Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 184. Terjebak kebohongan


__ADS_3

Setelah puas bermain di tempat yang indah dengan dikelilingi air terjun itu, kini Cyra diantara pulang oleh Davin menuju rumahnya. Davin sengaja menawarkan pada Cyra untuk mengantarnya, sebab ia ingin tahu dimana alamat rumah gadis itu. Dengan begitu, pasti nantinya Davin bisa mengetahui alamat Cyra dan ia dapat terus menemui gadis itu tanpa perlu menunggu waktu di sekolah.


Cyra pun terima-terima saja dengan penawaran pria itu, apalagi Davin sedari tadi sudah membuatnya bahagia dan mau memberi makan padanya. Cyra merasa sangat puas saat ini, sebab Davin berhasil memberikan kebahagiaan yang belum pernah papanya berikan dari dulu. Bahkan, rasanya Cyra seperti mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah setiap kali ia berada di dekat pria itu.


"Pak, makasih ya udah ajak aku jalan-jalan kali ini! Aku senang banget loh pak, rasanya aku gak mau hari ini berakhir deh! Tapi, kalau aku gak pulang nanti malah aku dimarahin papa mama," ucap Cyra.


Davin tergelak, "Hahaha, jadi kamu senang ya? Tadi aja kamu sok gak mau ikut saya," ujarnya.


Cyra sontak menundukkan wajahnya karena merasa malu, ucapan Davin memang benar dan membuat Cyra tak berani menatap wajah lelaki itu. Tadinya Cyra sempat merasa gugup dan khawatir, bahkan ia berpikir jika Davin akan mencelakainya. Namun, ternyata semua dugaannya itu salah dan malah kini ia ketagihan pergi bersama Davin.


"Sudah sudah, gapapa kok. Kamu gausah malu gitu sama saya, Cyra! Saya maklum kok kalau kamu tadi sempat ragu sama saya," ucap Davin.


"Iya pak, maafin aku ya? Wajar dong, aku kan belum pernah jalan sama orang lain," ucap Cyra.


"Iya Cyra, saya ngerti kok. Saya juga senang karena bisa pergi berdua sama kamu, kamu itu orangnya asyik dan enak diajak jalan!" ucap Davin.


"Hehe, pak Davin bisa aja!" ucap Cyra malu-malu.


Davin menggerakkan tangannya menyentuh puncak kepala Cyra, diusapnya dengan lembut bagian itu sampai membuat Cyra terpejam. Usapan yang diberikan Davin berhasil membuat gadis itu merasa nyaman, seolah-olah yang memberikan usapan itu adalah papanya. Davin pun tak berhenti melakukan itu, sebab ia ingin Cyra terus merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya


"Betul Cyra, kamu harus nikmati setiap sentuhan yang saya berikan ke kamu!" batin Davin.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan rumah gadis itu sesuai dengan arahan yang diberikan Cyra kepada Davin. Tentu saja Davin langsung menghentikan mobilnya, Cyra sendiri juga tampak membuka matanya. Ya Cyra terkejut karena saat ini mereka telah sampai, ia terlalu menikmati usapan lembut gurunya tadi.


"Kita sampai Cyra, bener kan ini rumah kamu?" ucap Davin yang diangguki oleh Cyra, sepertinya gadis itu masih belum mendapat kesadarannya secara penuh.


"Kalo gitu mau saya antar sampai dalam gak?" sambungnya menawarkan diri.


Cyra sontak melongok dibuatnya, "Ja-jangan pak! Aku gak mau papa sama mama salah paham nanti, terus mereka malah makin gak suka sama pak Davin!" ucapnya melarang.


"Loh emangnya kenapa mereka gak suka sama saya?" tanya Davin pura-pura tak mengerti.


Sontak Cyra terdiam dan tak mampu menjawab pertanyaan gurunya, ia memalingkan wajahnya sambil berusaha berpikir keras untuk menemukan jawaban yang pas agar Davin tidak tersinggung jika mengetahui yang sebenarnya. Cyra memang ingin menjaga perasaan pria itu, karena Davin lah yang selalu memberi perhatian lebih pada dirinya.


"Eee ya takutnya aja gitu kan pak, soalnya gak wajar kalau murid diantar pulang sama gurunya," ucap Cyra berbohong.


"Ohh, it's okay." Davin memahaminya.


