
Plaaakk
Nadira menampar wajah Daiva dengan keras saat ini tepat di hadapan suaminya, ia benar-benar kecewa karena gadis itu memberi penjelasan kalau dia telah kehilangan Cyra saat di tempat konser. Tentu saja Nadira sangat emosi, pasalnya ia telah memberi amanat kepada Daiva untuk menjaga Cyra. Akan tetapi, yang terjadi kini justru Cyra menghilang dan Daiva sendiri tidak tahu Cyra pergi kemana tadi.
"Hiks hiks, aku minta maaf oma! Aku juga gak sengaja kepisah sama Cyra, tadinya aku kira dia itu ada di dekat aku. Maafin aku oma, aku beneran nyesel oma!" rengek Daiva.
"Diam kamu Daiva! Daripada kamu terus nangis kayak gini, lebih baik kamu kasih tau dimana tempat konser itu. Kita kesana sekarang, kita harus cari Cyra sampai ketemu! Kalau enggak, oma akan beri perhitungan sama kamu Daiva!" geram Nadira.
Deg
Betapa syoknya Daiva ketika mendengar ucapan yang dilontarkan neneknya, ia sungguh terkejut dan tentu tidak mau apabila diberi hukuman yang keras oleh Nadira nantinya. Daiva sendiri juga tak mau ini semua terjadi pada Cyra, sebab tadi saat di konser ia terlalu fokus pada boyband kesukaannya dan tidak menjaga Cyra dengan benar.
"Dira, udah sayang gausah marah-marah kayak gitu sama Daiva! Kasihan dia, aku yakin dia juga pasti gak mau ini terjadi!" ucap Gavin membelanya.
Nadira menghela nafasnya, ia mengangguk kecil dan menurut pada perkataan suaminya. Ia berhasil tenang kali ini, meski di dalam hatinya ia masih memikirkan sosok Cyra yang entah ada dimana. Ia sangat cemas tentu dengan hilangnya Cyra, apalagi jika sampai Ciara tahu semua itu nanti.
"Sekali lagi aku minta maaf oma, aku janji akan cari Cyra sampai dia ketemu! Tadi itu di dekat konser ada cafe, mungkin aja Cyra sekarang disana oma," ucap Daiva.
"Yasudah, kamu antar kami kesana ya Daiva!" pinta Nadira.
"I-i-iya oma..." Daiva hanya bisa mengangguk menuruti perintah neneknya.
Disaat mereka hendak pergi mencari Cyra, tanpa diduga Ciara justru muncul menghampiri mereka dan terlihat kebingungan. Ciara pun berhenti tepat di hadapan ketiganya, ia heran mengapa Nadira dan Gavin tampak seperti panik disana dan seolah hendak pergi malam-malam begini.
"Ma, mama sama papa mau kemana? Ini udah malam loh, kok malah pada mau pergi sih?" tanya Ciara dengan wajah heran.
"Eee kita..." Nadira pun bingung dibuatnya.
Sementara Ciara juga mengalihkan pandangan ke arah Daiva yang berdiri di dekat kedua orangtuanya, Ciara masih bingung ada apa sebenarnya diantara ketiga orang itu. Tapi ia tersadar, kalau Nadira sebelumnya mengatakan jika Cyra pergi bersama Daiva untuk menonton konser.
"Ah Daiva, kamu udah pulang? Terus Cyra kemana sayang, dia sama kamu kan?" tanya Ciara lagi.
Sama seperti Nadira dan Gavin tadi, Daiva juga tidak tahu harus mengatakan apa kepada Ciara terkait pertanyaan wanita itu. Daiva tentu tak ingin Ciara akan cemas nantinya jikalau ia mengatakan yang sejujurnya bahwa Cyra telah hilang, mungkin saja Ciara bisa berbuat lebih buruk dari apa yang Nadira lakukan kepadanya tadi.
"Eee Ciara, kamu tunggu aja di rumah ya sayang! Ini mama sama papa mau jemput Cyra kok, kamu gausah khawatir ya!" ucap Nadira menyela.
