Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 181. Galen mengamuk


__ADS_3

Cyra akhirnya berhasil lepas dari Amar setelah kehadiran Celo tadi, entah ia harus berterima kasih atau merasa jengkel pada Celo yang dengan sengaja menggoda Amar di depannya tadi. Namun, paling tidak saat ini Cyra bisa menghindar dari ajakan Amar yang ingin menjenguk papanya. Cyra masih tak percaya pada pria itu, ia khawatir jika semua itu hanyalah permainan semata dari sosok Amar.


Lepas dari Amar tak membuat hidup Cyra aman begitu saja, sebab saat ini giliran Amir alias saudara kembar dari Amar sendiri. Ya Amir sudah berdiri di hadapannya kali ini, memandang ke arahnya sambil tersenyum lebar. Seketika Cyra menghentikan langkahnya, lalu terlihat bingung dan menatap heran wajah pria tersebut. Baru saja ia merasa lega, tetapi sekarang sudah ada lagi pengganggu di hidupnya.


"Halo Cyra!" Amir langsung menyapa gadis itu dengan ramah seraya melambaikan tangannya.


Cyra pun memutar bola matanya, merasa geram dengan kejadian yang ada karena lagi-lagi ia harus diganggu oleh seorang pria seperti sebelumnya. Padahal, saat ini Cyra hanya ingin menikmati waktu istirahat dengan berjalan-jalan di sekitar taman. Akan tetapi, ia terus saja diganggu oleh para pria yang sepertinya menyukai dirinya.


"Hai juga Amir! Ada apa ya? Kenapa kamu halangi jalan aku?" tanya Cyra dengan tampang tak suka.


"Eh kok kamu nanyanya gitu sih? Sorry Cyra, aku ini cuma mau ngobrol sama kamu. Emangnya kamu lagi mau kemana sih, kok buru-buru amat?" ucap Amir disertai senyum lebarnya.


"Jalan-jalan aja, tadinya pengen ke taman sana. Tapi, malah ketemu kamu disini," ucap Cyra.


"Oalah, mau aku temenin gak?" tanya Amir.


Cyra tersentak dan membelalakkan matanya, yang benar saja mana mungkin ia mau ditemani oleh pria seperti Amir saat ini. Cyra sama sekali tidak tertarik pada pria itu, meskipun tampilannya yang sangat tampan dan juga menjadi idola di sekolahnya. Ya tentu saja semua itu karena orangtuanya, mereka lah yang melarang Cyra untuk berpacaran.


"Gausah Mir, aku bisa sendiri kok. Lagian aku lebih suka jalan-jalan sendiri daripada ditemenin, itu lebih asyik tau rasanya," ucap Cyra menolak.


"Tapi Cyra, aku—"


Disaat Amir hendak menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Davin muncul dan lebih dulu menyela lalu menatap keduanya secara bergantian. Davin tersenyum ke arah Cyra, seolah memberi kode pada gadis itu kalau ia akan membantunya. Namun, Cyra tampak tak mengerti dan malah melongok begitu saja sembari mengedipkan mata.


"Pas banget saya ketemu kamu disini, Cyra. Saya ada perlu, kamu ke ruangan saya sekarang ya!" ucap Davin memberi perintah.


"Pak Davin?" Amir yang terlihat jengkel, terpaksa menyapa pria di dekatnya karena itu adalah gurunya.


"Baik pak, habis ini saya ke ruangan bapak kok!" sahut Cyra disertai senyuman tipisnya.


Setelah itu, Davin pergi dari sana meninggalkan mereka dengan harapan bahwa Cyra berhasil lepas dari gangguan Amir. Akan tetapi, tampak jelas bahwa Amir tak rela melepas Cyra begitu saja untuk menyusul Davin. Bagaimanapun, Amir ingin gadis itu ada bersamanya karena kecantikan Cyra selalu berhasil memikat dirinya.


"Yaudah ya Mir, aku ke ruangan pak Davin dulu? Sekali lagi sorry, aku gak bisa lama-lama sama kamu!" ucap Cyra.


