Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 222. Gara-gara Libra


__ADS_3

Cyra kini masih bersama papanya di rumah dan tengah duduk berdampingan sambil saling berbincang satu sama lain, sepertinya Libra belum bisa mengerti apa yang terjadi dengan putrinya sampai terlihat panik seperti itu. Libra pun terus membelai rambut gadis itu dengan lembut, bahkan sesekali juga mengecup keningnya untuk dapat menenangkan Cyra yang sedari tadi terus merasa takut dan seolah tengah memikirkan sesuatu.


Cyra tanpa sadar membenamkan wajahnya di bahu sang ayah, ia terisak ketika mengingat betul kejadian yang baru saja ia alami di jalan tadi. Sungguh sial nasibnya malam hari ini, niat ingin mencari hiburan dengan menonton konser bersama Daiva justru berakhir tragis. Untungnya kali ini Cyra masih diberi kesempatan untuk bisa bebas dari penculikan sadis itu, jika tidak maka pasti ia tidak mungkin bisa lagi memeluk papanya itu saat ini.


"Hiks hiks..." isakan tangis yang keluar dari mulut Cyra, membuat Libra semakin penasaran dan tampak tak mengerti.


Perlahan Libra menarik wajah Cyra dan menangkupnya dengan erat, ia tatap secara intens wajah gadis itu sambil mengusap air mata yang keluar disana. Cyra sendiri hanya diam memandangi dua bola mata papanya, gadis itu belum sanggup untuk bercerita tentang apa yang tadi ia alami kepada papanya.


"Kamu itu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu sih? Cerita aja sama papa, jangan sungkan!" ucap Libra.


Cyra menggeleng perlahan, "Aku gapapa, pa. Aku masih sedih aja karena papa dan mama udah pisah sekarang, jadinya kebersamaan seperti ini gak akan bisa berlangsung lama lagi," ucapnya berbohong.


"Jangan bohong Cyra! Papa tahu ada masalah lain yang kamu sembunyikan dari papa, iya kan? Ayo kamu jujur sayang!" ucap Libra dengan tegas.


"Tapi pa, papa janji dulu sama aku! Papa bilang kalau papa gak akan marah sama mama nanti setelah aku cerita semuanya, kalau papa langgar aku bakal benci sama papa!" ucap Cyra.


"I-i-iya deh sayang, okay papa janji sama kamu. Sekarang kamu cerita ya!" ucap Libra.


Akhirnya Cyra tak memiliki pilihan lain, ia terpaksa menceritakan semua yang ia alami tadi kepada papanya kali ini. Lagipula, tak ada salahnya apabila ia menceritakan itu karena papanya juga sudah berjanji tidak akan memarahi Ciara setelah mengetahui cerita darinya. Meski ia masih ragu, tetapi ia tak ingin mengecewakan papanya.


"Eee aku itu...." Cyra masih tampak bingung saat ini.


Libra terus mencecar gadis itu dan tak henti menatapnya, ia merasa yakin kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan Cyra darinya. Kini Libra pun berharap Cyra mau menceritakan semua padanya, karena jujur ia penasaran dan ingin sekali mengetahui masalah apa yang menimpa putrinya.


"Aku tadi nyaris diculik sama orang-orang aneh, pa. Mereka bilang mau jual aku, terus katanya juga mau perkosa aku," jelas Cyra.


"Hah? Ya ampun sayang, kok bisa sih kamu hampir diculik kayak gitu? Ini semua pasti gara-gara mama kamu gak becus buat jaga kamu, biar papa kasih pelajaran mama kamu itu!" geram Libra.


"Papa ih, tadi papa udah janji loh sama aku buat gak marah-marah sama mama!" kesal Cyra.


"Ah i-i-iya sayang, iya papa minta maaf. Papa kebawa emosi tadi, karena papa gak nyangka kamu hampir diculik kayak gitu," ucap Libra.


"Hiks hiks..." Cyra malah kembali menangis kali ini.


Libra pun semakin mengeratkan pelukannya, ia tak mau putrinya itu terus menangis karena ia sangat tidak bisa melihat orang yang ia sayangi meneteskan air mata seperti itu.




