Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 161. Masalah besar


__ADS_3

Tiara terbangun dari tidurnya dan merasakan sesuatu yang aneh pada bagian tubuhnya saat ini, ia merasa jika tubuhnya serasa remuk seolah habis menaiki gunung. Tiara pun terkejut saat melihat kondisi tubuhnya yang tak berpakaian, ia terbaring di ranjang dalam keadaan polos dan hanya tertutupi oleh selimut tebal. Seketika ingatannya mengarah pada kejadian semalam, ya Tiara ingat betul bahwa malam tadi ia bermain gila dengan bosnya disana.


Wanita itu pun tampak sangat menyesali apa yang telah ia lakukan, bisa-bisanya ia terpancing dan malah menggoda Adrian untuk melakukan itu. Namun, Tiara sendiri juga masih heran mengapa semalam tubuhnya terasa begitu panas. Kini Tiara benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia khawatir kalau Adrian akan memecatnya karena dianggap kurang ajar setelah sikapnya yang terus menggoda lelaki itu semalam.


Rasanya Tiara begitu malu saat ini, ia tak menyangka dirinya akan melakukan itu bersama sang bos dan ia amat menikmatinya. Tiara akui kalau memang permainan mereka semalam cukup mengenakkan, apalagi Tiara telah lama tidak berbuat itu setelah cerai dengan Galen. Akan tetapi, tak mungkin Tiara merasa senang setelah ia bermain dengan Adrian yang nyatanya sudah memiliki calon istri bernama Salma.


"Hiks hiks, bodoh banget sih kamu Tiara! Kenapa coba kamu gak bisa tahan diri kamu semalam? Sekarang kalau udah gini, aku harus apa coba?" gumam Tiara merasa bersalah.


Tak pernah terpikirkan di dalam diri Tiara bahwa ia akan melakukan semua itu bersama bosnya, padahal selama ini ia sudah berusaha keras untuk menjaga jarak dengan sang bos agar kekasihnya tidak cemburu. Namun, semalam mereka justru sudah berbuat hal yang di luar nalar dan tanpa keinginan dari wanita itu sendiri.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Tiara yang tengah menangis dibuat terkejut dan spontan melirik ke arah pintu sembari menyeka air matanya. Disana lah Adrian muncul, pria itu terlihat senang ketika Tiara sudah sadarkan diri. Tanpa banyak berpikir lagi, Adrian segera menghampiri Tiara dan duduk di pinggir ranjang dekat wanita itu berada.


"Tiara, syukurlah kamu sudah sadar! Ayo kita harus pergi sebentar lagi untuk mengecek lokasi proyek, saya tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di proyek itu!" ucap Adrian dengan santainya.


"Ma-maaf pak, sa-saya akan siap-siap sekarang!" ucap Tiara dengan gugup.


"Oh ya Tiara, kamu tidak usah memikirkan soal kejadian semalam! Anggap saja itu tidak pernah terjadi, bisa kan?" ucap Adrian.


"I-i-iya pak, saya juga mau minta maaf soal itu! Harusnya saya gak begitu semalam," ucap Tiara.


Adrian mengangguk memahami apa yang dikatakan sekretarisnya itu, meski sebenarnya ia lah dalang dari semua yang terjadi semalam. Ya hingga kini Tiara memang belum mengetahui, bahwa Adrian telah mencampurkan obat panas di makanannya. Tiara pun merasa sangat bersalah, karena yang dia tahu dialah yang menggoda pria itu.


"Kalo gitu kamu bisa siap-siap sekarang, nanti abis itu kita sarapan sama-sama di bawah!" ucap Adrian.


"Baik pak!" ucap Tiara patuh.


Setelahnya, dengan cepat Tiara beranjak dari ranjang sembari memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya dari Adrian. Tentu saja Tiara tak ingin bila Adrian melihat tubuh polosnya, ya walau semalam mereka bahkan sudah saling memuaskan satu sama lain sampai Tiara merasa lemas dan harus tertidur lebih dulu.