"Tapi ma, kenapa Cyra harus dijemput segala? Bukannya dia pergi sama Daiva tadi? Aku bingung deh ma, apa sih yang sebenarnya terjadi? Tolong jangan bohongi aku kayak gini, ma!" ucap Ciara.
Nadira kembali terdiam dan menatap wajah suaminya, ia paling tidak tega apabila melihat Ciara sudah merengek seperti itu di depannya.
•
•
Sementara itu, Davin membawa Cyra ke rumah mamanya sesuai permintaan gadis itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling terdiam, sebab Cyra tampaknya masih trauma setelah kejadian yang menimpanya tadi. Berulang kali Davin berusaha untuk mencari tahu semua yang terjadi, tetapi Cyra tak kunjung mau menjawab pertanyaannya.
"Eee Cyra, kita udah sampai nih di rumah mama kamu. Mau saya antar sampai ke dalam atau enggak nih?" ucap Davin menawarkan diri.
"Hah? Gausah pak, saya bisa turun sendiri kok. Lagian ini udah malam banget, gak elok rasanya kalau bapak ada di rumah orang lain semalam ini," ucap Cyra menolak.
"It's okay, tapi saya tetap disini ya sampai kamu masuk ke dalam?" ucap Davin sambil tersenyum.
Cyra mengangguk perlahan disertai senyum tipisnya, lalu dengan cepat ia turun dari mobil itu dan segera melangkah menuju pintu gerbang. Akan tetapi, Davin yang tadi berkata hanya akan menunggu di dalam justru ikut turun menemani Cyra untuk memastikan secara langsung bahwa gadis itu akan baik-baik saja dan tidak ada yang terjadi padanya.
"Pak, makasih banyak ya atas tumpangannya! Saya permisi masuk dulu ke dalam, sekali lagi makasih ya pak!" ucap Cyra lirih.
"Iya Cyra, sampai ketemu lagi besok ya! Saya tunggu kamu di sekolah loh," ucap Davin.
Mendengar kata sekolah disebutkan oleh Davin, rasanya Cyra teringat pada sesuatu yang telah membuatnya merasa bersalah karena kala itu ia membuang surat panggilan dari bu Melia. Kini Cyra mendadak panik, ia khawatir besok bu Melia akan kembali menanyakan mengenai kehadiran sosok orangtuanya yang tak kunjung datang.
"Cyra!!" tiba-tiba saja, sebuah suara teriakan terdengar di telinganya dan membuat gadis itu terkejut bukan main.
Gadis itu menoleh ke asal suara, ia menemukan papanya tengah berjalan mendekatinya dengan senyum di wajahnya. Ia baru tahu kalau sedari tadi Libra ada disana, padahal yang ia tahu diantara Libra dan Ciara sudah bercerai. Tapi entah kenapa, saat ini Libra malah kembali datang ke rumah Ciara lalu berdiri tepat di hadapannya.
"Cyra sayang, kamu kok baru pulang jam segini sih? Ini udah malam banget loh, gak pantas banget gadis muda seperti kamu keluyuran tengah malam di luaran sana," ucap Libra menegurnya.
__ADS_1
"Umm, ma-maaf papa! Aku gak keluyuran kok, aku tadi pergi sama kak Daiva," elak Cyra.
"Sama Daiva? Terus kenapa kamu sekarang malah pulangnya sama dia, sayang? Kemana Daiva, ha?" tanya Libra penasaran.
"Iya pa, tadi aku gak sengaja ketemu om Davin di jalan. Aku diajak pulang bareng sama om Davin, karena aku sempat kesasar. Masalah kak Daiva, aku juga kepisah sama dia sewaktu di tempat konser tadi," jelas Cyra.
"Hah??" Libra terkejut dibuatnya.