Sementara itu, Ciara dan yang lainnya tiba di depan rumah untuk bertemu dengan Cyra di dalam sana. Ya sesuai perkataan Davin di telpon sebelumnya, maka dapat dipastikan bahwa Cyra sudah aman berada di rumah Ciara saat ini. Tapi untuk lebih memastikan dengan jelas, maka Ciara mengajak mama serta papanya pergi kesana bersama-sama.


Sesampainya disana, benar saja mereka langsung disambut oleh Davin yang masih setia menunggu di dekat gerbang sambil tersenyum. Ciara menggeleng dibuatnya, dengan cepat ia menghampiri lelaki itu untuk meminta penjelasan padanya terkait apa yang menimpa Cyra malam hari ini.


"Om Davin, dimana Cyra sekarang om? Katanya Cyra ada disini, tapi mana dia?" tanya Ciara tampak sangat panik.


Davin menyeringai, "Kamu gak perlu takut gitu Ciara, sekarang Cyra udah ada di dalam kok. Dia lagi sama papanya, mungkin aja dia juga udah didoktrin sama Libra supaya lebih mau ikut sama dia dibanding kamu," ucapnya sengaja memancing Ciara.


"Maksud om apa? Mas Libra gak mungkin begitu, dia pasti cuma ngobrol biasa sama Cyra. Om jangan bikin berita yang enggak-enggak ya, mending om pergi deh dari sini!" ucap Ciara.


"Hahaha, itu sih terserah kamu Ciara. Silahkan aja kamu masuk ke dalam!" ucap Davin.


Ciara terlihat bingung kali ini, ia khawatir apa yang dikatakan pamannya tadi benar dan Libra memang sedang mempengaruhi Cyra di dalam sana. Dengan segera Ciara berusaha masuk ke dalam rumahnya, ia ingin memastikan sendiri apakah perkataan Davin benar atau tidak. Lagipula, ia juga tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya yang ia cemaskan.


Sementara Nadira serta Gavin kini menatap wajah Davin yang masih berdiam diri disana, mereka terlihat kesal karena Davin masih saja mengganggu kehidupan Ciara. Terutama Gavin, ya pria itu amat kesal dan meminta adiknya itu untuk segera pergi dari sana serta menjauhi Ciara.


"Davin, kamu ngapain masih disini? Kamu gak dengar kata-kata Ciara tadi? Pergi dari sini, dan jangan pernah kamu dekati anak saya lagi!" ucap Gavin dengan tegas.

__ADS_1


"Apa sih Gav? Lo itu masih aja gak berubah ya dari dulu? Emang gue salah apa coba sama Ciara, ha? Gue itu cinta sama dia, tapi kalian semua ini malah selalu aja menghalangi cinta gue ke Ciara dan bikin gue gak bisa bersatu sama dia!" geram Davin.


"Diam kamu Vin! Kalau kamu cinta sama Ciara, kenapa waktu itu kamu sebarkan video-video dia ke media sosial?" sentak Gavin.


Deg


Davin terdiam tak berkutik, akhirnya kini Gavin yang sudah terlanjur emosi langsung menarik lengan sang adik dan membawanya pergi menjauh dari rumah Ciara. Gavin tidak ingin apabila Davin terus berada disana, ya karena Davin sudah berulang kali menyakiti hati putrinya itu. Bagaimanapun, Gavin tak rela jika Ciara disakiti oleh siapapun termasuk Davin sang adik sendiri.


"Gav, apaan sih? Lepasin gue, lu gak bisa atur-atur gue kayak gini lagi! Dan satu yang harus lu tau, gue itu cinta mati sama Ciara dan gue gak akan bisa jauh dari dia!" ucap Davin dengan lantang.


"Aku gak perduli sama kata-kata kamu itu, Vin. Aku tahu semua itu cuma omong kosong, karena nyatanya kamu gak cinta sama Ciara!" ucap Gavin.


"Lo salah Gav, gue beneran cinta sama Ciara! Dari dulu sampai sekarang pun masih terus begitu, tapi larangan lu yang bikin gue bertindak jahat ke Ciara. Gue terpaksa sebarin video dia, supaya gue bisa milikin dia seutuhnya Gav!" ucap Davin.