Tak ada jawaban dari mulut Amir, jelas sekali kalau pria itu sangat kecewa dengan apa yang terjadi. Niatnya untuk mengajak Cyra jalan bersamanya kini telah gagal terlaksana, semua itu karena ulah Davin yang tiba-tiba muncul. Namun Cyra tak perduli dengan itu, ya Cyra pun pergi begitu saja dari sana dan menyusul Davin menuju ruangannya.




Singkat cerita, akhirnya Cyra tiba di depan ruangan Davin sesuai perintah pria itu tadi. Tanpa menunggu lama, Cyra segera mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk ke dalam. Davin yang mendengar itu sontak memberi izin, pria itu memerintahkan Cyra untuk membuka pintu dan masuk saja ke dalam ruangannya karena tidak dikunci.


Begitu Cyra membuka pintu, yang dilihatnya pertama kali adalah sebuah ruangan yang cukup luas dan begitu bersih. Entah mengapa Cyra merasa heran saat memasuki ruangan itu, pasalnya tempat tersebut amat jauh berbeda dengan ruangan para guru lainnya. Apalagi, ruang Davin terpisah dari guru yang lain dan membuat Cyra cukup kebingungan.


"Hey Cyra, yuk sini masuk!" titah Davin yang kini terduduk di kursinya.


Tanpa ragu, Cyra pun melangkahkan kakinya menghampiri sang guru yang ada di depan sana sambil terus melirik ke sekelilingnya. Cyra masih merasa penasaran, tetapi tak mungkin ia bertanya langsung kepada Davin saat ini. Tak lupa juga Cyra menutup pintu sesuai permintaan Davin, sebelum ia berhenti melangkah tepat di hadapan pria itu.


"Umm pak, ada apa ya bapak panggil saya tadi?" tanya Cyra dengan bahasa formalnya, meski ia dan Davin sudah cukup dekat sebelumnya.


Davin tersenyum mendengarnya, "Ahaha, jadi kamu gak ngerti kode yang saya berikan tadi ya Cyra?" ujarnya sambil terkekeh.

__ADS_1


Cyra menggeleng dengan polosnya, gadis itu memang tak mengetahui kode apa yang dimaksud oleh Davin tadi. Bahkan, Cyra mengira kalau perintah Davin itu benar-benar nyata sehingga ia datang kesana menemuinya. Sontak Davin tertawa puas melihat ekspresi Cyra saat ini, sungguh Cyra memang berhasil membuatnya makin gemas.


"Kamu tuh ya, masa yang begitu aja gak ngerti? Itu tuh tadi saya cuma pura-pura loh panggil kamu, biar kamu bisa lepas dari si Amir. Soalnya kelihatan banget tuh kamu gak suka sama dia," jelas Davin.


"Ohh, berarti bapak gak benar-benar panggil saya ya? Itu semua cuma tipuan gitu?" tanya Cyra.


"Iya begitu Cyra, itu kamu ngerti. Terus kenapa kamu malah datang kesini sekarang, hm? Harusnya kamu lanjut aja pergi tadi," kekeh Davin.


"Ya saya kan gak tahu pak, saya kira bapak beneran panggil saya," ucap Cyra lirih.


Davin kembali tertawa dibuatnya, ia merasa sangat gemas dengan gadis di hadapannya itu dan tidak akan rela apabila diminta menjauh darinya. Sejak Davin bertemu dengan Cyra kala itu, hidupnya yang semula murung kini lebih banyak mengalami kebahagiaan. Meski, Davin masih tetap hidup sendiri dan belum memiliki keluarga.


TOK TOK TOK....


Tiba-tiba saja, pintu ruangan itu diketuk dari luar dan membuat suara tawa Davin terhenti. Sontak Davin menyuruh orang di luar sana untuk langsung masuk, karena memang pintunya tidak dikunci. Sedangkan Cyra tampak menunduk saat ini, ia malu kalau sampai ada guru lain yang masuk kesana dan melihat dirinya.


