
Tiara tengah menggendong putranya yang berusia dua tahun lebih beberapa bulan itu di depan rumahnya. Ia tak sendiri, karena tampak di sebelahnya juga ada sosok Galen yang sudah rapih dan bersiap pergi bekerja. Tentu saja Galen bergegas menghampiri istri serta anaknya, ia colek dengan lembut pipi Tiara maupun putranya yang ada dalam gendongan wanita itu.
"Sayang, aku mau berangkat kerja dulu ya? Kamu sama Askha disini aja ya, jangan kemana-mana tanpa seizin aku loh!" ucap Galen mengingatkan.
Tiara tersenyum mendengarnya, "Iya mas, santai aja kali. Lagian biasanya juga aku diam di rumah kok sama Askha, mana berani aku pergi tanpa izin dari kamu sayang," ucapnya.
"Bagus deh, aku percaya sama kamu. Kalo gitu aku berangkat dulu ya?" ucap Galen.
Tiara menganggukkan kepalanya, lalu Galen kini beralih pamit pada putranya yang masih kecil dan mungil itu. Tak lupa Galen mencium pipinya karena gemas, ya tentu ia sangat bangga karena memiliki seorang anak yang tampan seperti Askha. Ia berharap nantinya sang putra akan bisa tumbuh menjadi lelaki yang hebat dan kuat, tentunya seperti mendiang ayahnya dahulu.
Setelah puas berpamitan, akhirnya Galen pergi dari rumah itu bersama supirnya. Sedangkan Tiara serta Askha masih tetap berada disana, tampak juga Tiara menurunkan tubuh Askha dan menaruhnya di atas roda yang disediakan. Wanita itu pun merendahkan posisi tubuhnya, menatap serta mengajak bicara Askha yang masih belum bisa berbicara itu.
Saat ia sedang asyik berbincang-bincang dengan sang putra, tanpa diduga sebuah mobil muncul di depan pagar rumahnya. Sontak Tiara terkejut, apalagi ketika melihat seorang lelaki turun dari mobil tersebut sambil melepas kacamatanya. Tiara amat mengenalinya, pria itu merupakan Nico alias sang mantan yang telah lama menghilang. Tiara tak mengerti, apa sebenarnya niat Nico datang kembali kesana dan darimana pria itu tahu rumahnya.
Tiara tampak berdiam di tempatnya, menatap ke arah Nico yang sedang berdiskusi dengan satpam di rumah itu. Karena penasaran, akhirnya Tiara kembali bangkit dan berdiri tegak. Ia berniat menghampiri lelaki itu disana, sebelum terjadi keributan yang malah akan membuatnya pusing. Kebetulan juga suster Askha alias orang yang membantunya mengurus anak itu muncul, sehingga Tiara bisa pergi menemui Nico disana tanpa khawatir.
"Berhenti Nico!" suara teriakan dari mulut Tiara itu membuat Nico yang sedang tersulut, kini mulai mereda dan beralih dengan senyuman begitu melihat Tiara muncul.
Keduanya pun saling bertatapan, apalagi Tiara telah berada tepat di hadapan lelaki itu. Nico kini beralih memandang wanita yang masih sangat ia cintai itu, ia juga melangkah mendekatinya dan tak perduli pada sang satpam yang terus saja menghalanginya. Tiara mencegah satpamnya yang hendak memukul Nico, ia malah meminta satpam itu membuka pagar dan melangkah keluar mendekati pria itu.
"Ada apa sih Nico? Kenapa kamu datang ke rumah aku sekarang? Gak puas kamu udah pernah ganggu rumah tangga aku, ha?" tanya Tiara tegas.
Lelaki itu tersenyum lebar mendengar pertanyaan yang dilontarkan Tiara, ia menggelengkan kepala dan juga mengusap wajahnya sembari berjalan terus mendekati wanita itu. Bahkan Nico sampai berniat meraih tangan Tiara, hanya saja Tiara lebih dulu menarik tangannya sehingga Nico tidak bisa menyentuh ataupun menggenggamnya.
