
Cyra kini tiba di ruang bk untuk menemui bu Melia sesuai apa yang dikatakan Carlo tadi, ya ia duduk di hadapan gurunya itu sambil sedikit cemas dan terus menggigit bibir bawahnya. Cyra khawatir jika ia akan kembali ditegur oleh Melia saat ini, karena ia telah membuang surat panggilan untuk orangtuanya. Cyra sadar apa yang ia lakukan itu salah, namun ia tentu tidak siap jika harus menerima hukuman darinya.
Bu Melia sendiri terlihat terus memandang ke arahnya dengan tatapan tajam, membuat Cyra tampak panik dan terus menunduk takut. Baru kali ini ia merasa sangat gemetar ketika berhadapan dengan seseorang, apalagi ia tahu betul apa alasan guru bk itu memanggilnya kesana. Ya sudah tidak dapat terelakkan lagi saat ini, karena pasti Melia akan menanyakan mengenai surat panggilan itu.
"Cyra, apa yang terjadi? Kenapa sampai sekarang orang tua kamu juga gak datang menemui saya disini?" tanya bu Melia dengan tegas.
"Umm, saya juga gak tahu, bu. Tapi saya udah kasih surat itu ke mama papa kok, ya mungkin aja mereka belum bisa datang kesini karena sibuk. Saya juga gak tahu pasti bu," jawab Cyra berbohong.
"Kamu jangan bohongi saya ya Cyra!" sentak bu Melia yang sepertinya begitu emosi.
"Sa-saya gak bohong kok bu," gugup Cyra.
Melia tampak menggeleng perlahan, lalu mengambil sesuatu dari laci mejanya. Ia pun meletakkan surat yang ia ambil itu di atas meja, dan seketika langsung membuat Cyra terkejut. Ya itu adalah surat panggilan untuk orang tua Cyra yang diberikan oleh Melia sebelumnya, tentu saja Cyra bingung dan heran mengapa surat itu bisa ada di tangan Melia lagi.
"Ini surat panggilan yang saya kasih ke kamu waktu itu, kenapa kamu buang ke tempat sampah? Apa kamu sudah berani melawan saya, Cyra? Kamu mau main-main dengan saya?" geram Melia.
"Hah? Bu, saya minta maaf bu! Saya gak ada niat buat buang surat itu, tapi kayaknya surat itu jatuh deh bu waktu saya lari-lari. Terus pas saya berusaha cari, eh gak ketemu. Bukan saya yang buang itu ke tempat sampah bu," elak Cyra.
"Alasan aja kamu, saya lihat sendiri kok kalau kamu yang buang ini ke tempat sampah begitu keluar dari ruangan! Masih mau bohong?" ujar Melia.
Deg
Betapa terkejutnya Cyra ketika Melia mengatakan itu padanya, ia baru tahu kalau Melia ternyata melihat jelas bahwa dirinya lah yang membuang surat itu ke dalam tempat sampah. Kini Cyra sudah tidak bisa mengelak lagi, karena memang benar bahwa ia yang sudah membuang surat itu, sebab ia tidak ingin mengganggu kedua orangtuanya.
"Sekarang kamu jujur sama saya, kenapa kamu buang surat ini di tempat sampah! Apa kamu sudah tidak mau bersekolah lagi disini?" ujar Melia.
"Bukan begitu bu, saya ngelakuin itu karena saya gak mau ganggu orang tua saya. Asal ibu tau, sekarang ini orang tua saya sedang bertengkar dan itu bikin saya susah tenang," ucap Cyra tegas.
"Ohh, berarti selama ini kamu melamun di kelas itu karena orang tua kamu sedang bertengkar? Benar begitu kan Cyra?" tanya Melia coba memastikan.
Sontak Cyra menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia baru sadar kalau kata-kata yang ia ucapkan tadi tak seharusnya ia katakan kepada gurunya itu. Cyra sungguh menyesal, karena ia tidak ingin ada orang lain yang tahu mengenai permasalahan keluarganya saat ini.
