Hasrat Liar Pamanku

Hasrat Liar Pamanku
Bab 237. Memiliki Tiara


__ADS_3

Setelah puas menikmati makan siang bersama di sebuah restoran sushi ternama, kini Cyra dan Ciara pulang ke rumah mereka karena tidak ada lagi yang harus mereka urus di luar sana. Lagipula, Cyra juga sudah merasa lelah akibat terus berkeliaran demi bisa menemukan bukti yang cukup atas kejahatan yang dilakukan Celo padanya. Tak hanya itu, Cyra pun telah meminta bantuan pada pamannya untuk terhindar dari kejaran Gio sang pria mesum itu.


Saat sampai di rumah, Ciara langsung mengajak putrinya itu duduk di sofa dan meminta pelayan untuk membuatkan minuman. Kebetulan Ciara hendak berbincang berdua dengan gadis itu, apalagi ia merasa bersalah karena sempat menuduh yang tidak-tidak pada Cyra sebelumnya. Tentu sebagai seorang ibu, Ciara juga tak luput dari kesalahan dan ia tak perlu malu untuk mengakui hal itu.


"Cyra sayang, mama minta maaf ya sama kamu! Mama udah salah karena nuduh kamu yang enggak-enggak soal pil itu, padahal nyatanya itu bukan punya kamu," ucap Ciara.


Cyra tersenyum dibuatnya, "Mama gak perlu minta maaf sama aku, mama gak salah kok. Itu kan cuma kesalahpahaman aja, lagian sekarang semuanya udah clear kan? Jadi, gak ada yang perlu kita bahas lagi," ucapnya santai.


"Tetap aja mama ngerasa bersalah sama kamu sayang, seharusnya mama selidiki dulu itu sebelum mama marah-marah ke kamu," ucap Ciara.


"Iya ma, udah gapapa kok. Mama jangan begini terus dong, aku nanti jadi merasa bersalah juga sama mama loh! Lagian itu cuma masalah kecil kok buat aku," ucap Cyra sambil tersenyum.


"Ah sayang, kamu itu emang paling bisa ngertiin mama deh! Makasih ya nak?" ucap Ciara.


Akhirnya mereka berpelukan dengan erat, Ciara juga mengusap lembut punggung putrinya dan tak membiarkan Cyra bergerak banyak. Ciara begitu menyesal saat ini, itulah sebabnya ia terus memeluk Cyra dan tak ingin semua berakhir. Begitupula dengan Cyra, gadis itu pun tak mau kalah dan mendekap erat mamanya.


"Oh ya Cyra sayang, kira-kira apa kamu tau kalau Daiva itu suka minum pil anti hamil selama ini?" tanya Ciara pada putrinya.


"Umm, enggak sih ma. Aku aja ngiranya kak Daiva itu cuma minum vitamin biasa, itu juga sewaktu aku lagi nginep di rumah oma. Ya jadinya aku gak tahu sejak kapan kan Daiva minum pil itu," jawab Cyra.


"Iya gapapa sayang, mama masih gak nyangka aja kalau Daiva ternyata senakal itu. Padahal, tadinya mama kira dia anak baik-baik," ucap Ciara lirih.


Cyra manggut-manggut saja dan tak berani berbicara apapun kali ini, ya karena Cyra tidak mau ikut campur ke dalam masalah orang lain, apalagi itu adalah saudaranya sendiri. Meski, Cyra juga tahu kalau Daiva telah melakukan kesalahan besar dengan tidur bersama Davin yang merupakan guru mereka di sekolah.


"Mama gak bisa bayangin deh sayang, kalau itu terjadi juga ke kamu. Untung aja kamu cepat-cepat menjauh dari om Davin ya sayang?" ucap Ciara sembari mengusap rambut putrinya.


"Iya ma, ternyata mama emang benar tentang om Davin. Maaf ya ma, aku sempat gak percaya sama mama waktu itu! Aku malah ngeyel dan mau dekat terus sama om Davin, abisnya dia itu pinter banget sih sandiwaranya," ucap Cyra.


"Iya gapapa sayang, udah sini pelukan aja sama mama! Mama pengen terus peluk kamu sayang," ucap Ciara.


Cyra tentu tak keberatan dengan permintaan mamanya, ia dengan senang hati mau kembali memeluk mamanya dan tetap berada disana sampai mamanya itu puas.