"Kamu cantik sekali Tiara, tubuh seksi kamu itu bikin saya kecanduan! Rasanya saya ingin mengulang lagi hal semalam," batin Adrian.




Disisi lain, Libra telah membawa istri serta anaknya kembali ke rumahnya karena saat ini kondisi sudah aman dan dapat dipastikan tidak akan ada lagi penyerangan seperti sebelumnya. Libra sendiri menjamin bahwa ia akan selalu menjaga istri dan anaknya itu, bahkan ia rela mengorbankan diri demi sang buah hati tercinta yang sangat ia sayangi.


Sesampainya di halaman depan, Ciara yang baru turun dari mobil tiba-tiba merasa ingin menikmati sesuatu hari ini. Sontak Ciara pun berhenti melangkah dan membuat Libra kebingungan, karena heran tentu saja Libra mendekati istrinya itu. Tak biasanya memang Ciara berhenti seperti itu, apalagi tadi Ciara mengatakan ingin segera beristirahat.


"Sayang, kamu kenapa malah berhenti? Ayo ah masuk, kasihan tuh Cyra kepanasan nanti kalau kelamaan disini!" ucap Libra.


"Ini loh mas, tiba-tiba aja aku kepengen makan cireng deh. Kamu mau gak beliin cireng buat aku, mas? Soalnya aku kepikiran terus nih, kayaknya enak deh makan cireng siang-siang gini," ucap Ciara.


"Hah? Duh sayang, ada-ada aja sih kamu! Kamu itu kan udah gak hamil loh, emang masih bisa ngidam ya?" ucap Libra terheran-heran.

__ADS_1


"Ih bukan ngidam mas, kan aku cuma kepengen. Emang salah ya kalau aku minta dibeliin cireng sama suami aku yang tampan dan gagah ini?" ucap Ciara coba menggoda suaminya.


"Hm, kebiasaan kalau ada maunya aja muji-muji!" cibir Libra yang kemudian ditertawakan oleh Ciara.


Mau tidak mau, kini Libra terpaksa pergi kembali dari sana untuk membeli cireng supaya istrinya tidak kesal dan kecewa. Libra juga tidak bisa menolak kemauan istrinya, karena ia sangat menyayangi sang istri yang cantik itu. Namun, Libra meminta Ciara untuk menunggu saja disana dan tidak usah ikut bersamanya membeli cireng di luar.


"Yaudah, aku beliin nih cireng nya. Tapi, kamu gausah ikut ya? Kamu sama Cyra nunggu disini aja, takutnya nanti kalian malah kecapekan lagi kalo ikut sama aku!" ucap Libra.


Ciara tampak merengut, "Yah mas, aku ikut ya? Cyra aja yang ditinggal disini sama Lina, soalnya aku pengen sama kamu terus!" ucapnya merengek.


Libra geleng-geleng kepala dibuatnya, ucapan Ciara sungguh membuatnya tersipu dan tidak tahan ingin memeluk istrinya itu. Tanpa berpikir panjang, Libra langsung saja mendekap erat tubuh Ciara disana sambil menciumi lehernya. Ciara pun tampak tersenyum dan tidak menghindar dari serangan sang suami yang malah membuatnya senang itu.


"Iya deh iya, aku tahu kok kamu sayang banget sama aku sampe gak bisa pisah begitu. Tapi, kamu yakin mau ninggalin Cyra gitu aja?" ucap Libra.


"Umm, enggak sih mas. Kalo gitu kita ajak aja ya Cyra sekalian? Kalau bisa, nanti kita mampir dulu ke taman atau tempat seru lainnya!" ucap Ciara.


"Apa??" Libra tercengang mendengarnya.


"Kamu kenapa kaget gitu mas? Gak mau ya ajak aku sama Cyra jalan-jalan?" tanya Ciara dengan wajah cemberut dan tampak tidak senang.


