
Nindi yang sudah kalut dan tidak tahu lagi harus apa semenjak ditinggal oleh suaminya, kini mendadak memiliki sebuah ide buruk di dalam kepalanya untuk melancarkan aksi balas dendam kepada Rama serta Erland yang sudah membuat hidupnya terpuruk. Memang kedua pria itulah penyebab mengapa Nindi seperti sekarang ini, untuk itu Nindi ingin jika mereka mendapatkan balasannya saat ini juga.
Tanpa basa-basi lagi, Nindi bergegas mengambil ponsel genggam miliknya dan menghubungi nomor Rama disana. Wanita itu mengundang Rama serta Erland untuk datang ke rumah siang ini dalam rangka merayakan hari bahagianya, ya Nindi tak memberitahu apa-apa pada kedua pria itu mengenai rencananya yang ingin mencelakai mereka.
Setelah Rama dan Erland kompak menyetujuinya, Nindi langsung tersenyum menyeringai dan mengambil obat tidur yang ia simpan di dalam laci kamarnya itu. Nindi pun bersiap menyambut kedatangan mereka ke rumah itu, yakni dengan cara membuatkan makanan serta minuman yang akan ia campur dengan obat tidur itu.
Sebelumnya, Nindi telah memberitahu pada kedua pria itu bahwa sekarang ini ia sedang sendirian di dalam rumahnya. Sehingga, dua pria yang bergairah itu sangat gembira mendengarnya dan langsung menerima ajakan Nindi untuk datang. Nindi tidak perlu susah-susah lagi membujuk mereka, sebab hanya dengan itu saja sudah membuat Rama serta Erland percaya padanya.
Semua makanan dan minuman pun telah disiapkan oleh Nindi, wanita itu setia menunggu di teras depan rumahnya sembari celingak-celinguk mencari keberadaan kedua lelaki yang ia benci itu. Untungnya tak butuh waktu lama akhirnya Rama dan juga Erland datang kesana, keduanya langsung turun dari mobil lalu melangkah mendekati Nindi sambil tersenyum.
"Hai Nindi!" sapa keduanya secara bersamaan, tentu saja Nindi membalasnya dan juga memberi kecupan singkat pada kedua pria itu.
Ketiganya pun langsung masuk ke dalam rumah secara bersamaan, belum ada kecurigaan di dalam diri Rama maupun Erland karena melihat semuanya tampak baik-baik saja. Ya Nindi memang pandai berakting, sehingga sekarang Rama dan Erland sama sekali tidak mengetahui rencana jahatnya dibalik senyum manisnya itu.
"Silahkan duduk, para pangeranku!" ucap Nindi kepada kedua pria itu.
Sontak Rama serta Erland terduduk di sofa dengan tampang penuh bahagia, mereka merasa kalau siang ini mereka akan berpesta dan mendapat kepuasan dari Nindi. Sedangkan Nindi pamit sejenak untuk mengambil minuman serta cemilan yang sudah ia sediakan, lalu membawanya kesana untuk bisa disantap oleh mereka.
"Nah semua, ini dia hidangannya. Aku harap kalian berdua suka ya, maaf loh kalau gak terlalu mewah!" ucap Nindi.
"Ah gak masalah Nindi, yang kita butuhin kan bukan semua ini," kekeh Erland.
"Iya, tujuan utama kita kesini ya kamu Nindi. Kita cuma mau kamu, karena kamu lebih dari apapun!" sahut Rama.
Nindi tersenyum mendengarnya, pipinya tampak merona setelah mendapat pujian dari kedua pria itu. Ya tentu semuanya hanyalah akting semata, karena pada kenyataannya Nindi sangat muak dan tidak sabar ingin segera menghabisi mereka. Akhirnya Rama serta Erland sama-sama mengambil minuman itu, dan menikmati cemilan yang ada disana.
"Uhh segarnya, minuman buatan kamu luar biasa enaknya dan kue ini juga gak kalah enak! Tapi tetap, lebih enakan goyangan kamu sayang!" ujar Erland.