Cyra dibuat terkejut saat ia melihat sosok Carlo tengah berdiri di depan pagar rumahnya, tentu saja ia bingung karena sebelumnya ia tak pernah merasa meminta lelaki itu datang kesana. Akan tetapi, sekarang Carlo secara tiba-tiba sudah berada disana dan menatap ke arahnya disertai senyuman lebar yang membuat gadis itu meleleh takjub.


Tanpa menunggu lama, Cyra bergegas menghampiri Carlo di depan sana dengan wajah bingungnya. Jujur Cyra tak mengerti apa maksud dan tujuan Carlo datang kesana, tapi yang pasti Cyra akan bertanya soal itu pada Carlo nantinya. Apalagi, Cyra tak ingat jika dirinya mempunyai urusan dengan pria itu yang belum ia urus sebelumnya.


"Kak Carlo, ada apa ya kamu ke rumah aku? Apa karena aku bolos dari sekolah?" tanya Cyra gugup.


"Bu-bukan kok Cyra, aku kesini karena emang mau temuin kamu. Gimana kalau kita jalan-jalan sekarang, kamu bisa gak? Aku gak maksa kok Cyra," ucap Carlo dengan gugup.


"Jalan-jalan??" Cyra cukup terkejut mendengar ajakan dari pria itu barusan.


Cyra sontak berpikir sejenak sembari menundukkan wajahnya, ia bingung dan tak tahu harus berkata apa pada Carlo saat ini. Pasalnya, gadis itu sedang dalam keadaan cemas karena di luar sana Gio pasti masih berusaha mencari dirinya. Ya Cyra khawatir jika ia akan bertemu dengan Gio nanti, itulah sebabnya ia takut untuk pergi ke luar bersama Carlo.


"Kenapa Cyra? Kamu gak bisa ya?" tanya Carlo.


"Maaf kak, aku lagi agak kurang enak badan! Kayaknya aku gak bisa ikut jalan-jalan sama kamu," jawab Cyra dengan berhati-hati.


"Oh gitu, iya gapapa kok Cyra. Aku kan udah bilang kalau aku gak maksa," ucap Carlo santai.

__ADS_1


"Bagus deh, tapi emangnya kamu mau apa ya ajak aku jalan-jalan? Apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan sama aku?" tanya Cyra penasaran.


"Eee a-aku...."


Carlo tampak ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan kepada gadis itu, pasalnya ia khawatir jika Cyra malah akan merasa risih dan menjauh darinya nanti. Ya Carlo tentu tak ingin itu terjadi, karena ia sangat menyukai Cyra dan berharap Cyra dapat menjadi miliknya saat ini.


"Aku cuma mau ajak kamu ke suatu tempat, sekalian traktir kamu makan. Tapi kalau emang kamu gak bisa, aku gak maksa. Mungkin lain kali aja kita jalan-jalannya," ucap Carlo sambil tersenyum.


"Ah iya kak, maaf banget ya aku gak bisa ikut sama kamu sekarang!" ucap Cyra merasa tidak enak.


"Gapapa Cyra, santai aja sama aku mah! Kalo gitu aku pulang aja ya Cyra? Kamu kan lagi gak enak badan, pasti kamu butuh istirahat yang banyak. Kamu istirahat aja, biar cepat sembuh Cyra!" ucap Carlo dengan lembut.


"Makasih kak, ini nanti aku mau istirahat kok," ucap Cyra disertai senyum tipisnya.


Rasanya Carlo cukup terpesona dengan senyum manis gadis itu, bahkan ia juga tak ingin pergi dari sana dan berpisah dengan Cyra. Apalagi, Carlo akui kalau dirinya memang mencintai Cyra dan berharap gadis itu dapat menjadi kekasihnya. Meski begitu, Carlo tak mau memaksakan kehendak mengingat kondisi Cyra saat ini sedang tidak enak badan.


Alhasil, Carlo memutuskan pamit pada Cyra dan pergi kembali ke motornya. Setelah itu, barulah Carlo melaju pergi meninggalkan rumah itu dengan sangat berat hati. Niatnya untuk menyatakan cinta pada Cyra kali ini harus gagal, namun tentu ia tak akan pernah menyerah dan ingin terus mencoba.


"Haish, gapapa deh walau sekarang gagal, yang penting gue masih bisa ketemu sama Cyra. Gue sayang banget sama lu Cyra, gue mau lu jadi pacar gue!" batin Carlo.