"Hahaha, emangnya aku ganggu rumah tangga kamu ya sayang? Maaf deh kalo gitu, aku gak ada niatan kok buat ganggu kamu! Oh ya, suami kamu tadi udah pergi ya? Berarti sekarang di rumah gak ada siapa-siapa dong?" ucap Nico.
"Terus kenapa kalau suami aku lagi pergi, kamu mau ngapain emang?" ujar Tiara.
"Gak ada, aku cuma pengen ajak kamu pergi berdua sama aku. Mumpung gak ada suami kamu, jadi kamu mau kan sayang?" ucap Nico.
"Jangan gila kamu Nico! Aku ini sudah bersuami, harusnya kamu gak boleh terus-terusan deketin aku kayak gini!" sentak Tiara.
"Kenapa gak boleh? Aku cuma mau berteman sama kamu Tiara," ucap Nico.
Tiara menggeleng dengan wajah terheran-heran mendengar ucapan Nico barusan, tentu saja karena ia tak menyangka Nico akan mengatakan itu. Siapa perempuan yang mau berteman dengan mantan di masa lalunya itu, terlebih kondisinya saat ini ia sudah menikah dengan lelaki lain. Lagipula, Tiara harus bisa menjaga hati suaminya itu.
"Nico, cukup ya! Aku mohon kamu pergi sekarang juga secara baik-baik, kalau enggak aku bakal minta satpam aku buat usir kamu dari sini!" sentak Tiara.
Nico justru tersenyum, pria itu tak bisa pergi atau sekedar memalingkan wajahnya dari Tiara. Entah apa yang merasukinya, Nico seperti sangat sulit melupakan sosok Tiara dari hidupnya. Tiara itu sudah seperti separuh nyawa baginya, dan Nico akan terus berusaha mendapatkan Tiara kembali meski itu adalah suatu hal yang mustahil.
•
•
Sementara itu, Nindi terlihat datang menghampiri Rifka yang tengah bermain bersama Daiva alias putri dari wanita itu. Ya Nindi tampak mengukir senyum di pipinya begitu melihat putrinya yang amat ceria saat bermain dengan Rifka disana, seketika rasa sedih di dalam hatinya hilang dan berganti dengan bahagia karena melihat sang putri yang juga bahagia.
__ADS_1
Rifka pun tampak terkejut dengan kehadiran Nindi, pasalnya tadi wanita itu tidak ada disana dan saat ini dia malah tiba-tiba berada di sebelahnya. Namun, Rifka cukup heran melihat kondisi Nindi yang tampak seperti habis menangis. Sontak Rifka meminta Nindi duduk dan bercerita untuk menenangkan dirinya, karena jujur Rifka sendiri tak tahu apa yang terjadi dengan Nindi sebelumnya.
Ya Rifka memang berada satu rumah dengan Nindi serta Leon, karena Rifka dipekerjakan sebagai suster yang akan membantu Nindi dalam mengurus atau merawat Daiva sang putri. Meski Nindi sempat menolak karena tak ingin merepotkan Rifka lagi, tetapi Rifka yang baik hati itu tetap memaksa untuk bisa membantu Nindi mengurus putrinya.
"Loh Nindi, kamu kenapa sih hm? Kamu abis ribut ya sama suami kamu, sampai muka kamu kusut banget begini?" tanya Rifka seraya membelai wajah Nindi yang terus merengut dan sedikit basah itu.
Nindi menggeleng sembari menyeka sisa air mata di pipinya, wanita itu juga mengatakan kalau ia dan Leon baik-baik saja alias tidak pernah bertengkar. Tapi tentu saja, sebagai orang yang sudah lama mengenal Nindi maka Rifka tahu kalau saat ini Nindi tengah bohong dan menyembunyikan sesuatu darinya mengenai masalahnya.
"Aku gak percaya sama kamu, pasti kamu ada apa-apanya nih. Mending kamu cerita deh sama aku, kan aku udah anggap kamu seperti adik kandung aku sendiri loh! Jadi, kalau kamu mau cerita ya cerita aja ke aku!" ucap Rifka.