"Hahaha, itu sih gak ada duanya." Nindi tampak menggoda pria itu sembari mengedipkan mata.
Tanpa sadar Rama sudah menghabiskan minuman miliknya dan juga kue di tangannya, pria itu meletakkan gelas di atas meja dan tersenyum ke arah Nindi seraya mengusap perutnya. Begitu juga dengan Erland, ya ia pun telah menghabisi satu gelas minuman yang lezat dan luar biasa enaknya.
"Ah Nindi, kita mulai aja yuk pestanya sekarang! Buka dong baju kamu sayang!" pinta Erland.
"Hm, kamu gak sabaran banget sih sayang. Bentar dong kita minum-minum dulu, isi tenaga loh sebelum pertempuran panjang nanti!" goda Nindi.
"Gak perlu sayang, udah cukup kok tenaga kita. Ayo langsung aja kita mulai ya!" ucap Erland.
Nindi senyum-senyum saja dibuatnya, lalu ia bangkit dari sofa dan melangkah mendekati kedua pria itu dengan gerakan erotis nya. Satu jarinya ia masukkan ke dalam mulut, sedangkan tangannya yang lain mulai menyingkap bajunya sendiri. Hal itu tentu saja membuat Erland maupun Rama kompak terbelalak, mereka tak menyangka Nindi bisa seseksi itu.
"Wow sungguh luar biasa!" ucap Erland dan Rama bersamaan.
"Let's play the game, baby!" Nindi telah melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan kain kacamata serta segitiga berenda di bawah sana.
__ADS_1
Satu tangan Erland bergerak menarik tubuh Nindi naik ke atas pangkuannya, tentu saja Nindi menyambut dengan gembira dan terduduk disana sambil tersenyum menggoda. Ia lingkarkan kedua tangannya pada leher si pria, lalu mulai membusungkan dadanya di hadapan Erland yang membuat pria itu makin gemas.
Tapi belum sempat berbuat apa-apa, Erland dan Rama sudah merasakan pusing yang amat sangat di bagian kepala mereka. Nindi menyeringai melihat itu, sepertinya rencananya sudah berhasil dan sebentar lagi kedua pria itu akan tertidur. Bahkan, Rama tidak mampu menopang tubuhnya lagi dan terus merintih pelan.
"Duh, kok gue ngantuk banget ya rasanya? Pusing lagi kayak mau meledek!" keluh Erland.
"Sama bro, ini kenapa ya kira-kira? Abis minum minuman sama makan cemilan itu, kok mendadak badan gue jadi lemes sama ngantuk begini ya?" ucap Rama ikut mengeluh.
Seketika Erland beralih menatap Nindi yang masih terduduk di pangkuannya, pria itu menaruh curiga pada Nindi atas apa yang ia rasakan saat ini. Erland yakin bahwa Nindi sudah menaruh sesuatu pada minuman mereka tadi, sehingga baik Erland atau Rama sama-sama merasa mengantuk.
"Heh! Apa yang lu lakuin ke kita, ha? Lu taruh apaan di minuman tadi? Jawab!" tanya Erland pada Nindi dengan nada tegasnya.
Nindi hanya tersenyum dan membelai wajah tampan milik Erland yang sedikit berjanggut itu, membuat bagian bawah si pria menegang dan memberontak ingin keluar dari celananya. Namun, Erland tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuh terasa lemas dan matanya mengantuk sekali.
"Aaarrrgghhh sialan!!" umpat Erland kesal.
Rama yang sudah tidak kuat lagi sudah terpejam saat ini dan tertidur di atas sofa, tinggal Erland yang masih berusaha tetap kuat dan terjaga walau rasanya kepalanya sudah sangat pusing. Nindi pun semakin gencar melakukan gerakan yang menggoda, sehingga Erland amat sulit untuk bisa menahan tubuhnya.
