup bahagia dan menikah dengan pasangan yang benar-benar dia cintai.


Namun, kesenangan Keenan itu hanya berlangsung sebentar. Ya karena setelahnya, Ciara kembali mengatakan pada pria itu kalau saat ini diantara dirinya dan sang suami sedang terjadi masalah yang cukup besar. Ciara juga mengakui bahwa sekarang ia tengah kabur dari suaminya, yang sontak membuat Keenan terbelalak seolah tak menyangka mendengar pengakuan wanita itu.


Ciara tidak bisa melanjutkan kisahnya, sebab ia tidak ingin aibnya diketahui oleh banyak orang saat ini. Keenan paham dengan itu, dia kini mengangguk perlahan dan mulai meraih satu tangan Ciara untuk digenggam serta diusap dengan lembut olehnya. Keenan berusaha menenangkan anak dari mantan majikannya itu, karena sampai sekarang dia juga sudah menganggap Ciara seperti putri kandungnya.


"Ciara, kamu yang sabar ya! Apapun masalah kamu, om yakin kamu pasti bisa selesaikan itu!" ucap Keenan menenangkan.


Ciara mengangguk paham, lalu Keenan melepas sentuhannya dari tangan Ciara dan beralih ke arah wajah wanita itu. Ia seka air mata yang sempat menetes di wajahnya, Ciara terdiam saja karena terkejut dengan perlakuan Keenan yang tiba-tiba itu. Tak ada rasa marah kali ini, dan justru Ciara malah tersenyum memandangi wajah Keenan.


"Kamu gausah nangis, nanti jadi jelek loh! Lagian kamu ngapain kabur sih? Masalah itu harusnya dihadapi dan diselesaikan, bukan malah lari kayak gini!" ucap Keenan memberi pemahaman.


Ciara menundukkan wajahnya dengan rasa malu, ia tahu apa yang dilakukannya saat ini salah.


"Maaf om, ini emang salah aku. Harusnya aku lebih sabar dalam menghadapi masalah, aku ini emang istri gak becus!" ucap Ciara tampak bersedih.


Keenan menggeleng dengan cepat, satu tangannya kembali bergerak menaikkan dagu wanita itu. Ditatapnya intens kedua mata Ciara dari jarak sangat dekat, dapat ia lihat bola mata yang indah di depan sana yang pasti akan membuat siapapun terpukau bila melihatnya.


"Udah, jangan salahin diri kamu sendiri! Mending kamu habiskan makanan itu, baru setelahnya om antar kamu pulang ya!" bujuk Keenan.


Kali ini Ciara mengangguk paham, "Iya om, aku mau pulang deh kalau disuruh sama om. Tapi, aku takut suami aku marah, om. Aku kan udah pergi beberapa hari, pasti dia mikir yang enggak-enggak!" ucapnya.


"Tenang aja, kan ada om disini! Om bakal bantu kamu buat jelaskan semua ke suami kamu, asal kamu mau janji sesuatu sama om!" ucap Keenan.


"Hm, apa itu om?" tanya Ciara penasaran.


Keenan pun mengatakan keinginannya pada Ciara, yang langsung membuat wanita itu tersenyum.




"Mas!"


Suara lembut nan indah itu menyadarkan Galen dari lamunannya, ia bergegas menoleh mencari asal suara dan berharap kalau semua ini nyata. Kedua bola matanya membulat seketika begitu ia melihat sosok indah tengah berdiri menatapnya sambil tersenyum di dekat pintu, perlahan sosok itu juga melangkah mendekatinya dengan senyuman yang makin mengembang dan membuatnya terpesona.


"Tiara?" lirihnya.


Ya Galen sangat senang kali ini, sebab istrinya itu akhirnya mau datang menjenguknya. Sedari tadi ia sudah menantikan momen itu, dan beruntungnya sekarang ini ia berhasil melihat kembali sosok istrinya dengan mata kepalanya. Sangking senangnya, Galen sampai berniat bangkit dari tempat tidurnya untuk menemui wanita itu.


Tapi naas, usahanya gagal lantaran bagian tubuhnya masih terasa sakit dan memang belum pulih benar. Tiara terkekeh dibuatnya, ia menghentikan langkah tepat di sebelah sang suami lalu terduduk disana. Galen tampak merengut karena ditertawakan oleh istri tercintanya itu, namun Tiara akhir berhasil membuat pria itu tersenyum kembali.


"Parah banget sih kamu, masa suaminya kesakitan malah diketawain! Istri macam apa kamu?" ejek Galen dengan wajah cemberut.


Tiara tergelak mendengarnya, "Ahaha, kamu kok ngomongnya begitu sih mas? Masih untung loh aku mau jenguk kamu disini, padahal terakhir kita ketemu itu kamu udah nyakitin hati aku!" ujarnya.