•
•
Hari berganti, Cyra keluar kamarnya dan berjalan menuruni tangga menemui mama serta kedua adiknya yang tengah sarapan di meja makan. Kini Cyra sudah tampak rapih dengan seragam sekolah yang ia kenakan, sontak ia menghampiri mamanya dan pamit kepada wanita itu untuk segera pergi ke sekolah di pagi hari yang cerah ini.
__ADS_1
"Ma, aku berangkat sekolah dulu ya? Soalnya ini jadwal aku piket, jadi aku harus sampai lebih awal di sekolah buat beberes kelas. Gapapa kan ma?" ucap Cyra sambil tersenyum.
"Oalah, tapi apa enggak sebaiknya kamu sarapan dulu? Nanti kamu lemas loh," ucap Ciara.
Cyra menggeleng pelan, "Gausah ma, aku sarapan di sekolah aja sama teman. Lagian aku takut telat sampai disana," ucapnya menolak.
"Oh yaudah, jangan lupa sarapan loh ya! Itu penting tau buat kamu sayang," ucap Ciara mengingatkan.
"Iya ma." Cyra meraih tangan mamanya dan menciumnya dengan lembut, tak lupa ia juga mencubit pipi kedua adiknya sebelum pergi.
Setelah itu, Cyra pun melangkah ke luar dari rumahnya dan meninggalkan mereka. Ia terlihat begitu tergesa-gesa seolah sedang diburu sesuatu, bahkan Cyra juga menolak diantar oleh sang supir dan lebih memilih memesan taksi melalui ponselnya. Entah apa alasannya, tapi yang pasti Cyra tengah merahasiakan sesuatu dari keluarganya.
"Ma, kak Cyra kok jadi sering di kamar ya? Terus kalau keluar juga jarang banget, kira-kira kak Cyra kenapa ya ma?" tanya Lia tiba-tiba.
Ciara terdiam saat itu juga, ia pun baru teringat pada obat pencegah kehamilan yang ia temukan di dalam tas putrinya beberapa hari lalu. Sontak Ciara berpikir keras, ia sungguh penasaran apa sebenarnya yang sedang dirahasiakan putrinya itu. Ciara juga merasa khawatir, pasalnya tingkah Cyra belakangan ini amat sulit ditebak dan membuatnya kebingungan.
"Lia benar juga, belakangan ini Cyra lebih sering menyendiri di kamar. Terus dia juga suka keluar rumah dalam waktu lama, dia itu kenapa ya? Apa semua ini ada hubungannya sama obat pencegah hamil yang aku temuin itu?" pikir Ciara dalam hati.
"Ehem ehem, pagi semua!" tiba-tiba saja, sebuah suara sapaan dari seseorang mengejutkan Ciara beserta kedua anaknya.
"Oma!!" baik Lia maupun Lio, kompak beranjak dari tempat duduk mereka dan mendekat ke arah Nadira yang baru datang itu.
"Mama, ada apa mama kesini? Kok tumben mama datang gak kabarin aku dulu?" tanya Ciara sesudah mencium tangan mamanya.
"Ya gapapa dong sayang, mama mau kasih kejutan buat kalian. Ini juga mama buatin kue spesial buat cucu-cucu oma yang tampan dan cantik ini, nanti dimakan ya sayang!" ucap Nadira.
"Hore, makasih oma!" ucap Lia dan Lio bersamaan, mereka terlihat begitu bahagia saat ini.
Setelahnya, Ciara meminta kedua anaknya itu menjauh dan membawa kue buatan Nadira untuk segera dimakan. Sedangkan Ciara sendiri tentunya ingin berbincang berdua dengan mamanya disana, karena ia yakin kalau dirinya perlu membahas mengenai pil pencegah kehamilan yang ditemukan di dalam tas milik Cyra sebelumnya.
"Kenapa Ciara? Ada yang mau kamu bicarakan sama mama ya?" tanya Nadira seolah dapat membaca isi hati putrinya itu.
"Umm aku..." Ciara terlihat ragu, ia khawatir kalau semua dugaannya tentang Cyra salah.
"Kamu kenapa sih? Sini cerita aja sama mama, pasti mama bakal usaha buat bantu kamu! Apa ini masih tentang Libra, hm?" tanya Nadira lagi.