Cyra pun menghela nafas lega, setelahnya ia pamit pada Davin dan mengucapkan terimakasih. Lalu, turun dari mobil itu dan bergegas pergi masuk ke dalam rumahnya.



__ADS_1


"Loh Cyra??" saat gadis itu sedang melangkah memasuki halaman rumahnya, ia dikejutkan dengan suara seorang pria dari belakangnya.


Gadis itu terlihat penasaran, tanpa berpikir panjang ia menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Rupanya Amar alias putra dari Jessica itu yang ada disana, seketika Cyra menganga seolah tak mempercayainya. Cyra khawatir jika Amar melihat dirinya turun dari mobil Davin, pastinya itu akan sangat berbahaya.


"Eh Amar, kamu ngapain ke rumah aku?" tanya Cyra dengan sedikit gugup.


"Aku pengen ketemu papa, katanya papa lagi disini main sama papa kamu dan adik-adik kamu. Yaudah, aku nyesel aja deh kesini sekalian berharap bisa ketemu kamu," jelas Amar sambil tersenyum.


"Ohh, hehe kalo gitu masuk aja yuk!" ucap Cyra mengajak pria itu pergi.


Amar mengangguk antusias, tentu saja ia setuju karena memang tujuannya menyusul papanya kesana adalah untuk bertemu dengan Cyra. Amar juga tak menyangka, kalau ia bisa berpapasan dengan gadis itu di depan pagar rumahnya. Padahal, Cyra seharusnya sudah pulang lebih dulu sedari tadi dan amat mustahil Cyra baru tiba disana.


"Oh ya Cyra, tadi kamu itu diantar sama siapa? Kok bentuk mobilnya kayak beda ya? Itu bukan mobil kak Askha kan?" tanya Amar penuh penasaran.


Deg


Jantung Cyra berdegup begitu kencang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Amar, ia tidak mungkin menjawab jujur pada pria itu bahwa tadi yang mengantarnya adalah Davin. Jika sampai Amar tahu, bukan tidak mungkin Amar akan menyampaikan hal itu kepada orangtuanya. Cyra tak ingin hal itu terjadi, sebab Cyra masih terus ingin menikmati waktu berdua bersama guru tampannya itu.


"Umm, itu taksi online kok. Tadi tuh aku mampir dulu ke toko buku, makanya aku naik taksi dan bukan bareng kak Askha," ucap Cyra berbohong.


"Oalah, pantes dong ya kamu baru sampai juga disini?" ujar Amar.


Cyra tersenyum dibuatnya, ia lalu mempercepat langkahnya karena tidak ingin terus berdekatan dengan pria itu. Namun, langkah keduanya harus terhenti ketika Galen dan Ciara lebih dulu ke luar dari rumah itu saat ini. Cyra pun menatap heran ke arah mereka, begitu juga dengan Ciara yang bingung ketika putrinya ada bersama Amar.


"Loh ma, mama sama om Galen mau kemana?" tanya Cyra sambil mencium tangan keduanya.


"Eee itu ma, kak Askha udah pulang duluan tadi. Dia gak sempat mampir katanya ada urusan penting," ucap Cyra berbohong.


"Hah? Bukannya kamu bilang tadi kamu pulang naik taksi online ya Cyra?" Amar menyela, ucapannya barusan membuat Ciara serta yang lain kompak merasa terkejut.


Cyra sungguh kesal saat ini, ia tak menyangka Amar akan berkata seperti itu di depan mamanya. Cyra langsung memalingkan wajahnya, ia bingung apa yang harus ia katakan lagi kepada mamanya nanti setelah mendengar ucapan Amar. Inilah akibat dari seringnya berbohong, Cyra jadi terjebak sendiri dalam kebohongan yang ia buat.


"Cyra, mana yang benar ini? Jadi kamu diantar pulang sama Askha atau naik taksi?" tanya Ciara dengan tegas pada putrinya.


"Eee a-aku...." Cyra sangat gugup dan kebingungan.


"Hey, Cyra!" tiba-tiba saja, teriakan seorang pria dari arah pagar mengejutkan ketiganya.


Mata Cyra membelalak seketika melihat sosok yang ada di depan sana, itulah Davin alias pria yang sudah mengantarnya tadi. Cyra tak mengerti mau apa Davin kembali kesana, apalagi sekarang ada Ciara dan juga Galen disana. Cyra sungguh bingung, tapi kemudian Davin menunjukkan ponsel di tangannya dan membuat Cyra tersadar.