Disisi lain, Adrian sengaja mendatangi rumah Tiara dan membawa bingkisan di tangannya untuk ia berikan pada wanita itu. Cepat-cepat ia turun dari mobil, lalu bergegas menuju pintu gerbang rumah Tiara dan menekan bel yang ada. Adrian sudah tidak sabar ingin segera menemui Tiara, karena wanita itu telah mengundurkan diri dari kantornya.


Tak lama kemudian, Tiara muncul keluar dari dalam pagar ketika ada seseorang yang membunyikan bel di luar rumahnya. Tiara sama sekali tak menyangka kalau Adrian lah yang datang disana, sontak ia merasa malas dan menghela nafasnya. Dengan cepat Tiara memalingkan wajahnya, apalagi Adrian tak pernah berhenti untuk mendekatinya.


"Tiara, aku senang banget bisa ketemu kamu disini! Maafin aku ya Tiara, mungkin aku belum bisa jadi bos yang baik buat kamu! Tapi, aku kesini sebagai calon suami kamu," ucap Adrian.


"Maaf Tiara, itu gak bisa aku lakukan. Aku cinta mati sama kamu Tiara, sampai kapanpun aku akan terus berjuang untuk bisa mendapatkan kamu seutuhnya!" ucap Adrian dengan tegas.


"Hah? Apa aku gak salah dengar tuh? Kamu bilang kamu cinta mati sama aku? Tapi sampai sekarang aja kamu belum bisa lepasin bu Salma," ucap Tiara.


"Aku sedang mengurus perceraian aku dengan Salma, Tiara. Sebentar lagi aku dan Salma akan berpisah secara resmi, kamu gak perlu khawatir tentang itu! Jadi, kamu mau kan menikah sama aku Tiara?" ucap Adrian.


"Gak mau, aku lebih suka sendiri karena gak akan ada yang bisa melarang aku," ucap Tiara.


Adrian terdiam dan tak bisa berkata-kata kali ini, cukup sulit baginya untuk membujuk Tiara agar mau menerima cintanya. Apalagi, kegigihan Tiara yang ingin hidup sendiri tanpa suami. Namun, Adrian tentu tak akan berhenti sampai disana dan terus berjuang demi bisa mendapatkan Tiara.


"Sekarang aku minta kamu pergi dari sini, kalau udah gak ada lagi yang mau kamu bicarakan sama aku!" ucap Tiara.


"Ta-tapi Tiara, aku belum selesai loh. Aku juga gak akan pergi sebelum kamu bilang sama aku kalau kamu mau menikah sama aku dan jadi istri aku," ucap Adrian dengan kekeuh.


"Itu gak akan pernah terjadi, pak Adrian yang terhormat," ucap Tiara ketus.


Deg


Jantung Adrian serasa copot mendengarnya, ada rasa kecewa dan sedih yang datang bersamaan saat Tiara mengatakan itu padanya. Tapi kemudian, tiba-tiba Tiara merasa mual pada bagian perutnya yang tidak bisa ditahan. Sontak Adrian merasa cemas, ia lekas mendekati wanita itu untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


"Huweekk huweekk..." ya Tiara reflek menutupi mulutnya karena merasa mual dan ingin muntah.


"Hah Tiara? Kamu kenapa Tiara?" tanya Adrian dengan penuh kecemasan dan langsung mendekati wanita itu.

__ADS_1


Tiara menggeleng dan meminta Adrian untuk tidak mendekatinya, ya ia tidak mau Adrian menyentuh tubuhnya karena ia tahu kalau pria itu sudah memiliki istri. Tentu saja ia tak mau tangan suami orang menyentuhnya, apalagi ia tidak tega saat melihat Salma begitu sedih setelah memergoki mereka di dalam ruangan pribadi Adrian kala itu.


"Tiara, kamu sakit ya? Biar aku bantu kamu, aku bisa bawa kamu ke rumah sakit kok. Ayolah Tiara, aku cuma mau bantu kamu!" ucap Adrian cemas.


"Gausah, aku udah gapapa. Tadi aku cuma mual sedikit aja," ucap Tiara.


"Tetap aja itu perlu diperiksa Tiara, aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu! Ayo mending kamu ikut aku ke rumah sakit ya, aku gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Adrian.


"Kamu gak perlu sok perduli sama aku, lebih baik kamu pergi sekarang!" sentak Tiara mengusirnya.