"Enggak mbak, aku beneran gapapa kok. Aku kelihatan kayak habis nangis, itu karena tadi aku gak sengaja hirup debu di luar," ucap Nindi berbohong.
"Kamu tuh ya, bohongnya ketahuan banget! Minimal kalau mau bohong itu yang bener dikit lah, ini mah aku tahu kalau kamu lagi bohong. Udah deh Nindi, ayo cerita sama aku ada apa!" ucap Rifka.
"Iya deh mbak, emang kamu paling gak bisa dibohongin," ucap Nindi pasrah.
"Ahaha, iya dong Rifka gitu loh. Ayo ah cepat kamu cerita sama aku, aku penasaran nih kamu tuh sebenarnya kenapa!" ucap Rifka tak sabaran.
"I-i-iya mbak, aku itu..."
"Oweee oweee..."
Ucapan Nindi terhenti saat mendengar tangisan putrinya, ia terkejut dan langsung menghampiri sang putri yang tadinya sedang asyik bermain di atas stroller tersebut. Sontak saja Nindi kini mengangkat Daiva dari sana, lalu menggendongnya dengan harapan Daiva mau berhenti menangis. Sedangkan Rifka masih tampak penasaran pada masalah yang menimpa Nindi, bahkan wanita itu sampai terus menatap wajah Nindi menantikan kelanjutannya.
"Nindi, kamu kok malah ngurusin Daiva sih? Terusin dong cerita kamu tadi, aku nungguin loh!" pinta Rifka.
"Hehe, iya aku dengar kok. Tapi, sekarang kan Daiva udah diem tuh di gendong sama kamu. Udah lah buruan sini duduk lagi, kan bisa cerita sambil gendong Daiva!" ucap Rifka.
"Aduh mbak! Kok ya kamu itu penasaran banget pengen tahu masalah aku sih?" ucap Nindi heran.
"Ya gapapa, aku cuma gak pengen kamu kenapa-napa Nindi. Makanya aku khawatir banget sama kamu," ucap Rifka.
"Yaudah, aku bakal ceritain semuanya ke mbak. Tapi, mbak janji ya jangan ngomel!" ucap Nindi.
"Iya siap, insyaallah aku janji!" ucap Rifka patuh.
Nindi tampak terdiam sejenak, berpikir apakah harus menceritakan masalahnya kepada Rifka atau tidak. Menurutnya, tak ada salahnya memang jika ia bercerita pada Rifka karena hanya wanita itulah yang bisa membantunya saat ini. Setelah Tiara tinggal bersama Galen, tentu Nindi hanya mempunyai Rifka yang bisa menjadi pendengar baginya.
Akhirnya Nindi menceritakan semua yang ia alami kepada Rifka, ia juga mengatakan kalau ia sempat meminta Leon untuk menceraikan nya. Dan bahkan Nindi mengaku telah membawa surat cerai dari pengadilan, lalu memaksa Leon tandatangan disana. Hanya saja Leon menolak, dengan alasan pria itu sangat mencintai dirinya.
•
•
Ciara keluar dari kamar mandi, tetapi ia langsung dibuat terkejut saat tiba-tiba Libra sudah berada di depannya dan tersenyum ke arahnya. Sontak Ciara terlihat gugup, terlebih ketika suaminya itu mendekat dan mengungkung tubuhnya secara mendadak di tembok. Kedua tangannya juga dicengkeram kuat dan ditaruh di atas kepala, lalu seringai tipis muncul di wajah Libra saat ini.
__ADS_1
Benar saja dugaan Ciara dalam pikirannya, ya karena setelah itu Libra langsung mendekatkan diri dan melahap bibir ranum sang istri dengan amat buas serta bergairah. Sepertinya Libra sudah tidak bisa menahan hasrat yang menggelora di dalam dirinya itu, membuat Ciara hanya bisa terpejam pasrah menikmati cumbuan yang dilakukan suaminya itu.