"Tidurlah kamu Erland, tidur dan nikmati waktu terakhir kamu!" gumam Nindi dalam hatinya.
Senyum mengembang di kedua pipi wanita itu, ketika cengkraman pada pahanya merenggang dan perlahan Erland juga sudah mulai memejamkan matanya. Nindi amat senang melihatnya, kini wanita itu bisa melanjutkan rencananya untuk balas dendam pada keduanya.
"Rasakan itu Erland, dan kamu Rama! Sebentar lagi kalian akan mati!" ucap Nindi tegas.
•
•
Nindi terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia menoleh ke belakang memastikan kondisi kedua pria itu masih tertidur atau tidak. Ya meski Nindi sudah membeli obat tidur dengan efek yang cukup tinggi dan berlangsung lama, tetapi tetap saja Nindi khawatir jika sampai Erland atau Rama tersadar secara tiba-tiba nantinya.
Tak lama kemudian, akhirnya Nindi sampai di lokasi yang dituju olehnya. Wanita itu pun menghentikan mobilnya sejenak sambil kembali memandang ke arah belakang, ya saat ini mereka berada di persimpangan kereta api yang cukup ramai. Entah rencana apa yang sudah disiapkan oleh Nindi, tapi yang pasti wanita itu akan melakukan apapun demi membalaskan semua dendamnya.
"Kalian sebentar lagi akan mati, aku gak akan biarin kalian berdua bisa hidup bahagia di atas penderitaan yang aku rasakan!" geram Nindi.
Sebelum melanjutkan aksinya, Nindi tampak mengambil ponsel miliknya dari dalam dashboard dan mengirim sebuah pesan suara kepada Leon yang merupakan suaminya. Nindi menahan air matanya yang hendak keluar, ketika ia berbicara di dalam rekaman itu yang tentu ia tujukan kepada Leon serta putrinya alias Daiva.
"Mas Leon, sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Mungkin selama ini aku gak pernah bisa jadi istri yang baik untuk kamu, malahan aku lebih sering nyakitin kamu. Tapi aku mohon sama kamu mas, tolong jaga Daiva dengan baik! Jaga dia, dan jangan tinggalkan dia! Aku juga minta sama kamu, jangan beritahu pada Daiva mengenai siapa ibu kandungnya! Katakan saja ke dia, kalau mbak Rifka itulah ibunya! Yasudah mas, itu aja yang mau aku sampaikan ke kamu. Aku pergi dulu mas, i love you..."
Begitulah isi pesan suara yang diberikan Nindi kepada suaminya, ia meletakkan kembali ponselnya di atas dashboard dan menatap serius ke arah depan. Dirinya sudah memutuskan, bahwa ia tidak akan kembali pada Leon ataupun Daiva. Nindi sadar kalau ia bukan istri maupun ibu yang baik bagi mereka.
Lalu, terdengar suara dari depan sana yang menandakan kereta akan segera datang. Palang pintu di persimpangan itu pun sudah mulai turun dan bersiap menutup jalan, namun justru Nindi kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju pelan melewati palang tersebut untuk melancarkan aksi balas dendam yang akan ia lakukan.
Tanpa diduga, Nindi menghentikan mobilnya tepat di tengah rel dan menatap ke arah dimana kereta itu berada. Nindi juga melirik ke belakang, senyum tipis merekah di pipinya seakan ia sudah tidak sabar untuk menghabisi mereka semua. Tangannya pun terkepal cukup kuat, tidak lama lagi ia bisa melihat bagaimana kedua pria itu hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Lihat itu Rama, kereta kamu sebentar lagi datang! Kamu dan sahabat kamu itu akan mati, begitu juga dengan aku. Kita akan sama-sama berjumpa di neraka nanti," ucap Nindi lirih.
kereta bergerak semakin mendekat, teriakan para orang-orang yang ada di sekitar rel terus terdengar dan beberapa dari mereka juga berusaha menyelamatkan Nindi dengan cara meminta wanita itu keluar dari mobil. Namun, tentu saja Nindi tidak ingin melakukan itu dan malah mengaktifkan rem tangannya agar tidak ada yang bisa mencegahnya.