Gavin menggeleng dibuatnya, ia tak mau terpengaruh lagi oleh kata-kata adiknya itu. Apalagi, Gavin tahu betul kalau apa yang dirasakan oleh Davin pada Ciara bukanlah sebuah cinta, melainkan obsesi. Gavin tentu tak akan membiarkan Davin mendekati Ciara, karena pasti itu akan membuat Ciara merasa tersakiti nantinya.




"Cyra!!"


Kini Ciara telah masuk ke dalam rumahnya, ia spontan memanggil putrinya itu yang sedang berpelukan dengan Libra di depan sana. Ciara sungguh penasaran, pasalnya saat ini ia melihat jelas bahwa Cyra tengah menangis di dalam pelukan ayahnya itu. Ciara benar-benar bingung, mengapa bisa gadis itu bersedih seperti itu.


"Mama??" Cyra yang mendengar suara memanggil namanya itu langsung menoleh dan melepaskan pelukan papanya.


"Cyra sayang, kamu kemana aja nak? Kamu gapapa kan?" dengan cepat Ciara mendekat dan langsung memeluk erat putrinya karena merasa cemas pada kondisi gadis itu.


"Eee mama gak perlu panik begitu, aku baik-baik aja kok. Ini buktinya aku bisa ada disini dalam keadaan sehat kan," ucap Cyra sambil tersenyum.


Cyra menggelengkan wajahnya dan mengelak dari tuduhan mamanya itu, ia tak mau membuat mamanya ikut bersedih jika ia berkata yang sejujurnya terkait peristiwa yang tadi menimpanya. Apalagi, pasti Ciara sekarang juga sedang panik setelah mendapat info bahwa dirinya telah hilang.


"Aku gapapa ma, aku nangis karena senang aja bisa ketemu papa lagi. Kan semenjak mama sama papa cerai, aku itu udah gak bisa peluk papa terus kayak tadi," ucap Cyra berbohong.


Deg


Seketika Ciara menatap wajah Libra dan terkejut dengan perkataan putrinya, ia kini merasa bersalah karena sudah memisahkan Cyra dengan ayahnya. Akan tetapi, Ciara juga tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ini dirinya dan Libra telah resmi berpisah dan tak ada hubungan apapun diantara mereka.


"Maafin mama ya sayang, bukan maksud mama untuk menjauhkan kamu dari papa kamu! Mama ngelakuin semua ini, karena mama gak kuat dengan kelakuan papa kamu itu," ucap Ciara bersedih.


"Enggak kok ma, mama gak salah. Aku ngerti kok semuanya," ucap Cyra dengan lembut.


Ciara pun tersenyum kali ini, "Syukurlah, mama senang kalau kamu udah bisa mengerti semua ini sayang! Mama juga janji sama kamu, mama gak akan membatasi kamu kok! Kalau kamu mau ketemu sama papa kamu, silahkan aja!" ucapnya.


"Iya ma, makasih." Cyra ikut tersenyum dibuatnya.


Libra yang sedari tadi hanya diam kini mulai bergerak mendekat ke arah Ciara serta Cyra di depan sana, ia pun tidak ingin jika Cyra terpengaruh oleh ucapan Ciara nantinya. Libra juga tak mau Cyra akan membencinya, apalagi ia amat menyayangi gadis itu yang merupakan putri kesayangannya.


"Hey Ciara, kamu jangan coba-coba bikin Cyra membenci saya ya!" ucap Libra dengan tegas.


Ciara reflek menoleh ke arahnya, "Kamu bicara apa sih, mas? Aku gak ada ya bikin Cyra benci sama kamu, justru aku yang khawatir kalau sedari tadi kamu ngelakuin itu ke Cyra!" ucapnya.


"Oh aku mah gak mungkin begitu Ciara, aku gak akan ngelakuin itu," elak Libra.


"Yaudah bagus, sekarang kenapa kamu masih disini mas? Ingat ya, kita udah berpisah dan gak pantas kamu ada di rumah aku!" ucap Ciara.


Libra terdiam sesaat sembari memandangi wajah mantan istrinya itu, ia bingung harus apa karena sejujurnya ia masih ingin berada disana untuk bertemu dengan Cyra yang ia rindukan. Begitu pula dengan Cyra, tampak gadis itu tak setuju dengan ucapan mamanya yang mengusir Libra dari sana.

__ADS_1


"Ma, biarin papa tetap disini ya malam ini? Aku masih mau sama papa, aku kangen banget sama papa!" pinta Cyra.