Libra terlihat cukup kesal dan langsung mendekap tubuh putrinya, ia mengajak Cyra masuk ke dalam rumah untuk menjauh dari Davin yang masih berada disana. Bagaimanapun, Libra tidak suka apabila ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan antara dirinya dan sang anak.
Cyra menurut saja dengan papanya, ia ikut bersama Libra masuk ke dalam rumah itu meski tampak tidak ada Ciara di sekitar sana. Sejujurnya Cyra bingung mengapa mamanya tidak ada di rumah, namun ia merasa lega karena setidaknya ia tak perlu menghadapi amarah mamanya nanti.
"Sayang, jadi kamu itu tadi pergi nonton konser sama Daiva? Kok gak ada bilang dulu sama papa, hm?" tanya Libra pada putrinya.
"Ya papa sendiri aja gak tahu sekarang tinggal dimana, gimana caranya aku bilang ke papa coba? Lagian papa itu gak perlu sok perduli sama aku, dengan papa bercerai sama mama itu tuh udah bikin aku sakit hati tau!" sentak Cyra.
"Cyra, jangan bahas kemana-mana! Papa ini lagi tanya soal kamu pergi nonton konser, jadi sampai disitu aja dong pembahasannya!" pinta Libra.
Cyra terdiam dan memalingkan wajahnya, sedangkan Libra membawa gadis itu duduk di sofa sambil terus mendekapnya karena tidak ingin Cyra kabur lagi dari sana.
•
•
Mobil yang dikendarai Gavin, kini sampai di lokasi panggung konser tempat Daiva serta Cyra sebelumnya berada. Mereka berniat mencari Cyra di sekitar sana kali ini, karena hingga kini mereka belum juga menemukan Cyra yang entah ada dimana saat ini setelah berpisah dengan Daiva sewaktu konser tadi berlangsung.
"Daiva, benar kan ini tempatnya?" tanya Gavin kepada gadis yang terduduk di belakang itu.
Daiva menganggukkan kepalanya, "Benar opa, aku ingat banget kok disini tempat konsernya. Tuh panggungnya juga masih ada," jawabnya lirih.
"Yaudah, kalo gitu kita cari Cyra sekarang juga! Aku cemas banget sama Cyra, ma!" ucap Ciara.
Nadira setuju dengan ucapan putrinya itu, tanpa berlama-lama lagi mereka pun turun bersamaan dari dalam mobil dan pergi menuju lokasi konser untuk mencari sosok Cyra. Ya sebelumnya Nadira serta Daiva telah menceritakan apa yang terjadi kepada Ciara, sehingga Ciara sangat panik dan ingin segera menemukan putri cantiknya itu.
Akan tetapi, mereka kembali bertemu di lokasi awal tanpa hasil apapun. Ya mereka belum berhasil menemukan Cyra saat ini, karena gadis itu tidak ada di sekitar sana. Ciara semakin panik dibuatnya, ia benar-benar cemas dan terus menggigit jarinya karena Cyra tak kunjung ditemukan.
"Duh ma, gimana ini? Kalau Cyra gak ketemu juga, aku pasti bakal kena marah sama mas Libra dan aku bisa dianggap lalai menjaga Cyra!" ucap Ciara.
"Iya iya sayang, kamu tenang ya! Kita kan lagi cari Cyra, jadi mama yakin kita pasti bisa temuin Cyra kok sebelum Libra tahu semua ini! Kamu gausah panik gitu ya sayang, tenang aja!" ucap Nadira.
Drrrtt drrrtt
Ponsel milik Ciara pun bergetar kali ini, ia sontak mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengecek siapakah orang yang menelponnya itu. Ciara sungguh terkejut, karena ternyata nama Davin lah yang ada di layar ponselnya dan membuatnya amat bingung serta tidak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa sayang? Siapa yang telpon kamu?" tanya Nadira tampak penasaran.
"Eee sebentar ya ma?" pamit Ciara.
Setelahnya, Ciara pergi sedikit menjauh dari mama dan papanya untuk menjawab telpon dari Davin yang entah menginginkan apa itu. Tapi karena Ciara begitu penasaran, akhirnya ia memutuskan menjawab telpon itu agar ia tidak perlu merasa penasaran lagi nantinya.