Braakkk
Tabrakan pun terjadi, mobil milik wanita itu terdorong sampai beberapa meter ke depan dan hancur tak berbentuk.
•
•
Disisi lain, Tiara telah bersiap untuk pergi mencari pekerjaan di luar sana. Tiara juga sudah menyiapkan beberapa berkas yang diperlukan baginya untuk bisa mendapatkan pekerjaan, wanita itu pun melangkah menuruni tangga dan menemui Nadira yang tengah bersama Askha di sofa ruang tamu.
Sejujurnya Tiara sendiri masih bingung harus mencari lowongan dimana nantinya, tentunya tidak akan mudah bagi Tiara untuk bisa mendapat pekerjaan yang ia inginkan. Namun, Tiara tetap harus berusaha demi bisa menghidupi putranya setelah ia bercerai dengan Galen. Tiara tidak ingin terus merepotkan mamanya, karena bagaimanapun Askha adalah tanggung jawabnya sendiri.
"Askha sayang, mama mau pergi dulu ya sebentar? Askha yang anteng ya sama oma disini, jangan nakal loh!" ucap Tiara berpamitan pada putranya sembari mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Tiara, kamu yakin gak pengen kerja di kantor mama aja? Daripada kamu harus susah-susah cari lowongan kan, mending kamu masuk kantor mama aja deh! Kebetulan ada lowongan disana, kamu mau ya sayang!" ucap Nadira menyela.
"Umm, aku kan tadi udah bilang sama mama. Aku ini mau usaha sendiri buat menghidupi Askha, karena Askha kan tanggung jawab aku," ucap Tiara tegas.
"Yaudah deh terserah kamu aja, mama juga gak bisa maksa kalau kamu gak mau. Tapi, kalau nanti kamu berubah pikiran bilang aja ke mama ya! Biar mama bawa kamu ke kantor langsung," ucap Nadira.
"Iya ma."
Akhirnya Tiara pun memeluk Askha sejenak dan menciumi kedua pipinya secara bergantian dengan sangat gemas, Tiara sebenarnya ragu meninggalkan Askha bersama Nadira disana tetapi ia juga tak mungkin mengajak Askha untuk berkeliling mencari lowongan pekerjaan di bawah teriknya sinar matahari yang begitu panas.
"Dadah Askha! Nurut ya sama oma? Nanti gak lama mama pulang kok," ucap Tiara.
Setelahnya, Tiara berganti pamitan kepada Nadira juga dengan cara mencium tangannya sebelum melangkah ke luar dari rumah itu. Nadira sempat menawarkan Tiara untuk membawa mobil miliknya dan diantar oleh Liam, namun lagi-lagi Tiara menolak dengan alasan ia tidak mau merepotkan mama mertuanya itu lagi.
Tiara pun pergi seorang diri dengan berjalan kaki meninggalkan rumah besar tersebut, Nadira tampak sangat khawatir dan cemas pada Tiara yang tidak diawasi oleh siapapun itu. Nadira pun memanggil salah seorang penjaga di rumahnya untuk bertemu, ya dia adalah Liam dan langsung berlari cepat menemui Nadira di depan sana.
"Ada apa ya bu Dira? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Liam tampak penasaran.
"Ya Liam, kamu ikuti Tiara ya! Saya cemas kalau dia pergi sendirian, jangan lupa juga kasih tahu saya jika terjadi sesuatu nanti! Ingat loh, kamu pantau dia dari jarak jauh!" jelas Nadira.
"Oh baik bu, saya mengerti. Kalau begitu saya mohon izin pamit bu, permisi!" ucap Liam.
Nadira mengangguk memberi izin, sedangkan Liam bergegas pergi mengikuti Tiara sesuai perintah yang diberikan Nadira tadi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...