__ADS_1


Deg


Betapa kagetnya Galen, rupanya Tiara masih memendam emosi padanya soal kejadian waktu itu. Galen pun merasa bersalah saat ini, ia tahu memang ia sudah menyakiti perasaan Tiara dan dirinya tak pantas mendapat perhatian lagi dari wanita itu. Galen juga menyesal telah melakukannya, karena kini ia bahkan terjebak dalam permainan Jessica dan juga kekasihnya itu.


"Eee soal itu, aku benar-benar minta maaf sama kamu sayangku! Aku gak ada niatan buat mendua dari kamu, waktu itu aku cuma khilaf karena hasrat aku yang sulit dikontrol!" ucap Galen memelas.


"Hm, ya aku tahu kok mas. Kamu itu kan emang paling susah buat tahan diri kamu," cibir Tiara.


"I-i-iya sayang, itulah yang terjadi. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, aku beneran gak bermaksud buat menyakiti kamu!" bujuk Galen.


Tiara manggut-manggut kecil, "Udah lah mas, soal itu gak perlu dipikirin sekarang! Kamu fokus aja dulu sama kesembuhan kamu, kalau udah nanti baru deh kamu bisa jelaskan ke aku soal semua yang kamu lakuin di belakang aku!" ujarnya.


"Ta-tapi sayang, kamu—"


"Sssttt, kamu nurut aja deh sama aku! Mumpung aku baik nih sama kamu, jadi kamu jangan bikin aku marah lagi!" sela Tiara.


Galen pun hanya bisa menuruti permintaan istrinya, ia tidak mau wanita itu kembali marah padanya. Kini Tiara bergerak mengusap wajahnya disertai senyum yang merekah indah, lagi-lagi Galen tak bisa beralih dari pemandangan itu karena memang pesona Tiara tidak ada tandingannya.


"Mas, punya kamu berdiri tuh." Tiara malah salah fokus saat melihat bagian bawah suaminya yang menegang, tentu saja Galen langsung dibuat tersipu malu dengan perkataan istrinya itu.


"Apa sih sayang? Lagi situasi begini kamu malah bahas itu," ujar Galen.


"Loh kenapa? Emang bener kok punya kamu berdiri, dasar mesum! Mau aku bantu gak, mas?" goda Tiara.


Galen terbelalak dibuatnya, melihat sikap Tiara saat ini sungguh amat membuatnya keheranan. Tak biasanya Tiara bersikap seliar ini, apalagi sekarang tangan wanita itu telah bergerak menurun menuju celananya. Galen terkejut ketika merasakan telapak tangan Tiara sudah tiba tepat di bagian miliknya, sehingga pria itu reflek merintih.


"Aku bisa lebih liar dari si pelakor itu loh, mas!" ucap Tiara dengan nada menggoda.




Disisi lain, Nindi tengah terlibat perdebatan dengan Rifka di rumahnya. Nindi yang kekeuh ingin meminta Leon menandatangani surat perceraian itu, ditahan oleh Rifka karena tidak ingin Nindi dan Leon bercerai tanpa alasan yang jelas. Ya Nindi berkata jika ia tidak pantas lagi bersama Leon, dan pria itu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih baik darinya.


Namun, Rifka tidak setuju dengan ungkapan Nindi itu dan mengatakan bahwa Leon sudah benar-benar mencintainya. Jika tidak, mana mungkin Leon akan rela mengakui anak yang dilahirkan Nindi itu dan mau menikahinya. Bahkan sampai sekarang, Leon juga menyayangi Daiva dan menganggapnya sebagai anak kandungnya.


"Kamu salah kalau kamu ngelakuin itu, Nindi. Itu sama aja kamu gak menghargai kebaikan Leon, kamu pikir-pikir lagi dong keputusan kamu itu!" ucap Rifka dengan tegas.


Nindi menggeleng cepat, "Ini sudah yang terbaik mbak, aku gak mau berlama-lama lagi hidup sama mas Leon!" ucapnya kekeuh.


"Apa maksud kamu? Leon selama ini udah baik banget loh sama kamu Nindi, harusnya kamu bersyukur punya suami seperti dia! Bukan malah kamu mau cerai dari dia," heran Rifka.


"Justru itu mbak, aku gak mau terus-terusan manfaatin kebaikannya mas Leon. Aku juga pengen lihat dia bahagia sama wanita pilihannya, bukan malah terjebak dalam pernikahan ini," ucap Nindi.


"Nindi, wanita pilihan Leon itu kamu. Kenapa kamu masih belum sadar sampai sekarang?" ujar Rifka.


Nindi terdiam, rasanya tidak mungkin jika Leon benar-benar mencintainya dan memilih dirinya sebagai wanita yang disukainya. Menurut Nindi, semua yang dilakukan Leon selama ini untuknya hanya sebatas keperdulian lelaki itu padanya. Ia tahu Leon adalah orang baik, itulah sebabnya Leon rela mengakui Daiva sebagai anaknya.


"Itu gak mungkin mbak, masa iya mas Leon cinta sama aku? Udah deh mbak, tolong ya mbak jangan halangi aku!" ucap Nindi.

__ADS_1


"Terserah kamu deh Nindi, aku juga bingung harus gimana lagi bicara sama kamu!" kesal Rifka.