"Eh eh, bukan begitu sayangku. Kamu mah salah sangka mulu jadi orang, tadi tuh aku kaget aja karena kamu malah ngajakin liburan. Tapi, ya aku setuju sih kalau kamu maunya begitu," jelas Libra.


"Nah gitu dong, yaudah ayo mas kita masuk ke mobil lagi! Ini barang-barangnya ditinggal disini aja, nanti biar diangkut orang!" ucap Ciara.


"I-i-iya sayang..."




Singkat cerita, Ciara tiba di sebuah taman bersama suaminya untuk menikmati hari yang cerah itu dan juga waktu kebersamaan mereka. Ciara memang senang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga tercintanya, terutama dengan Libra serta Cyra yang merupakan putrinya. Ya Ciara amat menyukai momen itu, tak ada yang lebih membuat dirinya bahagia selain pergi bersama keluarga.


Libra sendiri tidak keberatan mengikuti kemauan istrinya saat ini, karena hanya sekedar jalan bersama putri mereka. Lagipula, sudah lama juga mereka tidak pergi berdua dan Libra tahu kalau Ciara merindukan momen itu. Ia berpikir bahwa semua ini lebih baik, daripada ia harus menerima ocehan dari Ciara nantinya sepanjang hari jikalau ia tidak mau menuruti permintaan istri tercintanya itu.


Pasangan suami-istri itu pun terduduk di kursi taman yang tersedia, suasana disana cukup ramai dan berhasil membuat Ciara begitu bahagia. Ia senang karena ada banyak keluarga lainnya juga disana, terutama anak kecil yang bisa diajak main. Rasanya ia tak sabar menunggu Cyra tumbuh besar, supaya ia bisa mengajak main putrinya itu dan tidak perlu mencari anak orang lain tentunya.


"Mas, lucu-lucu ya anak orang disini? Kalau Cyra udah besar nanti, aku yakin deh dia juga bakal lucu kayak mereka!" ucap Ciara.


"Oh jelas sayang, sekarang aja Cyra ini udah paling imut loh. Dia juga cantik dan manis sama kayak mamanya, apalagi nanti pas besar pasti jadi incaran banyak lelaki deh seperti kamu!" goda Libra.


Ciara yang mendapat rayuan dari suaminya tampak malu-malu dan memalingkan wajahnya, ia paling tidak tahan ketika Libra terus saja menggodanya. Kedua pipinya pun memerah akibat dari perkataan Libra barusan, ia tidak bisa lagi menyembunyikan wajah malunya itu dari sang suami. Sedangkan Libra hanya tersenyum sembari mencubit gemas pipi istrinya, berulang kali Libra terus melakukan hal itu.


"Itu cireng nya kenapa gak dimakan sayang? Tadi katanya kepengen, giliran udah dibeliin malah didiemin aja. Kamu tuh sebenarnya mau cireng apa cuma mau jalan-jalan sih?" tanya Libra keheranan.


"Ahaha, kamu mah ambekan mas! Ini juga mau aku makan kok, makanya bukain dong!" jawab Ciara.

__ADS_1


Libra memutar bola matanya, lalu ia membantu Ciara membuka bungkus cireng tersebut dan juga bumbu yang ada disana. Dimakan lah satu buah cireng tersebut tanpa meminta persetujuan dari Ciara, sontak Ciara yang melihat itu tampak merengut kesal dan langsung memukul lengan sang suami karena perbuatan kurang ajarnya.


"Ish, kok malah kamu yang makan duluan? Ini kan buat aku mas, jahat kamu ah dasar!" ucap Ciara memarahi suaminya.


"Cuma satu kok sayang, sisanya masih banyak loh ini. Kamu galak banget sih!" kekeh Libra.


"Biarin, abisnya kamu itu tangannya gratil banget sih! Cireng buat istrinya malah dimakan juga, awas loh nanti aku ngambek!" ucap Ciara kesal.


"Hahaha, maaf sayang maaf! Aku gak makan lagi deh, tuh sisanya buat kamu!" ucap Libra.