Ciara pun coba membalas ciuman itu, meski gerakannya masih terbilang amatir. Bahkan gadis itu juga membuka mulutnya, memberikan akses bagi Libra untuk bermain-main di dalam sana dengan lidahnya. Setelah puas, Libra beralih ke area leher Ciara yang mulus tanpa luka apapun itu. Tapi tentu setelah ini, pastinya akan banyak bercak merah yang menempel di lehernya akibat ulah sang suami.
"Ahh.."
Rintihan kecil tak sengaja keluar dari bibir mungil Ciara, seketika Libra menyeringai puas mendengar suara indah tersebut. Karena sudah terbawa alur, Ciara pun menurut saja ketika Libra menarik tubuhnya dan merebahkannya di atas ranjang dengan posisi terlentang. Tentu saja Libra masih berada di atas tubuhnya saat ini, mencumbu leher serta telinga sang istri berkali-kali.
"Dadhh, please stoph! Jangan sekarang daddy, aku belum pakai baju loh!" ucap Ciara memohon.
Libra pun menghentikan tindakannya dan beralih menatap kedua bola mata Ciara, pria itu mencolek hidungnya serta memberi kecupan singkat pada bibir ranum gadis itu.
"Justru sekarang kondisinya pas, mumpung kamu belum pakai apa-apa kan?" goda Libra.
Ciara menggeleng kuat, "Ih apanya yang pas? Ayolah dad, aku gak mau kalo daddy maksa aku kayak gini!" ucapnya memohon.
Sontak Libra berhenti dan menuruti kemauan istrinya, ia tentu tak ingin jika Ciara marah padanya hanya karena masalah sepele. Meskipun Libra saat ini tengah bergairah sekali, tentunya ia sangat ingin menuntaskan gairah yang terpendam itu kepada tubuh Ciara yang memang menggodanya.
"Okay, aku nurut deh sama kamu. Aku gak akan paksa kamu baby, udah ya kamu jangan cemberut begitu!" ucap Libra membujuknya.
"Tapi aku bingung deh sama kamu, dulu sebelum nikah kamu mau-mau aja tuh puasin aku. Terus kenapa sekarang kamu malah selalu tolak aku?" sambungnya merasa penasaran.
"Eee a-aku bukannya nolak, tapi aku masih belum siap aja buat dibobol. Kata orang-orang, waktu pertama kali tuh rasanya sakit tau," jawab Ciara
Libra terkekeh mendengar jawaban istrinya itu, kemudian ia beralih ke pinggir dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Ciara. Tak lupa Libra menarik kepala gadis itu dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya, ia usap dan kecup dengan lembut puncak kepala Ciara saat ini sambil menahan tawanya yang hendak keluar.
"Oke oke, aku gak akan paksa kamu kalau kamu belum siap. Tapi, boleh enggak kalau aku minta dipuasin sama kamu?" ucap Libra.
"Hm, maksudnya?" tanya Ciara penasaran.
"Ah kamu kayak gak tahu aja, kan kita udah sering begituan tanpa dimasukin sayang. Nah, itu yang aku mau sekarang ini," jawab Libra.
"Ohh, yaudah lah aku nurut aja sama kamu. Lagian gak mungkin juga aku nolak, nanti yang ada kamu marah lagi atau malah bisa jadi kamu cari kepuasan di luar sana," ucap Ciara.
"Hust, ya gak mungkin lah aku begitu! Aku ini cinta mati sama kamu Ciara, cinta banget!" tegas Libra.
"Iya deh iya, aku percaya kok sama kamu. Yaudah, kamu mau apa nih sekarang? Pengen aku ngapain, hm?" ucap Ciara dengan lembut.
"Umm..."
Libra tampak berpikir seraya menatap tubuh Ciara dari atas sampai bawah, lalu tanpa diduga tangan pria itu bergerak nakal melepas lilitan handuk di tubuh Ciara sampai terlepas semua. Sontak Ciara terkejut, kini tubuhnya sudah tak tertutupi oleh apapun dan dua tangannya juga langsung ditahan oleh Libra dengan sangat kuat.
"Ini yang aku mau sayang, tubuh kamu!" ucap Libra sensual sebelum mulai melahap tubuh istrinya.
"Eengghh.."
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...