Rifka pun beranjak dari tempat duduknya, ia lalu berniat pergi dari sana meninggalkan Nindi dengan perasaan kesal. Namun, tak lama kemudian Leon muncul dan menghampiri mereka saat melihat wajah Nindi serta Rifka sama-sama cemberut. Tentu saja Leon penasaran, dia heran apa yang terjadi sampai membuat dua wanita itu terlihat marah.


"Loh, ada apa ini?" Leon bertanya sembari menatap wajah Rifka dan Nindi secara bergantian.


Rifka mengurungkan niatnya, ia memandang Nindi serta memberi kode pada wanita itu untuk tidak membahas mengenai surat cerainya. Ia juga meminta Nindi untuk menyembunyikan surat itu dari Leon, sebelum pria itu tahu bahwa sedari tadi mereka tengah membahas perceraian.


"Sayang, maaf ya aku baru pulang sekarang? Soalnya semalam aku sibuk jaga pak Galen di rumah sakit," ucap Leon duduk mendekati istrinya.


Nindi mengangguk sambil tersenyum, "Gapapa mas, aku paham kok. Kamu juga kan udah bilang sama aku semalam," ucapnya lirih.


"Makasih ya atas pengertiannya sayang, kalo gitu aku mau mandi dulu!" ucap Leon.


"Iya mas, kamu mandi gih biar gak bau! Terus baru deh nanti kamu ketemu Daiva di kamar, dia kayaknya kangen sama kamu tuh!" ucap Nindi.


"Siap istriku yang cantik!" ucap Leon patuh.


Kini Leon mengecup kening istrinya, sebelum bangkit lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Nindi terlihat hanya diam terduduk di sofa, matanya berkaca-kaca memandangi tubuh Leon yang perlahan menjauh. Ia mendadak ragu untuk bisa meminta Leon menceraikan dirinya, sontak Rifka pun tersenyum melihat reaksi wanita itu.




Libra kini tengah mengantar Gita pulang ke rumahnya, ya setelah sebelumnya mereka sempat datang ke rumah sakit berniat untuk menjenguk Galen. Libra dan Gita pun sama-sama turun dari mobil, terlihat Libra merasa tidak enak pada Gita karena sudah merepotkan wanita itu semalaman dan malah akhirnya Gita tidak diperlukan lagi.


Namun, Gita sendiri justru merasa senang karena dapat berduaan dengan lelaki itu. Meski ia sadar status Libra sekarang telah menikah, tapi tetap saja Gita sangat senang dengan momen yang jarang terjadi itu. Gita memang menyukai Libra sejak lama, walau hingga kini ia belum bisa mengungkapkan rasa sukanya itu secara langsung pada Libra.


"Gita, aku minta maaf banget ya! Aku gak tahu kalau ternyata donor darah buat Galen udah didapatkan, jadinya aku malah bikin kamu repot deh," ucap Libra.


Gita tersenyum dibuatnya, "Tenang aja Libra! Semua yang aku lakukan ini semata-mata untuk bantu kamu dan keluarga kamu, ya walau aku belum sempat menolong ponakan kamu itu sih," ucapnya.


"Ah iya, sekali lagi terimakasih atas waktunya. Kalau memang nanti ada yang kamu butuhkan, bilang aja ke aku ya!" ucap Libra.


"Ih gak perlu begitu lah, aku ikhlas kok bantu kamu. Mending sekarang kamu fokus ke pencarian istri kamu, dia kan masih belum ketemu tuh. Apa kamu gak kangen sama dia?" ucap Gita.


Seketika Libra terdiam, saat Gita mengatakan itu barulah ia tersadar kalau hingga kini ia belum bisa menemukan Ciara. Libra pun tampak memalingkan wajahnya, lagi-lagi suasana hatinya terasa begitu sedih karena memikirkan dimana istrinya. Sudah cukup lama ia berusaha mencari wanita itu, tetapi entah kenapa sangat sulit untuk menemukannya.


"Kenapa Libra? Kamu jadi sedih lagi ya gara-gara aku? Maaf banget, aku gak bermaksud bikin kamu sedih! Aku itu cuma gak mau lihat sahabat aku ini terus-terusan kesepian," ucap Gita.


Libra kembali menoleh ke arah Gita, ia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Mereka pun saling bertatapan saat ini, sampai tanpa disadari Gita perlahan menyentuh telapak tangan Libra dan menggenggamnya. Wanita itu mengusap lembut punggung tangan sahabatnya, disertai senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


"Ehem ehem..."


Sebuah deheman keras mengganggu momen keduanya, Libra serta Gita pun reflek menoleh ke asal suara dan menemukan seorang wanita yang berdiri disana mendekat ke arah mereka. Libra terbelalak saat itu juga, lalu secara spontan ia melepaskan tangan Gita dari genggamannya.


"Bagus, bagus Libra! Jadi, ini yang kamu lakukan di belakang Ciara ya? Mbak gak nyangka sama kamu, Libra!"


Deg

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2