"Permisi, pak Davin!" setelah pintu dibuka, dapat dilihat bahwa yang datang kesana adalah seorang guru wanita, namanya adalah Raya alias miss Raya.


"Eh miss Raya? Silahkan masuk, miss!" ucap Davin seraya bangkit dari tempat duduknya.


Cyra memejamkan mata, ia semakin ketakutan karena ternyata yang datang adalah miss Raya yang merupakan sosok guru paling ditakuti di sekolahnya karena dikenal dengan ketegasannya.




Disisi lain, Galen mendatangi rumah Libra seorang diri untuk menemui suami dari adiknya itu dengan penuh emosi. Ia turun dari mobilnya, lalu melangkah begitu saja memasuki area halaman rumah sang adik ipar. Galen tampak sangat emosi, ia seperti sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Libra dan melampiaskan segala kekesalannya.


"Eh mas Galen, ada apa mas?" Libra berjalan pelan mendekati Galen disana dengan senyum merekah di kedua pipinya.


Bukannya menjawab, Galen justru mendekat ke arah Libra dan langsung melayangkan pukulan pada wajahnya. Hal itu sontak membuat Libra terkejut, lalu terjatuh ke lantai sembari memegangi pipinya yang terluka. Libra tak mengerti apa yang terjadi, sampai membuat Galen begitu emosi dan seolah ingin menghabisinya saat ini.


Bugghhh


"Itu untuk apa yang udah kamu lakuin ke Ciara adik saya, karena kamu sudah bikin dia sakit hati dan sampai menangis di kantor saya! Dasar laki-laki tidak tahu diri!" ucap Galen penuh emosi.


Libra mengernyitkan dahinya, "Mas, tahan dulu! Kita bisa bicara baik-baik disini!" ucapnya.


"Cukup bicaranya Libra, tujuan saya datang kesini ya untuk memberi pelajaran ke kamu atas apa yang sudah kamu lakukan ke Ciara!" sentak Galen.


"Saya mohon mas, dengerin dulu penjelasan saya! Saya gak pernah ada niatan untuk menyakiti Ciara, benar mas!" ucap Libra memohon.


"Ah gausah banyak omong kamu!" geram Galen.


Sangking emosinya, Galen sampai berniat menginjak tubuh Libra yang kini terbaring di lantai. Akan tetapi, beruntung Libra masih bisa mengelak dan menghindar dari serangan kakak iparnya itu. Libra juga heran mengapa bisa Galen sampai emosi begitu padanya, bahkan tidak ingin memberi waktu baginya untuk menjelaskan semua.


"Bangun kamu Libra, ayo hadapi saya! Kali ini saya tidak main-main, akan saya habisi kamu!" sentak Galen.


Deg


Libra sampai melongok dibuatnya, amarah Galen sudah benar-benar tidak bisa ditahan lagi dan selalu membuat Libra ketakutan. Pria itu mencoba bangkit lalu menenangkan Galen, tetapi Galen memang sudah terlanjur emosi dan sulit dikendalikan. Apalagi, Galen melihat sendiri saat adiknya menangis tadi di kantornya.

__ADS_1


"Saya kira kamu pria yang baik untuk Ciara, tapi nyatanya kamu lebih busuk daripada Davin! Harusnya saya tidak mengizinkan kamu untuk menikahi Ciara waktu itu!" tegas Galen.


"Mas, tenang dulu! Ini semua gak seperti yang mas Galen kira, sabar mas!" pinta Libra.


"Banyak omong kamu!" Galen langsung mendekat dan kembali hendak memukul Libra disana, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba suara seorang gadis kecil terdengar di telinganya.


"Papa!!" ya suara itu berasal dari mulut Adel, alias putri kecil Libra yang baru pulang sekolah bersama saudara kembarnya, yakni Lio.


Sontak Galen menghentikan aksinya, ia tak mau Adel dan Lio melihat keributan saat ini. Tapi tentu semua masalah belum selesai, karena pasti Galen akan terus menekan Libra dan memberi pelajaran kepada pria itu nantinya.