📞"Halo om Davin! Kenapa om telpon aku? Kalau gak ada yang penting, aku harap om jangan telpon telpon aku lagi!" ucap Ciara dengan tegas.
📞"Hahaha, sabar Ciara! Kamu tenang dulu dong, saya punya informasi penting loh yang harus kamu ketahui! Saya yakin sekali, kamu pasti akan senang mendengarnya!" ucap Davin.
📞"Ck, ada apa sih om? Bilang aja sekarang, gausah bertele-tele deh!" sentak Ciara.
📞"Ya ya ya, kamu pasti lagi cari Cyra kan sekarang? Kamu tahu kalau dia menghilang, benar bukan?" ucap Davin coba menebak.
📞"Iya benar, darimana om tau itu?" tanya Ciara.
📞"Tentu saja saya tau Ciara, karena sekarang Cyra sudah ada bersama saya disini. Kamu mau ketemu dia atau enggak nih?" jawab Davin.
📞"Apa? Lalu dimana Cyra sekarang, om? Kasih tau aku, jangan bertele-tele!" pinta Ciara.
📞"Saya ada di rumah kamu Ciara, cepat kesini karena disini juga sudah ada mantan suami kamu itu! Kamu gak mau kan kalau Cyra diambil sama dia nantinya?" ucap Davin.
__ADS_1
Deg
Ciara terkejut bukan main saat mendengar kabar dari pamannya, ia tak menyangka kalau Cyra sudah berada di rumahnya dan tengah bersama Libra.
•
•
Disisi lain, Tiara berhasil melarikan diri dan menjauh dari bosnya yang terus saja memaksa untuk menikahi dirinya. Padahal, berulang kali ia sudah meminta pada Adrian untuk melupakan dirinya karena ia memang tidak tertarik pada pria yang sudah menikah. Meski sebelumnya, Tiara akui kalau ia sempat merasa jatuh cinta dengan pria itu.
"Tiara, Tiara tunggu Tiara! Saya tidak akan pernah bisa melupakan kamu, saya cinta sama kamu Tiara!" Adrian berteriak di belakang sana, ia masih mencoba mengejar sekretarisnya itu.
Tiara tak mau mendengarkan kata-kata dari Adrian itu, karena bagaimanapun apa yang diinginkan Adrian itu salah dan mereka tidak akan mungkin bisa menikah. Saat ini Adrian sudah memiliki seorang istri, sehingga suatu hal yang mustahil apabila mereka menikah nantinya.
"Tiara, saya rela melakukan apapun demi kamu! Saya juga gak mau kehilangan kamu Tiara!" teriak Adrian semakin keras.
"TIARA, BERHENTI TIARA!" teriaknya kembali.
Akhirnya Tiara sampai di dekat jalan raya, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari taksi yang bisa ia tumpangi di sekitar sana. Akan tetapi karena situasi saat ini sudah semakin larut, ia jarang menemukan taksi yang berkeliaran di depannya dan membuat ia bingung harus bagaimana caranya agar bisa lepas dari kejaran Adrian.
Disaat ia tengah kebingungan, tiba-tiba saja tangannya ditarik dari belakang dan ditahan oleh Adrian yang rupanya sudah berada di dekatnya kali ini. Tiara sontak terkejut, tak ada yang bisa ia lakukan karena Adrian sudah berhasil mencekal lengannya serta tak ingin melepasnya.
"Tiara, saya mohon dengarkan saya! Niat saya serius sama kamu Tiara, ini semua demi kelangsungan kisah cinta kita!" bujuk Adrian.
"Apa maksud anda sih, pak Adrian yang terhormat? Anda itu sekarang sudah bukan pria single lagi, anda sudah memiliki istri yang sangat mencintai anda. Jadi, stop dekati saya!" ucap Tiara tegas.