"Cyra, tapi papa kamu ini—"


"Iya aku tau ma, nanti papa tidurnya di kamar aku aja. Jadi, mama gak perlu takut kalau mama bakal satu kamar sama papa. Gapapa kan ma?" ucap Cyra menyela.


"Enggak, gak boleh sayang. Papa kamu tetap harus pergi dari sini, kalau kamu mau ketemu papa kamu kan masih ada waktu besok!" tegas Ciara.


Cyra merengut seketika, dengan cepat ia melepaskan diri dari mamanya dan berlari menuju kamar sambil menangis terisak. Ia merasa kecewa pada mamanya, karena ia dilarang untuk bersama papanya malam ini. Padahal, Cyra masih ingin memeluk papanya itu dan memiliki banyak waktu dengan sang papa.


"Cyra, Cyra tunggu sayang!" Ciara tampak panik, ia pun bergerak mengejar putrinya itu dan meninggalkan Libra disana.




Braakkk


"Hiks hiks hiks...." Cyra membanting pintu dengan keras dan terduduk bersandar di balik pintu sambil menangis dengan deras.


Gadis itu benar-benar sedih, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Niatnya untuk memiliki waktu lebih lama bersama ayahnya harus pupus kali ini, karena mamanya tidak mengizinkan papanya untuk tetap tinggal disana.


"Kenapa mama tega banget sih sama aku? Aku kan masih mau sama papa, aku kangen tau sama papa. Tapi, mama malah usir papa dari sini. Mama jahat!" ucapnya disertai isak tangis.


TOK TOK TOK....


Tiba-tiba saja, Ciara mengetuk pintu kamar itu dari luar dan memanggil-manggil putrinya. Ia berharap Cyra mau segera membuka pintu dan keluar menemuinya kali ini, karena bagaimanapun Ciara tidak akan bisa diam begitu saja ketika Cyra marah padanya.


"Cyra, ayo keluar sayang! Buka pintunya nak, mama mau bicara sama kamu! Biarin mama jelasin semua ke kamu, please sayang buka pintunya!" ucap Ciara.


"GAK MAU!!" sentak Cyra yang sangat emosi.


"Mama mending pergi aja deh, jangan ganggu aku! Aku males sama mama!" sambungnya.


Deg


Ciara terkejut bukan main, ia sungguh tak menyangka kalau Cyra sampai semarah itu padanya dan bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Namun ia tidak menyerah sampai disitu, sebab ia terus meminta Cyra untuk keluar menemuinya dan mengatakan kalau ia ingin berbicara dengan gadis itu saat ini. Akan tetapi, usahanya gagal karena Cyra tetap kekeuh pada keputusannya.


"Ciara!" tapi kemudian, Libra justru muncul dan menyusul kesana untuk menemuinya.


Bahkan, kini Libra memegang tangan Ciara dan mencengkeramnya kuat serta menarik tubuh wanita itu menjauh dari depan kamar Cyra. Sontak Ciara berontak dari pegangan pria itu, namun sepertinya Libra begitu kuat mencengkram karena Ciara seolah tidak bisa melepaskan diri.


"Kamu apaan sih, mas? Lepasin aku, aku mau ngobrol sama Cyra!" sentak Ciara.


"Sssttt, iya tenang dulu Ciara! A-aku tau kamu pasti panik banget sekarang, tapi biarin aja Cyra tenangin dirinya dulu! Kalau kamu maksa, nanti bisa-bisa Cyra makin emosi loh," ucap Libra.


"Tapi mas, aku tuh gak mau Cyra benci sama aku. Ini semua gara-gara kamu, kenapa sih kamu gak pergi aja dari sini mas?" geram Ciara.


"Ciara, aku—"


"Lepas!" akhirnya Ciara berhasil melepaskan diri, ia melangkah pergi dan meninggalkan Libra begitu saja dengan perasaan kesal.


Libra pun menghela nafasnya, lalu menyusul Ciara yang pergi menuruni tangga karena ia tidak ingin wanita itu merasa sedih setelah Cyra amat kesal tadi. Libra tahu ini semua adalah kesalahannya, untuk itu ia harus berusaha membujuk Ciara agar mantan istrinya itu bisa lebih tenang kali ini.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2