"Ingat Libra, ini semua belum selesai!" lirih Galen.




Waktu pulang sekolah tiba, Cyra masih setia menunggu di depan sekolahnya sembari terus melihat ke kanan dan kiri untuk memastikan apakah Askha sudah ada atau belum. Namun, tampaknya hingga kini kakak sepupunya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan datang kesana untuk menjemputnya.


Cyra pun terlihat bete dan merengut kali ini, ia melipat kedua tangannya di depan sambil menggoyangkan kakinya. Satu bungkus permen kini ia buka, setidaknya hal itu bisa membuat Cyra lebih nyaman dari sebelumnya. Tapi ternyata tidak, karena tak lama kemudian Davin justru muncul di dekatnya dan menyapanya sambil tersenyum.


"Hai Cyra! Kamu belum dijemput? Mau bareng saya aja apa enggak?" ucap Davin menawarkan tumpangan pada muridnya itu.


Cyra terdiam selama beberapa saat menatap wajah Davin kali ini, Cyra sungguh bingung harus menjawab apa pada pria itu. Jujur Cyra merasa ingin ikut bersama Davin, tetapi saat ini ia sadar kalau ada banyak murid lainnya di sekitar mereka. Jika Cyra menerima tawaran itu, bukan tidak mungkin akan ada murid yang merasa iri padanya.


"Kenapa kamu diam aja Cyra, kamu gak mau bareng sama saya?" tanya Davin lagi.


"Hah? Eee sa-saya udah mau dijemput kok pak, nanti juga bentar lagi datang. Mending pak Davin pulang duluan aja, saya gapapa kok," jawab Cyra.


Davin tersenyum dan justru turun dari mobil yang ia tumpangi, pria itu bergerak menghampiri Cyra di depan sana dan membuat sang gadis merasa gugup. Cyra kini berusaha menghindar dari Davin, tapi terlambat karena Davin sudah lebih dulu berada di dekatnya. Davin pun menatapnya secara intens, ia benar-benar tertarik pada Cyra.


"Kamu pasti malu ya bareng sama saya, karena disini banyak orang kan? Kamu gak perlu mikirin mereka, saya yakin mereka juga gak akan perduli kok!" ucap Davin membujuknya.


"Umm, tapi emang benar pak udah ada yang jemput saya. Bapak jangan maksa saya buat bareng sama bapak ya!" ucap Cyra lirih.


"Haha.." Davin terkekeh saat ini.


Sontak Cyra mengernyitkan dahinya dan merasa heran dengan sikap gurunya itu, padahal menurutnya tak ada yang lucu sekarang ini. Namun, Cyra hanya bisa berpaling karena tidak mungkin ia menegur gurunya sendiri. Apalagi, Davin juga sudah banyak membantu dirinya serta menjadi orang yang selalu mengerti akan perasaannya.


"Bareng saya aja yuk, kasihan saya lihat kamu panas-panasan disini sendirian daritadi! Lagian bareng saya itu gak bayar kok," ajak Davin.


Cyra benar-benar bingung dan tak tahu harus berbuat apa, ia ragu untuk mengiyakan ajakan Davin karena teringat pada ucapan papanya. Akan tetapi, dengan berani Davin kini meraih tangannya lalu menggenggam dengan kuat. Tentu saja Cyra terkejut bukan main, matanya spontan menatap ke arah tangan yang digenggam oleh Davin itu.


"Yuk kita ke mobil saya!" kembali pria itu mengajaknya, kali ini dengan sedikit paksaan.


"Eee...." baru saja Cyra hendak berbicara, tanpa diduga miss Raya muncul di hadapan mereka dan tersenyum lebar ke arah Davin.


"Pak Davin, baru mau pulang ya? Saya boleh bareng sama bapak gak?" sela miss Raya.


Seketika Cyra terdiam, Davin pun melepaskan tangan gadis itu karena tidak ingin terjadi salah paham diantara mereka nantinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2