Ciara masih saja merengut saat ini, ia mengambil bungkus cireng itu dan memeluknya agar Libra tidak bisa mencurinya lagi. Tak lupa Ciara juga memberikan Cyra sejenak kepada Libra, karena ia sedang ingin memakan cireng.




Tiara akhirnya pulang ke rumah sesudah selesai menjalani aktivitasnya bersama Adrian untuk mengecek dan mengelola proyek perusahaan di luar kota, wanita itu masih tampak begitu lesu karena teringat pada kejadian semalam. Tiara benar-benar tak menyangka semua ini akan terjadi padanya, ia khawatir ini adalah awal mula dari sebuah masalah besar yang akan menimpa hidupnya nanti.


Tiara pun turun dari mobilnya dengan membawa tas yang berisi barang-barang miliknya itu, ia melangkah memasuki rumah dan mengucap salam. Tampak Nadira tengah terduduk disana sambil memberi makanan pada Askha, tentu saja Tiara langsung sumringah dan menghampiri mereka. Ya sudah sejak lama Tiara merindukan putranya, apalagi ia juga sedang dihadapkan dengan masalah besar.


"Ututu sayangnya bunda, apa kabar kamu sayang? Gak bandel kan waktu bunda keluar kota? Gak nyusahin oma kan?" ucap Tiara yang langsung menggendong putranya itu.


"Enggak kok Tiara, mama malah senang rawat anak kamu ini. Dia itu penurut terus gampang diurusin juga, mama suka deh!" ucap Nadira.


"Wah syukurlah! Aku ikut senang ma dengarnya kalo gitu, tadinya aku kira Askha ini nyusahin mama atau bikin repot mama. Makasih ya ma, karena mama udah mau bantu aku!" ucap Tiara.


"Sama-sama sayang, lagian kamu begini juga kan karena ulah Galen. Makanya mama mau tebus kesalahan dia dengan bantu kamu," ucap Nadira.


"Eee...."


Seketika Tiara terdiam dan mengingat kembali momen dirinya dengan Galen alias mantan suaminya dulu, ia begitu marah ketika Galen ketahuan berselingkuh dengan wanita lain dan sampai tidur bersama. Namun, kini Tiara lah yang malah menjadi selingkuhan lelaki dan ia khawatir semua itu akan bermasalah besar.


"Maaf ya, bukan maksud mama untuk bikin kamu keinget lagi sama momen itu! Yaudah, kamu mending bersih-bersih dulu di kamar sana! Biar Askha mama yang lanjutin," ucap Nadira.


"Gapapa kok ma, aku lagi kangen sama Askha dan pengen main sama dia. Mama aja yang istirahat, kan mama udah lama banget pasti ngurusin Askha. Aku gak mau kalau mama kecapekan, apalagi kerjaan mama kan banyak," ucap Tiara tersenyum.


"Ya mama sih sebenarnya gak capek atau keberatan ya, tapi kalau kamu emang pengennya begitu yaudah mama gak bisa nolak," ucap Nadira.


"Iya ma." Tiara mengangguk perlahan.


Tanpa menunggu lama lagi, Tiara segera membawa Askha pergi dari sana menuju ke luar rumah agar mereka lebih leluasa bermain bersama. Tiara amat merindukan putranya itu, ia juga ingin menenangkan diri setelah apa yang terjadi semalam. Rasanya Tiara begitu menyesal telah melakukan hal itu bersama Adrian, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Tiara pun khawatir dirinya akan hamil dan mengandung anak dari Adrian, ia tidak mau itu terjadi karena pastinya akan menjadi masalah yang sangat besar. Jika ia hamil, maka Adrian harus bertanggung jawab dan menikahinya. Namun, semua itu tak mungkin terjadi mengingat Adrian sudah memiliki Salma yang merupakan calon istrinya dan mereka akan segera menikah.


"Maafin mama ya sayang, gara-gara mama sibuk sama kerjaan jadinya kamu jarang deh ketemu sama mama!" ucap Tiara pada putranya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2