Ciara menggeleng sebagai jawaban, lalu mengajak mamanya itu berbincang di sofa ruang tamu agar Lia serta Lio tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan nanti. Nadira setuju dengan usul Ciara, akhirnya mereka berdua sama-sama pergi ke sofa dan mulai berbincang disana.
__ADS_1
•
•
Singkat cerita, bukannya ke sekolah, Cyra justru berhenti di pinggir jalan dan turun dari taksinya untuk menemui seorang wanita yang sudah menunggu disana. Tanpa menunggu lama, Cyra pun bergerak cepat menghampiri wanita itu dan menyapanya disertai senyuman lebar.
"Hai Rila!" sapanya yang membuat gadis bernama Rila itu menoleh ke arahnya.
"Eh Cyra, akhirnya dateng juga lu. Gimana, jadi kan hari ini kita berangkat ke Anyer? Gue udah siapin semuanya nih," ucap Rila.
Cyra mengangguk antusias, "Jadi dong, yakali gak jadi. Gue juga males banget di rumah terus, mending juga jalan-jalan refreshing tenangin pikiran. Tapi sebelum itu, anterin gue ke toilet umum deket sini ya? Gue mau ganti baju," ucapnya.
"Oke sip, tenang aja! Gue tau kok dimana tempat yang pas buat lu ganti baju," ucap Rila.
Setelahnya, mereka sama-sama pergi dari sana menuju mobil milik Rila yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Cyra benar-benar tidak sabar kali ini, karena yang ia inginkan sekarang hanyalah menjauh lalu menenangkan pikirannya. Apalagi, belakangan ini ia banyak sekali mendapat masalah terutama setelah kedua orangtuanya bercerai.
Mereka pun pergi menuju tempat yang sudah disiapkan Rila untuk Cyra berganti baju, ya disana dengan cepat Cyra mengganti pakaiannya dari seragam sekolah menjadi baju santai miliknya. Ya Cyra telah menyiapkan semua di dalam tasnya, mulai dari pakaian sampai seluruh barang miliknya. Sehingga, saat ia tiba di lokasi yang ingin ia tuju dirinya tak perlu kebingungan lagi.
"Rila, gue udah siap nih. Kita langsung berangkat sekarang aja ya? Gue gak sabar pengen cepat sampai disana, soalnya otak gue udah mumet banget sumpah!" ucap Cyra.
"Iya Cyra, santai aja! Pokoknya lu tenang, gue jamin lu bakal happy nantinya!" ucap Rila.
"Iya deh iya, gue percaya kok sama lu. Tapi, ini beneran gak ada yang tau kan soal kita bolos dari sekolah? Gue takut banget Ril, apalagi kalau sampai nyokap bokap gue tau," ucap Cyra.
Rila menggeleng pelan, "Gak ada, gue bisa jamin kalau perjalanan kita kali ini bakal aman dan tanpa hambatan!" ucapnya meyakinkan.
"Oke deh, thanks ya Ril!" singkat Cyra.
Kini mereka berdua keluar dari tempat itu dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka, keduanya terlihat begitu senang dan antusias seolah tidak sabar untuk segera tiba disana. Lalu, mereka sama-sama masuk ke dalam mobil dan meminta sang supir bergegas melaju.
"Cyra, emang kenapa sih tiba-tiba lu ngajakin gue buat ke Anyer sekarang? Lo lagi ada masalah berat ya?" tanya Rila penasaran.
"Ya gitu deh Rila, namanya juga hidup. Tapi gue sadar, gue ini gak bisa melewati semuanya dengan mudah. Gue lemah Ril, gue gak kuat jalanin semua ini," jawab Cyra sambil terisak.
"Duh, udah ya lu yang kuat Cyra! Kita kan bakal senang-senang nanti disana," bujuk Rila.
Cyra manggut-manggut kecil, lalu kini Rila tampak merangkul sohibnya dan coba menenangkan Cyra untuk tidak terus menangis. Bagaimanapun, Rila cukup merasa kasihan pada Cyra setelah gadis itu mengatakan bahwa hidupnya benar-benar menderita dan ia tidak kuat lagi saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...