Adrian terdiam sesaat, ia pandangi wajah Tiara dengan serius dan tak ada sedikitpun rasa di dalam dirinya untuk meninggalkan wanita itu saat ini. Namun, Tiara perlahan berbalik dan masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal. Tak ada yang bisa dilakukan Adrian saat ini, ia pasrah saja melihat Tiara menutup pintu pagar itu.




Galen kembali datang ke tempat kediaman Tiara berada, semenjak ia tahu Tiara tengah mengandung anaknya entah kenapa ia selalu saja ingin memastikan kondisi Tiara baik-baik saja termasuk bayi di dalam kandungannya. Apalagi, Galen sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk terus menjaga Tiara sampai dia melahirkan anaknya.


Tapi begitu Galen sampai di rumah mantan istrinya, ia malah melihat Adrian tengah berdiri di depan sana seorang diri dan terus memandang ke arah dalam rumah itu. Tentu saja Galen tak terima, ia bergegas turun dari mobil lalu menghampiri Adrian dengan perasaan kesal.


"Hey, pak Adrian yang terhormat!" Galen memanggil bosnya itu dan berdiri di dekatnya.


Adrian sontak terkejut, matanya membulat saat melihat Galen berada disana. Padahal, tadinya Adrian sama sekali tak melihat kedatangan mantan suami dari Tiara itu. Kini Adrian begitu penasaran, ia bingung mengapa Galen datang lagi ke rumah Tiara disaat hubungan mereka sudah hancur dari waktu yang cukup lama.


"Ah Galen, mau apa lagi anda kesini? Hubungan anda dan Tiara itu sudah usai, jadi sebaiknya anda tidak perlu mengganggu Tiara lagi!" ucap Adrian.


"Begitu juga dengan anda, pak Adrian. Tiara itu sudah bukan karyawan anda lagi, ya kan? Lalu, untuk apa anda datang kesini? Ada keperluan apa anda sama mantan istri saya, ha?" ucap Galen.


"Terserah saya dong, saya masih punya hak disini. Saya belum mengizinkan Tiara keluar dari perusahaan saya, jadi dia itu masih karyawan saya. Kalau anda tidak tahu apa-apa, sebaiknya anda tidak usah ikut campur!" ucap Adrian.


"Hahaha, kata siapa saya tidak tahu apa-apa? Saya jelas tahu kalau anda menyukai mantan istri saya itu, benar kan pak Adrian?" ucap Galen.


Adrian terdiam selama beberapa saat, ia ragu untuk mengiyakan kata-kata Galen saat ini. Akan tetapi, Adrian menepis semua keraguan di dalam dirinya karena ia harus menegaskan semua kepada Galen. Lagipula, ia tak perlu takut menghadapi Galen mengingat Galen dan Tiara sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.


"Kalau iya, kenapa? Anda tidak suka jika saya menyukai Tiara, ha? Apa hak anda melarang saya, memangnya anda ini siapa?" ujar Adrian.


"Saya ayah dari anaknya Tiara, pak. Saya berhak mengizinkan atau tidak disaat ada orang yang ingin menjadi ayah sambung bagi anak saya, dan saya tidak akan memberi izin pada anda!" ucap Galen.


"Ck, saya tidak butuh izin dari anda untuk bisa memiliki Tiara!" tegas Adrian.


Galen menyeringai dibuatnya, "Tapi tetap saja pak, anda tidak akan bisa memiliki Tiara begitu saja saat ini!" ucapnya.


"Apa maksud anda? Memangnya kenapa saya tidak bisa memiliki Tiara?" tanya Adrian penasaran.


Galen terdiam, lalu melangkah ke dekat Adrian sambil tersenyum menatapnya. Ia benarkan kerah baju bosnya itu yang membuat Adrian semakin merasa heran, pasalnya Galen seperti hendak mengatakan sesuatu padanya kali ini karena terlihat dari ekspresi pria itu.


"Karena Tiara sedang mengandung anak saya, pak Adrian. Saya akan perjuangkan Tiara untuk bisa kembali menjadi milik saya, itu dia alasan kenapa anda tidak bisa memiliki Tiara!" ucap Galen.


Deg


Adrian terkejut bukan main mendengar penjelasan yang dikatakan Galen barusan, ia tak menyangka kalau saat ini Tiara tengah mengandung.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2