"Ini hp kamu ketinggalan, kamu belum ambil tadi!" teriak Davin menjelaskan.


Deg

__ADS_1




"Ahh..."


Suara lenguhan keluar dari mulut Askha, saat ini pria itu benar-benar menikmati perlakuan Laura pada miliknya di bawah sana. Ya Laura dengan senang hati memainkan miliknya itu menggunakan tangan serta mulutnya, membuat Askha tak berhenti melenguh panjang sembari mendongakkan wajahnya seolah tak tahan dengan semua itu.


Laura terus melakukannya, sampai Askha mulai merasa ada sesuatu yang hendak keluar. Ditekannya tengkuk Laura dengan kuat oleh pria itu, lalu ia ledakkan seluruh cairannya ke dalam mulut sang kekasih. Askha pun meminta Laura menelannya, tentu saja langsung dituruti oleh Laura karena memang gadis itu amat menyukainya.


"Uhuk uhuk uhuk.." ketika Askha melepaskan kepalanya, Laura tampak terbatuk dan ingin muntah karena banyaknya cairan pria itu.


"Kamu gapapa kan sayang? Maaf ya kalau aku terlalu kasar tadi!" ucap Askha panik.


Laura menggeleng pelan, "Gapapa kok, aku baik sayang. Aku justru suka kalau kamu begitu, itu tandanya kamu menikmati servis dari aku. Makasih ya sayang!" ucapnya.


"Loh, harusnya aku yang bilang makasih sama kamu. Servis kamu luar biasa sayang!" ucap Askha.


"Ahaha, mau lebih gak sayang? Ini mumpung di rumah aku kosong loh, kita bisa kok ngelakuin itu sekarang!" ucap Laura.


"Hah? Waduh, enggak dulu deh sayang! Aku belum bisa lakuin itu sekarang," ucap Askha menolak.


Laura tampak mengerucutkan bibirnya, ia kecewa lantaran Askha tak mau melakukan hal yang lebih dengannya. Seketika Laura mengira jika Askha tak menyukai tubuhnya, padahal Laura sudah ingin sekali melakukan itu bersama Askha. Namun, sepertinya Askha memang benar-benar tidak tertarik dengan bentuk tubuhnya itu.


"Kamu tuh kenapa sih selalu gak mau setiap aku tawarin begitu, sayang? Apa kamu gak suka sama tubuh aku?" tanya Laura dengan ketus.


"Hey, jangan bilang gitu! Aku suka kok, suka banget malah! Ya tapi sekarang belum waktunya sayang, kita kan masih SMA. Aku belum siap untuk tanggung jawab dan nikahin kamu," jawab Askha.


"Gak perlu sampai nikah, kan cuma ngelakuin itu aja juga gak masalah kali?" ucap Laura.


Askha menggeleng mendengar ucapan yang dilontarkan gadis itu, sepertinya gairah Laura telah mengalahkan akal sehatnya kali ini. Untung saja Askha berbeda dari para lelaki lainnya, jika tidak maka Askha sudah pasti akan merenggut kesucian Laura semenjak pertama kali gadis itu memintanya.


"Tetap aja itu gak dibenarkan Laura, kamu harus tahan ya sampai kita menikah nanti!" ucap Askha seraya membenarkan celananya.


"Tapi sayang—"


Belum sempat Laura selesai bicara, Askha sudah lebih dulu menariknya dan membungkam mulut gadis itu dengan sebuah cumbuan hangat. Laura tak sempat mengelak, dirinya akhirnya larut dalam cumbuan tersebut. Diletakkan lah tubuh Laura di atas ranjang, dan kini cumbuan Askha beralih ke telinga milik Laura yang menggodanya.


"Aku bisa kasih kepuasan ke kamu kok sayang, walau gak dimasukin. Aku bakal bikin kamu gak akan melupakan momen kali ini, kita lihat aja berapa kali kamu akan keluar sayang!" bisik Askha tepat di telinga gadisnya.


"Eengghh, Askha kamu mah ahh!!" Laura menjerit keras, ya telinga adalah bagian sensitifnya.


Akhirnya Askha merebahkan tubuh kekasihnya di ranjang, lalu menindih dan melancarkan aksinya untuk memuaskan sang kekasih.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2