"Saya bisa ceraikan Salma setelah ini, saya akan lakukan itu Tiara!" ucap Adrian.
Tiara menggeleng dibuatnya, perkataan Adrian sungguh di luar dugaan dan tidak disangka-sangka olehnya. Sepertinya pria itu benar-benar serius ingin berpisah dari istrinya, lalu malah mengejarnya dan memintanya untuk menikah dengannya. Tentu saja Tiara tak mungkin mau melakukan itu, karena ia tidak ingin dianggap sebagai pelakor.
"Cukup pak, saya minta berhenti sekarang juga! Saya gak mau dengar kata-kata itu lagi dari anda, jadi tolong anda jangan berharap untuk bisa menikah dengan saya! Lebih baik anda fokus saja dengan keluarga kecil anda itu!" ucap Tiara menolak.
"Tapi Tiara, saya—"
Dengan cepat Tiara menarik tangannya lepas dari genggaman pria itu, ia berbalik dan berusaha mencari kendaraan yang bisa ia tumpangi disana. Sedangkan Adrian terlihat bersedih, pria itu tampak murung dan terus menunduk menahan air matanya yang hendak keluar.
"Besok surat pengunduran saya akan ada di meja anda, pak Adrian. Sekali lagi saya minta maaf apabila saya punya salah!" ucap Tiara.
Deg
Adrian tersentak dan menggeleng perlahan, ia bergerak maju mendekati Tiara lalu berdiri tepat di hadapan wanita itu dan menatapnya secara tajam tanpa berkedip. Tentu Adrian tidak akan setuju jika Tiara ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya, karena ia merasa hanya Tiara yang pantas untuk menjadi sekretarisnya.
"Jangan Tiara, tolong pikirkan lagi semua itu! Saya masih butuh tenaga kamu dan juga pikiran kamu, karena kinerja kamu selama ini tuh bagus banget Tiara!" ucap Adrian.
"Tidak bisa pak, saya gak bisa terus ada di perusahaan anda. Itu bisa membuat anda akan sulit untuk melupakan saya," ucap Tiara.
"Tetap aja saya gak setuju Tiara, saya gak mau kamu mengundurkan diri. Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah membiarkan kamu keluar dari perusahaan saya!" tegas Adrian.
"Terserah, intinya saya akan tetap memberikan surat pengunduran diri itu," ucap Tiara.
Disaat Tiara hendak pergi menjauh dari Adrian karena merasa kesal dengan sikap pria itu, tanpa diduga sebuah mobil berhenti tepat di dekatnya dan membuat keduanya kompak terkejut. Tiara tampak penasaran kali ini, ia terus menatap ke arah mobil sampai seorang lelaki turun dari sana dan menemuinya disertai senyuman lebar.
"Mas Galen??" lirih Tiara, ya benar yang dilihatnya saat ini adalah Galen alias mantan suaminya.
"Halo Tiara, selamat malam! Halo juga pak Adrian! Gak nyangka ya kita bisa ketemu disini, lagi pada ngapain nih? Tumbenan bos sama sekretaris berduaan kayak gini di luar kantor tanpa ada pekerjaan?" ucap Galen mencibir.
Apa yang dikatakan Galen sungguh menusuk ke jantung, Tiara merasa jika Galen memang sengaja ingin menyindirnya karena saat ini ia sedang berdua bersama lelaki itu disana. Akan tetapi, Tiara tak mau ambil pusing mengingat yang terpenting baginya adalah lepas dari Adrian.
"Mas, kita bicara di jalan aja yuk! Makasih udah jemput aku disini, kebetulan aku harus pulang sekarang!" ucap Tiara tiba-tiba.
Tiara langsung menarik Galen dan mengajaknya ke mobil, seketika Galen merasa bingung karena ia datang kesana sama sekali bukan untuk menjemput wanita itu. Tak hanya Galen, bahkan Adrian juga merasa kaget sekaligus tidak suka ketika melihat Tiara melakukan itu pada pria lain.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1